Nonton Kesenian Minang pada Dies UKM-ITB ke-38

Pekan lalu saya diundang menghadiri pementasan kesenian Minangkabau yang dipersembahkan oleh adik-adik mahasiswa dari Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB. Pegelaran keseniang minang yang bertajuk Minang Rhapsody itu adalah dalam rangka ulang tahun UKM yang ke-38. Tempat pementasannya adalah di gedung pertunjukan megah, Sabuga ITB.

Tata panggung yang apik

Tata panggung yang apik

Saya sudah datang pukul 19.00 dan pertunjukan dimulai pukul 19.10 dengan menampilkan Tari Galombang Pasambahan. Seperti pagelaran tahun-tahun sebelumnya, pementasan kesenian ini menampilkan cerita klasik yang diselingi dengan tari-tarian, randai, musik tradisionil Minang, dan lagu-lagu. Cerita yang dipersembahkan kali ini bertajuk Siti Palito, yaitu kisah perjuangan pahlawan wanita asal nagari Manggopoh, Agam Pasaman, atau dikenal dengan nama Siti Manggopoh.

Randai

Randai

Dari tahun ke tahun pagelaran kesenian dari adik-adik UKM tidak pernah berubah, selalu menampilkan format yang sudah pakem: drama klasik. Karena saya setiap tahun menonton acara pagelaran ini, maka saya merasa ada kejenuhan sebab yang ditampilkan selalu itu ke itu terus. Entah ya, adik-adik mahasiswa itu seakan-akan tidak “berani” think out of the box dengan membuat membuat pertunjukan yang beda, something new.

Dari sisi cerita, kisah Siti yang ditampilkan terkesan melompat-lompat dan tidak jelas apa ceritanya dan pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara. Kalau memang itu kisah heroik, sayang tidak terlihat perjuangan Siti melawan penjajah, eh tiba-tiba saja pada akhir drama Siti diceritakan sudah berada di dalam keranda (sudah menjadi mayat). Kapan berperangnya?

Baiklah, sebenarnya bagi penonton cerita di dalam drama tidak terlalu penting (itu yang saya dengar dari salah seorang penonton), kalau dramanya bagus dan disampaikan dengan ciamik tentu akan menarik, tapi kalau tidak jelas seperti kemarin maka diabaikan saja. Dari sisi penonton saya menangkap kesan bahwa yang ingin mereka saksikan adalah glamor kesenian minang yang warna-warni. Ya, penonton sebenarnya menunggu-nunggu tari-tarian yang menawan, musik dan lagu yang enak, dan dialog bahasa minang (lawakan) yang bagarah-garah. Kritik soal dialog lawakan, ada pemain yang menghina fisik lawan, yaitu trik yang menjadi bahan lawakan grup lawak di televisi. Kalau mahasiswa ITB yang melawak seharusnya lawakan yang cerdas seperti stand up comedy itu.

Untunglah pagelaran kesenian itu “tertolong” oleh tari-tariannya yang rancak, namun saya mencatat tarian yang dibawakan sangat irit, hanya enam lima saja yaitu Tari Galombang Pasambahan, Tari Serampang 12 dan Saputangan, Tari Lenggang Bagurau, Tari Garak Kambang, Tari Rantak, dan Tari Piring. Mana nih tari kreasi baru atau yang jarang ditampilkan? Mana Tari Payung yang klasik itu? Dari semua tari itu, hanya Tari Serampang 12 dan Tari Piring yang ciamik dan rancak bana, sedangkan tarian yang lain biasa-biasa saja dan sudah sering dipertunjukkan setiap tahun. Bosan juga. Tari Piring yang menginjak-injak kaca itu dijadikan tarian pamungkas agar penonton tidak beranjak pulang sebelum acara selesai.

DSCF0537

Bagi adik-adik mahasiswa UKM, selamat anda telah memberikan yang terbaik untuk malam pagelaran kesenian minang. Mudah-mudahan tahun depan saya akan melihat sesuatu yang beda.

NB: foto-fotonya kurang tajam ya?

Pos ini dipublikasikan di Cerita Minang di Rantau, Seputar ITB. Tandai permalink.

9 Balasan ke Nonton Kesenian Minang pada Dies UKM-ITB ke-38

  1. ikuti@yahoo.com berkata:

    Ini dies natalis UKM paling kacau saya lihat pak. Dekorasi minimalis dan sangat minimalis, di luar hanya pagar bambu, latar hanya stereofoam yang ukiran ga rapi dan ga sama kanan kiri.
    lighting dan sound masyaallah jeleknya.

    Betul, drama kemarin memang ga menarik sama sekali, Harusnya anak itb bisa menyelipkan pesan2 kemahasiswaan atau dialog cerdas dalam drama nya, sebagai anak itb tunjukkan identitas itu.

    Saya kemarin nonton alek nagari (dies USBM IT Telkom) jauh lebih baik dari dies UKM yg skrg. Mereka menyuguhkan dengan kemasan yang apik, walau dalam gerakan tari, formasi randai dan musik yg masih kalah, tapi kemasan pagelaran mereka jauh lebih baik yg sekarang.

  2. Reisha berkata:

    Tarinya cuma 5 Pak, Tari Rantak ga ada..

  3. reza aprilda berkata:

    saya mengikuti perhelatan UKM itb dr tahun 2006 sampai 2013. dan pertunjukan yang diadakan akhir april kemaren menurut saya kurang terlalu bagus dalam hal lighting, drama yang membosankan, tata panggung yng kurang cetar..

    semoga di tahun yang akan datang UKM 39 akan memberikan suguhan yang lebih menarik dari pada tahun sekarang inii

  4. Mirdayanti Amir berkata:

    Siti Manggopoh itu dari daerah Manggopoh, dan Manggopoh itu dekat Lubuak Basuang, masuk Kab. Agam, bukan Pasaman…

  5. lena berkata:

    dua tahun berturut turut saya menonton dies natalis ukm itb dan alek nagari usbm it telkom, saya dapat menyimpulkan bahwa acara yang dibuat ukm itb jauh lebih monoton, saya tidak melihat sesuatu yang spesial, yang membuat saya berdecak kagum hanyalah tarian yang disuguhkan, kontras dengan drama yang tidak dapat menyampaikan pesan dengan baik kepada penonton, hanya ada lawakan yang maaf menurut saya kurang pantas untuk ditampilkan karena bahasa yang kurang mendidik, begitu juga dengan musik yang sama sekali tidak membuat denyut jantung saya bergetar kuat, biasa saja. Demikian juga dengan tata panggung yang kurang elegan, komunikasi visual yang kurang baik.

    lain ketika saya menonton alek nagari usbm it telkom yang 20 thn lebih muda daripada ukm itb, secara packaging mereka jauh lebih baik dan sesuai dengan jargon mereka yang ‘spektakuler’, tampilan yang disuguhkan benar – benar spektakuler. berulang kali bulu kuduk saya merinding, musiknya jauh lebih baik, tariannya pun out of the box meskipun perfomer tari tidak sebanyak ukm itb, dan yang paling spektakuler adalah cerita dramanya yang menyampaikan pesan yang benar – benar mengena di hati, perfomer drama yang lincah, dgn bahasa yang lebih sopan.

    semoga kritikan ini dapat membangun semangat kedua organisasi minang ini, dan tahun – tahun kedepan menjadi lebih baik dari pada tahun sebelumnya.

  6. dwi berkata:

    sangat disayangkan sekali acaranya tahun ini biasa saja, tidak ada kemajuan yg berarti, semoga tahun depan lebih cetar yaa, dramanya kalo bisa jangan kaya yang kemaren, nggak jelas alurnya, packagingnya juga tdk bagus.. masih jauh kalah dibanding dgn ketika saya nonton dies usbm it telkom beberapa hari yg lalu

    semangat ukm itb untuk dies tahun depan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s