Antara Teroris dan Separatis

Delapan orang anggota TNI tewas ditembak kelompok bersenjata di Papua pada bulan Februari yang lalu. Demikian kabar keprihatinan yang menjadi berita utama media di tanah air. Kelompok bersenjata itu diidentifikasi sebagai bagian dari kelompok separatis Papua. Hingga saat ini pelaku penembakan belum berhasil ditangkap oleh aparat kepolisian maupun TNI. Sungguh sedih kita mendengarnya, terbayang istri yang ditinggal suami, orangtua yang ditinggal anak, atau calon istri ditinggal calon suami. Mudah-mudahan Allah SWT menempatkan korban TNI itu pada tempat yang mulia di sisi-Nya, Amiin.

Anehnya, Pemerintah, kepolisian, termasuk media tidak pernah menyebut pelaku penembakan tersebut sebagai teroris, tetapi sebagai gerakan separatis. Padahal, mereka telah membunuh banyak jiwa dan menciptakan suasana takut.

Sekarang mari kita lihat kasus sebelumnya. Sekelompok orang bersenjata di Poso berhasil membunuh beberapa orang polisi, termasuk anggota Densus 88. Dengan cepat kepolisian dan media mencap pelaku sebagai teroris. Mereka diidentifikasi sebagai jaringan terorisme, demikian ungkap media.

Saya tidak habis mengerti, mengapa kelompok bersenjata di Papua tidak disebut teroris, tetapi kelompok bersenjata di Poso langsung dicap sebagai teroris. Apa beda perbuatan keduanya?

Mari kita baca definisi terorisme di Wikipedia edisi Bahasa Indonesia:

Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil. (Sumber: Wikipedia)

Menurut definisi terorisme di atas, jelaslah serangan kelompok separatis terhadap anggota TNI itu terkordinasi dan sistemik, sama seperti yang dilakukan oleh pelaku teroris lain umumnya. Maka, pelabelan teroris kepada kelompok separatis bersenjata adalah sesuatu yang seharusnya.

Selama ini pelabelan terorisme sering dilekatkan kepada kelompok Islam. Pelaku terorisme seringkali mengatasnamakan agama Islam sebagai landasan perjuangan mereka. Mereka menggunakan simbol-simbol agama seperti kopiah, sorban, janggut, jilbab, dan sebagainya. Karena perbuatan mereka maka citra Islam menjadi rusak, seolah-olah Islam membenarkan terorisme. Akibat stigma yang negatif, maka target perburuan Densus 88 sering diarahkan kepada ustad, ulama, santri, dan kelompok Islam lainnya.

Dunia memang sering tidak adil. Definisi terorisme bergantung pada siapa yang menggunakannya dan apa kepentingannya. Amerika dan sekutunya akan langsung menyebut serangan kelompok Hamas kepada penduduk Israel sebagai terorisme, tetapi pembunuhan yang dilakukan tentara Israel terhadap rakyat Palestina tidak disebut terorisme melainkan pembelaan diri.

Secara sederhana, jika yang melakukan serangan dan pembunuhan terencana adalah orang yang kebetulan beragama Islam dan korbannya dari agama lain maka dia akan langsung dicap teroris. Sebaliknya, jika yang melakukannya adalah orang yang bukan beragam Islam, maka dia tidak dicap teroris, tetapi pelaku kriminal, orang yang sedang depresi, orang sakit jiwa, dan sebagainya. Tahun lalu seorang remaja Amerika Serikat menembak mati puluhan siswa di sekolah dasar sebelum akhirnya dia membunuh dirinya sendiri. Media dan Pemerintah Federal AS tidak pernah menyebut remaja itu sebagai teroris tetapi remaja yang mengalami gangguan jiwa. Akan berbeda ceritanya jika pelaku penembakan itu adalah seorang beretnis Arab, berjanggut, pakai surban lagi, maka saya yakin media ramai-ramai menyebutnya teroris lalu dikaitk-kaitkan dengan agamanya.

Oleh karena itu, perlu suatu keadilan dalam bertindak kepada kelompok yang menciptakan suasana teror. Baik teroris maupun separatis yang membunuh secara terkordinasi, keduanya adalah tindak kekerasan yang melanggar HAM.

Tulisan ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Antara Teroris dan Separatis

  1. petra berkata:

    biar gampang aja sih bedainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s