Berterimakasihlah Kepada FPI

Ada berita yang tidak terlalu menjadi perhatian media massa pada akhir Juni 2013 yang lalu. Bagi industri minuman keras (miras) dan pengguna miras tentu saja berita tersebut adalah kabar buruk. Seperti yang diberitakan di laman Detik.com ini, Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan Front Pembela Islam (FPI) yang mengajukan judicial review Keppres Minuman Keras (Miras) No 3/1997. Keppres itu mengatur bahwa minuman mengandung etanol 0-5 persen boleh beredar, 5-20 persen perlu diawasi dan 20-55 persen lebih diawasi lagi.

Dengan dihapuskannya Keppres ini, maka peredaran minuman keras sekarang diatur oleh Perda, bukan lagi oleh Pemerintah Pusat. Setiap daerah berhak membuat peraturan sendiri yang mengatur peredaran minuman keras (miras) di daerahnya. Baru-baru ini saya baca di koran lokal bahwa Kota Cirebon membuat Perda yang melarang peredaran miras sama sekali (termasuk yang mengandung etanol 0-5 persen). Kota Bandung pun juga mempunyai Perdas miras, meski tidak melarang sama sekali, namun mengendalikan peredaran miras supaya tidak mudah didapat terutama oleh remaja atau anak muda.

Tentang miras di kota Bandung sudah pernah saya tulis dalam tulisan terdahulu berjudul Mudahnya Membeli Miras di Bandung. Miras adalah kekhawatiran banyak orang, terutama dampak buruknya. Sudah banyak ditulis tentang mudharat mengkonsumsi miras, oleh karena itu tulisan ini tidak membahas tentang pro kontra mengkonsumsi miras.

Selama ini penentang miras kebanyakan adalah dari kelompok Islam. Namun, kelompok lain pun mulai bersuara terkait dampak buruk miras. Ribuan warga di kota Jayapura (yang kebanyakan bukan orang Islam) melakukan protes peredaran miras. Seperti dikutip dari situs MetroTV tersebut, massa pendemo marah lantaran aksi kriminal dan pembunuhan kian marak akibat pengaruh miras. Pengunjuk rasa menuntut pemerintah daerah bersikap tegas. Mereka mendesak pemerintah menutup seluruh toko yang menjual miras. Tidak hanya di Jayapura, ibu-ibu di Timika (masih di Papua) pun demo ke Kantor DPRD Mimika untuk mendesak Pemda dan aparat keamanan setempat segera menutup tempat penjualan minuman keras (miras). Mahasiswa di Papua juga demo menuntut legislatif segera mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang pelarangan minuman keras (miras) di Papua. Sebagaimana dikutip dari Situs Berita Papua, dalam orasinya Tanius Gomba (perwakialn mahasiswa Papua) mengklaim jika miras bukan budaya orang Papua sehingga DPR Papua perlu membuat Perda miras dan tidak mendengar intervensi dari pihak manapun. “Sudah banyak masyarakat Papua yang korban karena miras. Tidak ada untungnya miras beredar karena banyak menimbulkan dampak negatif,” kata Tanius Gomba.

Nampaknya banyak pihak mulai menyadari bahwa miras perlu disingkirkan dari kehidupan masyarakat karena dampak buruknya itu. Salah satu gerakan anti miras yang gencar di jejaring sosial dipimpin oleh Fahira Idris (putri pengusaha dan mantan menteri, Fahmi Idris).

Kelompok Islam yang paling vokal menentang peredaran miras adalah Front Pembela Islam (FPI). FPI sudah terlanjur mendapat stigma buruk dari media dan kelompok liberal karena kerap melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang dinilai keras. Media dan kelompok liberal memberi bermacam-macam sebutan kepada FPI, seperti preman berjubah, kelompok intoleran, kelompok anarki, kelompok wahabi, dan sebagainya. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh FPI di-blow-up habis-habisan oleh media dan ditayangkan berulang-ulang sehingga terbentuk opini buruk kepada ormas ini. Masyarakat yang tidak paham duduk perkaranya terpengaruh dan antipati kepada FPI (baca tulisan saya terdahulu: Bersikap Adil kepada FPI).

Stigma buruk terus dilekatkan setiap kali FPI melakukan aksi demo atau razia (sweeping). Salah satu razia yang dilakukan FPI adalah razia anti miras dengan mendatangi tempat-tempat hiburan malam. Seringkali aksi razia FPI berakhir ricuh disertai perusakan, nah peristiwa perusakan inilah yang lebih banyak diberitakan media. Namun media seringkali tidak berimbang dan tidak jujur dalam memberitakan aksi FPI tersebut, mereka tidak menjelaskan sebab musababnya. FPI sebelum memulai aksinya mengirimkan peringatan tertulis kepada pengusaha hiburan malam untuk tidak menjual miras, namun pengusaha tidak menggubris surat FPI tersebut. FPI juga meminta aparat hukum untuk menindak tegas tempat hiburan malam yang menjadi sarang peredaran miras dan narkoba. Namun, aparat penegak hukum yang seharusnya menindak pengusaha hiburan malam itu juga tidak berbuat apa-apa (sudah menjadi rahasia umum aparat menjadi beking tempat hiburan malam). Jika polisi tidak bertindak, maka yang terjadi adalah kontrol dari masyarakat yang melakukan dengan caranya sendiri, salah satunya FPI itu.

Meskipun saya tidak setuju seratus persen terhadap cara ‘kekerasan’ yang ditempuh oleh FPI itu dan tetap mengkritisinya, namun saya menganggap keberadaanya masih dibutuhkan sebagai kelompok penyeimbang dan pemberi pressure, khususnya terhadap kelompok liberal dan pengusung paham kebebasan berkeskpresi yang kebablasan. Bagi masyarakat yang kecewa dengan aparat penegak hukum yang terlihat diam atau tidak berdaya dalam memberantas penyakit masyarakat (perjudian, miras, pornografi, pelacuran, dll), apa yang dilakukan oleh FPI itu merupakan jawaban dari kekecewaan mereka. Jika aparat mau menegakkan hukum dengan adil maka saya kira FPI tidak akan melakukan aksinya dengan caranya sendiri. Pelik memang, tapi itulah kondisi penegakan hukum di negara kita yang amburadul.

Saya melihat FPI sekarang mulai mencoba melakukan aksinya dengan jalan konstitusional. Judical review terhadap Kepres miras itu adalah contohnya. Cara-cara yang elegan seperti itu harus diteruskan dan saya yakin akan mendapat dukungan luas dari masyarakat dan juga wakil rakyat di parlemen. Saya kira masyarakat yang selama ini tidak setuju dengan miras perlu berterima kasih kepada FPI, karena berkat FPI maka Keppres tentang peredaran minuman keras batal demi hukum. Wakil rakyat di parlemen perlu didukung untuk menggolkan RUU ANTI MIRAS, sehingga miras dilarang oleh UU secara nasional.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

13 Balasan ke Berterimakasihlah Kepada FPI

  1. Dailynomous berkata:

    Jadi teringat pasca tsunami aceh, dan media tidak memberitakan bagaimana sang ketua umum fpi sendiri juga turun terjun mengevakuasi mayat korban bencana, padahal wilayahnya tak terjamah oleh tim sar dan relawan lainnya, dan juga keadaan mayat yang sudah rusak. Memang berbeda jika tujuannya Allah, tak peduli apapun yang menerpa., dan tak peduli tentang penghargaan dunia.

  2. peta berkata:

    terimakasih FPI, biarlah Allah SWT yg membalas amal kalian dg jannah-Nya..

  3. sebetulnya saya jengah dengan fakta bahwa remaja seumuran saya (termasuk teman-teman saya, 20-22 tahun), merupakan pencandu minuman beralkohol, berbagai jenis. ingin mengingatkan, rasanya bukan hak saya. hanya bisa diam.

  4. accala berkata:

    Wah saya agak kurang setuju dengan argumen ini
    “Meskipun saya tidak setuju seratus persen terhadap cara ‘kekerasan’ yang ditempuh oleh FPI itu dan tetap mengkritisinya, namun saya menganggap keberadaanya masih dibutuhkan sebagai kelompok penyeimbang dan pemberi pressure, khususnya terhadap kelompok liberal dan pengusung paham kebebasan berkeskpresi yang kebablasan….”

    Kalau saya boleh tanya, atas dasar apa argumen ini kok membenarkan kekerasan dari kelompok ini karena tidak sepaham dengan kelompok yang lain (liberal, etc.)? Maksud penyeimbang dan pemberi pressure itu yang saya enggak setuju.

    Kelompok Islam saat ini diisi orang yang kurang cerdas (FPI), kalau mau diimbangi ya pakai golongan intelektual juga, bukan pakai golongan kekerasan. Opini saya😀.

    • Tes2 berkata:

      menarik
      saya paling suka dengan kata-kata “cerdas” yang anda maksud
      saya sangat yakin cerdas yang dimaksud disini bukanlah cerdas dalam berpikir atau apapun, tetapi cerdas dalam bertindak. apalah arti intelektual untuk orang2 yang tidak mengerti duduk perkara bahwa miras itu haram?
      saya tidak mau komen tentang kekerasan, karena saya juga ga suka. tetapi ada satu hal yang yang bisa digaris bawahi.
      FPI memberikan pressure dalam bentuk yang sesuai dengan ketentuan. sudah ditulis diatas kalo FPI itu ngasih surat, minta ke aparat.

      FPI ga belawanan dengan orang2 liberal lho. yang lebih penting, buat apa juga mereka peduli dengan orang-orang liberal ini, bagi mereka, asal miras dicabut, itu sudah cukup. pada dasarnya, mereka hanya menegakan agama mereka di negara yang dominan agama mereka.
      masalahnya ada di orang2 islam yang liberal bukan?

  5. wiseman berkata:

    tentu saja tulisan ini berasumsi bahwa minuman keras adalah buruk. belum tentu benar.
    yah, dengan ini minuman beralkohol akan menjadi minuman untuk kaum “elit dan terpilih dan berkoneksi” saja, bukan rakyat awam.

    • Rini berkata:

      Menurut anda “tentu saja tulisan ini berasumsi bahwa minuman keras adalah buruk. belum tentu benar.” Dalam Islam miras itu hukumnya haram, bukan berdasarkan benar atau salah.

  6. Harianto berkata:

    Sama seperti Accalla. Saya juga tidak setuju dengan komentar ini :

    “Meskipun saya tidak setuju seratus persen terhadap cara ‘kekerasan’ yang ditempuh oleh FPI itu dan tetap mengkritisinya, namun saya menganggap keberadaanya masih dibutuhkan sebagai kelompok penyeimbang dan pemberi pressure, khususnya terhadap kelompok liberal dan pengusung paham kebebasan berkeskpresi yang kebablasan….”

    Melakukan sesuatu yang dianggap baik berdasarkan konteks sendiri, dan kemudian dilanjutkan dengan tindakan kekerasan untuk mendapatkan hal yang diinginkan – tetap terlepas dari kenyataan bahwa mungkin hal yang ingin dicapai adalah hal yang baik, masih dapat diterima selama hal itu tidak merugikan orang lain, tapi terus terang tidak dapat diterima jika tujuan itu hanya berdasarkan keinginan sebuah komunitas tertentu.

    Dan argumen yang mengatakan jika keberadaan FPI dapat diterima berdasarkan statistik bahwa yang misalnya yang dilakukan FPI adalah 90% kebaikan : 10% kekerasan (persentase digunakan hanya bertujuan untuk memberikan konteks), tetap tidak dapat diterima, karena meskipun memiliki persentasi yang bervariasi, tetapi PKI, Amerika, Nazi, juga melakukan dan mungkin memiliki cara berpikir yang sama.

    • Harianto berkata:

      Dan sebagai tambahan. Perusahaan-perusahaan terbesar dunia yang Mosanto, Freeport, ExxonMobil juga memberikan banyak manfaat kepada dunia, tetapi exploitasi / kerugian yang mereka lakukan terhadap negara, alam, hak asasi manusia dan kesehatan tetap tidak dapat terima.

  7. Blue Coral berkata:

    Saya kira permasalahnnya bukan di miras-nya tapi pertanggungjawaban dari yang mengkonsumsi miras dan regulator-nya. Melarang keberadaan miras sama sekali hanya jalan “malas”, tidak mendidik warga untuk bertanggungjawab. Saya tinggal di negara yang miras memiliki peraturan yang tegas. Restaurant dan toko/supermarket yang menjual miras memiliki ijin dan ijin ini diberikan tidak mudah dengan pelatihan etc dari regulator/pemerintah. Selain itu warga pun dididik ketika mengkonsumsi miras agar tidak berlebihan dan tahu aturan seperti tidak menyetir setelah mengkonsumsi miras (di sini iklan pemerintah agar tidak menyetir setelah konsumsi alkohol beredar di mana-mana), misalnya. Melarang tidak adanya miras sama sekali pun punya dampak negatif, seperti pasar gelap miras yang tidak bisa dikontrol produk dan kadar alkoholnya, (namanya manusia, selalu ada keinginan untuk melanggar aturan), dan berkurangnya sektor industri itu sendiri yang bisa berdampak pada lapangan kerja.

  8. johan berkata:

    Sekedar sharing, ini kisah nyata bukan dibuat2. Sebuah pengalaman yg saya bagikan adalah melihat fpi datang ke sebuah tempat proyek pembangunan dan menancapkan tiang2 sambil berkata bahwa tiang2 tersebut hanya boleh dicabut setelah perusahaan kami membayar sejumlah uang (puluh jutaan) ke pihak fpi.

  9. Ping balik: Bingung Mau Pro atau Kontra FPI | Welcome To My Realm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s