Berkunjung ke Lumpur Lapindo, Porong.

Tanggul lumpur lapindo di pinggir jalan raya dan jalan kereta api. Dua hari yang lalu saya dalam perjalanan dari Surabaya ke Malang. Saya diundang oleh Universitas Brawijaya Malang untuk memberi materi pembekalan pada sebuah workshop di kampus itu. Berhubung tidak ada rute pesawat langsung dari Bandung ke Malang, maka saya naik pesaweat dari Bandung ke Surabaya saja. Dari Bandara Juanda Surabaya saya dijemput panitia menuju Malang.

Nah, dalam perjalanan dari Juanda ke Surabaya itu kami melewati daerah Porong, Sidoarjo, yang sekarang terkendala dengan nama kawasan “Lumpur Lapindo”. Seperti yang kita ketahui sebagian daerah Porong saat ini sudah tenggelam oleh lumpur panas yang keluar dari perut bumi. Lumpur panas yang menyembur akibat “kecelakaan” penambangan oleh PT Lapindo (anak perusahaan Bakrie) terus keluar hingga saat ini menenggelamkam desa-desa, rumah, masjid, sekolah, pabrik, sawah, jalan, dan sebagainya. Kawasan yang tenggelam itu membentuk danau lumpur yang luas. Ketinggiannya terus bertambah sehingga tanggul penahannya terus ditinggikan untuk mencegah lumpur tersebut meluber kemana-mana.

Tanggul lumpur lapindo yang tingginya sama dnegan gedung bertingkat dua. Dibalik tanggul itulah danau lumpur berada.

Tanggul lumpur lapindo yang tingginya sama dengan gedung bertingkat dua. Dibalik tanggul itulah danau lumpur berada.

Saya belum pernah melihat kawasan lumpur Lapindo, selama ini hanya mendengar dan membaca dari media saja. Lumpur Lapindo tidak hanya menjadi isu sosial dan ekonomi, tetapi juga menjadi isu politik sebagai kartu truf untuk memojokkan Aburizal Bakrie yang mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pemilu tahun depan.

Perjalanan dari Bandara Juanda ke kota Malang melalui jalan tol Gempol. Seharusnya jalan tol ini memanjang melewati Kabupaten Sidoarjo, tetapi di dekat danau lumpur jalan tol sudah terputus karena sebagian ruasnya sudah tenggelam oleh lumpur.

Mobil kami berhenti di pinggir jalan raya (bukan jalan tol) yang terletak di pinggir tanggul. Baru saja mobil kami menepi, datanglah tukang parkir liar yang langsung menagih Rp5000 untuk biaya parkir dan bayarnya harus dimuka. Tidak itu saja, beberapa pemuda mendatangi kami lalu bertanya berapa orang semuanya. Ternyata untuk melihat danau lumpur itu ternyata ditarik bayaran Rp20.000. Astaga! Kawasan lumpur Lapindo saat ini menjadi ajang bisnis. Orang-orang yang menarik bayaran liar itu mengaku penduduk desa korban lumpur Lapindo. Kata mereka uang pungutan itu untuk membantu warga yang sudah kehilangan rumah dan pekerjaan setelahsawah dan pabrik tempat merteka bekerja tenggelam. Entah benar entah tidak ceritanya, tanpa ingin berdebat, teman kami membayar Rp80.000 untuk empat orang.

Tanggul lumpur lapindo di pinggir jalan raya dan jalan kereta api.

Tangga naik menuju danau lumpur.

Yuk, sekarang kami naik ke atas tanggul melewati anak tangga di pinggir tanggul. Dibalik tanggul itulah menghampar danau lumpur yang sangat luas. Di dasar danau lumpur itulah dulu terdapat desa-desa yang dulu ramai dan subur.

Danau lumpur

Danau lumpur

Di bagian pinggir danau lumpurnya sudah mengeras. kabarnya tanah dari lumpur itu bagus dijadikan batu bata. Di tengah danau terlihat asap panas pertanda di titik itu menyembur lumpur panas yang tiada henti. Menurut para ahli di bawah danau itu terdapat gunung lumpur raksasa. Akibat penambangan yang salah, ada juga yang menyebutnya karena dipicu gempa bumi, yang keluar dari lubang bor bukan minyak tetapi lumpur panas. Mungkin lumpur itu akan keluar bertahun-tahun atau puluhan tahun. Wallahualam.

Danau lumpur dari sudut yang lain.

Danau lumpur dari sudut yang lain.

Di pinggir danau lumpur banyak orang yang mencari peruntungan. Ada tukang ojeg yang menawarkan keliling danau dengan tarif Rp20.000, ada pdagang VCD/DVD yang menjual DVD berisi gambar dan video tentang lumpur lapindo, ada tukang foto, dan sebagainya.

Setelah puas melihat danau lumpur, kami meninggalkan tempat itu untuk meneruskan perjalanan ke Malang. Di atas kendaraan saya membayangkan fragmen kehidupan yang saya saksikan tadi. Tragedi lumpur Lapindo adalah rahasia Tuhan, kita tidak tahu apa pesan yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita tentang lumpur itu. Apakah sebuah peringatan terhadap kesombongan manusia? Wallahu alam bissawab.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Berkunjung ke Lumpur Lapindo, Porong.

  1. Gits Iwan berkata:

    Memang kita tidak tahu ada apa di bawah lumpur tersebut, hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui….

  2. gagu berkata:

    yang tau keluarga bakrie bnyk kandungan das n minyak yang tersimpan d sn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s