Nyawa Manusia Seperti Tidak Ada Harganya

Apa yang terjadi di Mesir, Syria, Myanmar, Irak, dan belahan dunia lain sungguh memilukan. Puluhan hingga ribuan orang dibunuh oleh penguasa dan rakyat yang marah. Nyawa manusia seperti tidak ada harganya. Di Mesir ratusan pendukung Presiden terguling, Mohammad Mursi, tewas ditembak oleh tentara dengan peluru yang dibeli dari uang rakyatnya sendiri. Di Syria penguasa yang lalim membantai rakyat tak berdosa. Di Myanmar ratusan etnis Rohingya mati karena kebencian rasial. Di Irak puluhan orang tewas oleh bom bunuh diri. Masih banyak lagi di manusia mati karena dibunuh dan terbunuh oleh arogansi manusia lainnya.

Ini bukan masalah agama, tetapi lebih kepada masalah kemanusiaan. Di Mesir, orang yang saling berbunuhan itu adalah sesama muslim sendiri. Tentara dan polisi Mesir itu jelas orang Muslim juga. Jenderal dan Presiden hasil kudetanya seorang Muslim. Jadi, konflik yang terjadi antara pendukung Morsi dengan pihak oposisi (plus militer) bukan dipicu masalah agama. Di Syria juga begitu, kaum pemberontak dan penguasa sama-sama mengaku muslim (meskipun sebagian orang memandangnya sebagai pertarungan antara Syiah dan Sunni). Di Irak juga sama, yang membunuh dan terbunuh adalah saudara seiman mereka sendiri. Hanya di Myanmar konfliknya bergeser ke masalah agama, namun asal mula persoalan bukan karena masalah agama, tetapi masalah kecemburuan sosial, kebencian terhadap etnis, dan akhirnya merembet kepada kebencian kepada simbol-simbol agama.

Darah pertama tertumpah ke muka bumi ketika Qabil membunuh suadaranya Habil. Sejak itu darah manusia tidak pernah berhenti menyirami bumi karena dibunuh atau terbunuh. Rasa kemanusiaan manusia telah hilang ketika dia membunuh orang lain tanpa alasan yang haq. Menyaksikan usus yang tercerai berai, darah yang mengalir ke aspal, isi kepala yang berceceran ditembus peluru, mayat yang gosong karena dilempar ke dalam api, sungguh membuat saya bergidik ngeri. Ke manakah letak peri kemanusiaan orang-orang yang melakukan pembunuhan?

Jangankan membunuh orang, menyembelih ayam atau melihat ayam disembelih saja saya tidak tega dan tidak berani. Bahkan pada Hari Raya Idul Adha, saya tidak berani melihat penyembelihan hewan qurban. Di sisi lain, ada orang yang lebih tega dan lebih kejam daripada penyembelih ayam. Naudzubillah min dzalik.

Pos ini dipublikasikan di Dunia oh Dunia. Tandai permalink.

2 Balasan ke Nyawa Manusia Seperti Tidak Ada Harganya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s