Bandung, Ada atau Tiada Walikota Sama Saja

Teman saya, seorang dosen di ITB, ketika kami sama-sama pulang dari sebuah acara di Jakarta, mengomel-ngomel melihat kemacetan parah di Jalan Terusan Pasteur. Ratusan kendaraan pada sore hari jam pulang kerja beradu cepat untuk keluar kota Bandung. Jalan di depan mal BTC nyaris tidak bergerak sama sekali. Kondisi seperti ini sudah berlangsung sejak lama, namun tetap saja tidak ada perubahan hingga kini. Teman saya mengomel, ini walikotanya kemana saja sih? Apa saja kerjanya? Ada atau tidak ada walikota sama saja, Bandung seperti tidak ada yang ngurus, katanya.

Kemacetan adalah salah satu masalah di kota Bandung. Puncak kemacetan bukan pada hari-hari kerja, tetapi malah pada hari Sabtu dan Minggu ketika turis lokal dari Jakarta menyerbu Bandung untuk ber-wik-en, berpelesir, makan-makan dan belanja-belanja. Kalau sudah datang hari Sabtu, banyak warga kota seperti saya malas keluar rumah, sebab mau ke mana-mana macet.

Seorang teman yang dulu lama tinggal di Bandung dan sekarang tinggal di Surabaya, ketika dia berkunjung ke Bandung untuk acara temu alumni, menceritakan kesannya tentang kota Bandung kini. Bandung sekarang makin semrawut ya, katanya, ya semrawut lalu lintasnya (banyak angkot yang ngetem seenaknya), ya semrawut pedagang kali limanya, ya semrawut papan reklamenya. Sudah semrawut, kumuh lagi. Beda banget dengan Surabaya, kata teman saya itu, Surabaya meskipun kotanya panas tetapi lebih teratur.

Iya juga sih, Bandung sekarang makin crowded dan semrawut saja. Bandung yang berhawa sejuk, banyak industri kreatif, kotanya anak muda, busananya yang modis dan trendi, jajanan yang enak, dan tempat yang nyaman untuk belajar (kuliah), menjadi daya tarik orang luar datang ke sana. Dengan perkembangan kota yang luar biasa seperti itu, tentu menejer kotanya (baca: walikota) harus orang yang luar biasa pula. Kalau hanya biasa-biasa saja, kurang responsif, tidak kreatif, tidak ada gebrakan yang signifikan, maka kesemrawutan Bandung akan semakin parah.

Mumpung sekarang mau ada Pilwalkot, saya mau titip pesan kepada calon walikota Bandung yang baru. Bisakah anda membuat Bandung ini nyaman, lebih teratur, masyarakatnya well-informed, punya kesadaran merawat kota, dan punya disiplin? Kalau ada yang punya konsep penataan yang jelas dan realistis untuk memenuhi harapan itu, saya mau dukung deh. Jangan lagi terulang seperti kata teman saya tadi, ada atau tiada walikota sama saja.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

6 Balasan ke Bandung, Ada atau Tiada Walikota Sama Saja

  1. adam berkata:

    kenapa bukan anda saja yang memperjuangkan diri menjadi walikota bandung Bung :))
    rasanya anda sangat sadar apa yang harus dilakukan seoarang walikota bandung

    • rinaldimunir berkata:

      Nggaklah, keahlian saya hanya bisa mengajar. Ini hanya keluh kesah warga yang mencintai kotanya, yah angggaplah sebagai masukan bagi calon walikota yang baru. Lagian, belum ada sejarahnya orang Minang bisa menjadi gubernur/walikota di bumi parahyangan, he..he. Isu primordial tetap akan diperhitungkan dalam memilih pemimpin lokal.

  2. ray rizaldy berkata:

    Tadinya saya ingin mempertimbangkan Bandung jadi kota untuk ditinggali, tapi sekarang lumayan mikir juga yah. *kayak udah pasti diterima jadi warga bandung aja nih*šŸ˜€

  3. Natrium Trioksida berkata:

    Sebenarnya daerah pasteur setiap hari macet, terutama antara jam 8 pagi sampai 10 siang dan antara jam 3 sore sampai jam 7 malam. Sebagai penghuni diskotik (di sisi kota saeutik) alias Cimahi pinggir saya selalu lewat pasteur setiap hari kerja (pergi kuliah). Dan saya pergi naik angkot karena tidak punya kendaraan pribadi. Saya rasa yang menjadi sumber masalah kemacetan itu seperti ini :

    1. Pelayanan angkutan umum kurang memuaskan (banyak ngetem, jadwal tidak jelas), karena (setahu saya) belum ada regulasi untuk angkutan umum di Kota Bandung. Ambillah contohnya angkot. Armada angkot itu sebenarnya makin banyak. Tapi justru karena makin banyak itu persaingan antara supir angkot makin besar. Supir angkot jadi banyak ngetem, ugal-ugalan, dsb untuk kejar setoran. Setahu saya sampai saat ini angkot masih diurus swasta.

    2. Karena kurang memuaskan orang-orang memilih naik angkutan pribadi, sebagian besar motor. Salah satu alasannya karena sudah banyak kredit murah motor. Dan lagi-lagi karena belum ada regulasi tentang angkutan pribadi, tiap tahun rasanya angkutan pribadi makin membludak melebihi kapasitas jalanan. Padahal jalanan di kota Bandung sendiri bisa dibilang sempit jika dibandingkan kota Jakarta atau Surabaya yang notabene jadi daerah ibukota.

    3. Karena angkutan pribadi tidak terkontrol jumlahnya dan menyebabkan kemacetan, justru mendorong orang-orang yang tidak memiliki kendaran pribadi untuk memiliki kendaran pribadi dengan alasan kenyamanan.

    Nah, masalah ini tampaknya pemerintah kota Bandung masih angkat tangan dan lebih memikirkan hal lain. Masterplan kota Bandung yang (katanya) ingin jadi (atau sudah ya?) kota jasa rasanya cuma menyuburkan budaya konsumerisme (baca : beli kendaraan pribadi dan mendirikan pusat perbelanjaan di berbagai sudut kota yang menjual gadget-gadget). Pemasukan kota entah untuk apa. Yang jelas masalah kemacetan ini rasanya baru jadi perhatian baru-baru ini dan (mungkin) tidak jadi bahasan dalam masterplan kota Bandung.

    Saya sebagai penduduk kota Cimahi yang merasa sebagai orang Bandung rasanya jadi sumpek berlama-lama di luar rumah. Itulah yang menyebabkan saya jadi mahasiswa kupu-kupu. Padahal sebagai mahasiswa saya butuh mobilitas tinggi terutama untuk pulang-pergi kuliah dan berkegiatan di kampus. Gara-gara kemacetan ini saya lebih memilih diam di rumah jika tidak ada yang benar-benar penting untuk dikerjakan di luar rumah. Sebagian rasa lelah saya justru akibat terlalu lama di jalan.

    Meskipun begitu saya bersyukur, berkat kemacetan ini saya lebih terbiasa untuk berangkat dari rumah lebih awal agar tidak terlambat datang ke kampus. Maaf kalau curhatan saya terlalu panjang. Hehe…

  4. Reblogged this on ngawangkong heula and commented:
    tulisan Bang Rinaldi soal Bandung dan Walikota

  5. I Love Bandung berkata:

    iya setuju kang Mungkin itulah pula yang jadi alasan teman kita Ridwan Kamil untuk maju…
    semoga bisa membawa perubahan buat kota Bandung seperti yang sudah beliau inspirasikan di kota-kota lain dibelahan dunia lain…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s