Ridwan Kamil yang Saya Kenal

emilKolega saya sesama dosen ITB, Ridwan Kamil, dicalonkan menjadi Walikota Bandung periode 2013 – 2018. Muhammad Ridwan Kamil atau panggilannya Emil adalah seorang arsitek kawakan, karya-karya arsitekturnya bertebaran di berbagai negara, seperti di Singapura, Thailand, Bahrain, Cina, Vietnam, Uni Emirat Arab, dan tentu saja di Indonesia sendiri (selengkapnya baca di sini dan di sini). Dua diantara karya arsitekturnya sudah pernah saya kunjungi. Yang pertama ketika saya ke kota Banda Aceh, di sini saya menyempatkan diri mengunjungi Museum Tsunami yang megah itu, dan yang kedua ketika saya ke Kota Baru Parahyangan di daerah Padalarang Bandung, di sini saya shalat di Masjid Al-Irsyad yang bentuknya unik.

Saya kenal si Emil sejak dia ikut Bimbel Karisma Salman ITB. Tahun 1989-1991 ketika saya duduk di tingkat akhir di ITB, saya menyibukkan diri (sok sibuk! :-)) sebagai pengajar Bimbel untuk siswa-siswi SMP/SMA di Bimbel Keluarga Remaja Islam Masjid Salman (Karisma) ITB. Murid-murid saya banyak dan salah satunya Emil itu. Kebetulan kakak Emil, yaitu Erwin (Astronomi ’88), adalah teman saya yang juga menjadi pengajar dan pengurus Bimbel Karisma. Waktu itu Emil masih duduk di kelas 3 di SMA Negeri 3 Bandung, dan dia ikut Bimbel sampai menjelang UMPTN pada tahun 1990. Meskipun sewaktu di Bimbel hasil tes try-out nya tidak pernah rangking atas, namun saya percaya dia anak yang cerdas. Lha siapa sih yang meragukan kualitas siswa SMA 3 Bandung, sekolah yang menyimpan murid-murid cerdas yang ketika masuk ITB seperti pindah kelas saja saking banyaknya.

Emil (sedang dipeluk di deretan belakang) dan para murid Bimbel Salman berfoto dengan para pengajar di tangga Masjid Salman, tahun 1990 usai malam tafakkur menjelang UMPTN 1990.

Emil (sedang dipeluk di deretan belakang) dan para murid Bimbel Salman berfoto dengan para pengajar (cari di mana saya) di tangga Masjid Salman, tahun 1990 usai malam tafakkur menjelang UMPTN 1990.

Ayah Erwin (dan Emil, tentu saja) adalah seorang dosen di Unpad. Perumahan dosen Unpad letaknya di daerah Cigadung, kami para pengajar Bimbel sering kumpul di rumah Erwin (dan tentu saja rumah Emil, he..he.) untuk rapat atau sekadar main-main saja. Saya terkesan dengan keluarga Emil dan Erwin, saya menilai keluarga ini adalah keluarga yang taat menjalankan agama. Adik mereka yang paling bungsu malah disekolahkan ke pesantren agar ada dari salah satu anggota keluarganya menjadi ahli agama.

Menjelang pendaftaran UMPTN tahun 1990 saya sempat bertanya kepada Emil apa pilihan Perguruan Tingginya dan mau memilih jurusan apa. Ternyata Emil memilih ITB dan jurusan yang dia minati adalah Jurusan Arstektur. Dia berhasil lulus masuk Arsitektur ITB dan sejak dia kuliah saya sudah jarang bertemu dengannya di kampus. Tahun 1992 saya lulus dari ITB dan mengabdi menjadi dosen di tempat yang sama, beberapa tahun kemudian ketika Indonesia dilanda krisis moneter (sekitar tahun 1998) saya sempat bertemu dengannya dan menanyakan kemana rencananya setelah lulus dari Arsitektur. Dia menjawab mau ambil sekolah S2 di Amerika. Memang akhirnya dia ke Amerika dan sejak itu saya tidak pernah bertemu lagi dengan Emil.

Dari kakaknya saya baru tahu kalau Emil menjadi dosen di Arsitektur ITB. Meskipun satu kampus dan sama-sama dosen namun saya tidak pernah sekalipun bertemu Emil baik di jalan maupun pada acara-acara kampus, padahal kampus ITB itu kecil lho. He..he, mungkin Arsitektur terletak di sebelah tenggara sedangkan Informatika di tengah-tengah kampus makanya jarang ketemu kali.

Sekarang Emil sedang berkonsentrasi untuk memenangkan Pilwalkot Bandung, dia diusung oleh PKS dan Partai Gerindra. Banyak orang yang bertanya kenapa dia mau dicalonkan oleh PKS, partai yang tengah dilanda skandal isu suap yang melibatkan petingginya. Alasan Emil adalah karena hanya partai itu yang mau mengusung dirinya sebagai calon Walikota, sedangkan partai-partai yang lain hanya mau menjadikannya sebagai calon Wakil Walikota saja. Emil tidak mau menjadi Wakil Walikota, sebab dia punya obsesi untuk membenahi kota Bandung yang sekarang centang perenang karena memiliki banyak persoalan sebagai kota besar. Pengalamannya sebagai konsultan Jokowi (ketika menjadi Walikota Solo) dan konsultan Walikota Surabaya membuatnya berpikir kenapa tidak membenahi kotanya sendiri yaitu Bandung. Karena itulah dia terpanggil mencalonkan diri sebagai Walikota Bandung periode 2013-2018.

Sebagai orang yang pernah menjadi ‘guru’ Emil di Bimbel dan juga sesama civitas academica ITB, tentu saja saya memberikan dukungan kepada Emil. Saya membaca daftar penghargaan yang dia peroleh sebagai buah kepakarannya dalam pengembangan wilayah urban, maka saya pikir semua penghargaan itu adalah bukti pengakuan dunia terhadap kemampuan dirinya.

Di bawah ini saya salin surel Emil yang dia kirim ke milis dosen ITB. Dari surel ini kita dapat membaca apa yang menjadi keprihatinannya terhadap perkembangan kota Bandung saat ini dan mimpi-mimpinya untuk membenahi kota Bandung.

Kawan-kawan yang penyabar

Hidup di Bandung hari ini adalah hidup penuh dengan kegelisahan sekaligus
membingungkan. Dulu saya berasumsi bahwa seiring detik, menit dan jam
kehidupan yang bergerak ke arah masa depan, tentunya hadir pula kemajuan
dan kegembiraan mengiringi hidup kita di kota ini. Ternyata saya terlalu
naif. Seiring waktu, justru penggalan demi penggalan kemunduran dan
kesemrawutan hadir membombardir nalar dan mata kita. Ada pertanyaan
penting yang setiap hari menggugat kita: Mau dibawa kemana hari esok dan
masa depan kita?

Berita tentang korupsi, setiap hari, adalah wajah buruk dari mundurnya
peradaban negeri ini. Negeri dan kota ini dimiskinkan oleh mereka-mereka
yang mencuri. Tanpa sadar mereka telah mencuri masa depan anak cucu mereka
sendiri. Hidup tanpa visi, mengakibatkan lingkungan kota ini pun perlahan
hancur atas nama lokomotif ekonomi. Kota Bandung memang sedang sakit. Ciri
kota sakit adalah pemerintahnya koruptif, pebisnisnya oportunis dan kaum
intelektualnya apatis. Kita tengah terjebak disana.

Bandung hari ini adalah Bandung yang padat, ramai juga mencemaskan. Kita
semua berlari berebutan di atas kapasitas infrastruktur kota yang sama
seperti dua puluh tahun lalu. Setiap kehadiran pembangunan baru akan
mendesak badan kota ke arah kesakitan. Setiap musim penghujan kita
dicemaskan oleh banjir melanda jalanan Bandung. Setiap akhir pekan kita
sering harus mengalah kepada tamu-tamu yang berdatangan. Ada kelelahan
demi kelelahan hadir di sudut sanubari kita. Sampai kapan?

Bandung hari ini adalah Bandung yang sakit dan sesak. Sepanjang mata
memandang yang terlihat adalah kesemrawutan dan pelanggaran aturan.
Pelanggaran menjadi hal yang lumrah di kota ini, karena semua berjamaah
melakukannya. Bandung hari ini ibarat sebuah rumah kecil yang sangat
sesak. Bandung dahulu hanya diimajinasikan sebagai ruang kehidupan bagi
300 ribu jiwa. Dengan migrasi dan ledakan penduduk sebanyak 2,4 juta hari
ini maka bermukim di Bandung adalah sebuah perlombaan survival. Tanpa
kendali kota ini akan meledak. Kota yang stres akan melahirkan generasi
yang stres.

Kawan-kawan yang bersemangat,
Ingatlah Sumpah Pemuda. Dahulu, 1928, pemuda bersatu mendobrak nilai-nilai
belenggu penjajahan karena kita dihinakan oleh yang lain. Sekarang kita
dihinakan oleh ulah kita sendiri. Karenanya di jaman yang sakit ini, kita
harus bergerak bersatu untuk merekonstruksi nilai-nilai baru masa depan.
Kita harus menjadi cerdas untuk mampu bersaing. Kita harus peduli untuk
menjadi solusi. Dengan kecerdasan dan kepedulian kita mampu mendorong
lompatan peradaban Indonesia ke garis batas baru. Ya kawan-kawan, kita
bangun Indonesia Baru melalui sebuah rumah bernama Bandung. Dari Bandung
untuk Indonesia.

Saat kita kecewa kita tidak boleh membisu. Saat kita dihinakan kita tidak
boleh diam. Kita harus bergerak cepat mencari jalan baru. Mengubah dunia
sudah tidak bisa dilakukan sendirian. Jalan baru mengubah dunia itu
bernama kolaborasi. Kolaborsi adalah kunci pintu sebuah rumah bernama
masyarakat madani. Kolaborasi adalah sebuah pola pikir bahwa hanya kita
sendiri yang seyogianya mengubah nasib buruk kita. Kota kita adalah
tanggung jawab kita sendiri.

Di hari Rabu yang dingin di tahun 2013 ini, di sebuah kota bernama
Pennsylvania, saya diamanati sebuah penghargaan. Di atas panggung, Eugenie
Birch, Direktur IUR, organisasi pemberi award ini, berkata: “Kami
terinspirasi oleh semangat Bandung”. Semangat ini tercermin ketika sebuah
kampung, Blok Tempe, di Bandung, 2 tahun lalu mampu menyelesaikan sendiri
masalah banjirnya. Warga Blok Tempe mampu mengelola sampah, air dan
asuransi kesehatannya sendiri. Di sisi lain, sekumpulan anak muda kreatif
dalam wadah Bandung Creative City Forum (BCCF) terus bergerak mencari
ragam solusi kreatif untuk masalah kota Bandung.

Semangat Bandung hari ini adalah semangat survival dan kekompakan
warganya. Semangat ini adalah energi luar biasa. Gotong royong par
excelence. Dan dunia pun mengamatinya. Dan dunia pun menghargainya dengan
Urban Leadership Award yang dititipkan kepada saya. Award ini adalah untuk
semangat Bandung. Semangat yang menginspirasi dunia.

Kawan-kawan yang peduli,Selama tiga tahun terakhir, mungkin lebih dari
seratus kali saya bersilaturahmi dengan ragam warga, komunitas dan
sesepuh-sesepuh kota Bandung. Yang saya lakukan hanya satu: mencoba
menjadi pendengar yang baik. Kesimpulannya juga satu: mereka punya
aspirasi dan mimpi untuk hidup, bernapas, beraktivitas di kota Bandung
yang nyaman dan bermartabat. Dan sejujurnya, mimpi sederhana ini pula yang
hari ini belum hadir di kota ini.

Juni tahun 2013, tahun ini, Bandung akan menyelenggarakan pergantian
kepemimpinan kotanya. Di hari-hari ini kita berdiri pada sebuah
persimpangan nasib. Apakah kita hanya berdiri di pinggir mengamati
kemunduran kota yang melahirkan Indonesia ini? Atau memberanikan diri
melompat ke barisan depan untuk ikut menentukan masa depan kota yang
pernah menginspirasi Asia dan Afrika ini?

Dengan segala keterbatasan dan kerendahan hati, ijinkan saya berjuang
untuk mewujudkan mimpi sederhana nan mulia tadi dengan berkompetisi dalam
pemilihan Walikota Bandung 2013-2018. Ibu saya selalu memberi pesan,
jadilah manusia terbaik. Manusia yang sudah cukup dengan ego dirinya.
Manusia yang konsisten untuk selalu bermanfaat bagi mereka di luar
dirinya. Niat saya ingin berkerja, memberikan yang terbaik untuk negeri
ini, negeri tempat saya menyusu dan meminum air tanah bumi pertiwi ini.

Kawan-kawan yang baik,Mewujudkan mimpi ini tidak bisa dilakukan sendirian.
Saya butuh Anda semua. Kita butuh kita semua. Kita optimis bisa merebut
masa depan kita yang lebih baik. Apa guna hidup jika kita tidak optimis.
Saya yakin kita bisa!

Selama 100 hari ke depan kita akan bergerak bersama. Selama 100 hari ke
depan kita akan merapatkan barisan. Selama 100 pagi ke depan kita akan
menyingsingkan lengan baju kita. Selama 100 siang ke depan kita perkuat
tekad kita. Selama 100 sore ke depan kita perterteguh niat baik kita.
Selama 100 malam ke depan kita curahkan gagasan-gagasan kita. Dan selama
100 subuh ke depan kita perbanyak doa-doa kita. Allah selalu bersama
mereka yang berusaha.

Dari lubuk hati yang terdalam, saya mengucapkan berjuta terima kasih bagi
kawan-kawan yang mau percaya: dengan menyisihkan waktu dan energi,
bergabung dalam barisan ini.

Kata orang bijak, daripada selalu mengutuki kegelapan lebih baik
menyalakan lilin-lilin kecil. Sekarang saatnya kita hadirkan nyala
lilin-lilin itu untuk masa depan yang terang bagi anak-anak kita. Saya
bermimpi, jika di suatu pagi di hari Minggu yang cerah di tahun 2018, di
saat kita mengantar anak-anak kita bermain di taman kota, saya ingin Anda
berkata: “Ya Allah, Tuhanku, ternyata 5 tahun lalu itu waktuku untuk jadi
relawan tidaklah sia-sia”.
Mari bergerak kawan-kawan. Ada kereta mimpi yang harus kita kejar.

Malam sunyi, Maret 2013

Jabat Erat
Ridwan Kamil

Selamat ‘bertarung’ dalam Pilwalkot Bandung, Emil, saya doakan semoga kamu terpilih!

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

36 Balasan ke Ridwan Kamil yang Saya Kenal

  1. Reblogged this on ngawangkong heula and commented:
    Tulisan Bang Rinaldi Munir tentang Ridwan Kamil atau dikenal abang sebagai Emil. Bang Rinaldi adalah senior saya sewaktu di Bimbingan Belajar Karisma Bandung.

  2. zakkafauzan berkata:

    Kata-kata di surelnya ternyata persis kata-katanya di video youtubenya ya…

  3. indra berkata:

    Saya mendukung orang ini menjadi walikota bandung. Harapan saya kecil saja, mampu merubah pemukiman cikapundung menjadi CINQUE TERRE nya Indonesia. Dan mengembangkan Chiampelas menjadi STOCK YARD nya Indonesia.

  4. kita liat gebrakannya siapapun yg terpilih, bagaimana mengatasi banjir, sampah, jalanan peninggalan belanda “sedikit membuat jalan baru”, macet dll…
    yg pasti sepintar dan setinggi2nya drajat seseorang, percuma bila tak bermanfaat bagi orang lain. apalagi bila sudah menjadi pemimpin

  5. eko berkata:

    ehmmm..aku dr yogya pernah tinggal di malang, surabaya juga….mohon maaf sebelumnya…menurutku bandung merupakan kota terburuk dr ibukota propinsi lainnya di jawa..salah satu contohnya ttg penangannan sampah, PKL, pasti banjir besar kalau sdg hujan, jalan2 protokol yg rusak semua ( contoh di ahmad yani dan dago) mohon siapapun yg jd walikota segera dibenahi kota Bandung,..saya yg merupakan pendatang aja merasa malu lihat kondisi kota bandung

  6. muhamadth berkata:

    Baru sadak kalau ini blog milik bapak Rinaldi Munir, yang bagi saya adalah senior, yang sering saya dan pelajari buku teks Informatikanya

  7. titantitin berkata:

    Reblogged this on hujanku untukmu, begitupula doaku.. and commented:
    Duku Kang Emil ^^

  8. yogiesbr berkata:

    mudah-mudah dapat menjadikan kota Bandung menjadi lebih bermartabat lagi dibandingkan dengan kondisi akhir-akhir ini, baik dari segi aparatur pemerintahannya, sarana & prasarana fisiknya maupun masyarakatnya. Dan sebelum itu mudah-mudahan terjadi, semoga Kang Emil terpilih di acara Pilwalkot Juni 2013 nanti

  9. Togar Silaban berkata:

    Sewaktu Ridwan bekerja membantu kota Surabaya, saya adalah salah satu counterpart dari Bung Ridwan Kamil di Surabaya. Kami berkali-kali berdiskusi. Hasil kerja itu membuahkan sebuah rencana yang dinamai Surabaya Vision Plan. Ridwan punya visi jauh kedepan, mudah-mudahan dia juga punya cara menyelesaikan persoalan kota hari ini. Selamat kepada Ridwan, semoga bisa menjadi walikota Bandung yang tidak hanya melihat jangka panjang, tapi persoalan hari ini di Bandung. Horas.

  10. iwan r sanyoso berkata:

    saya dan keluarga mendukung 100%

  11. Reblogged this on Muhammad Iqbal Imaduddin's Journal and commented:
    Saya rindu pemimpin dengan narasi yang kuat, dilengkapi dengan kapasitas teknis. bukan politisi yang gemar diskusi, debat dan berkelakar namun minim konsep dan realisasi. Semoga Menang Kang Emil!. semoga #BandungBerkebun dapat menginspirasi depok untuk membuat gerakan serupa🙂

    • clio berkata:

      Pemimpin dgn “narasi” yg kuat itu maksudnya opo yo Tong? Lu yg make istilah trlalu suka2 macam vicky prasetyo atau gw kah yg kurang apdet kosa kata?

  12. Rimata berkata:

    Jika Kang Emil bisa tetap independen dan mau bersikap plural di tengah bandung yang majemuk ini, maka ia akan jadi figur alternatif yang laur biasa, yang bisa menilep calon-calon lain terutama yang berlatarbelakang birokrasi.
    Independen yang saya maksud adalah pada satu saat bisa berkata TIDAK pada partai yang mendukungnya, bila keinginan partai bertentangan dengan cita-cinta Bandung yang ia goreskan blue print-nya.

  13. mundzir berkata:

    ayo dukung kang emil, bersama-sama di kereta mimpi yg melaju dg cepat…satu suara dukungan, berarti seribu pahala yg akan kita trima, ketika kang emil benar2 mjd walkot bandung yg amanah, cerdas, berinegritas dan mempunyai kapabilitas membenahi kota bandung mjd kota yg menginspirasi !

  14. Erwin berkata:

    Reblogged this on D. Erwin Irawan and commented:
    Walaupun saya tidak suka politik dan kebetulan saya tidak tinggal di Kota Bandung, tapi saya dukung yang ini.

  15. esih sukaesih berkata:

    Saya dukung niat baik Dik Ridwan Kamil.Benahi kota Bandung tercinta dari berbagai aspek. Selain lingkungan, faktor penting lainnya adalah pendidikan. Benahi pendidikan kota Bandung, bersihkan dari kasus korupsi, kolusi dan nepotisme, Jadikan Bandung sebagai kota yang bersih dari sampah dan bersih dari KKN. Selamat berjuang, doaku menyertaimu.

  16. silvi pely joedha berkata:

    saya dan keluarga mendukung Emil, bukan karena teman waktu SMP dengan Emil tapi lebih karena Emil punya cita-cita, punya mimpi, punya harapan dan punya kemampuan. Saya tidak terlalu mengerti tentang politik di Indonesia. Yang terlihat sekarang semua partai politik kurang mendapat respon positif dari rakyat. Saya sedikit menyayangkan Emil masuk jadi kandidat dengan menggunakan kendaraan politik yaitu partai PKS atau Gerindra. Karena saya khawatir besok lusa jika Emil terpilih dia harus bekerja untuk “kepentingan” partai tersebut. Sebenarnya saya percaya diri Emil pasti terpilih sekalipun tanpa partai politik. Harapan saya tadinya Emil akan mencalonkan melalui independent. Tapi itu pilihan. Apapun hasilnya saya tetap mendukung Emil, dan bila tidak terpilih Eml masih bisa menyumbangkan ide ide dan visinya terhadap kebaikan kota Bandung. Bray geura miang Emil …. Insya Allah janten barokah, aamiin

  17. Yu Li, Kwan berkata:

    Reblogged this on YK.

  18. Ganda Sumpena berkata:

    saya tadinya ragu,tapi setelah melihat prestasinya…jadi mendukung kang emil jadi walikota bandung. Ganda Sumpena/platd_news@rocketmail.com

  19. Mhd.Rifai Marpaung berkata:

    Niat yang baik dan bersih, Insyaallah terkabul,namun seandainya pun blm punya kesempatan untuk diamanahkan mayoritas rakyat untuk duduk mengurus dan memajukan Kota Bandung, Anda tetap pemenangnya, teruslah berbuat hal-hal yang bermanfaat (tapi sy yakin anda adalah orang yang tepat untuk memimpin Bandung),…dari Simpatisan dari Medan.

  20. Agus Suryana berkata:

    Narasinya hebat.. saya selalu dukung pemimpin yang punya narasi besar….

  21. Ping balik: Ridwan Kamil yang Saya Kenal | to be a better man

  22. Ping balik: Selamat Buat Ridwan Kamil | Catatanku

  23. Bamb. jatmiko berkata:

    Alhamdulillah, kita belum tahu apakah nanti rekan Ridwan Kamil akan mampu mengelola kota Bandung seperti yang diharapkan oleh seluruh warga Bandung. Tetapi dari Pilwalkot & wawalkot yang baru saja usai, sepertinya manyarakat pemilih sudah semakin cerdas dan kritis dalam mempertimbangkan pilihannya. Masyarakat tidak lagi menimbang pilihannya hanya atas dasar asal-usul partai, atau praktek poitik uang, atau kehebatan berorasi saat kampanye, tetapi sepertinya lebih pada keyakinan para pemilih sendiri tentng kualitas sosok yang akan dipilihnya. Jika nanti sudah resmi diumumkan oleh KPU, siapapun walikota dan wakil walikotanya, tentu diperlukan dukungan dari semua warga Bandung untuk berkontribusi posisitif bagi ketertiban, kebersihan, keasrian, keindahan dan kemajuan kota Bandung, yang tentu berorientasi pada membaiknya tingkat kesejahteraan seluruh warga Bandung. Sambil membenahi dan membangun infrastruktur kota Bandung, yang lebih utama adalah membangun karakter mulia (ahlaqul karimah) manusia Bandung sebagai subjek yang diharapkan dapat bersama-sama dengan Walikotanya membangun kota, membangun negeri, menjadi bagian dari rahmatan lil ‘alamin.

  24. eka berkata:

    Punten, saya kurang setuju dengan kalimat akang yang ini :
    ” Lha siapa sih yang meragukan kualitas siswa SMA 3 Bandung, sekolah yang menyimpan murid-murid cerdas yang ketika masuk ITB seperti pindah kelas saja saking banyaknya.”

    SMA lain di Bandung (terutama) banyak memiliki murid- murid cerdas kan ?maaf kesannya kalimat yg saya kutip diatas terkesan memojokkan SMA lain…. Alhamdulillaah saya pun alumni arsitek ITB tp bukan dari SMA tsb.
    SMA saya hanya berada di kawasan tengah kota,berjejer berdampingan dengan ruko-ruko, tp alhamdulillaah almamater SMA saya adalah SMA pertama di kota Bandung yang meraih sertifikasi ISO 9001 : 2008.
    Hatur nuhun

    • besardana berkata:

      rasanya, kalimat tersebut hanya berniat memuji. menurut saya, memuji sesuatu tidak lantas menjadi memojokkan yang lainnya.
      pujian tersebut juga bisa dibilang suatu “fakta” karena dulu jaman saya pun memang banyak dari sma 3 (saya bukan dari sma 3)
      anggap anak sma itu sekitar 320 (8 kelas x40 murid) maka yang masuk ke ITB sebesar 220-230an makanya bisa dibilang seperti “naik kelas” saja

  25. antikazain berkata:

    Reblogged this on Antika Zain and commented:
    Baru ketemu artikel ini. Semakin bersyukur diberi kesempatan menjadi warga bandung yg memiliki pemimpin hebat…..padang kota tercinta, bandung aku mulai jatuh cinta…hehe

  26. Arsitek di Bali berkata:

    Semua karya desain arsitek pak kami sangat inspirasi good luck

  27. Eko berkata:

    Semoga Pak Emil konsisten dan menjadikan hadiah hidup terbaiknya yang akan dikenang keturunannya dan tidak masuk pusaran gelombang politik bermasalah.

  28. M. Ridhwan berkata:

    …………. Dan …. saat ini kang Emil sudah membuktikan …. saya memantau dari jauh ..

  29. Seandainya hanya dijadikan cita-cita apalagi mimpi, tentu tak kan kita lihat Bandung seperti sekarang ini. Tapi tidak dengan Kang Emil, dengan segala potensi, usaha dan kerja kerasnya, satu per satu terbuktikan pada kita cita-cita dan mimpi itu. Dari hulu hingga hilir, dijawabnya satu per satu permasalahan-permasalahan Kota Bandung. Arsitektur, Informatika atau apapun Bidang Ilmu kita, mari sama-sama kita benahi carut-marut negeri tercinta ini. Mari kita mulai dari diri sendiri, keluarga, RT, RW, dst. hingga ketingkat yg lebih luas, Kota, Propinsi atau bahkan negara. Semoga Allah kehendaki kita untuk ikut andil di setiap perubahan menuju kebaikan di kota Bandung dan Indonesia tercinta. Aamiiiin.

  30. mantap kang emil
    tetap istiqomah

  31. Kristin Gerene berkata:

    berati bapak tahu betul tentang perjalanan hidup pak emil semasa menjadi bimbel? apa saja yang menarik dari kisah pak emil selain dari cerita diatas. makasi pak, mohon balasannya

  32. Ahenk Popon berkata:

    Hallo salam kenal mas Munir saya amir dari Jogja, Saya pengen beli fotonya ridwan kamil yang berdasi itu bisa…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s