Oh, Pak Rubi…

Kampusku kemarin “heboh”. Kehebohan itu tidak berlangsung dalam ruang nyata, tetapi dalam ruang maya melalui diskusi di milis-milis dan media sosial. Pasalnya, seorang profesor kami, Prof Rudi Rubiandini, yang menjadi pejabat negara sebagai Kepala SKK Migas, hari Selasa malam ditangkap oleh KPK. Pak Rubi tertangkap tangan karena diduga telah menerima uang (suap) dari seseorang. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung yaitu sekitar $400.000 atau sekitar 4 milyar rupiah. Menurut Jubir KPK, Pak Rubi telah menerima uang gratifikasi lebih dari satu kali, yang jika ditotal mencapai $700.000, sebuah jumlah yang fantastis. Hingga saat ini saya masih lebih percaya kepada KPK.

Sebagian orang berkata jangan su’udhon dulu, jangan menuduh dulu, terapkan asas praduga tak bersalah, dan sebagainya, meskipun dalam kacamata hukum kalau sudah tertangkap tangan maka sulit untuk dibantah. Di sisi lain banyak alumni ITB berharap semoga saja dugaan suap itu tidak benar atau jangan-jangan Pak Rubi sekedar dijebak. Semua orang berharap begitu, khususnya kami civitas academica dan alumni ITB. Namun semua harapan itu pupus sudah. Nyatanya setelah ditahan oleh KPK dan ditetapkan menjadi tersangka, Pak Rubi mengakui sendiri bahwa dia telah melakukan gratifikasi. Menerima uang suap termasuk ke dalam gratifikasi dan menurut UU No. 20 tahun 2001 gratifikasi dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi.

Saya tidak terlalu kenal dengan Prof Rubiandini, namun kami semua di ITB jelas sangat prihatin dengan kasus ini, karena nama ITB ikut terbawa-bawa. Menurut teman-teman dosen di milis, beliau adalah orang yang sederhana, bersahaja, dan lurus. Tetapi entah kenapa jadi begini, kok tiba-tiba berakhir buruk dengan sangkaan korupsi? Apatah yang telah membuat seseorang yang bersehaja bisa berubah begitu saja setelah mempunyai kedudukan? Dari yang tampak berlaku jujur ternyata menjadi koruptor? Oh Pak Rubi, kredibilitas yang sudah dibangun bertahun-tahun lenyap begitu saja, ditukar dengan uang senilai 7M yang kalau di Jakarta hanya cukup untuk membeli satu rumah mewah saja.

Banyak yang tidak habis pikir dengan kejadian ini. Bagi pejabat negara yang melakukan korupsi, mengapa mereka masih mau terpedaya mendapatkan uang secara tidak halal? Apakah gaji mereka sebagai pejabat masih kurang cukup besar? Setahu saya penghasilan Pak Rubi sangat lebih dari cukup. Selain mendapat gaji yang besar sebagai pejabat negara, beliau juga mendapat penghasilan sebagai konsultan. Lalu, untuk apa lagi uang korupsi bemrilyar-milyar itu? Tidak akan habis dimakan sendiri. Jika diwariskan untuk tujuh turunan pun tetap tidak berkah karena harta diperoleh dengan cara yang tidak halal.

Syaitan serkarang tidak lagi bergelantungan pada pohon beringin yang angker. Syaitan sudah pindah bergayut pada lembar-lembar uang kertas untuk menggoda iman orang-orang yang tidak kuat. Orang biasa, ustad, pejabat, hingga profesor pun bisa tergelincir karena godaan syetan yang bergelayutan pada lembar-lembar uang itu. Manusia telah menghamba kepada uang, uang sudah menjadi berhala. Naudzubillah min dzalik, mari kita berlindung kepada Allah SWT dari godaan syaitan yang terkutuk.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

10 Balasan ke Oh, Pak Rubi…

  1. luxi89soulmate berkata:

    Turut prihatin ya…iya, kadang abis baca postingn and rwayat pak rubi, rasnya sulit dprcaya. Tapi yah, smoga ini pljaran bagi kita smua

  2. Budi Y berkata:

    Betul, sayang gelar profesor dan karier yg dibangun puluhan tahun hanya dihargai dgn uang sebesar 7M! Diharapkan kejadian ini merupakan pembelajaran yg dapat ditempuh dalam waktu singkat untuk menjadi lebih baik lagi aamiin

  3. ramadhian berkata:

    7M Tidak Sebanding dengan Gelar Professor yg disandang ,, sungguh memalukan ,,

  4. patomi berkata:

    Reblogged this on Patomi's Weblog.

  5. Erwan Yulianto berkata:

    .kita cukup prihatin dengan kasus Pak Rudi..semoga jadi pelajaran kita semua dan belum tentu kalau kita pada posisi beliau mampu menghadi godaan seperti ini juga….lebih baik jadi orang mastur

  6. Rini berkata:

    Jika pendidik sudah dapat tergoda juga, pantaslah politikus itu lebih tergoda,,, miris

  7. lazione budy berkata:

    sayang sekali, karir yang dibangun bertahun-tahun tamat dalam sekejap.
    Anehnya pak Rubi ini, dia bilang tak korupsi tapi menggolongkannya sebagai gratifikasi.
    Dia kan profesor, seorang guru besar. Masa ga tahu bahwa gratifikasi-pun yang dia akui itu termasuk larangan keras. Itu korupsi juga pak.

    Sayang, sungguh disayangkan…

  8. Dwi Yuni berkata:

    Saya alumni magister informatika ITB…..setelah kasus korupsi itu terkuak, nama ITB juga santer diikutsertakan. Malah seorang teman sekerja saya memposting berita tersebut di fb dan memberikan komentar “jika seorang dosen teladan di ITB sudah mengakui menerima gratifikasi berarti rusak sudah ahlaknya….bagaimana ahlak mahasiswa2 yang diajarkannya”.
    Sungguh suatu pernyataan yang tidak berdasar dan membuat panas sewaktu membacanya……

    Saya percaya….pak rubi pasti tahu gratifikasi itu korupsi, yang kita tidak tahu adalah…..alasan pak rubi melakukan semua itu ….. politik itu kejam dan jahat, seringkali orang baik dan lugu dijadikan korban sebagai pencari “dana” /kambing hitam/dipojokkan dan akhirnya menjadi orang yang berdiri didepan sebagai tersangka.

    Mudah2n kedepannya…..nama ITB tidak lagi tercoreng seperti ini, karena walaupun hanya kuliah selama 2 tahun di ITB….saya bangga bisa menjadi bagian dari gajah ganesha.

    • Rini berkata:

      Saya mau meluruskan komentar saya di atas, waktu itu media-media mainstream gencar sekali memberitakan Pak Rubi, dan saya termakan media tersebut. Setelah dicermati sampai sekarang, kita harus pilah pilih berita. Bisa cek disini http://chirpstory.com/li/200777 meskipun dari akun anonim, tapi pernyataannya perlu juga sebagai pertimbangan. Terima kasih.

  9. Mudah-mudahan di masa depan, akademisi-akademisi yang terjun ke dunia politik tidak masuk dalam budaya korup dan penuh gratifikasi yang ada dalam politik Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s