Ponsel Jadul

Saya suka mengamati ponsel teman-teman saya di kampus (sesama kolega dosen). Rata-rata usia mereka di atas empat puluh tahun, beberapa berusia kepala lima dan kepala enam . Ada yang menarik dari ponsel teman-teman saya itu. Ponsel mereka kebanyakan ponsel biasa-biasa saja, bukan ponsel jenis smartphone atau ponsel pintar. Kebanyakan ponsel teman-teman saya itu masih memakai keypad, bukan ponsel yang bertipe layar sentuh (touch screen). Sebagian sudah menggunakan keypad dengan layout qwerty, tetapi beberapa teman masih menggunakan ponsel jadul yaitu ponsel dengan satu tombol keypad untuk tiga karakter.

Saat ini iklan aneka gadget dan ponsel pintar (smartphone) berseliweran di sekeliling kita. Komputer tablet yang tipis dan mungil, ponsel layar sentuh (touch-screen), ponsel android, iPhone, iPad, dan masih banyak lagi jenis lainnya menyerbu kehidupan kita. Semuanya serba sentuh dengan jari, sangat jarang yang memakai keypad secara fisik. Semuanya tampak menggiurkan bagi penggila barang elektronik meskipun harganya juga tidak murah. Sasarannya adalah masyarakat yang gemar gonta ganti gadget, terutama kaum muda dan wanita aktif.

Namun, teman-teman saya, termasuk saya sendiri, rupanya tidak terlalu tertarik dengan barang elektronik yang mutakhir itu. Buktinya ponsel yang mereka dan saya miliki mungkin dianggap sudah ketinggalan zaman. Padahal, secara materi teman-teman saya itu mampu membeli perangkat gadget, utamanya ponsel smartphone, yang mahal sekalipun, namun mereka tidak melakukannya. Mereka masih tetap setia menggunakan ponsel yang digolongkan jadul itu.

Saya sendiri juga tidak tertarik mengganti ponsel dengan yang bertipe mutakhir. Alasannya sederhana. Bagi saya, dan mungkin juga teman-teman saya itu, ponsel bukan untuk gaya-gayaan. Selagi bisa untuk kirim SMS, nelpon, dan mengakses internet, itu sudah cukup (kalau untuk saya pribadi ditambah fitur kamera, karena saya suka memotret untuk bahan tulisan blog atau diunggah ke fesbuk). Sehingga, tidak ada alasan untuk menggantinya dengan ponsel teranyar. Anak saya sudah sering bertanya kenapa saya tidak membeli ponsel pintar layar sentuh dari merek Korea Sam*ung seperti yang sering diiklankan di TV dan surat kabar. Secara keuangan saya sangat mampu membelinya, tetapi saya tetap bergeming dengan ponsel lama.

Bagi orang seusia saya (40 tahunan ke atas), usia di atas 40 sudah digolongkan usia mapan. Pada kelompok usia ini orang dianggap berada pada area nyaman (comfort zone). Kalau sudah berada pada area nyaman, orang enggan berpindah atau mencoba hal-hal yang baru. Apa yang mereka miliki dan tempati sudah memberikan kepuasan, sehingga tidak ada alasan yang kuat dan luar biasa untuk mengubahnya. Biarlah anak-anak muda yang senang berpetualang dan mencoba hal-hal yang baru melakukannya. Suatu saat nanti mereka akan memasuki zona nyaman dan sejarah kembali berulang.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

8 Balasan ke Ponsel Jadul

  1. WhatTheFact berkata:

    sama Pak, saya juga ngga tertarik tuh

    #berarti saya sudah mapan dong?

  2. hahaha, saya termasuk anak muda yang sering gonta ganti hape itu. ah, semoga hape baru ini hape yang terakhir deh (minimal buat lima tahun)😀

  3. Musim Semi berkata:

    iya, saya juga bukan tipe yg suka gonta ganti pak…
    saya juga sering mikir gtu pak..kenapa dosen2 saya yang keren-keren pas diliat hpnya banyak yg jadul..jd ini alasannya😀

  4. hape jadul banyak kenangan,ya, Pak..
    saya juga setia dengan hape saya sejak kuliah… (kurang lebih udah 6 tahun) itu aja warisan orangtua😀

  5. pemikirulung berkata:

    tapi kl buat saya pak smartphone memang sangat membantu aktivitas sehatri-hari, bukan buat cari gaya atau ikutan trend. waktu saya tinggal di desa smartphone membantu banget untuk akses informasi. dan sekarangpun pekerjaan banyak terbantu dengan gadget itu, misalnya untuk terima email atau bahkan menulis blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s