Pengalaman PPDB 2013 Kota Bandung yang Mendebarkan

Hari ini adalah hari yang paling menegangkan dalam hidup saya. Sabtu 6 Juli 2013 adalah batas terakhir pendaftaran siswa baru SMP negeri di kota Bandung yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung dengan nama PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Saya sudah pernah menulis sebelum ini tentang kegalauan orangtua yang harap-harap cemas dengan PPDB. Mereka yang galau, termasuk saya, adalah orangtua dengan nilai UN antara 25 dan 27 sebab saking banyak jumlahnya. Mau masuk SMP dalam kluster 1 tanggung, mau ke kluster dua juga belum ridho. Tahun ini nilai UN SD di kota Bandung mengalami penurunan, jadi ada harapan passing grade SMP negeri juga mengalami penurunan.

Saya setuju dengan penerimaan siswa baru dengan sistem kluster ketimbang rayonisasi. Sistem kluster menurut saya lebih adil, sebab calon siswa dapat memilih SMP manapun yang dia minati tanpa disekat oleh batas-batas wilayah seperti pada sistem rayonisasi. Selain itu, siswa-siswa berkualitas juga bisa menyebar ke SMP-SMP yang tidak termasuk favorit sekalipun.

Namun, sistem kluster membuat para orangtua deg-degan dalam menentukan SMP anaknya. Satu-satunya alat seleksi dalam PPDB di Bandung hanyalah nilai UN semata, terlepas nilai UN itu dari hasil ujian yang jujur atau hasil kecurangan. Nah, passing grade nilai UN tahun lalu tidak dapat dijadikan patokan. Passing grade sebuah sekolah tergantung dari siswa yang mendaftar. Jika yang mendaftar lebih banyak siswa bernilai UN tinggi, maka passing grade-nya ikut tinggi. Sebaliknya jika yang mendaftar adalah siswa dengan UN yang sedang-sedang saja atau rendah, maka passing grade di sekolah itu ikut turun.

Di Bandung calon siswa hanya boleh mengisi dua pilihan kluster. Pilihan satu dari sekolah pada kluster 1, pilihan keduanya pada kluster dua atau tiga. Kalau memilih pilihan satu dari kluster dua, maka pilihan keduanya dari kluster satu atau tiga. Kalau memilih plihan satu dari kluster tiga, maka pilihan keduanya dari kluster tiga lagi.

Bagi orangtua galau seperti saya, pendaftaran dilakukan pada hari terakhir dan pada detik-detik terakhir. Setiap saat saya selalu memantau melalui situs PPDB daring data pendaftar, nilai UN mereka, dan passing grade sementara jika kuota (jumlah daya tampung) sudah terpenuhi. Pada hari pertama pendaftaran, jumlah yang mendaftar masih sedikit. Hanya mereka yang memiliki UN tinggi dan sudah yakin dengan pilihannya yang mendaftar. Pada hari kedua dan ketiga pergerakan nilai juga masih lambat. Barulah pada hari kelima (H-1) jumlah pendaftar sudah mulai banyak dan passing grade smeentara sudah mulai bermunculan.

Pada hari terakhir pendaftaran, yaitu Sabtu siang tadi, seperti yang saya duga jumlah pendaftar mengalami booming. Sejak pukul 9 pagi para orangtua dan anaknya sudah mulai ramai mendatangi SMP favorit. SMP favorit di Bandung yang lokasinya tidak terlalu berjauhan adalah SMP 2, 5, 7, dan 14 (semuanya pada kluster 1) dan SMP 44 (kluster 2). Namun, semalam pergerakan passing grade di SMP 14 sudah mendekati 27. Orangtua yang galau, yang nilai UN anaknya antara 25 dan 27 memilih meninggalkan SMP 14, mereka ramai-ramai mendatangi tiga SMP favorit yang tersisa (SMP 7, 2, dan 5) yang jumlah pendaftarnya masih sedikit (sedikit karena setiap orang menahan diri mendaftar, menunggu pergerakan nilai yang lamban).

Saya dan anak mendatangi SMP 7 di Jalan Ambon. Wow!, orangtua sudah menyemut di SMP ini. Mereka saling mencari tahu informasi perkembangan nilai di SMP 7, juga di SMP 2 dan SMP 5. Semua orangtua di sana berharap anaknya dapat lolos di SMP 7. Mereka saling bertanya lewat HP, mengkases situs PPDB daring dengan laptop, komputer tablet, dan smartphone lainnya. Beberapa orangtua menahan diri untuk mendaftar, menunggu kepastian yang tidak jelas.

Menjelang pukul 12 siang wajah-wajah gelisah para orangtua mulai kelihatan. Situs PPDB masih belum memutakhirkan data terbaru, padahal pendaftaran akan ditutup jam 14 siang. Sebagian orangtua yang pasrah akhirnya mendafar juga, tetapi sebagian lagi masih wait and see. Jam 12 siang terdengar kabar hahwa di SMP 5 jumlah yang mendaftar masih sedikit. Memang banyak orangtua bergerombol di sana, tetapi mereka masih belum mau mendaftar. Yang dikhawatirkan oleh para orangtua itu adalah ‘serangan fajar’ pada saat-saat terakhir, yaitu masuknya pendaftaran secara kolektif dari siswa SD di Jalan Merdeka (yang dikenal memiliki banyak nilai UN tinggi-tinggi). Mereka khawatir passing grade meroket ‘gara-gara’ nilai UN dari SD itu. Duh, benar-benar sengit persaingan di kluster satu ini, khususnya pada empat sekolah yang saya sebutkan di atas.

Mendengar kabar itu, saya dan anak bergegas meninggalkan SMP 7, berharap ada ‘keajaiban’ nilai di SMP 5. Ternyata di SMP 5 parkir motor dan mobil penuh, para orangtua terlihat menyesaki ruang pendaftaran. Terdengar pengumuman dari petugas bahwa ruang pendaftaran akan ditutup pada pukul 13.30, yaitu sekitar 45 menit lagi. Mereka hanya akan melayani pendaftar di dalam ruangan itu saja , setelah pukul 13.30 pintu ruangan pendaftaran akan ditutup dan pendaftar yang baru datang tidak akan dilayani lagi. Menurut saya hal ini tidak boleh dan melanggar aturan, sebab masa pendaftaran resminya ditutup pukul 14.00, jadi panitia tidak boleh menolak pendaftaran setelah pukul 13.30. Tetapi apa mau dikata, petugas di SMP 5 itu mungkin kerepotan dengan banyaknya pendaftar yang menyesaki ruangan yang tidak terlalu luas itu.

Wajah-wajah tegang orangtua semakin bermunculan. Mereka mulai tampak panik dan cemas, tetapi tetap masih menahan diri untuk mendaftar. Sementara pergerakan nilai masih sangat lambat, data yang masuk tidak segera diunggah ke situs web. Hal ini yang membuat geram para orangtua sebab mereka diombang-ambingkan oleh ketidakpastian. Tidak hati-hati dalam menentukan pilihan bisa fatal akibatnya, anaknya bakal tersingkir ke kluster dua atau tidak diterima sama sekali pada semua pilihan.

Melihat kondisi itu, saya pun mulai dihinggapi kekhawatiran. Waktu tersisa satu jam lagi, tetapi saya masih belum bisa juga memutuskan mau mendaftar ke SMP mana, SMP 5 atau SMP 7? Lalu, pilihan keduanya SMP 44 atau SMP 27? Duh, benar-benar bingung, galau, khawatir, dan cemas campur aduk menjadi satu. Setelah berpikir dan menimang-nimang, saya segera mengambil keputusan untuk membawa anak saya ke SMP 4 di Jalan Samoja. SMP 4 ini masih termasuk kluster satu. Tadi siang saya lihat passing grade sementaranya 26.25, jadi masih aman buat nilai UN anak saya.

Tiba di SMP 4 saya melihat suasananya tidak seramai di SMP 7, SMP 5, dan SMP 2. Di sini saya mendapat info dari petugas bahwa passing grade sementara sudah mencapai 26.35. Hanya terlihat beberapa orang pendaftar yang sedang duduk-duduk. Mereka adalah ibu-ibu yang H2C, khawatir terjadi ‘serangan fajar’ tak terduga menjelang pukul 14.00. Ibu-ibu ini nilai UN anaknya berada tepat pada passing grade sementara. Mereka khawatir pendaftar yang baru datang dengan nilai UN yang lebih tinggi dapat menyingkirkan anak mereka yang berada pada posisi perbatasan. Bbeerapa ibu berteriak kepada petugas untuk menutup gerbang sekolah supaya tidak ada lagi yang bisa mendaftar. Tetapi petugas tidak bersedia sebab mereka tidak ingin dianggap melanggar aturan karena waktu pendaftaran baru berakhir pukul 14.00.

Namun, meskipun sudah berada di SMP 4 saya masih juga belum melakukan pendaftaran. Pikiran saya masih ke SMP 7, karena anak saya masih ngebet dengan sekolah itu. Namun setelah melihat kompleks sekolah SMP 4 yang bersih dan menyenangkan, saya pun mulai jatuh cinta pada sekolah ini. Saya katakan kepada anak saya kita pilih saja SMP 4 ini, lupakan SMP 7 sebab nilai passing grade-nya masih gambling, bisa berada di atas 27.

Dengan memantapkan hati, pukul 13.40 (yang berarti 20 menit lagi dan sudah tidak mungkin cukup waktu untuk balik lagi ke SMP 7 yang ), saya masukkan berkas pendaftaran ke meja panitia. Sepuluh menit pemrosesan berkas, akhirnya proses pendaftaran selesai juga. Plong hati saya, namun saya tidak segera pulang, masih menunggu tepat pukul 14.00. Sesudah saya hanya ada satu orang lagi yang mendaftar, dan menurut panitia passing grade sementara tidak berubah, yaitu tetap 26.35. Ibu-ibu yang berada di saa merasa gembira sebab serangan fajar yang diperkirakan datang pada detik-detik terakhir ternyata tidak terjadi, jadi anak-anak mereka berada pada posisi aman (diterima).

Malam hari saya memantau passing grade sementara di situs web PPDB. Alhamdulillah pergerakan nilai passing grade sudah berhenti, jumlah data yang masuk sudah sama dengan data terakhir jumlah pendaftar. Anak saya bisa masuk SMP pada kluster ini dan berada pada posisi yang sangat aman. Di bawahnya masih ada 43 orang lagi yang lolos dengan passing grade terendah 26.35. Di situs PPDB saya melihat passing grade SMP 7 sudah mencapai 26.65, passing grade SMP 5 mencapai 27.15 dan passing grade SMP 2 mencapai 27.2, semuanya di atas nlai UN anak saya.

pg
pg2
pg3
pg4

Lega benar saya malam ini setelah mengalami ketegangan selama satu hari tadi. Andai saja tadi siang saya tetap bertahan di SMP 7 atau SMP 5, mungkin anak saya sudah terlempar ke pilihan kedua. Andai saja tadi siang saya tetap mendaftar di SMP 7 atau SMP 5, mungkin yang terjadi adalah kesedihan. Ada hikmahnya juga saya tidak jadi mendaftarkan anak ke dua SMP itu. Alhamdulillah dengan perhitungan yang cermat dan kehati-hatian saya tidak salah dalam mengambil keputusan. Mudah-mudahan pilihan ke SMP 4 itu adalah pilihan terbaik menurut Allah SWT dan terbaik pula untuk anak saya. Pasti ada Rahasia Allah yang ‘memasukkan’ anak saya ke SMP 4 ini. Wallahu alam bissawab.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Pengalamanku. Tandai permalink.

26 Balasan ke Pengalaman PPDB 2013 Kota Bandung yang Mendebarkan

  1. Avan berkata:

    Mirip nonton film action, ya Pak. Seru. Hebat sekali sekarang masuk SMP aja orang tuanya yg sakit jantung.🙂 Dulu saya tidak diantar sama sekali sama orang tua saya waktu mendaftar di SMP 2. Alhamdulillah masih favorit ya. Jaman saya, SMP 5 lebih tinggi daripada SMP 2, sekarang yg paling top.🙂

    • rinaldimunir berkata:

      Dengan sistem penerimaan seperti yang saya ceritakan di atas, sangat sulit membiarkan anak sendiri yang mendaftar, Van. Saat-saat pengambilan keputusan pada waktu “rush” tersebut tetap membutuhkan keterlibatan orangtua, kecuali jika sudah yakin dengan pilihan dan percaya diri mendaftar jauh-jauh hari.

      Waktu SMP dan SMA dulu saya mendaftar sendiri ke sekolah, tidak pernah diantar orangtua. Dulu penerimaan SMP dan SMA di Padang menggunakan sistem rayonisasi, jadi setiap sekolah sudah pasti pilihan SMP/SMA nya apa.

    • batikpranandari berkata:

      iya betul, jaman tahun 90an akhir, 20an awal, smp5 masih numero uno. sekarang smp2 yah…

  2. sudahtidakgalau berkata:

    baru tau Da.. ternyata PPDB di Bandung belum online ya.. kalau di Sby sudah online… ndaftar tinggal ongkang2 dari rumah dan bisa kapan saja 24 jam.. selama 3 hari pendaftaran itu… Jadi tidak ada ‘rushing’ pada hari2 terakhir daftar spt di bandung…
    Sistem online ini juga sangat transparan.. krn siapa yg diterima dapat dilihat juga oleh orang lain.. dan semua data terkait dimunculkan (asal sekolah, rincian nilai UN, rincian nilai tes TPA, daftar pilihan sekolah, waktu daftar, dll)… jadi hampir tidak mungkin ada kecurangan…
    Kalau menurut saya sistem rayonisasi di Sby tidak berarti mengkotak-kotakkan calon siswa, krn di setiap rayon ada beberapa ‘sekolah kawasan’ yang adalah sekolah unggulan. Jadi, calon siswa dengan nilai UN tinggi bisa saja memilih sekolah unggulan di dalam rayon maupun diluar rayon.
    Yang pasti setiap calon diberikan 2 pilihan: boleh dua2nya di dalam rayon atau salah satu diluar rayon.
    Anak saya yg diterima di SMP 1 itu juga di luar rayon, dan pilihan kedua tidak diisi… krn rencananya kemarin jika tidak diterima di SMP 1 maunya ke SMP swasta dekat rumah (SMP Islam)…

  3. rinaldimunir berkata:

    Tidak murni daring (only) 100%, Siti. Yang daring itu hanya informasi hasil pendaftaran di situs web. Kita tetap mendaftar di sekolah yang dipilih, menyerahkan berbagai berkas persyaratan, diperiksa, lalu petugaslah yang meng-entri-kan data ke situs internet. Jadi, data yang tampil di sana tidak realtime, Andai di Bandung PPDB-nya seperti yang di Surabaya, tentu tidak akan rush begini pada jam-jam terakhir. Tidak sulit membuat sistem daring seperti di Surabaya itu, tapi saya tidak tahu apa pertimbangan Dinas Pendidikan di Bandung tidak menggunakan sistem daring seperti di Suranaya itu.

    • rinaldimunir berkata:

      Tambahan: Kalau 100% daring seperti di Surabaya itu (orangtua memasukkan data ke internet dari rumah), bagaimana menguji kebenaran data yang dimasukkan? Apakah mungkin orangtua memalsukan data UN anaknya (misal nilai UN = 25, tetapi dimasukkan 27). Ketika diranking anaknya lulus, namun ketika dicek ternyata datanya palsu. Ini bisa mengacaukan hasil yang sudah lulus passing grade.

  4. Ping balik: SMP Baru dan Kurikulum 2013 Baru | Catatanku

  5. Aldy berkata:

    anaknya namanya siapa pak?? anak saya juga smp 4?? daftarnya terakhiran

  6. Zulfikar berkata:

    Wahhh seru bacanya. SMPN 4 bagus kok……banyak yg tembus SMAN 3, SMAN 5, SMAN 8 dan SMAN 2 Bandung

  7. nursholih354 berkata:

    Reblogged this on nursholih354 and commented:
    menarik

  8. Jokowi berkata:

    pendidikan itu hak setiap anak, sistem cluster itu berarti basisnya kompetisi dan itu sangat kapitalistik. jadi sistem rayonisasi itu lebih sesuai dengan hak anak, mutu sekolah harus merata dan itu tanggung jawab pemerintah.

    Alhamdulillah walikota Bandung, Ridwan Kamil, memahami konsep kebijakan sosial universal sehingga tahun 2014 ini akan jadi transisi, dan mungkin baru 2015 akan diberlakukan sistem rayonisasi. Anak sekolah di wilayah terdekat, bukann engejar-nngejar sekolah favorit. Semua sekolah harus berdasar Standar Pelayanan Minimum (SPM).

    Bravo walikota yang baru!

  9. Jokowi berkata:

    Silakan baca di http://www.pikiran-rakyat.com/node/281070

    Tahun 2014 ini berlaku untuk pilihan 1 berdasarkan cluster, tapi pilihan kedua berdasarkan wilayah. Pembagian wilayahnya lihat di berita.

    Konon kabarnya (saya lihat dilog di TV Bandung) pada tahun 2015 akan didorong menjadi sistem wilayah sepenuhnya…. Semoga. Jadi, diharapkan tidak ada lagi sekolah negeri yang isinya hanya anak-anak pinter, tapi campur per wilayah. Juga tidak ada lagi sekolah negeri elit yang anak-anak orang kaya (udah pinter-pinter, anak orang kaya lagi). Sekolah negeri itu karena berbasis wilayah, isinya campur antara yang pinter banget, sedang dan biasa, juga dr segi strata sosial.

    Kalau mau eksklusif ya sekolah swasta elit saja, begitu kata Jokowi dan Ahok yag diterapkan di DKI. Syukurlah walikota Bandung pun konon konsepnya demikian.

    Bravo pemimpin-emimpin muda yang lebih cerdas!

  10. desimah berkata:

    artikelnya sangat menarik, karena tahun ini anak saya masuk SMP, saya sebagai orang tua juga ada perasaan cemas, hanya do’a untuk anak saya agar bisa diterima di smp negeri.
    Pengalaman Ibu dapat menjadi acuan untuk saya.
    Terima kasih.

  11. ags berkata:

    Kecurangan dlm dunia pendidikan kita sudah sistemik. Pengalaman , anak saya dulu lulus SD dengan cara jujur. Masuk cluster 1 dgn PG tertinggi saat itu di Bandung, dan posisi nama anak saya di atas. Saat sekolah di sana, anak sy selalu masuk 5 besar. Ia lebih suka math dan fisika, dibandngkan yg lain. Saat UNas SMP, ia merasa yakin bisa meraih nilai tinggi., bisa menjwb dgn lancar. ketika ada try out di luar sklh, ia selalu teratas. Saat pra UN (jujur) di skl, ia menduduki tertinggi di kls dan ke 5 di seklh. Saat UN berlangsung, anak jujurku berkata,”MA, DI SEKOLAH ADA YG JUALAN KUNCI JAWABAN, Dosa kan ma, kalau tidak jujur. Kalau tidak jujur pasti sama dengan menzalimi orang lain ya ma….,pasti Tuhan akan murka” anakku berkata dengan lugu. Aku mengangguk.Tapi saat pengumuman UN 2011 , apa hasilnya? Tadinya ia gembira mendapat nilai di atas 37 tapi di bawah 38. Anak yang asli pintar dan cerdas, kalau jujur nilai UNnya kebanyakan berkisar di angka 36 dan 37 an. Tapi anak yg pintar dilengkapi kunci jawaban nilainya banyak menembus 38 dan 39 yang jumlahnya melimpah ruah. Yang mengejutkan anak yang sehari-hari kurangpun bisa mencapai angka 38 mengalahkan anak juara umum di sekolah tertentu yg hanya 36 NEMnya. Anakku berlinangan airmata. Tapi aku katakan, nak, Tuhan tidak tidur. Ia akan selalu melindungimu, Tapi kau harus menghadapai ujian yg sesungguhnya. Ujian kehidupan, dan untuk bekal hidup yg lebih kekal, akhirat . Sepahit apapun orang berbuat curang sehingga kau tersungkur, jangan sedikitpun anakku, kau ikut berbuat curang. Engkau lebih mulia di hadapan Allah, meski hanya masuk SMA cluster 2, dan temanmu yang tidak jujur tertawa gembira di cluster 1. Selanjutnya cerita panjang dan memprihatinkan, juga menodai proses pendidikan di SMA. Maka, saya katakan, meski kau disikut, di permainkan oleh sandiwara ketidak jujuran, bahkan selama di SMA, biarlah Tuhan yang mengadili nak. Tahun 2014, generasi yg lulus SMP dgn kemahiran berbuat curang di 2011 itu ketimpa durian runtuh. Saat lulus SMA tahun 2014 mendapat kesempatan masuk PTN dengan nilai UN. Yang kita semua (kalau jujur) pasti akan menjawab, UN tetap curang. Ini menggembirakan bagi mrk yg menghalalkan segala cara untuk meraih nilai sekolah dan termasuk nilai UN. Anakku berlinangan airmata. Lalu aku rengkuh ia dalam dekapan, dan kubisikkan…”Anakku, jangan pernah tertipu oleh kehidupan dunia yg sementara ini . Ujian yg sesungguhnya adalah menjadi jujur dan merengkuh Ridho Allah SWT, dalam kondisi apapun, dalam tekanan lingkungan sekalipun. … Kau sudah lulus ujian di hadapan Allah, karena kau selalu jujur….. dan anti berbuat curang…tapi, mereka yang lulus gemilang dgn cara tidak jujur, sudah kalah ujian di hadapan Tuhan …. betapapun di muka bumi mereka dielu-elukan….oleh manusia tapi bukan oleh Tuhan”

  12. Irma berkata:

    Saya juga mau berbagi pengalaman saya yg daftar ke SMA Negeri 3 Bandung tahun 2013 dan nilai saya menjadi passing grade alias 36,70 dan saya satu-satunya anak yg memiliki nilai segitu di ppdb. Pada saat itu Ayah saya terlalu optimis hehe padahal saya udh bilang “Yah ke 5 ajaa banyak yg nem nya gede2” Tapi Alhamdulillah keterima dengan cara yg sah dan halal dan sekarang saya udh kelas XI di SMAN 3 dan tidak ketetran Alhamdulillah:)

  13. Ping balik: ppdb smpn 20 bandung | info pendidikan

  14. Ping balik: hasil PPDB kota bandung sd | info pendidikan

  15. Ping balik: memantau hasil seleksi ppdb | info pendidikan

  16. Ping balik: ppdb kota bandung hasil seleksi | info pendidikan

  17. Ping balik: Www ppdb kota bandung com | info pendidikan

  18. Ping balik: Hasil seleksi PPDB 2014 kota bandung | info pendidikan

  19. Ping balik: hasil seleksi ppdb sd kota bandung | info pendidikan

  20. Ping balik: ppdb kota bandung hasil seleksi sd | info pendidikan

  21. risa berkata:

    saya juga mempunyai keponakan di SMPN 4 bandung. sehari2 dia rajin, namun ketika Ujian dia dikalahkan oleh anak yang biasa2 saja, karena ana tersebut ,menggunakan KJ, ponakan saya hanya mendapat nilai 21.75 sedangkan yg menggunakan kj, Nilainya diatas 30. sampai saat ini ponakan saya bingung mencari SMAN di bandung

  22. Ping balik: PPDB Kota Bandung 2016 yang “Unpredictable” | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s