W.S Rendra di Kampus ITB dan Puisinya

Almarhum WS Rendra adalah seorang penyair besar yang pernah dipunyai Indonesia setelah Khairil Anwar. Hidupnya penuh warna, pernah menjadi seorang Katolik sebelum akhirnya berpindah keyakinan menjadi seorang muslim ketika menikahi putri keturunan Kraton Yogya, Sitoresmi. Alasan dia masuk Islam, seperti dikutip dari sini adalah: “Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.”

Tahun 70-an, ketika hangat-hangatnya situasi perpolitikan maahsiswa menentang Orde Baru, WS Rendra pernah berdiri di Lapangan Basket ITB membacakan puisinya di hadapan mahasiswa. Saya menemukan foto WS Rendra sedang membaca puisi di kampus ITB itu pada buku Lustrum ITB yang ke-4 (1979) yang saya temukan di pasar buku bekas Jalan Cikapundung, Bandung. Masih muda sekali dia waktu itu. Saya pindai fotonya dan saya unggah seperti di bawah ini (meskipun hasilnya kurang tajam):

WS Rendra sedang membaca puisi di Lapangan  Basket ITB.

WS Rendra sedang membaca puisi di Lapangan Basket ITB.

Dulu saya tidak terlalu memperhatikan puisi karya-karya Rendra, maklum saya tidak terlalu suka puisi. Namun, sejak dia mulai berangkat tua, puisi-puisinya lebih banyak berisi kontemplasi kehidupan, dan menurut saya bernada religius. Mungkin keislamannya itu telah banyak mengubah pandangan hidupnya.

Di bawah ini salah satu puisinya yang saya nilai menunjukkan semakin dekat pemahamannya tentang kepasrahannya kepada Allah SWT.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MAKNA SEBUAH TITIPAN
WS Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya,

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

~~~~~~~~~

Update tanggal 10 Januari 214:
Selain pembacaan puisi di Lapangan Basket di atas, Rendra juga pernah membacakan puisi berjudul “Sajak Sebatang Lisong”. Puisi tersebut dipersembahkan Rendra buat mahasiswa ITB dan dibacakan pada 17 Agustus 1977, sekaligus menjadi salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta” karya (alm) Syumandjaja yang dilarang peredarannya. Silakan lihat pembacaan puisi tersebut pada video di Youtube di bawah ini:

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

17 Agustus 1977
ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi
(Sumber puisi dari sini).

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

2 Balasan ke W.S Rendra di Kampus ITB dan Puisinya

  1. kebomandi berkata:

    puisi nya bikin merenung gini yaa? ;'(

  2. Ping balik: [Balada Negeriku] Ketika Agama Tak Lagi Tertera di KTP | Catatan Bang Akrie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s