Termasuk Gratifikasikah Ini?

Di milis dosen ITB beberapa waktu lalu pernah ramai diskusi tentang gratifikasi. Jadi ceritanya ada surat edaran dari Ketua KPK, Pak Abraham Samad, tentang larangan menerima gratifikasi. Gratifikasi secara sederhana adalah pemberian (berupa uang, barang, atau fasilitas) terkait dengan tugas dan wewenang seseorang, yang mungkin dapat mempengaruhi orang tersebut dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan si pemberi gratifikasi tersebut (waduh, definisinya masih rekursif). Gratifikasi tergolong dalam bentuk suap, dan perbuatan suap itu termasuk tindak pidana korupsi.

Setelah membaca surat himbauan KPK tersebut, saya jadi mikir-mikir sendiri. Wah, jangan-jangan selama ini saya telah menerima gratifikasi nih dari mahasiswa kami, he..he..he. Lha, kami para dosen sering tuh menerima pemberian dari mahasiswa. Misalnya mereka baru pulang dari kampung halaman sehabis lebaran atau libur panjang, lalu datang ke ruangan dosen membawa oleh-oleh. Ini Pak/Bu, sedikit oleh-oleh dari kampung. Mau ditolak, takut menyinggung perasaan sang mahasiswa, kalau diterima takut dituduh korupsi, serba salah kami jadinya, hi..hi..hi.

Namun, umumnya pemberian oleh-oleh tersebut kami terima juga dengan senang hati. Kami percaya ketulusan hati mahasiswa, mereka memberi oleh-oleh tidak bermaksud menyogok atau menyuap. Ini murni bentuk budaya orang Indonesia yang suka membawa oleh-oleh setelah pulang dari suatu tempat. Apakah oleh-oleh makanan itu kami laporkan ke KPK untuk dikembalikan? Mungkin setiba di KPK oleh-oleh makanan tersebut sudah basi kali.

Saya tidak percaya mahasiswa yang memberi oleh-oleh makanan tersebut bermaksud melakukan gratifikasi. Meskipun mahasiswa yang memberi makanan adalah mahasiswa bimbingan TA atau mahasiswa wali sekalipun, namun saya bisa membaca maksud hati dia tidak bermaksud melakukan suap. Mungkin ceritanya akan lain jika oleh-oleh yang diberikannya itu berupa barang bermerek atau barang berharga seperti ponsel, laptop, atau mobil (wah!). Nah, kalau hadiah seperti ini patut dicurigai, pasti ada udang dibalik bakwan. Jadi semua berpulang kepada hati nurani saja, ketulusan hati seseorang dapat kita ketahui apakah niatnya memberi untuk menyuap atau memang memberi sebagai bentuk keramahan.

Masih terkait dengan hadiah, ada cerita menarik lainnya. Mahasiswa bimbingan TA kami sering memberi hadiah kenang-kenangan setelah mereka selesai diwisuda. Mereka mengatakan ada titipan dari orangtua mereka sebagai tanda terima kasih telah membimbing putra/puteri mereka. Kenang-kenangan itu, selain berupa kue, kebanyakan berupa baju batik, baju koko (untuk shalat), dasi, ikat pinggang, dan sebagainya. Nah yang ini sukar ditolak, sebab merupakan amanat dari orangtua mereka. Orang Indonesia pada dasarnya tahu berterima kasih, mereka mewujudkan tanda terima kasih pada seseorang dalam bentuk pemberian kenang-kenangan. “Untung” saja (kalau dibilang untung) mereka memberikannya setelah proses TA selesai, tentu tidak ada pengaruhnya lagi terhadap nilai TA mereka. Kalau hadiah-hadiah tersebut diberikan selama proses bimbingan TA jelas akan saya tolak, dan untungnya lagi mahasiswa kami memang tidak pernah melakukannya.

Bicara mengenai bimbingan TA tersebut, saya teringat cerita teman yang menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi di luar Jawa (tidak perlu saya sebut nama PT nya, negeri atau swasta). Di PT tersebut ada budaya yang sudah mengakar turun temurun dan sudah menjadi cerita dari mulut ke mulut mahasiswa, yaitu tentang budaya gratifikasi. Oknum dosen di sana sering meminta syarat mahasiswa membawa oleh-oleh berupa barang atau makanan kalau melakukan bimbingan skripsi. Bimbingan skripsi sering dilakukan di rumah dosen. Sang dosen bahkan menentukan jenis barang apa yang dibawa, misalnya susu, biskuit, pizza, minuman, dan lain-lain, bahkan amplop berisi uang. Kalau mahasiswa tidak membawa oleh-oleh, pintu rumah dosen tidak akan dibuka. Karena sudah menjadi budaya, maka mahasiswa memenuhi permintaan dosen tersebut tanpa protes. Jelas saja mereka tidak mau protes, kalau protes atau merasa keberatan bisa-bisa urusan skripsinya akan panjang ceritanya, bahkan bisa-bisa tidak lulus karena mahasiswa tidak memenuhi permintaan dosen. Ya, di sebagian daerah dosen itu ditakuti mahasiswanya karena dosen punya kuasa mutlak untuk meluluskan atau tidak meluluskan mahasiswa.

Teman saya melanjutkan ceritanya, membawa oleh-oleh ke rumah dosen sudah menjadi budaya masif di sana. Memang tidak semua dosen melakukan perbuatan tidak pantas tersebut, ada juga satu dua orang dosen yang menolak melakukannya, tetapi yang menolak itu justru dianggap aneh. Lha, sudah menjadi budaya, maka kalau lain sendiri malah dianggap aneh. Mungkin lama-lama yang menolak itu akhirnya terseret arus dan ikut pula melakukannya.

Tidak hanya berkaitan dengan oleh-oleh, kata teman saya, tetapi ada juga transaksi gratifikasi yang berhubungan dengan mata kuliah. Mahasiswa ingin dapat nilai apa, dosen bisa menentukan nilai mata kuliah asalkan mahasiswa membayar sejumlah uang. Bahkan, bila mahasiswa jarang masuk kuliah, tidak ikut ujian, atau tidak membuat tugas, dia tetap bisa lulus dengan nilai ajaib karena sudah memenuhi keinginan sang dosen yang meminta uang sejumlah tetentu.

Saya percaya dan yakin di tempat kami di ITB tidak ada dosen-dosen yang melakukan perbuatan meminta-minta kepada mahasiswa. Saya pribadi tidak membolehkan mahasiswa melakukan bimbingan TA di rumah. Semua urusan terkait akademis harus diselesaikan di kampus. Untungnya juga mahasiswa tidak pernah datang ke rumah saya, kecuali yang mengantarkan undangan pernikahannya beberapa tahun setelah mereka lulus.

Saya mendukung surat himbauan Ketua KPK tersebut. Intinya mengingatkan kita, khususnya yang berkarir dalam bidang akademis, untuk tidak terjebak dalam pemberian gratifikasi dari anak didik.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, Pendidikan. Tandai permalink.

5 Balasan ke Termasuk Gratifikasikah Ini?

  1. Albadr Nasution berkata:

    Wah, serius itu pak? Ada juga ya ternyata Perguruan Tinggi yang seperti itu. Nggak nyangka.

  2. Anita berkata:

    yang terpenting kita berusaha yg terbaik, pasti akan jadi lebih baik semuanya

  3. Budi Handoyo berkata:

    “Tidak hanya berkaitan dengan oleh-oleh, kata teman saya, tetapi ada juga transaksi gratifikasi yang berhubungan dengan mata kuliah. Mahasiswa ingin dapat nilai apa, dosen bisa menentukan nilai mata kuliah asalkan mahasiswa membayar sejumlah uang. Bahkan, bila mahasiswa jarang masuk kuliah, tidak ikut ujian, atau tidak membuat tugas, dia tetap bisa lulus dengan nilai ajaib karena sudah memenuhi keinginan sang dosen yang meminta uang sejumlah tetentu. ”
    Inilah dilema yang sedang saya hadapi. Banyak sekali dosen-dosen seperti itu di fakultas saya. Saya tidak berani melawan karena arusnya terlalu kuat. Untuk semester yang lalu saja, seorang dosen meminta gratifikasi yang sebanding dengan setengah bulan gaji saya. Permintaannya tidak saya kabulkan, nilai C yang dia berikan. Tetapi, teman saya yang bahkan tidak menguasai materi bisa mendapat nilai A hanya dengan mengabulkan kemauan dosen. Patutkah? *Curhat

  4. rumahkusekolahku berkata:

    Gak usah jauh-jauh di luar jaw pak. Ada teman dosen PTN di jabar mengeluhkan praktek ‘tarif’ bimbingan TA di kampusnya. Ketika beliau menolak mahasiswanya pada bingung kok ditolak dan koleganya pada memusuhinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s