Beda Partai Beda Perlakuan KPK?

Kali ini saya mau bicara soal politik. Gatal juga tangan saya untuk menulis setelah menyaksikan “drama” antara KPK dengan partai PKS, ini masih menyangkut tentang kasus suap impor daging sapi yang sekarang kasusnya melebar semakin jauh.

Tangan saya gatal mau menulis karena mengamati ada perbedaan perlakuan dari KPK terhadap partai-partai yang terlibat korupsi. Mari kita lihat ke Partai Demokrat. Partai ini sudah babak belur karena pembusukan dari dalam. Petinggi-petinggi partainya banyak yang menjadi tersangka kasus korupsi Hambalang, antara lain Angelina Sondakh, Nazaruddin, Andi Mallarangeng, dan Anas Urbaningrum. Sebagian tersangka sudah mendapat vonis hukuman (Angelina dan Nazarudin), sedangkan tersangka yang lain masih bebas berkeliaran.

Mari bandingkan dengan kasus yang menimpa PKS. LHI, mantan Presiden partai itu, sudah ditangkap oleh KPK, sekarang mendekam di Rutan Guntur. LHI menjadi tersangka karena diduga menerima suap dari Fathanah terkait impor daging sapi, meskipun uang suapnya belum diterima. LHI langsung ditangkap malam itu juga oleh KPK dan langsung dijebloskan ke Rutan Guntur. Dalam perkembangannya, kasus suap itu diperlebar oleh KPK menjadi kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Semua harta LHI diperiksa, beberapa diantaranya disita. Berhubung LHI dulu adalah Presiden PKS, maka partainya ikut terseret-seret, aset partai pun diobok-obok oleh KPK lalu disita. Dengan dukungan media mainstream, berita tentang TPPU dan penyitaan properti milik tersangka maupun partai benar-benar membuat PKS menjadi semakin terpuruk di mata masyarakat. Citra mereka semakin jatuh, apalagi kasus ini semakin seru karena ada bumbu tentang perempuan yang terlibat di dalamnya. Saya menangkap kesan sepertinya “drama” KPK dengan PKS ini baru akan berakhir setelah Pemilu 2014 (kayaknya lho), atau meminjam istilah orang PKS “akan terus digoreng-goreng” berlama-lama.

Kembali lagi ke kasus yang melanda Partai Demokrat. Anas dan Andi sudah ditetapkan menjadi tersangka. Keduanya diduga menerima uang suap dalam kasus Hambalang. Kasus Hambalang nilai korupsinnya jauh lebih besar daripada kasus suap impor daging sapi. Meski sudah dietapkan menjadi tersangka, anehnya KPK tidak menahan keduanya. Baik Anas maupun Andi sampai detik ini bebas berkeliaran dan berkegiatan ke mana saja kecuali pergi ke luar negeri. Tentu KPK punya alasan tersendiri mengapa tidak menahan keduanya, suka atau tidak suka yah kita percaya saja kepada KPK.

Sebagaimana LHI, Anas adalah mantan Ketua Umum Partai Demokrat. Bedanya, KPK tidak (atau belum?) mengembangkan kasus suap Anas maupun Andi menjadi TPPU. Aset properti milik mereka pun tidak disita, begitu pula Partai Demokrat tidak disentuh sama sekali, misalnya saja properti milik partai seperti mobil. Bahkan Nazarudin yang sudah dijatuhi hukuman penjara juga tidak terkena TPPU, hartanya pun masih aman tidak disita (CMIIW).

Perbedaan perlakuan ini tentu membuat masyarakat bertanya-tanya ada apa ini, mengapa KPK seolah-olah terkesan begitu keras kepada orang dari suatu partai tetapi terlihat lembek pada orang dari partai lainnya. Kalau memang orang-orang itu diduga bersalah, maka seharusnya perlakuannya tidak boleh berat sebelah. Wajar saja jika muncul dugaan politisasi, konspirasi, merasa dizalimi, kriminalisasi, atau apapunlah namanya. Saya pikir pasti banyak orang yang merasakan hal yang sama dengan saya, tetapi karakteristik masyarakat kita adalah massa yang diam (silent majority), maka mereka cukup menjadi pengamat yang menyaksikan babak demi babak drama KPK dengan dua partai yang saya sebutkan di atas.

Least but not least, hingga saat ini saya dan sebagian besar masyarakat masih percaya pada kredibilitas dan integritas KPK. Dukungan masyarakat kepada KPK masih sangat kuat, hal ini dapat dilihat dari respon masyarakat di jagat maya yang sebagian besar mengapresiasi KPK sembari mengecam pernyataan-pernyataan dan sikap perlawanan yang ditunjukkan oleh petinggi, kader, dan simpatisan PKS. Saya menilai sikap perlawanan itu malah kontraproduktif sebab makin menyudutkan mereka dan membuat antipati sebagian masyarakat.

Siapapun yang bersalah harus dihukum. Kalau nanti terbukti LHI, Anas, maupun Andi bersalah maka mereka pantas menerima ganjaran yang setimpal baik di dunia maupun di akhirat. Masyarakat akan menghukum partai yang terlibat korupsi pada Pemilu 2014 nanti. Sebaliknya, kalau mereka tidak terbukti bersalah, maka tidak ada alasan untuk menahan mereka. Adapun partai mereka yang tercemar itu adalah konsekuensi dari pertarungan politik yang kotor.

Kepada KPK saya berpesan agar jangan tebang pilih kasus. Masih banyak kasus-kasus besar lain yang perlu disidik dan menuntut keberanian KPK karena melibatkan orang sangat penting di negeri ini. Selain kasus Hambalang, ada kasus BLBI dan kasus Century yang nilainya triliunan tetapi dibiarkan mengambang, ada juga misteri dibalik kasus Antasari. Teruskan misi anda sebagai penegak keadilan dalam memberantas korupsi yang sudah menjadi penyakit kronis di negeri ini. Sekali anda tidak netral dan terkontaminasi kepentingan politik tertentu, maka hancurlah kredibilitas anda dimata masyakarat.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

29 Balasan ke Beda Partai Beda Perlakuan KPK?

  1. fae berkata:

    kayaknya hari ini sudah terkikis sedikit demi sedikit kredibilitasnya pak,
    mungkin yang harus disalahkan mungkin lebih ke pimpinannya dibandingkan ke lembaganya🙂

  2. Imron Rosyadi berkata:

    sejarah mencatat, sepertinya memang sudah jadi fitrah, setiap dakwah pasti menemui cobaan nya.🙂

  3. Yuli Dyna berkata:

    Bersihkan KPK dari oknum-oknum yg bermain didalamnya…
    tulisan bagus izin share ya mas ?

  4. aal bagaskara berkata:

    Dulu saya sangat percaya KPK sebagai lembaga independen dan terpercaya,
    sayang,, kepercayaan itu mulai pudar
    sulit pulih
    selama KPK masih tebang pilih

  5. Ping balik: [Catatan Dosen ITB] Beda Partai Beda Perlakuan KPK ? | Islamedia.co

  6. Ping balik: Beda Partai Beda Perlakuan KPK? | dakwatuna.com

  7. Ping balik: [Catatan Dosen ITB] Beda Partai Beda Perlakuan KPK ? | Mas Yusro

  8. fuji berkata:

    Saya ajak rinaldi munir utk mempelajari pks,semoga dgn berjalannya waktu saya doakan anda semakin mengenal pks dan mencintainya,salam hangat.

    • Muhammad Fachrie berkata:

      Betul. Hal ini yang sepertinya belum dilakukan oleh Pak Rinaldi Munir. Kalaupun sudah, saya rasa baru sebatas informasi eksternal, tidak langsung menggali dari informasi internal.

    • rinaldimunir berkata:

      Dua Pemilu yang terdahulu (2004 dan 2009) saya memilih PKS lho. Ada pertimbangan mengapa saya tidak melirik partai ini lagi. Saya melihat PKS sekarang sudah jauh berubah, para petingginya tidak memberikan teladan. Saya merasa kasihan kepada kader-kadernya di tataran akar rumput yang bekerja keras secara ikhlas, namun jerih payah mereka hancur oleh perilaku elitnya. Tetangga saya aktivis PKS lho, dan saya hormat pada kesederhanaan dan keikhlasan mereka. Kebayang betapa kecewanya mereka melihat PKS saat ini.

      • Selamet Hariadi berkata:

        Apakah Seorang Nabi dengan KUDA Tunggangan yang TERBAIK, Baju Perang yang TERBAIK, hingga MAHAR yang juga TERBAIK itu berarti tak sederhana?

        Selyaknya seorang Pendidik melihat sederhana bukan pada Kemewahan Barang, namun pada FUNGSIONALITAS Barang tersebut.

        Islam tak mengajarkan kemewahan, namun Fungsionalitas.

      • hahn berkata:

        @pak selamet: termasuk yang jam tangan rolex yang 70 juta itu?😀 kenapa ga jam tangan yang biasa dipake orang kebanyakan? toh fungsinya sama, menunjukkan waktu😀

        jangan-jangan nanti kalau punya (dan pakai) pesawat jet pribadi (mengkhayal ini mah) bakal dimaklumi dong ya? hehe
        sudah ah, terlalu melebar komentarnya ini mah. punten pak Munir

  9. hahn berkata:

    untuk nazarudin, hartanya (katanya) sudah disita kok pak. Rp400 miliar.
    http://nasional.sindonews.com/read/2013/03/19/13/728973/harta-nazar-yang-disita-kpk-hampir-rp400-m

    bagaimana pun saya masih lebih percaya ke KPK daripada partai. partai apa pun itu, mau islamis, nasionalis, komunis (eh udah ga ada inimah), dll.

  10. m ah m berkata:

    memperhatikan

  11. semakin sombong, coba lihat gayanya “presiden pks” dan si fakhri hamzah.

    • Muhammad Fachrie berkata:

      Maaf, kira2 dimana ya letak kesombongannya ya? Apakah perjuangan memegang teguh prinsip kebenaran yang mereka lakukan dianggap sebagai sebuah kesombongan?

      • toyib berkata:

        maling ngaku penjara penuh… waktu yg akan menjawab apakah memang yg dipegang itu kebenaran ato guma angan-angan

  12. koco berkata:

    KPK paling bagus ketika dipimpin Antasari Azhar, gara2 kospirasi dia dipenjara.

  13. Hendri Ma'ruf berkata:

    Ada dua potong frasa yang membuat saya tertarik utk berkomentar. Frasa pertama, “Dengan dukungan media mainstream, berita tentang TPPU dan penyitaan properti milik tersangka…” dan “…meminjam istilah orang PKS ‘akan terus digoreng-goreng’ berlama-lama.”

    Sama dg Rinaldi Munir, saya juga bukan simpatisan PKS dan tidak memilih PKS dalam Pemilu. Tetapi, dalam hal sorotan masyarakat thd PKS dan nasibnya yang berlama-lama digoreng, saya menduga karena faktor “I” yang disandang PKS. Bukan cuma PKS yg disoroti, diploroti, diacak-acak citranya, tetapi juga banyak partai di luar negri yg menyandang “I” (= Islam) yang disoroti, diploroti, diacak-acak secara fisik dan citra. Partainya Erdogan (Presiden Turki) dan partai-partai di Mesir begitu juga.

    Poin saya adalah, pada akhirnya PKS dan partai apa pun di Indonesia yg menyandang “I” harus siap dengan upaya orang luar partai dan orang luar negri yang ingin mereka acak-acakan, kalah di Pemilu, kerdil, dan kalau bisa keluar gelanggang pertarungan (alias partai yang tutup).

  14. Hendri Ma'ruf berkata:

    Oh ya ttg Partai Demokrat, saya pikir pelindung mereka bukan hanya kroni-kroni yang orang kuat, melainkan juga tangan-tangan tak terlihat dari luar negri.

  15. ahmad humaidi berkata:

    Ambil hikmahnya. Ini saatnya bagi PKS bersih dan peduli ke dalam partainya sendiri. Berterima kasih dengan KPK yang mau membersihkan orang dan harta PKS dari korupsi tanpa harus membayar sepeserpun. Bahkan internal PKS harus lebih banyak membersihkan partainya ketimbang KPK. Saling berlomba membersihkan PKS. Sebelum KPK menemukan orang dan harta PKS yang kotor karena korupsi maka internal PKS sudah menemukannya dan membersihkannya lebh dahulu. Kalau sudah benar-benar bersih maka saatnya untuk mendulang suara pada Pemilu 2014..

  16. sofyan berkata:

    itulah politik,,jangan salah langkah,,sekali salah langkah rusak sudah rangka yang sudah di bangun,,tidak ada asap klo tidak ada api…..

  17. Jefri berkata:

    pak rinaldi, tulisan anda ini banyak dikutip di media PKS.
    Tak apa sih pak, namanya berpendapat.
    Cuma diembel-embeli frase “DOSEN ITB”, jadinya risih pak. Mbok ya “DOSEN” saja.

  18. Ping balik: Beda Partai Beda Perlakuan KPK ? | Islamedia.co

  19. Selamet Hariadi berkata:

    Sebaiknya DISCLAIMER itu tak usah ditulis, meski sebenarnya Penulis hanya tak ingin di-CAP sebagai Pendukung PKS.

    Saya dan sebagian besar orang pun mungkin tau jika seseorang sudah di-CAP sebagai Pendukung partai atau organisasi tertentu maka dia akan krg nyaman jika masuk ke lingkungan masyarakat lain yg kondisi partai atau organisasinya berbeda dengan CAP dirinya akan masyarakat.

    Penulis akan terlihat TETAP NETRAL kok, justru dg DISCLAIMER itu menjadi kurang elok.

    Salam Pendidikan!

  20. Selamet Hariadi berkata:

    Beda Profesi mungkin beda pendapatnya, sebaiknya juga melihat Tulisan Pak Jonru di http://jonru.wordpress.com/ yang juga tak mengembeli dirinya Pendukung ataupun bukan pemilik PKS.

    Salam Hormat untuk DOSEN!

  21. Bejo berkata:

    Knapa ustad ngurusin partai tetangga, biarlah mreka menguruusnye sendiri. Partai ustad emang lagi nga ada emasalah? Mreka blum pernah sekalipun nyeret2 parte lain apalagi parte ustad. Yg bikin heboh dan goreng isu kan org partai ustad juga. Repot kalo ustad bener sendiri, bener atau salah itu domain nya pengadilan, belum2 kok merasa nga terbukti, simpen aja tuh fakta di pengadilan klarifikasi semua aliran dana, bahwa petinggi2 partai ustad nyumbang ke partai dan hidup dari bisnis legal. Itu yg disita pasti dibalikin kalo parte ustad nga bersalah mungkin dgn harem2 nya juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s