Berkunjung ke Jepang (Bag. 4): Dari Kanazawa ke Tokyo

Pagi-pagi kami sudah harus bangun karena jam 6 pagi kami akan berangkat ke Tokyo. Tokyo? Ya, selama ini saya hanya sering mendengar nama dan melihat gambarnya saja. Sekarang saya akan melihat kota super metropolitan itu dengan mata kepala sendiri. Dan yang membuat saya bakal berdebar-debar adalah untuk pertama kalinya saya akan naik salah satu kereta tercepat di dunia, kereta Shinkansen, yaitu kereta peluru yang kecepatannya hampir menyamai kecepatan suara.

Untunglah hotel kami persis di depan stasiun Kanazawa, jadi kami tidak khawatir ditinggal kereta. Dari Kanazawa kami tidak langsung naik Shinkansen, tetapi naik kereta cepat yang lain terlebih dahulu, seperti foto di bawah ini.

DSCF1006

Setelah satu jam lebih naik kereta ini, kami turun di stasiun (stasiun apa gitu, sayang tidak saya catat namanya). Nah, di sini yang membuat jantung sempoyongan. Begitu turun kami harus cepat berlari ke lantai atas untuk mengejar naik Shinkansen, sebab Shinkansen hanya berhenti selama 4 menit. Harus rebutan cepat dengan penumpang lain yang juga berlarian mengejar naik Shinkansen. Saya membawa tiga tas, salah satunya koper besar, harus ekstra berjuang mengejar Shinaksen. Untung saja semua stasiun di Jepang dilengkapi lift dan eskaloator, jadi saya tidak harus naik turun tangga dengan barang-barang yang berat itu. Alhamdulillah kami berhasil naik Shinkansen tepat setengah menit sebelum pintu gerbong ditutup secara otomatis. Kereta Shinkansen yang saya naiki itu dua lantai bo!, ck…ck..ck. Ini fotonya yang saya jepret setelah sampai di Tokyo.

Kereta Shinkansen yang saya naiki, dua lantai.

Kereta Shinkansen yang saya naiki, dua lantai.

Narsis dulu di depan Shinkansen.

Narsis dulu di depan Shinkansen.

Tangga ke lantai dua

Tangga ke lantai dua

Suasana di dalam gerbong Shinkansen lantai dua.

Suasana di dalam gerbong Shinkansen lantai dua.

Kereta Shinkansen tidak berjalan di atas rel di permukaan tanah, tetapi di jalur rel layang yang tampak seperti jalan layang tol seperti foto di bawah ini.

Jalur layang khusus kereta Shinkansen.

Jalur layang khusus kereta Shinkansen.

Kereta Shinkansen ada beberapa macam, ada yang dua lantai dan ada yang satu lantai saja, bentuknya seperti kapsul seperti yang saya potret di jalur satunya lagi.

Kereta Shinkansen lainnya.

Kereta Shinkansen lainnya.

Gerbong kereta Shinkansen yang berwarna putih.

Gerbong kereta Shinkansen yang berwarna putih.

Ramai sekali penumpang turun naik kereta Shinkansen di Tokyo.

Ramai sekali penumpang turun naik kereta Shinkansen di Tokyo.

Kereta bertingkat lainnya yang saya temui di stasiun ini.

Kereta bertingkat lainnya yang saya temui di stasiun ini.

Bagi saya selalu ada pengalaman baru di Jepang, salah duanya tentang budaya tertib dan antri. Orang Jepang memang juara teladan soal tertib dan antri. Kereta api belum datang saja mereka sudah berbaris antri dengan tertib pada setiap posisi masuk gerbong (diberi nomor di atasnya) seperti dua foto di bawah ini. Ketika mau naik kereta juga begitu, naik sesuai antrian dan tidak ada desak-desakan atau orang menyerobot. Di negara kita perlu berapa generasi ya menjadi orang tertib seperti mereka?

Antri dengan tertib menunggu kereta.

Antri dengan tertib menunggu kereta.

Antri dengan tertib menunggu kereta

Antri dengan tertib menunggu kereta

Setelah turun dari Shinkansen, kami menyambung dengan kereta yang lain lagi menuju stasiun berikutnya. Di stasiun perhentian terakhir ini kami turun lalu mencari pintu masuk ke kereta api bawah tanah (subway). Naik subway adalah pengalaman pertama bagi saya, dan saya pikir ini sangat mengayikkan.

Pintu masuk ke bawah tanah menuju jalur subway.

Pintu masuk ke bawah tanah menuju jalur subway.

Anak tangga ke bawah dari atas permukaan tanah.

Anak tangga ke bawah dari atas permukaan tanah.

Sungguh hebat teknologi manusia yang membuat jalur kereta api di bawah tanah, seperti lorong-lorong tikus saja. Jalur kereta subway di Tokyo bercabang-cabang seperti labirin. Kalau tidak bisa membaca peta subway alamat bakal tersesat kita naik kereta.

Suasana di dalam subway, terang benderang seperti bukan di bawah tanah saja.

Suasana di dalam subway, terang benderang seperti bukan di bawah tanah saja.

Peta subway

Peta subway

Jalur rel kereta subway

Jalur rel kereta subway

Ke arah sana sana sangat gelap.

Ke arah sana sana sangat gelap.

Kereta subway baru datang.

Kereta subway baru datang.

Suasana di dalam gerbong subway.

Suasana di dalam gerbong subway.

Berhenti di sini.

Berhenti di sini.

Tokyo, ini saya datang!

DSCF1028

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Berkunjung ke Jepang (Bag. 4): Dari Kanazawa ke Tokyo

  1. aralicka berkata:

    Keren banget, pak ceritanya . . .Jepangnya juga… salut ama orang sana

  2. Rini berkata:

    brp tingkat kebawah jalur keretanya ya,

  3. Arai Sopi berkata:

    indah sekali yaaa…. seandainya saja saya bisa berkunjung ke jepang… mudah2an saya bisa iku beasiswa teacher training… amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s