Kontes “Miss World” dan “Mis-Misan” Lainnya

Beberapa hari ini ramai diberitakan penolakan beberepa elemen masyarakat terhadap penyelenggaraan kontes Miss World yang rencananya akan diadakan di Bali dan di Sentul, Jawa Barat pada bulan September ini. Penyelenggara Miss World adalah grup MNC milik Hary Tanoe yang memiliki banyak media di tanah air (RCTI, Global TV, MNC TV, Koran SINDO, dll) . Penolakan didasarkan pada argumen bahwa kontes tersebut merendahkan martabat perempuan, sebab yang dinilai adalah kecantikan lahiriah dan beberapa bagian fisik perempuan yang tidak jauh dari seputar pinggul dan dada. Belum lagi ada sesi memakai bikini yang memperlihatkan aurat perempuan di hadapan penonton. Meskipun panitia Miss World membantah tidak ada sesi bikini, malah semua peserta akan memakai kebaya rancangan desainer terkemuka di tanah air, namun kelompok penolak tetap bergeming. Saya menilai alasan-alasan penolakan lebih banyak didasarkan dari sudut pandang keagamaan (dalam hal ini agama Islam) dan sosio-kultural. Di tengah krisis moral dan korupsi yang merebak di negeri ini, penyelenggaraan Miss World adalah sebuah ironi.

Disamping ada kelompok yang menolak, banyak juga orang-orang yang mendukung acara tersebut. Mereka melihat tidak ada yang perlu dipermasalahkan dari kontes tersebut, toh sehari-hari masyarakat kita sudah sering disuguhi tayangan yang mengumbar aurat perempuan di televisi, atau goyangan erotis penyanyi dangdut, dan pornografi lainnya di media. Justru pornografi di media jauh lebih parah dibandingkan dengan kontes Miss World, kata mereka, itulah yang seharusnya lebih dulu dilarang. Ada pula argumen yang menyatakan bahwa kontes Miss World (dan yang sejenis adalah Miss Universe) dapat memperkenalkan Indonesia di mata dunia dan meningkatkan kunjungan pariwisata, sebab acara Miss World disiarkan langsung oleh stasiun televisi berbagai negara dan diliput oleh wartawan dari seluruh dunia.

Pro kontra terhadap suatu isu sudah biasa di negara kita. Tidak mungkin semua orang di negri ini seiya sekata dalam menanggapi sebuah isu atau kasus. Selama pro kontra itu masih dalam koridor perbedaan pendapat dan tidak dilakukan dengan cara-cara anarkis saya kira sah-sah saja. Kadangkala pihak yang kontra “memenangkan” unjuk pendapat, kadangkala pihak yang pro yang tersenyum “menang”. Masih ingat dengan isu Lady Gaga yang akan manggung tahun lalu? Ramainya pemberitaan kelompok yang menolak membuat Lady Gaga mutung sehingga tidak jadi datang ke Indinesia. Kegagalan Lady Gaga datang ke Indonesia dianggap “kemenangan” bagi kelompok kontra Lady Gaga.

Saya sendiri termasuk kelompok yang cenderung konservatif dalam isu Miss World ini. Saya tidak hanya tidak setuju dengan penyelenggaraan Miss World (termasuk Miss Universe), tetapi juga tidak setuju dengan kontes ratu-ratuan (atau istilah saya “mis-misan”) lain yang sering diadakan di negeri ini. Alasannya sederhana saja, tubuh manusia ini adalah ciptaan Tuhan, maka tidak sepantasnya ciptaan Tuhan itu dipertandingkan untuk menentukan siapa yang paling cantik. Itu sama saja dengan “melecehkan” sang Pencipta, seolah-olah yang tidak cantik itu merupakan ciptaan yang tidak sempurna, sedangkan yang cantik merupakan orang yang sempurna dan terpuji.

Saya percaya bahwa Tuhan menciptakan makhluk-Nya tidak mungkin ada yang sia-sia. Cantik, jelek, buruk rupa, atau wajah biasa-biasa saja, sudah menjadi takdir sejak lahir. Takdir tidak bisa diubah, sama seperti pintar, bodoh, otak sedang, dan lain-lian yang merupakan karunia sejak lahir. Kalau ada orang cantik dan tampan itu sudah dari sononya begitu. Kalau ada orang berwajah dan bertubuh biasa-biasa saja, pasti ada maksud dan rahasia Tuhan dalam menciptakannya. Orang cantik belum tentu paling baik, orang yang tidak cantik belum tentu hatinya tidak secantik wajahnya. Bahwa selera manusia cenderung kepada yang cantik itu saya pikir wajar saja, sebagaimana pepatah Minangkabau yang menyatakan mato condong ka nan rancak, salero condong kan nan lamak. Namun kalau rancak atau keindahan wanita itu diperlombakan, maka disitulah pelecehan terhadap ciptaan Ilahi.

Dalam kontes mis-misan semacam itu peserta lebih banyak dinilai dari aspek lahiriah, meskipun seringkali penitia berkilah bahwa yang dinilai tidak hanya fisik saja tetapi juga kecerdasan, bakat, dan inner beauty lainnya. Menurut saya aspek penilaian selain faktor fisik hanya kamuflase saja agar panitia tidak dinilai mengeksploitasi fisik perempuan, tetap saja penampilan fisik menjadi aspek penilaian utama. Maka, tidak akan mungkin kecil peluang perempuan A***** yang h**** (maaf) atau wanita P**** (maaf sekali lagi) akan memenangkan kontes mis-misan meskipun dia sangat ramah, cerdas, sopan, pintar berbahasa Inggris, sebab dari penilaian kecantikan fisik mereka tidak memenuhi kriteria juri. Cantik menurut para juri identik dengan wanita berkulit putih, mulus, tubuh semampai, jadi hampir mustahil wanita berkulit ***** (maaf lagi) menjadi pemenangnya, dan biasanya yang sering menang adalah wanita-wanita Amerika Latin atau Eropa yang berkulit putih.

Alasan meningkatkan pariwisata menurut saya juga mengada-ada dan terdengar klise. Belum ada bukti relevan yang menunjukkan pemenang kontes ratu-ratuan meningkatkan kunjungan wisata ke negaranya. Orang berwisata ke suatu negara bukan karena wanita di negara itu memang Miss World atau Miss Universe , tetapi karena alam di negara tersebut memang indah, budayanya menarik, kota-kotanya rapi dan modern, atraksinya yang unik, dan banyak lagi faktor lainnya.

Saya menilai kontes mis-misan itu adalah sebuah kapitalisme, yaitu ujung-ujungnya adalah duit, namun dibungkus dengan alasan-alasan klise seperti pariwisata, memajukan seni budaya dan karya anak bangsa, dan lain-lain. Penyelenggara kontes mis-misan jelas mencari keuntungan materi yang berlipat-lipat dari acara yang mereka adakan. Sebut saja hak siar televisi, iklan, sponsor, dan tentu saja pencitraan perusahaan mereka. Selebihnya kita kena tipu-tipu mereka dengan alasan-alasan klise supaya tidak kentara kapitalismenya.

Tubuh perempuan bukan bahan untuk dijadikan dagangan. Kecantikan mereka bukan untuk diperlombakan. Kecantikan itu adalah anugerah untuk disyukuri. Namun, kecantikan itu tidak akan pernah abadi. Yang cantik dan buruk suatu saat akan tua, lalu binasa. Dunia ini tidka kekal, tetapi fana. Yang dibawa mati bukanlah materi atau kecantikan, tetapi amal shaleh selama hidup di dunia.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

14 Balasan ke Kontes “Miss World” dan “Mis-Misan” Lainnya

  1. anitadeka berkata:

    Baru turun dari Bandara Miss-Missnya Udah telanjang.
    Sepakat!! Hanya demi sebuah karir, Uang dan ketenaran mereka rela di exploitasi. Jadi apa negeri yang saya cintai ini jika semua wanita seperti itu! Perempuan jadi pekerja pekerja ekonomi , sampai harus melombakan dirinya demi bayang kemakmuran. ketika perempuan rusak , maka rusaklah bangsa , krn dalam pandangan islam , perempuan adalah sekolah bagi generasi baru.

  2. anitadeka berkata:

    Reblogged this on " Sebaik-baik Manusia adalah yang paling bermanfaat untuk Orang lain" and commented:
    Abad dimana wanita sukarela diekspolitasi jd alat ekonomi dan objek seksual. perempuan dinilai di depan publik dg standar setiap jengkal tubuhnya. kasihan perempuan abad ini , bencana bagi kita semua

  3. Reisha berkata:

    Maaf OOT nih Pak. Kalau dicek di KBBI, ber·ge·ming v tidak bergerak sedikit juga; diam saja; jadi rasanya bagian kalimat “namun kelompok penolak tetap bergeming” kurang pas.. ^^v

    • rinaldimunir berkata:

      Bergeming di sini artinya tetap bertahan dengan pendapatnya. Jadi, “kelompok penolak tetap bergeming” artinya kelompok penolak tetap bertahan dengan pendapatnya yang menentang Miss World.

  4. Yoel berkata:

    Miss world 2001 dari Nigeria, Afrika. Agbani Drego namanya. Kulitnya hitam pekat asli dari Afrika tanpai pernah pakai lotion pemutih. Miss world 2013 dari China dengan kulit kuningnya.

  5. Yoel berkata:

    “Maka, tidak akan mungkin perempuan Afrika yang hitam legam (maaf) atau wanita Papua (maaf sekali lagi) akan memenangkan kontes mis-misan meskipun dia sangat ramah, cerdas, sopan, pintar berbahasa Inggris, sebab dari penilaian kecantikan fisik mereka tidak memenuhi kriteria juri. ” –>mungkin perlu diralat…

  6. Ariesta Wibowo berkata:

    mohon izin bagi-bagi tulisannya pak..

  7. David Gabriel (Rekayasa Pertanian) berkata:

    Maaf pak,saya sangat suka cara bapak menyajikan suatu isu,membuat status quo nya,menunjukkan point of viewnya dan berargumentasi untuk hal itu.Tapi perlu dipertimbangkan,dalam beropini,diperlukan suatu keakuratan data dan juga kevalidan data,seperti tulisan bapak yang mengatakan bahwa “Maka, tidak akan mungkin kecil peluang perempuan Afrika yang hitam legam (maaf) atau wanita Papua (maaf sekali lagi) akan memenangkan kontes mis-misan meskipun dia sangat ramah, cerdas, sopan, pintar berbahasa Inggris, sebab dari penilaian kecantikan fisik mereka tidak memenuhi kriteria juri” dan juga ketika beropini sebaiknya jangan membawa SARA,seperti kulit hitam yang terdapat di tulisan bapak,hal ini mengindikasikan bahwa menurut bapak orang kulit hitam itu tidak cantik,Ya apapun indikasinya,cukup berbahaya apalagi jika ras yang bapak singgung tersinggung.Sebenarnya saya mulai suka baca tulisan bapak dari atas,karena opini bapak adalah opini yang saya sangat tunggu untuk dipublikasikan,tetapi ketika saya baca kulit hitam,afrika dan papua,saya jadi khawatir kalau ada pembaca yg tersinggung.Tetap semangat dalam berkarya pak,mohon maaf jika ada salah kata,sesungguhnya saya bukan ingin menggurui,tetapi saya juga belajar untuk memperbaiki diri saya. Jika ada hal yang ingin disampaikan,bapak bisa menghubungi email saya.Terima kasih

  8. adi pras berkata:

    Pro dan kontra penyelenggaraan miss word di bali terus berlanjut. Masing2 pihak berargumen banyak manfaatnya, sdg pihak lain menilai banyak madharatnya. Namun semua keputusan terpulang ke pemegang otoritas, pemerintah. Saya teringat komen seorang kawan bhw kalau pemerintah menilai kontes kecantikan adl baik dan bermanfaat, ada baiknya kedepan kontes ini dilembagakan mulai kontes kecantikan tingkat rt, rw, kelurahan, kecamatan dst. seperti kompetisi sepakbola…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s