Meski Dosen ITB, Tidak Ada Jaminan Anaknya Bisa Lulus Masuk ITB

Hari-hari ini mahasiswa baru ITB Angkatan 2013 menjalani masa orientasi studi (bukan perploncoan lho). Mereka dikenalkan dengan sistem pendidikan di ITB, selanjutnya diajak mengenal fasilitas kampus ITB yang akan mereka jalani nanti. Ada sekitar 3500 orang mahasiswa baru ITB, mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara, berbeda suku bangsa dan agama, berbeda status ekonomi, dan berbeda latar belakang sosial. Namun mereka menjadi satu di ITB, yaitu mahasiswa ITB. Kebhinekaan yang ada di kampus ITB adalah kekayaan ITB itu sendiri.

Saya masih ingat beberapa waktu yang lalu seorang rekan (sesama dosen ITB, calon profesor) menuliskan status di fesbuk bahwa akhirnya anaknya memantapkan hati menerima pilihan diterima di sebuah PTN di ujung timur Pulau Jawa, bukan di ITB seperti yang didambakannya. Kecewa? Pasti ada lah ya. Pilihan pertamanya kan di ITB, tetapi sayang tidak diterima, tetapi dia diterima pada pilihan kedua di tempat yang cukup jauh dari Bandung. Adalah hal yang wajar jika dosen-dosen ITB ingin anaknya kuliah di ITB juga, dan sejauh yang saya ketahui memang banyak dosen ITB yang anak-anaknya kuliah di ITB.

Namun, sebenarnya anak dosen di atas masih “lebih beruntung” dibandingkan anak dosen yang satu lagi (masih rekan saya satu fakultas). Anak rekan saya yang ini sama sekali tidak lulus SNMPTN maupun SBMPTN. Kecewa, sudah pasti. Shock, sudah jelas. Tidak hanya sang anak yang shock, bapaknya (yang dosen itu) juga sama-sama shock. Sedih.

Memangnya kalau anak dosen ada jaminan bisa masuk ITB? No way! ITB memperlakukan sama terhadap semua calon mahasiswa, baik anak orang kaya, anak orang miskin, anak pejabat, anak jenderal, anak dosen, atau anak rektor ITB sekalipun. Semuanya sama kedudukannya, tidak ada yang istimewa, yang dilihat adalah otaknya, bukan uangnya atau anak siapanya. Juga tidak ada mahasiswa titipan anak pejabat atau masuk lewat “pintu belakang”.

Saya masih ingat, putra Pak Wiranto (mantan Rektor ITB) pun anaknya tidak lulus masuk ITB dan akhirnya kuliah di jurusan teknik di sebuah PTS di Bandung. Anak Rektor ITB lho itu. Anak rektor ITB pun tidak ada jaminan bisa melenggang masuk ITB dengan mudah.

Orang luar seringkali salah menilai kami bahwa dikiranya dosen itu punya “jatah” memasukkan satu orang mahasiswa ke ITB. Kalau bukan anaknya, ya anak saudaranya. Kalau bukan anak saudaranya, ya anak orang lain (mungkin pakai transaksi “jual beli”). Itu sama sekali tidak benar. Kalau di PT lain mungkin ada jatah-jatahan seperti itu, tetapi hal semacam itu di kampus kami tidak ada.

Dulu teman saya pernah secara halus meminta tolong memasukkan anak bosnya masuk ITB (kala itu masih ada seleksi lewat jalur mandiri). Katanya kepada saya, kan dosen punya “jatah” mahasiswa, jadi tolonglah memasukkan anak bosnya (jenderal di TNI) ke ITB. Tidak bisa jawab saya, bahkan saya sendiri pun tidak bisa memasukkan anak saya ke ITB, apalagi anak orang lain. Yang bisa memasukkan seorang anak ke ITB adalah anak itu sendiri berdasarkan kemampuan otaknya. Saya pikir inilah tradisi kampus saya yang selalu dipelihara sejak dulu, yaitu menerima mahasiswa murni melalui potensi akademik semata.

Anak dosen itu sama saja dengan anak orang lain, ada yang cerdas, ada yang biasa-biasa saja, dan ada juga yang kurang. Kalau kemampuan otaknya tidak memadai ya tidak bisa lulus masuk kampus orangtuanya. Kalau dia bisa lulus masuk ITB, itu adalah karena kemampuannya sendiri, bukan karena hal yang lain.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

15 Balasan ke Meski Dosen ITB, Tidak Ada Jaminan Anaknya Bisa Lulus Masuk ITB

  1. Fendi haris berkata:

    ya begitu lah gan,, tidak semua harus saling mendukung terhadap keturunannya,, bisa sih kalau memang anaknya mau masuk ITB,, hehe

  2. yelmiati berkata:

    mantap Pak, Semoga hal ini bertahan selama-lamanya..

  3. Ibrahim Arief berkata:

    Bagus sekali Pak Rinaldi, saya jadi teringat kisah dari kakek saya tentang persepsi “jatah dosen” ini. Di tahun 1950an, beliau dikirim dari Bandung ke pulau Ambon untuk jadi guru Matematika tingkat dasar, sebagai inisiatif pemerintah Indonesia yang kala itu masih sangat muda untuk meratakan pendidikan di daerah timur republik kita.

    Ketika pulang dari Ambon, beliau diberi tawaran untuk mengajar sebagai guru SMA di salah satu SMA Negeri Bandung, atau ditarik sebagai dosen Matematika di ITB. Beliau lebih suka mengajar di tingkat SMA, tapi karena beliau penasaran, beliau bertanya ke dekan ITB yang hendak menarik beliau:

    “Pak, apakah benar kalau saya jadi dosen di ITB, saya jadi punya jatah untuk memasukkan anak saya ke ITB?”

    Dekan tersebut menjelaskan kepada kakek saya bahwa tidak ada jatah seperti itu, bahwa masuk atau tidaknya seorang anak ke ITB murni tergantung dari kualitas dia pribadi. Kakek saya sangat kagum dengan prinsip dan tradisi ITB yang sangat kuat, sampai sekarang dia menganjurkan anak cucunya untuk kuliah di ITB.

    Jadi tradisi membanggakan yang Pak Rinaldi bilang sudah terbentuk bahkan dari ITB tahun 1950an sekalipun.🙂

    Bagaimana dengan pilihan kakek saya? Karena beliau lebih nyaman mengajar murid-murid SMA, beliau akhirnya menjalani karier-nya sebagai guru Matematika SMA 3 Bandung sampai beliau pensiun.

  4. Teguh Winarno berkata:

    Tapi di ITB jg ya tdk smuanya cerdas…

  5. Teguh Winarno berkata:

    Kenapa Katanya Alumni ITB Sombong? | Rumah Pikiran Ardisaz – http://ardisaz.com/2012/01/07/kenapa-alumni-itb-sombong/

  6. Imam Siswanto berkata:

    Alhamdulillah, anak saya bisa masuk ITB. Dan yang pasti saya bukan dosen ITB. Alumni iya.

  7. safar1711 berkata:

    Seharusnya demikian karena ITB bukan milik Dosen atau rektor. Kapan mutu pendidikan meningkat jika standar masuk PT berdasar pada hubungan kekerabatan.

  8. safar1711 berkata:

    Reblogged this on affiliatemarkettingblog.

  9. ini serius???
    lah kemaren teman saya bisa masuk FTSL, karena pamanya dosen FTSL.
    padahal gagal di SBMPTN. dan waktu SMA jurusan IPS.

    • hjkvxh berkata:

      Hahaha berarti bulshit nih artikelnya. Atau cuman mau mentupi aja karna memang banyak yang lewat jalur belakang ya?:))

  10. Trois Eclair berkata:

    membuat lega hati, pengin sekali masuk ITB, sayang kemarin dinyatakan tidak lulus.
    Insyaallah taun depan bisa masuk. amin
    Tiada Hasil yang Membohongi Usaha.

  11. Adi berkata:

    Bapak saya dosen di ITB, jurusan A, saya mau masuk ke sana tapi gagal :p.

    Akhirnya masuk jurusan Z, tapi gapapa asal sesama ITB, kadang2 irit ongkos pergi-pulang

  12. sandrosirait berkata:

    Sepakat pak, inilah yang saya banggakan dari ITB🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s