Kenapa Jalur Undangan di ITB Lebih Banyak Porsinya daripada Jalur Ujian Tulis?

Sudah tiga kali penerimaan mahasiswa baru di ITB (termasuk tahun 2013 sekarang), ITB selalu mengambil porsi mahasiswa yang diterima dari jalur undangan lebih banyak daripada jalur ujian tulis. Porsi jalur undangan adalah 60% dan porsi jalur ujian tulis adalah 40%. ITB bahkan menghapuskan seleksi dari jalur ujian mandiri (dulu namanya USM). Jadi, jika jumlah mahasiswa baru 4000 orang, maka jalur undangan adalah 2400 orang, sisanya dari jalur ujian tulis sebanyak 1600 orang. Tahun ini jalur ujian tulis bernama SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Setahu saya tidak banyak perguruan tinggi negeri yang mengambil porsi 60 : 40. Beberapa PTN tetap mengadakan seleksi jalur lain seperti jalur mandiri, jalur bersama, dan sebagainya.

Sebagaimana yang sering saya ungkapkan dalam beberapa tulisan sebelumnya tentang penerimaan mahasiswa baru, secara pribadi saya lebih menyukai seleksi mahasiswa baru melalui jalur ujian tulis. Dengan kualitas SMA/SMK yang beraneka ragam di tanah air, dan tingkat kepercayaan masyarakat yang rendah terhadap nilai-nilai di dalam rapor (misalnya mencurigai adanya rekayasa nilai oleh oknum guru atau sekolah), maka seleksi melalui jalur ujian tulis memberikan kesempatan yang sama dan adil bagi semua siswa SMA dari berbagai tingkatan kualitas hingga pelosok daerah di tanah air.

Saya pernah menulis tentang perbandingan prestasi mahasiswa ITB angkatan 2011 dari jalur ujian undangan dan jalur ujian tulis. Rata-rata nilai IP tingkat pertama mahasiswa jalur undangan sedikit lebih baik daripada rata-rata IP mahasiswa jalur ujian tulis. Ini artinya tidak ada perbedaan kualitas yang signifikan antara mahasiswa jalur undangan dan jalur ujian tulis di ITB. Dengan kata lain, dijaring dengan cara apapun, mahasiswa baru ITB sama bagusnya. Khusus di ITB, mahasiswa jalur undangan tidaklah seburuk yang disangkakan orang. Kalau memang banyak mahasiswa jalur undangan itu adalah hasil rekayasa rapor, tentu mereka akan gagal kuliah di ITB yang terkenal sangat ketat. Jadi, saya pikir kampus saya sudah on the track dalam menerima mahasiswa baru selama ini.

Memang ITB tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi mengapa lebih memilih jalur undangan dalam porsi yang lebih besar daripada jalur ujian tulis. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan pejabat kampus, saya menanyakan kepadanya mengapa kampus kita menyediakan porsi jalur undangan jauh lebih besar daripada porsi ujian tulis, apakah tidak sebaiknya dibalik yaitu jalur ujian tulis lebih besar daripada jalur undangan. Pejabat itu memberikan pendapatnya, bahwa ujian tulis itu kan seleksi sesaat (hanya dua hari) sehingga hasilnya tidak menggambarkan potensi akademik seorang calon mahasiswa, sedangkan seleksi berdasarkan nilai rapor lebih komprehensif sebab rapor menceritakan rekam jejak akademik seorang calon mahasiswa selama tiga tahun. Hmmm…meskipun itu pendapat pribadinya (bukan pendapat institusi) saya mulai lebih paham mengapa ITB lebih memprioritaskan penerimaan mahasiswa baru dari jalur undangan.

Saya yakin ITB pasti mempunyai kriteria calon mahasiswa seperti apa yang bisa diterima, lalu kriteria sekolah seperti apa yang memenuhi persyaratan. Sekolah yang terbukti melakukan kecurangan dalam memberikan nilai rapor cepat atau lambat pasti akan ketahuan. Salah satu indikasinya adalah mahasiswa tersebut mampu apa tidak kuliah pada tahun pertama di ITB. Kalau dia siswa karbitan di sekolahnya, pasti dia akan gagal di ITB. ITB pasti akan memberikan “hukuman” kepada sekolah yang terbukti nakal dengan mem-black-list-nya pada seleksi tahun berikutnya. Jadi, jangan main-main dalam urusan nilai rapor.

Ada baiknya juga kalau kita mulai menaruh kepercayaan kepada sistem pendidikan di SMA. Kalau kita tidak pernah bisa percaya, lalu siapa lagi yang percaya kepada sekolah? Saya yakin kondisi pendidikan SMA/SMK di tanah air kan tidak selalu statis, selalu berubah ke arah yang lebih baik. Sekarang ada yang namanya akreditasi sekolah yang mengklasifikasikan sekolah dengan akreditsi A, B, dan C, plus yang belum terakreditasi. Akreditasi itu berarti kepercayaan yang diberikan Pemerintah kepada sekolah. Secara moral, tingkat akreditasi itu juga menunjukkan integritas sekolah dalam menjaga kualitas pendidikan di institusinya, termasuk tentang nilai rapor yang sering dicurigai sebagai hasil rekayasa. Sekolah yang terbukti melakukan rekayasa nilai, cepat atau lambat pasti akan ketahuan, dan akreditasinya bisa saja diturunkan. Yang dirugikan tentu siswa dan sekolah itu sendiri, termasuk dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui jalur undangan. Jadi, sekolah tidak boleh main-main dalam menjaga integritas dan kepercayaan PTN kepada siswa sekolahnya dalam seleksi jalur undangan.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Seputar ITB. Tandai permalink.

3 Balasan ke Kenapa Jalur Undangan di ITB Lebih Banyak Porsinya daripada Jalur Ujian Tulis?

  1. nana berkata:

    menanggapi pernyataan pada paragraf ke 5, saya kira penerimaan harus benar-benar seleksi yang terbaik, tidak berspekulasi dengan menunggu prestasi jeblog pada tahun pertama. Ini merugikan calon mahasiswa yang tersisih karena quota. yang sangat disesalkan lagi tersisih dari sistim lelang kalau mungkin ada.

  2. konmentku berkata:

    tahun 2014 ini banyak siswa jujur dan emang pandai, rajin , dengan nilai rapot bagus, saat UN nilainya kalah telak dengan yang pakai kun-jaw, sama yg punya bocoran soal. Tapi tetap yang diterima di PTN yang nilai UNnya menang

  3. virki berkata:

    Tahun 2014, yang nilai UNnya bagus, memang anak pandai , meski pun banyak yang tidak pandai-pandai amat (masih banyak yang jauh lebih pandai tapi jujur) , Tak sedikit anak lumayan pandai, yg nilai UNnya bagus krena tidak jujur (pakai bocoran soal , minta tolong guru bimbel utk menjawab, lalu jawabannya dihafal) . Yang jauh lebin pandai, tapi jujur, tidak dengan dukungan kasak-kusuk guru atau pihak sekolah, tidak dengan kasak kusuk pribadi (berburu soal dan kunci jawaban) , malahan tidak masuk PTN lewat jalur undangan. Soal kepandaian sejati, dan kejujurannya, mereka sebenarnya lebih berhak. Begitulah, ketika UN dijadikan alat seleksi PTN, kita tunggu moralitas jebolan yang masuk PTN di tahun 2014 ini, entah bagaimana moralitas mereka kelak. Apakah mentalitas tidak jujur itu akan menjadi ciri kental sumber daya negeri ini kelak.???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s