Guru Jujur Paling Merana Setelah UN?

Seorang teman bercerita, setelah diumumkan nilai Ujian Nasional tingkat Sekolah Dasar, banyak ditemukan anomali. Anak yang malas membuat PR ternyata menjadi anak yang meraih nilai UN tertinggi, sementara anak yang selalu masuk ranking 10 besar malah nilainya turun atau anjlok. Padahal, seleksi siswa baru SMP negeri di Bandung hanya menggunakan nilai UN semata, sementara nilai rapor dari kelas 1 hingga kelas 6 tidak dilihat alias tidak berarti apa-apa dalam seleksi masuk SMP negeri.

Anak yang tidak menonjol di kelas, tidak masuk ranking, tiba-tiba mendapat nilai tertinggi dalam UN. Kalau nilai tinggi itu diperoleh secara jujur tentu tidak masalah. Tetapi, kalau diperoleh dengan kecurangan, lalu dengan nilai UN yang tinggi itu si anak berhasil masuk SMP negeri favorit hingga mengalahkan temannya yang selalu masuk ranking 10 besar, maka disitulah timbul kekesalan. Mana yang lebih dipercaya mewakili kemampuan anak, nilai rapor kelas 1-6 atau nilai UN yang hanya sekali itu saja?, ungkap teman saya itu.

Memang tidak ada jaminan anak yang masuk ranking bagus di sekolah juga mendapat nilai UN yang bagus. Kadang-kadang faktor kebetulan dan keberuntungan juga punya peran. Anak yang selalu juara bisa saja saat pelaksanaan UN merasa grogi dan stres karena dituntut harus meraih nilai bagus, akhirnya saat ujian dia melakukan banyak kesalahan yang merugikan. Sementara, anak yang biasa-biasa saja tidak merasa punya beban, dan ketika ujian mampu menjawab soal ujian yang kebetulan sama dengan yang dipelajarinya semalam. Di kelas anak saya, siswa yang selalu rangking dua nilainya malah di bawah nilai anak saya yang biasanya jarang masuk 10 besar, sebaliknya temannya yang peringkatnya jauh di bawah anak saya malah mendapat nilai UN yang lebih tinggi dari anak saya. Itu bisa dan biasa saja menurut saya, dan bukan sebuah anomali.

Di sekolah, siswa yang masuk ranking 10 besar biasanya orangnya itu-itu saja. Nilai rapor mereka cukup konsisten dan siapa yang mendapat juara 1, 2, hingga 10 sudah bisa diprediksi orang-orangnya. Nilai di dalam rapor dan peringkat siswa menggambarkan kemampuan siswa sesungguhnya, bandingkan dengan nilai UN yang “hanya” diperoleh dalam pelaksanaan selama tiga hari saja. Maka, kalau nilai UN yang tinggi diperoleh dari perbuatan yang tidak jujur, betapa tidak berartinya nilai rapor selama ini. Toh, seleksi masuk SMP hanya mengandalkan nilai UN saja. Maka, kata teman saya itu melanjutkan keluhannya, guru yang jujur mungkin merasa paling merana setelah nilai UN diumumkan, sebab penilaiannya selama ini tidak berarti apa-apa. Betapa tidak dihargainya si guru, lanjut teman saya itu, yang dihargai hanya selembar kertas berisi nilai UN, sementara penilaian selama enam tahun cukup disimpan di dalam lemari saja.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

6 Balasan ke Guru Jujur Paling Merana Setelah UN?

  1. ahmadfaisolat berkata:

    “Di sekolah, siswa yang masuk ranking 10 besar biasanya orangnya itu-itu saja. Nilai rapor mereka cukup konsisten dan siapa yang mendapat juara 1, 2, hingga 10 sudah bisa diprediksi orang-orangnya.”

    ibarat MotoGP, yang podium ya orang itu-itu saja. tapi bedanya, yang terakhir jadi juara dunia ya yang konsisten juara, sebab sistemnya akumulasi poin. andai di sekolah ada sistem akumulasi poin ranking, jadi kalau nilai UN-nya buruk sang juara kelas tidak dirugikan dan tetap jadi ‘juara dunia’. hehe

    #hanya beropini

    BTW Pak, kenapa kok masuk SMP tidak ada ujian seleksinya ya kayak masuk perguruan tinggi?

    Hmmm… 😕

  2. Sandy S berkata:

    Seberapa objektifif si guru juga bisa dipertanyakan kalau hal ini terjadi, Pak.

  3. teguh berkata:

    bikin capek aja kalo dikomentarin Pak.mendingan didensusin aja Pak,pak Menterinya

  4. Mas Yud berkata:

    Mengapa harus merana? Mungkin sang guru perlu mendefinisikan “kriteria sukses” bagi guru.
    Toh berada di sekolah favorit tidak menjamin kesuksesan sang murid. Yang penting guru itu sudah memberikan pendidikan dasar yg berguna bagi masa depan siswa.
    🙂

  5. Nining berkata:

    Bener banget, dan sungguh menjengkelkan. Anak saya selalu ranking 1 atau 2 selama 6 tahun di SD. Juara Olimpiade Matematika dan IPA, Siswa Teladan ( OSN ) tapi saat UN ,nilainya dikalahkan begitu saja dengan teman2nya yang sangat-sangat biasa2 saja, yang mendapatkan nilai sangat fantastis, yang menyamai bahkan melampaui anak yang selalu juara kelas sehingga tidak bisa masuk SMPN terbaik. Sungguh menghancurkan pendidikan karakter yang saya bangun dengan susah payah, untuk : selalu jujur dan gigih, jangan tergoda sedikitpun bila ada ajakan berbuat curang, ibarat nila setitik rusak susu sebelanga, jangan pernah menghancurkan reputasi yang sudah susah payah dibangun. Tapi dengan mudahnya sistem dan orang2 yang terlibat didalamnya menghancurkan begitu saja pondasi yang sedang kami bangun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s