Irasional Mudik Idul Fitri (Warna-Warni Iring-Iringan di Jalan)

Saya sungguh terharu membaca berita ini (videonya bisa dilihat di sini): seorang bapak, Pak Toni namanya, mengayuh becak dari Malang ke Semarang demi mudik. Dia membawa istri dan tiga orang anak kembarnya di dalam beca itu. Sudah seminggu mengayuh baru sampai di Yogya. Tawaran naik armada dari kepolisian ditolaknya, katanya dia tidak ingin merepotkan orang lain. Hebatnya lagi, dia tetap teguh menjalankan ibadah puasanya selama perjalanan.

Sumber: jelajah-nesia.blogspot.com

Sumber: jelajah-nesia.blogspot.com

Kalau membaca perjuangan rakyat kecil di negeri ini, demi berlebaran ke kampung halaman, sungguh membuat kita terharu. Mereka rela bersusah payah menempuh perjalanan jauh yang sangat melelahkan, berhari-hari, sekaligus membahayakan. Tidak punya biaya atau untuk menghemat biaya adalah alasan yang paling umum kita dengar. Apapun mereka lakukan agar bisa dapat berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Sementara sebagian orang bisa duduk nyaman pulang mudik dengan pesawat, kereta api, bus ber-AC, atau mobil pribadi, mereka rela dengan alat transportasi seadanya.

Pernah melihat jalur Pantura pada saat mudik? Jalur ini dikuasai pemudik dengan kendaraan bermotor. Jumlahnya tidak hanya ratusan, tetapi ribuan bahkan puluhan ribu motor.

Satu kendaraan motor diisi oleh tiga, empat, bahkan sampai lima orang penumpang: suami, istri, dan dua anak. Satu anak duduk di depan, satu anak lagi diapit oleh ayah dan ibunya.

Sumber:  Detik.com

Sumber: Detik.com

Ada pula yang ditambah dengan tas dan dus barang di belakang motor:

Sumber: Antarafoto.com

Sumber: Antarafoto.com

Sumber: koranjakarta.com

Sumber: koranjakarta.com

Sangat berbahaya, tetapi mereka berani menempuh resiko!

Tidak hanya motor, bus, dan mobil, bahkan tukang bajaj pun ikut menyemarakkan jalur Pantura dengan membawa bajajnya ke kampung halaman di Jawa. Iring-iringan bajaj melewati jalur Pantura, ikut memeriahkan jalur yang sudah padat dengan pemudik motor, bus, dan mobil pribadi.

Sumber: Solopos.com

Sumber: Solopos.com

Sumber: Pikiranrakyat.com

Sumber: Pikiranrakyat.com

Satu bajaj disesaki keluarga si tukang bajaj plus dus-dus barang berisi oleh-oleh buat saudara di kampung.

Sumber: mediaviva.co,id

Sumber: mediaviva.co,id

Sumber: pasarkreasi.com

Sumber: pasarkreasi.com

Sumber: forum Kompas.com

Sumber: forum Kompas.com

Iring-iringan konvoi di jalan raya (terutama di jalur Pantura) menciptakan sisi lain warna Idul Fitri. Semua kisah para pemudik yang notabene rakyat kecil negeri kita itu sungguh membuat terharu. Idul Fitri bagaikan magnet besar yang membuat orang berani menempuh perjalanan jauh yang resiko untuk merayakan Hari yang Agung itu di kampung halaman. Keinginan yang kuat untuk bertemu sanak saudara di kampung telah mengalahkan rasionalitas. Mudik Idul Fitri itu ternyata irasional, tidak dapat dicerna dengan akal, hanya dapat dipahami dengan rasa.

Padahal, dalam ajaran Islam, tidak ada kewajiban pulang kampung pada saat idul Fitri. Pulang kampung dapat dilakukan kapan saja, tidak harus pada Hari Raya, namun masyarakat kita menemukan momentum pulang kampung yang paling pas justru pada saat Idul Fitri. Pulang kampung pada saat Hari Raya berbeda nuansa dan rasanya dengan pulang kampung pada hari yang lain. Ada kesyahduan, ada tangis haru, dan ada tawa. Spiritualitas seperti itu tidak ditemukan pada hari yang lain. Bahkan, penghasilan yang diperoleh selama setahun dibawa pulang untuk dihabsikan dan dibagikan kepada sanak saudara di kampung.

Iring-iringan pemudik di jalan raya itu mengingatkan saya pada orang-orang yang menempuh perjalanan jauh untuk berhaji ke Tanah Suci, Mekkah. Banyak cara yang ditempuh orang Islam dimuka bumi ini untuk menuju Tanah Suci. Ada yang naik pesawat, ada yang naik kapal laut, ada yang naik mobil, unta, kuda, bahkan berjalan kaki. Semuanya datang memenuhi panggilan Allah, labbaikallahumma labbaik, labbaikallah la syarika labbaik.

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus* yang datang dari segenap penjuru yang jauh,”
(al-Hajj: 27)

Jika orang berhaji menuju satu titik yaitu Tanah Suci, maka orang yang mudik juga menuju satu titik yaitu kampung halaman. Ini sejalan dengan makna Idul Fitri yaitu kembali ke fitrah, artinya kembali ke asal. Dan asal kehidupan manusia itu memang bermula dari kampung halaman, sebelum merantau ke negeri yang jauh.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H, minal ‘aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado, Indonesiaku. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Irasional Mudik Idul Fitri (Warna-Warni Iring-Iringan di Jalan)

  1. heru8dokoro berkata:

    Ijin share mas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s