Kalau Ingin Masuk ITB, Persiapkan Diri Mulai dari SMP!

Tulisan ini saya tujukan kepada orangtua yang punya anak masih SMP, juga bagi siswa SMP yang kebetulan membacanya. Jika anak Anda ingin kuliah di ITB, maka persiapkanlah mulai dari bangku SMP. Apa tidak terlalu lama? Tidak. Bila sistem penerimaan mahasiswa baru tetap seperti sekarang (ada jalur undangan dan ada jalur ujian tulis), maka persiapan dari SMP bukan lagi syarat cukup, tetapi syarat perlu.

Saat ini persaingan memperebutkan bangku perguruan tinggi negeri semakin ketat. Porsi jalur undangan di ITB lumayan besar jumlahnya, yaitu 60% dari jumlah mahasiswa baru. Jalur undangan mendasarkan seleksinya pada rekam jejak prestasi akademik selama di SMA. Rekam jejak akademik itu tercermin pada nilai rapor. Untuk memperoleh nilai rapor yang bagus (tanpa rekayasa tentunya), maka perlu belajar yang rajin dan intens.

Perguruan tinggi di tempat saya (ITB) memiliki rekam jejak sekolah-sekolah SMA yang unggul kualitas akademik siswanya. Ada daftar sekolahnya, namun saya sendiri tidak mengetahui daftar tersebut. Siswa yang berasal dari sekolah-sekolah yang berkualitas bagus itu mempunyai peluang lebih besar lulus lewat jalur undangan. Contohnya SMA Negeri 3 Bandung, sebuah sekolah terbaik di Bandung, tahun 2013 ini ada 95 orang yang masuk ITB saja dari 101 orang yang diterima dari jalur undangan. Jika dihitung dengan jumlah yang diterima dari jalur ujian tulis, maka jumlah yang masuk ITB tentu lebih besar lagi, seperti pindah kelas saja dari SMA ke ITB.

Untuk bisa masuk ke SMA bereputasi baik tentu harus dimulai dari SMP. Jadi jalurnya begitu: dari SMP masuk SMA yang sudah terbukti unggul secara akademik, lalu dari SMA yang bereputasi bagus itu peluangnya lebih mudah diterima di ITB. Makanya tidak heran banyak siswa-siswa dari seluruh Indonesia yang mempunayi nilai UN (atau NEM) yang tinggi pindah sekolah ke Bandung dan masuk ke SMA yang bagus-bagus itu karena sejak awal mereka sudah mentargetkan masuk ITB. Saat ini fenomenanya sudah mulai berubah, yaitu setelah lulus SD banyak siswa pindah ke Bandung agar dapat diterima di SMP negeri yang bagus-bagus itu (seperti SMPN 2 atau SMPN 5). Targetnya adalah dari SMP yang favorit itu bisa masuk SMA yang favorit tadi (SMA 3 atau SMA 5), lalu sasaran akhirnya adalah masuk ITB.

Itulah yang saya katakan pada judul di atas bahwa jika ingin kuliah di ITB, anda harus memikirkannya sejak SMP. Kalau dulu zaman saya mau kuliah, saya mulai menargetkan masuk ITB ketika kelas 2 SMA (sekarang kelas 11), maka sekarang tidak cukup lagi menargetkan dari SMA, tetapi harus mulai menargetkan sejak kelas 7 SMP!

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Seputar ITB. Tandai permalink.

74 Balasan ke Kalau Ingin Masuk ITB, Persiapkan Diri Mulai dari SMP!

  1. pemikirulung berkata:

    kaya istilah “bedol desa” untuk anak sma 8 jakarta yang mengisi bangku kedokteran UI

    masalahnya anak2 smp di indonesia belum punya rencana konkrit akan masuk ITB kelak. hehe

  2. Diah Mitasari (Mita) berkata:

    Kalau mau masuknya MIT gimana Om hehe ?

    • Aryo berkata:

      if you want M.I.T… Just Do anything you care about and tottaly do what you care
      Semangat, Usaha, Be Your Self( Autentic )
      if you play just do 100%, If you work just do 100%, and in study…
      there and also in other highest edu school such as harvard, standford, cambridge, people do really hard that called passion, effort, autentic….

      • vebe berkata:

        MIT (Massachusetts institue technology) adalah ITB nya Amerika, nilai harus diatas 9,5 untuk eksakta……..nilai 9,6 aja paling rendah, sanggupkah anda??????????

    • Ria berkata:

      MIT (Mbandung Institute of Technology … he he). Jika Diah bercita-cita ke MIT Cambridge USA sebaiknya masuk di SMA/MA Unggulan seperti SMAN 3 Bandung, SMAN 8 Jkt, MAN Insan Cendekia Serpong, SMA Tarnus, SMAN 3 Semarang dll dan berprestasi dlm Olimpiade MA FI KI BIO dll. Atau S1 S2 di ITB kemudian S2 S3 di MIT

    • piyu berkata:

      Saya dulu juga lulusan dari SMA jelek tetap bisa diterima di ITB. Dan saya adalah orang pertama dari SMA tersebut yang berhasil diterima di ITB. Sebetulnya dulu saat kelas 1 SMA saya sekolah di SMA terbaik, tapi karena ada masalah ekonomi saya terpaksa pindah ke SMA jelek.

      Tak pernah ada syarat masuk ITB harus dari SMA terbaik. Yang penting lulus ujian masuk saja.

      Ini seperti teka-teki ayam atau telur. Rata-rata mahasiswa ITB adalah alumni SMA favorit karena yang masuk SMA favorit adalah memang sejak awal siswa pintar-pintar, atau karena SMA favorit menjadikan siswa menjadi pintar-pintar?

  3. Masuk SMP favorit biayanya mahal, sudah pasti hanya orang mampu yang bisa. Kemudian dari SMP favorit pasti masuk SMA favorit yg juga jelas2 mahal. Habis lulus SMA favorit, pasti pilihannya PTN/BHMN yang uang kuliahnya bejibun. Kesamaan dari semua yang favorit: biayanya mahal dan isnya orang2 kaya. kalau tren ini terus berlanjut kita hanya melihat bahwa suplai utk PTN/BHMN favorit sudah pasti (mayoritas) orang mampu. Dan, universitas/institut favorit itu senang karena berapapun biaya yg mereka pungut tidak masalah. Jadi wajar saja mereka memilih siswa dari SMA favorit (baca:yg isinya orang mampu).

    • nabilah berkata:

      saya kurangs etuju dengan kak Samdysara. karena saya sendiri bisa sampai di ITB meski orangtua saya gajinya pas pasan untuk makan. saya SMP mendapat beasiswa, SMA saya merupakan SMA unggulan dan saya berhasil masuk di kelas akselerasi dengan beasiswa penuh. di ITB saya juga mendapat beasiswa bidik misi. jadi sebenarnya tidak ada yang tidakmu ngkin untuk sekolah di sekolah favorit asal ada kemauan

    • Evelyn berkata:

      Ini orang asal bicara……yg masuk UI dan ITB byk yg ortunya gak mampu. Alias kismin….buka mata lebar2…..jangan pikiran picik dan sempit pak Sam

  4. Mutia berkata:

    Ya Allah semoga dapat ITB tahun 2014..🙂

  5. Oyong berkata:

    bukan saja dari smp bos… tapi sejak anak anda masih dalam kandungan (bahkan sebelum anda menikah). karena apa ? bagaimana mungkin setelah punya anak tapi nggak tahu setelah besar anak anda mau jadi apa ? kalau cuman ngandalin harapan dan cita-cita si anak semata, berarti anda hanya meng-copy paste kegagalan anda dimasa lalu pada keturunan anda ! MENYEDIHKAN..

  6. intan berkata:

    Cita-cita memang butuh perjuangan pak,apalagi untuk masuk itb. Tapi itb bukan segalanya, dan untuk suksespun ga harus lwt itb. Msh ada UI, UGM, yg branded nya sama… Ga kalah koq..

    • rinaldimunir berkata:

      Memang benar, tetapi karena saya hanya berbicara tentang perguruan tinggi saya, maka saya tidak menyinggung perguruan tinggi lain yang bukan wewenang saya untuk membandingkannya. Saya hormat kepada teman2 di UI an UGM.

  7. Evelyn berkata:

    Aku baca website nya SMAN 8 jakarta rasanya mau nangis.
    Bayangin aja PTN nya 384 orang. Dari 417 orang.
    Kayanya istilah Garbage in Garbage Out itu memang berlaku

    • Evelyn berkata:

      Saya sendiri juga gak ngerti knp mau nangis.
      Siswa di situ bukan. Murid sana juga mimpi kali.
      Kok org pinter2 amat sih. Makan apa ya.

  8. Pramoedya Hendrastanto berkata:

    Gilaakk WIKIPEDIA SMAN 8 Jakarta 2013
    Paraaaahhhhh passing gradenya. MAmpus dah gw

  9. Reblogged this on I'm Dafiqurrohman and commented:
    Bisa jadi!!!

  10. Chandra berkata:

    Gw kagum deh sama SMAN 8 Jakarta. Lha wong UN 2014 aja belom…masih lama….eeehhhhh
    .4 Org udah pasti berangkat ke JEPANG 2014….. dpt beasiswa Mombugokhasu….cewek smua lagi empat-empatnya. PARAH !
    sekolah gw gak ada tai tai nya

  11. Orang Bandung berkata:

    SMAN 8 Jakarta memang sangat mengagumkan. Siswa-siswinya Pintar2, Cerdas2 dan Pandai2 semua. Waktu OSN 2013 di Bandung : 4 Emas, 1 Perak, 3 Perunggu. HEBAT sekali. Kami Orang Bandung aja KAGUM

  12. Ibu Christine berkata:

    Kaledoskop SMAN 8 Jakarta tahun 2013

    WIKIPEDIA 2013 : Passing Grade
    UN terendah …….. 9,388 (2013)
    UN rata-rata ……… 9,502 (2013)
    UN tertinggi ………. 9,800 (2013)

    OSN 2013 di bandung : 4 Emas, 1 Perak, 3 Perunggu
    PTN 2013 : Tembus 91,84% = 384 anak dari 417 anak
    UI 222, ITB 115, UGM 41 dsb
    Kedokteran UI (FK UI) 2013, tembus 26 anak
    SNMPTN Undangan, PPKB UI, Talent Scouting 2013 tembus 132 anak

    10 Besar UN SMA 2013 se Indonesia (rata2 UN SMA : 8,74)
    Ada 2 (dua) siswi putri masuk 10 Besar UN tertinggi SMA se Indonesia 2013 :
    Gracia Isaura Laurensia ( rata2 UN 9,75) masuk ITB
    Sarah Aliya Firnandya ( rata2 UN 9,73) masuk U.I

    Peringkat 2 Sekolah dgn Toillet terbersih dan tersehat se SMA Jaksel 2013:
    Peringkat 1 nya SMA Labschool Kebayoran

    Tahun 2014 : UN 2014 aja belom, 4 siswi SMAN 8 Jkt sdh di terima BEASISWA “Monbugokashu JEPANG” 2014.
    (ke 4 siswi cewek semua)..

  13. Febby Kemanggisan berkata:

    Gila …. !!! SMAN 8 Bukit Duri

  14. Aries R. Prima berkata:

    Puteri kami, Arieza Nadya (Atia), saat ini terdaftar sebagai mahasiswa semester 4 prodi Teknik Informatika, ITB.

    Sebelum lulus SD, kami pernah menanyakan kepadanya ke mana nantinya ia ingin melanjutkan kuliah. Tanpa ragu ia menjawab: Teknik Informatika, ITB. Setelah yakin dengan pilihannya, kami mencari informasi SMA mana saja yang “memasok” banyak lulusannya ke ITB dan kemudian menelusuri juga lulusan SMP mana saja yang banyak diterima di SMA-SMA tersebut.

    Karena pada waktu itu kami tinggal di Depok, Jawa Barat, pencarian informasi kami batasi di sekolah-sekolah di Depok dan Jakarta, terutama sekolah negeri. Hasil pencarian kami menemukan bahwa sekolah-sekolah ini berada di Jakarta. Beberapa diantaranya adalah SMAN 8 Jakarta, SMAN 81 Jakarta dan SMAN 70 Jakarta.

    Atia berhasil lulus SD pada tahun 2008 dengan nilai rata-rata UN sekitar 9,3. Dengan mengusung semangat ingin masuk ITB, kami daftarkan dia ke SMP Negeri di Jakarta. Pilihan pertamanya tentu saja SMP 115 Jakarta, yang menurut data yang kami peroleh, banyak memasukan lulusannya ke SMA Negeri 8 Jakarta. Namun, hasil berbicara lain. Karena ia berasal dari sekolah di luar DKI Jakarta, ia harus berebut “jatah” 5 persen untuk diterima di SMP tersebut. Akhirnya ia diterima di SMP Negeri 11, Kebayoran Baru, Jakarta (pada waktu itu masih RSBI).

    Di SMP, ia diterima sebagai salah satu dari 12 siswa dalam program akselerasi. Kemudian berhasil lulus pada tahun 2010 dengan nilai rata-rata UN di atas 9. Dengan modal nilai UN yang cukup tinggi, ia memilih SMA Negeri 8 Jakarta sebagai pilihan pertamanya. Namun, lagi-lagi, ia pun gagal diterima di sekolah yang diinginkannya, dengan nilai yang terpaut tidak terlalu jauh dari rata-rata nilai UN minimal.

    Tapi ia beruntung masih bisa diterima di SMA Negeri 70, Bulungan, Jakarta Selatan. Puteri kami sempat kecewa. Tapi kami selalu mengingatkan bahwa “perjuangan” belum berakhir. Tujuan akhir belum tercapai: ITB. Semua peluang masih terbuka.

    Di SMA yang murid-muridnya pernah dikenal sebagai “tukang berantem” ini, ia juga diterima di kelas akselerasi (pada waktu itu disebut kelas CI/BI, Cerdas Istimewa/Berbakat Istimewa).

    Dengan nilai rapor yang cukup meyakinkan dan lulus UN, akhirnya ia diterima di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), ITB, pada tahun 2012. Selanjutnya ia pun diterima di program studi Teknik Informatika pada tahun ke 2 (2013), sesuai dengan keinginannya.

    Kami bukan dari keluarga yang berada. Untuk itu kami pun meminta keringanan dalam pembayaran BPPM (uang muka) yang kemudian dikabulkan oleh ITB.

    Kadang Tuhan tidak memuluskan jalan yang sudah kita rencanakan. Tapi dengan upaya dan doa yang tidak kenal menyerah, semua akan terwujud. Kami bangga kepada puteri kami bukan karena ia berhasil masuk ITB, namun karena perjuangan dan usahanya untuk menggapai apa yang diinginkannya.

    Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para orangtua dan anak-anak yang mempunyai keinginan yang sama.

    Salam kenal, Pak Rinaldi …

    Aries R. Prima

  15. Aries R. Prima berkata:

    Terima kasih, Pak. Mohon bimbingannya, Pak.

  16. nurrehmet berkata:

    Reblogged this on nurrehmet's and commented:
    terus gue harus gimana? ._.

  17. Lingga Muttaqien berkata:

    bagaimana peluang yang bersekolah diluar bandung? hal apa yang menunjang peluang tsb? terima kasih.

  18. Muhammad karim berkata:

    Kang saya sekolah di MAN yg bisa dibilang bukan sekolah favorit di Daerah saya, dan baru masuk sekolah tahun ini, bagaimana peluang masuk ITB yg tidak terdaftar di sekolah yg biasa diterima di ITB? dan kira kira apa aja yg bisa menunjang untuk diterima di ITB ?… Terima kasih

    • Maulana ramadhan berkata:

      Sabar jam… Kita senasib…
      Kita hanya bisa bermimpi gan…
      Harapan dan peluang kecil….

      Harapan saya info. Di ITB =(
      Tapi apa saatnya saya tidak pintar… Bahkan saya cenderung otaak saya standar…
      Saya tidak rajin bahkan saya malas…

      Saya hanya bisa meratapi gan…..
      Semoga saya keajaiban datang….

      Saya pasrah menerima keadaan…

  19. halid berkata:

    Sharing juga ya:
    Anak saya alhmadulillah yg pertama masuk ITB thn 2012, yg kedua tahun ini (2014) kembali lolos di ITB, dua2nya melalui ujian tulis (SBMPTN). Dua2nya dari SMA Neg 8 Jakarta.

    Saya analisa sedikit ternyata anak SMA 8 itu setelah masuk mereka punya jiwa fight yg tinggi karena berada di lingkungan anak2 dengan nilai bagus. Dan saat bergaul dengan siswa dari sekolah lain mereka memiliki semacam jiwa korsa intelektual yg tinggi yg terus menjadi pemicu utk selalu memperoleh nilai lebih baik. Mungkin ini perlu ditanamkan kepada anak dan sekolahnya (non sekolah unggulan) agar budaya fight selalu dikobarkan oleh pihak sekolah.

    Demikin sedikit sharing…

    Tks
    Halid

  20. Teguh Budiono berkata:

    Kami sebagai orang tua berpendapat sebelum masuk Smp favorit prosesnya harus melewati SD dulu, yang menjadi pertanyaan saya apakah ada, sekarang SD Negri yang membuka kelas kelas akselerasi setahu saya SD negri belum ada kalaupun ada hanya sekolah sekolah swasta yang berbiaya tinggi sedangkan penghasilan kami paspasan. kami punya putra usianya 10 tahun sekarang kelas 5 di SD negri yang dulunya SDSSN kalau dulu ingin saya masukan ke SD Negri RSBI tetapi biayanya yang lumayan maka tidak jadi saya masukan ke SDNRSBI. Dengan kemampuan akademiknya yang sebenarnya bisa ditingkatkan lagi cita citanya ingin masuk ITB fak. MATEMATIKA atau TEKNIK INFORMATIKA.
    sekarang ini dengan adanya kurikukulum 2013 kami makin bingung bagaimana nantinya masuk proses masuk SMP Negrinya.

    • Aselih Asmawi berkata:

      Sedikit berbagi pengalaman…
      Kami mempunyai lima orang anak…Yang pertama dan kedua di UI, ketiga di MAN IC Serpong, keempat di MTsN dan kelima di SD… Kami mengharuskan semua anak kami ketika di SD untuk mengikuti pendidikan di Madrasah Diniyah pada siang harinya…Alhamdulillah ketika lulus SD anak-anak kami sudah bisa membaca Al-Quran dan sedikit pengetahuan agama…
      Anak pertama kami, perempuan, sekarang sudah semester ketujuh di Program Studi Cina UI…Dia lulusan MAN Insan Cendekia Serpong…Ketika lulus SD kami memasukannya di Madrasah Tsanawiyah Negeri (padahal diterima di SMPN 92 Jkt.salah satu SMP Favorit di Jakarta Timur) dengan pertimbangan agar mendapat dua ilmu sekaligus yaitu ilmu agama dan umum. Dengan bekal ilmu yang didapat di MTsN dan sedikit bimbel, dia bisa masuk MAN IC Serpong. Sekarang, anak saya yang ketiga juga mengikuti jejak kakaknya di MAN IC Serpong, berasal dari MTsN yang sama…dan ia ingin melanjutkan ke Teknik Kimia UI mengikuti kakaknya yang kuliah di Teknik Metalurgi UI (dari SMA 12 Jkt) Jadi yang perlu diperhatikan oleh para orang tua adalah kedisiplinan dan kemauan belajar anak tanpa melihat dari SMA mana asalnya jika ingin melanjutkan ke PTN favorit seperti ITB dll….

  21. taufik berkata:

    Saya adalah lulusan Teknik Elektro ITB tahun 2009. Alhamdulillah sudah lulus bulan Juli tahun 2013.

    Saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya saat berjuang mendapatkan satu bangku di ITB. Saya bukan berasal dari SMP maupun SMA favorit di Bandung. Namun hal itu bukan menjadi suatu masalah karena ternyata alumni SMA saya cukup solid untuk terus memotivasi para adik kelas nya untuk dapat diterima di PTN-PTN favorit. Para alumni yang datang tersebut adalah alumni yang telah berhasil masuk ke ITB dan UNPAD. Dari cerita pengalaman mereka, akhirnya banyak siswa dari SMA saya yang menjadi sangat termotivasi termasuk Saya sendiri. Saya yang semula tidak ada keinginan untuk melanjutkan kuliah karena masalah biaya menjadi terbuka wawasannya tentang beasiswa dan betapa prestisius nya saat saya bisa masuk ke ITB. Sejak saat itu (kelas 1 SMA) saya mulai mencari cara bagaimana agar dapat diterima disana. Akhirnya saya terus mencari informasi dengan bertanya kepada alumni dan juga media internet.

    Perjuangan saya berlanjut dengan membeli buku SPMB bekas dan mulai mempelejarinya sedikit demi sedikit. Saya sadar bahwa saya tidak akan dapat mengikuti jalur khusus masuk ITB yaitu USM karena biaya formulirnya saja memang sudah sangat mahal. Akhirnya saya memutuskan untuk fokus belajar mempersiapkan SPMB (sekarang SBMPTN). Saya belajar apapun yang saya bisa termasuk mempelajari hal yang belum saya dapatkan di kelas. Saya mengikuti perlombaan-perlombaan seperti Cerdas Cermat, Olimpiade, dll untuk menambah motivasi saya. Bahkan pada saat saya kelas XI saya mengikuti 3 Try Out yang diikuti oleh siswa kelas XII.

    Alhamdulillah perjuangan selama lebih dari 2.5 tahun itu membuahkan hasil dimana pada tahun 2009 itu saya diterima menjadi salah satu dari 365 mahasiswa baru STEI ITB. Kebahagiaan itu pun berlanjut saat saya mendapatkan beasiswa dari Dompet Dhuafa dan beberapa lembaga lainnya sehingga saya tidak perlu meminta biaya sekolah kepada Orang Tua saya yang merupakan seorang petugas kebersihan. Saya bangga memiliki ayah seperti beliau yang membantu saya dengan segala cara yang ia bisa dengan mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu dari kecamatan agar pembayaran biaya saat daftar ulang dapat ditangguhkan sampai beasiswa saya turun.

    Tulisan ini saya tujukan untuk teman-teman yang tidak berasal dari SMA Unggulan dan tidak berasal pula dari keluarga yang kaya raya. Banyak jalan dalam meraih impian, jika Anda mau maka jalan itu akan datang dengan sendirinya kepada Anda. Itulah mimpi, mimpi mengajarkan seseorang untuk tidak menyerah dengan keadaan melainkan Andalah yang menjadikan keadaan menjadi berpihak kepada Anda.

    Best Regards,

    Mochamad Taufik Mulyadi

    • Alris berkata:

      Dear Mochamad Taufik Mulyadi,
      Tulisanmu memberikan pencerahan. Benar katamu, banyak jalan menuju dan menggapai impian. Semoga cerita dan pengalaman ini memberikan motivasi untuk adik-adik yang mau melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi unggulan.
      Banyak jalan menuju Roma.
      Salam sukses.

  22. Bagas berkata:

    Pak kalau domisilinya jogja bisa masuk lewat jalur undangan? Lalu di ITB adakah jalur prestasi semacam prestasi lomba penelitian dll?

    • rinaldimunir berkata:

      Bisa saja, meskipun tinggal di Yogya atau di mana saja, sebab untuk undangan yang menentukan adalah nilai rapor, akreditasi sekolah, rekam jejak alumninya di ITB.

      Setahu saya untuk jalur prestasi secara khusus tidak ada, tetapi portofolio prestasi silakan dimasukkan pada waktu pendaftaran sebagai nilai plus. Untuk info lengkapnya bisa memmbuka laman web snmptn.go.id

  23. msubhaaan berkata:

    permisi pak saya mau tanya,

    saya sekarang berada di kurikulum 2013 dimana nilai rapor dibuat seperti ipk gitu misalnya 2,66 3,00 3,66 4,00 nah gitu. mungkinkah ada perubahan cara dalam penyaringan siswa ke ITB?
    thanks

  24. alif berkata:

    SUBHANALLAH begitu hebat dan luar biasa nya bpk ibu selalu suport hingga apa yag di cita cita ada didepan mata bkn hanya dukungan tpi pacu ank untuk trus kosisten lah hingaa semua itu tercapai… masih bisa kah saya mengejar nya …

  25. Labsky masuk UI 2014/2015 Alhamdulillah berkata:

    Numpang lewat…… Saya dari Labsky. Labschool Kebayoran. (Prof H Arief Rahman nihhh anak buahnya he hee…)…. tp Enggak masuk ITB, Krn pilihannya UI, UI dan UI. hehehe.
    SMP Islam Al Azhar Bsd, SMA Labschool Kebayoran, kuliah : Universitas Indonesia
    Salam ya buat temen2 gw yg tembus ITB. Angkatan 2014/2015. ada banyak dari Labschool Kebayoran

  26. Devita berkata:

    Saya mau tanya ya,nah itu yg diterima di ITB rata2 berasal dari sekolah2 ternama.Nah,bagaimana kalo saya yg berasal dari sekolah yang kurang terkenal ingin sekali masuk ITB?

  27. Adi berkata:

    Jalur ITB paling ampuh –> SMP 5 Bandung –> SMA 3 Bandung. Bedol desa bisa sampe 150 orang per angkatan

  28. Latifah Cahyani berkata:

    saya ini masih SMP, tapi baru nargetkan ke ITB kemariin.
    gak ngomong sih nargetkannya harus dari kelas 7 apesss nilai ayas pas kelas 7 anjlok semuaaa… doakan saya sukses kawannn!

  29. fadhila zara berkata:

    Kalau sya masuk ke sekolah negeri yg biasa2 aja apa bisa keterima di itb ya? Soalnya blm ad alumni yg masuk itb…. Rata2 ke ui ugm unj…

  30. asyiikk berkata:

    SMA 3 Bdg… apa iya dijaminmasuk ITB. AYO kita kalahkan mereka

  31. UITB berkata:

    @asyiikk
    mari kita kalahkan🙂

  32. andini berkata:

    Maaf kak,
    Jadi yang bisa masuk itb hanya anak-anak yang bersekolah di SMA favorit saja..?
    Apakah ada kemungkinan bagi anak-anak yang bersekolah disekolah biasa?

  33. Suryo berkata:

    Bagi orang tua yang penting tanamkan pada anak jiwa saing dan motivasi ,rekam jejak dari sd smp sma banyak menentukan kemampuan anak.Alkhamdulillah anak pertama di kedokteran UGM,anak ke dua di Teknik Elektro ITB, Anak ke 3 di STAN, Anak ke 4 dikedokteran UGM semua itu merupakan karunia sebagai orang tua yg berpenghasilan pas pasan ,istri saya hanyalah tamatan smp setelah itu dipondok pesantren dilereng Sarangan yg tak pernah putus sholat dluha maupun puasaSeninKamis . Mertu hanyalah pekerja kuli bangunan sedangkan saya Alumni IAIN yg tak selesai yg harus melepas kuliah disemester 7 karena ayah sakit tak ada biaya setelah membina rumah tangga saya berprofesi sebagai servis panggilan Tv atau alat rumah tangga. Tulisan ini semoga bermamfaat

  34. wibowo berkata:

    Saya justru sangat tidak setuju sistem penerimaan perguruan tinggi negeri seperti ini. Sistem ini sama saja membuat peluang anak-anak yang lebih cerdas tapi bukan berasal dari kota-kota besar mengecil peluangnya masuk ke perguruan tinggi favorit. Tidak ada aspek keadilan dalam sistem penerimaan seperti ini. Sistem penerimaan yang lebih menitik beratkan pada jalur undangan (pada porsi yang besar), seakan mengukuhkan dominasi ketimpangan sosial dalam sistem pendidikan nasional kita. Kita bisa bayangkan, Si A yang mempunyai otak dan talenta lebih cerdas menjadi harus berjibaku lebih keras menempuh ujian tulis yang kuotanya makin sedikit, sementara si B yang otak dan talentanya lebih rendah, justru lebih melenggang karena dia dekat dengan sma-sma favorit yang notabenenya ada di kota besar. Belum lagi si C yang maaf, lebih goblok tapi punya kelonggaran financial, bisa melenggang ke perguruan favorit dengan lebih leluasa. Saya miris dan menggugat sistem pendidikan nasional yang tidak berkeadilan sosial ini. Saya sendiri adalah alumni ITB angkatan 80an yang merasakan benar bagaimana ITB merupakan kampus terbaik, dengan materi orang-orang terbaik dari seluruh indonesia, tanpa peduli dia kaya, apakah dia dari kota metropolitan Jakarta dan Bandung atau dari pedalaman Sumatra atau kalimantan, kami berjuang bersama secara keras dan adil untuk masuk ke perguruan tinggi ini melalui ujian tertulis (yang punya porsi dominan di masa itu). Saat ini, bahkan di dunia kerja, kita mesti berhati-hati menerima lulusan perguruan tinggi negeri, even sekelas ITB, karena materinya bukan lagi berdasarkan persaingan yang 100% adil dan berkualitas. Secara umum, saya yakin ini yang menyebabkan ITB sekarang, cukup terbatuk-batuk menghadapi persaingan rating perguruan tinggi, jangan bilang lagi di internasional, di nasional saja setengah mati harus bersaing dengan perguruan tinggi sekelas UI atau UGM. Sangat turut prihatin,,,

  35. wibowo berkata:

    Dalam sistem pendidikan nasional yang adil dan bermartabat, harusnya seluruh warga negara memiliki kesempatan yang sama dan adil untuk dapat bersaing. Bukan seperti dibagi menjadi kasta-kasta.. Pertama kasta orang-orang di kota-kota besar, kemudian orang-orang mampu, kemudian orang-orang di kota-kota yang lebih kecil, kemudian orang di desa-desa dan seterusnya.. Kita mesti ingat bahwa banyak anak-anak cerdas dan bertalenta hidup di kota-kota kecil dan di desa-desa di seluruh Indonesia. Mereka harus diberi kesempatan sama, tanpa di kuota untuk bisa bersaing. Diantara mereka banyak yang hidup tidak berkecukupan. Tidak dipungkiri, tetap ada orang dari desa/kota kecil yang miskin bisa lolos, tapi ya itu tapi, masih terlalu besar, maaf, orang yang lebih goblok tapi hidup di kota-kota besar malah bisa masuk, Padahal mereka tidak bisa memilih apakah mereka lahir dan dibesarkan dimana. Yang lebih miris lagi, sistem yang tidak adil ini justru timbul di era reformasi ini, era dimana kita menaruh harapan besar pada kehidupan berbangsa yang lebih adil untuk semua insan Indonesia tercinta ini..

  36. amongraga berkata:

    Komentar Bapak Wibowo patut diapresiasi karena membuat kita menjadi berpandangan luas dan tidak sempit. Saya melihat bahwa kecerdasn bukan segala-galanya, wisdom juga sangat penting. Kita lihat negara kita yang penuh dengan lulusan PTN favorit, tidak jarang juga mereka terlibat korupsi dsj. Anak juga bukan robot yang bisa diisi program sesuai keinginan. Anak juga berhak bahagia, belajar juga dari kehidupan, menikmati masa muda, menikmati alam. Kehidupan bukan hanya IPK, gelar, sertifikat dsj.

  37. akang tea berkata:

    Saya alumni dari Jurusan Teknik Kimia, Alhamdulillah 4.5 tahun lulus…..(saat itu mantaps..hehehe). Pola penerimaan masuk PT antara yang dulu dengan sekarang memang ada plus minusnya. Dulu, sekolah di tempat biasa-biasa saja, bagi yang punya modal dikarbit melalui Bimbel….akhirnya bisa masuk ITB. Kalau mahasiswanya bisa menyesuaikan gaya belajar di ITB… Insha Allah bisa lulus……..tetapi kalau nggak…..walaupun dari SMA 3 Bandung…ya protol juga…alias DO. Yang ingin saya katakan disini…..dimanapun dia sekolah….kalau bibitnya memang unggul…bisa masuk ITB dan keluar dengan gelar…… Dan sampai saat ini, rasanya ITB masih the BEST walaupun terkadang tidak semua ALUMNInya sukses…..

  38. irmamagdalena berkata:

    Sebenarnya bagaimana seleksi penerimaan mahasiswa melalui jalur undangan, kalo jaman saya sekolah PMDK kalo sekarang SNMPTN?
    Anak saya dari SMK Multimedia Cahaya Sakti Jakarta lulusan th 2015 ini. Di sekolah yayasan yang sama juga ada SMAnya dan pada tahun ini lolos 3 orang dari 39 an siswa, 1 dari IPA (total siswa 19 org) masuk UNJ jurusan sistem komputer. dan 2 dari IPS (total siswa 20 org) masuk di UNJ juga.
    Kebetulan yang anak IPA adalah temen barengnya waktu TK dan SD (SMP anak saya masuk negeri), dan anak dari pesuruh di sekolah. Dan untuk pilihan 3 jurusan di SNMPTN itu Sistem Informatika UNJ jadi salah satu pilihan anak saya, karena dia dari SMK Multimedia maka pilihan jurusan terbatas. Dan karena tidak boleh memilih UI berbarengan dengan ITB, maka UNJ adalah pilihan di Jakarta, sedangkan 2 jurusan lagi di ITB, dari Multimedia hanya boleh pilih DKV dan Desain Interior, walaupun setau saya, setelah masuk ITB penjurusan dimulai di semester 3.
    Tapi, ternyata ada kelalaian dari guru BK yang mengurus pendaftaran awal SNMPTN di SMK ini, da selalu menutupi apa yang terjadi, padahal kami sudah menanyakan kapan siswa bisa login buat verifikasi data, selalu dijawab sdh diurus oleh guru tsb, dan kami hanya disuruh menunggu pengumuman, dan alangkah terkejutnya ketika pada tgl 9 Mei 2015 lalu, kami bukannya dinyatakan tidak berhasil/tidak lulus, melainkan belum terdaftar, ketika kami masuk dengan no, NISN.
    Akhirnya setelah diusut, ternyata guru tersebut tidak bisa login dengan password lama (yang dipakai pada th 2013 dan 2014) dan tidak berhasil mendapatkan password baru. Jadi namanya memang tidak mendaftar sama sekali.
    Padahal selama SMK dalam 6 semester selalu ranking 1 di jurusan MM ini (30 siswa) dan nilai UN, walaupun belum sempurna, total 333,3 adalah nilai tertinggi di kelas tersebut, dan nilai bahasa tertinggi di SMK itu (76 siswa).
    Pertanyaan saya, apakah SMK tersebut karena kelalaian guru BK itu bisa jadi masuk black list dari SNMPTN? Dan apakah kesempatan anak SMK apalgi swasta (jurusan MM baru angkatan ke 3 di tahun anak saya ini, sedangkan jurusan Akuntansi dan Perkantoran sudah ada sejak tahun 1980) sangat kecil, sekalipun terdaftar di SNMPTN tahun ini, pasti gagal diterima?
    Apa sanksi yang bagus buat guru BK SMK Cahaya Sakti itu?
    Apabila ada yang berkenan menjawab dan dapat menyampaikan keluhan saya ini ke panitia SNMPTN, saya ucapkan banyak terima kasih.

  39. Dian Erdiansyah berkata:

    Dulu tahun 1994 saya masuk ITB persiapannya cuman sebulan (emang awalnya gak niat melanjutkan ke PT) yang imbasnya cuman masuk pilihan ke-2, tidak perlu dari SMP untuk persiapan masuk ITB… asal cerdas…. dan sewaktu SMA cukup memahami konsepnya untuk pelajaran eksakta.. jangan korbankan masa muda untuk full belajar, secukupnya lah alias porposional…. karena banyak teman di iTB waktu yg sebelum masuk diporsir… pas masuk jadi bingung…………………………….

  40. Ibu Aliya berkata:

    Saya sampai meneteskan air mata karena sangat terharu membaca sharing para orang tua disini yang begitu luar biasa mendampingi putra putrinya dalam menggapai cita2 dan masa depan mereka… Anak saya masih kelas 6 SD, sejak TK dia sudah berkeinginan utk bisa sekolah di Harvard. Bagi kami inilah saat dimulainya perjuangan untuk meraih cita2nya…dimulai dari berjuang untuk bisa masuk SMP terbaik…. Semoga saya sebagai orang tua bisa selalu mendampinginya dengan baik

  41. purnomo berkata:

    saya dulu ktk SMA ga brani bermimpi masuk ITB, Apalagi ktk SMP. Saya tinggal di Jatim, dulu ktk SMP & SMA, tahunya masuk ITS, UB & Unair itu udah keren. Alhamdulilah skrg dah jd alumni SBM MBA ITB, sekolah/fakultas paling elite (baca: mahal) di ITB🙂. Peran lingkungan trutama orantua memang sdikit banyak mbentuk persepsi kita ttg ssuatu, tmasuk dunia pendidikan.

  42. doni berkata:

    santai pak, anak sekarang jgan ditekan buat masuk sini masuk sini, masuk itb bukan segalanya, saya dari semenjak lahir ampe kelas tiga sma ga pernah pengen masuk itb, pengen masuk sekolah kedinasan, baru pas kelas tiga akhir “iseng” daftar teknik elektro itb, akhir nya tembus juga, cuma berbekal keisengan, dan sekrng sy udah lulus dan kerja di perusahaan tambang plat merah.

  43. doni berkata:

    komen yang paing saya suka dari pak dian diatas, jangan korbankan masa muda hanya untuk belajar di kelas, apalagi kalo ngincernya masuk lwat undangan, dimana pelajaran kurang penting ketika masuk di jurusan teknik ebanyakan ga dipakai macam sejarah geografi harus dihapal supaya dpt nilai bagus dan dpt rrangking supaya masuk jalur undangan, pola pendidikan indonesia yang memang kurang benar, dimana anak diforsir mempelajari semua mata pelajaran dan dapat rangking dikelas, saya rasa sudah tidak relevan yang seperti itu di jaman sekarang,

    • piyu berkata:

      Saran saya, jangan buang kebahagiaan masa remaja hanya karena ingin masuk ITB. Karena masa remaja adalah masa terindah yang tak akan pernah dapat terulang lagi setelah kita sudah dewasa. Rajin belajar nggak apa-apa, asalkan tetap balance dengan kehidupan normal.

      Mengikuti olimpiade sains macam-macam namun jika tak pernah merasakan indahnya masa remaja menurut saya adalah kerugian sangat besar dalam hidup anak tersebut.

  44. oded berkata:

    Gampang ko masuk ITB .. kata Pak Ridwan Kamil .. naek aja jurusan dago berenti deket stopan ..

  45. Maudy Syachdewi berkata:

    ada akselerasi untuk siswa siswi MAN 1 semarang gak? kalau ada saya ingin daftar

  46. Jonny Depp KW berkata:

    gua lulusan ITB 2009, tetap saja nganggur tolol… nyesel gua kuliah.. kuliah ga kuliah itu sama.. tergantung pengalaman saja

  47. Jonny Depp KW berkata:

    tapi saat ini gua kerja di Google

  48. piyu berkata:

    Kalau mau masuk Teknik Informatika ITB juga sebaiknya latihan ngoding sejak SMP. Kalau enggak bakalan kaget nanti dengan deadline-deadline tubesnya. Kecewa sama pemerintah yang menghapus mata pelajaran TIK di SMP dan SMA.

  49. widya98 berkata:

    Gak setuju. Anak sy yg paling besar,lulus SMA 2015, Dan lolos sbmptn di ITB Farmasi tanpa menyiapkan diri sejak SMP. Dia pilih ITB krn target nya mau kuliah di Bandung.itu aja..th 2016 ikut sbmptn lagi..lolos Kedokteran UPN jkt.. dia ambil Kedokteran UPNnya..demikian pengalaman anak saya

  50. Safrie Maulidin berkata:

    Saya termasuk siswa yang kurang(bodoh) di bidang pelajaran, tapi bagi saya saya plus di bidang bidang komputer.
    Tapi saya ada tekad untuk masuk ke Universitas tinggi, apakah ada cara nya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s