Antara Gaji Dosen dan Gaji Pengemis

Pengemis di Bandung membuat berita heboh. Mereka ditawari pekerjaan oleh Walikota yang baru, Ridwan Kamil, sebagai penyapu jalan. Namun, mereka sepertinya kurang antusias, bahkan agak ngelunjak, mereka minta gaji Rp4 juta hingga Rp10 juta per bulan sebagai penyapu jalan.

“Kalau mau dipekerjakan seperti itu, apakah bapak siap menggaji sesuai dengan kebutuhan mereka? Apakah bapak bisa menggaji mereka Rp 4 juta sampai Rp 10 juta. Kalau hanya gaji Rp 700 ribu tidak akan cukup,” ujar Priston salah seorang orator dari Gerakan Masyarakat Djalanan (GMD). (Sumber: Ditawari Kerja Jadi Penyapu Jalan, Pengemis Bandung Minta Gaji Rp 10 Juta).

Minta 10 juta? Wah, gaji kami dosen ITB yang bergelar master dan doktor saja tidak sampai setengahnya. Gaji saya per bulan (sudah termasuk tunjangan fungsional, tunjangan anak, tunjangan istri) hanya sekitar empat juta lebih sedikit. Kurang? ya pasti kurang, tetapi yang namanya dosen PNS itu gaji dicukup-cukupkan saja. Alhamdulillah, untung saja ada tambahan insentif dan tunjangan profesi dari negara karena sudah lulus sertifikasi dosen sehingga “agak tertolong” lah sedikit.

Bagi dosen yang belum mendapat tunjangan profesi, maka gaji PNS yang kecil itu harus disiasati. Bagi dosen yang punya proyek, kerma, penelitian, atau merangkap sebagai konsultan, maka honor dari proyek/kerma/penelitian/konsultan itu lumayan sangat membantu kebutuhan keluarganya. Jadi, gaji boleh kecil, tetapi take home pay nya itu lho, besar, demikian seloroh orang-orang. Namun, dosen yang “makmur” seperti itu tidak banyak jumlahnya. Bagi dosen yang tidak punya proyekan dan hidup hanya mengandalkan dari gaji saja, ya harus pandai-pandai menghadapi kondisi “labil ekonomi” (meminjam istilah Vicky :-)). Bulan masih muda tetapi uang gaji sudah habis, bulan tua mulai mencari pinjaman.

Meskipun gaji kecil tetapi saya tidak pernah mendengar ada dosen yang resign karena tertarik tawaran bekerja di tempat lain dengan gaji yang menggiurkan. Jika anda bertanya, dengan gaji dosen yang kecil itu, kenapa kami masih tetap bertahan di sini? Jawabannya adalah karena kami mencintai mahasiswa kami.

Jadi, kalau pengemis saja berani meminta gaji 10 juta per bulan sebagai penyapu jalan, maka saya pribadi tidak menuntut banyak. Uang bukan segala-galanya dalam hidup ini.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung, Seputar ITB. Tandai permalink.

32 Balasan ke Antara Gaji Dosen dan Gaji Pengemis

  1. pretty berkata:

    itu pengemis dikasih hati malah ngelunjak. Shrsnya dia brsyukur kpd walikota krn ada pekerjaan yg halal.

  2. lazione budy berkata:

    Gila!
    Omzet ngemis memang gila!
    Tak heran profesi ini banyak dijalani.

  3. Mila Wulandari berkata:

    mulai dari sekarang yuk kita semua STOP KASIH UANG SAMA PENGEMIS ATAU SEMACAMNYA DIJALANAN!!! Niat kita sih awalnya baik mau bantu meringankan beban mereka tapi coba deh dipikirin lagi pendapatan yg mereka peroleh mungkin lebih besar dari yang kita dapatkan,apalagi liat berita tentang pengemis2 dibandung yang minta digaji 4-10jt dan ditawarin kerjaan jadi tukang sapu jalanan malah nolak,Helooooowwwww.,peluang kerja halal sudah ada, malah disia2 kan, ditawarin kerja jadi tukang sapu nolak lebih milih ngemis dengan alasan kebutuhan mereka lebih besar dari gaji tukang sapu,yaiyalah orang semua pengemisnya jg pada pake HP bahkan mungkin ada yg punya ipad atau notebook x,ckckckck..susah emang klo mentalnya udh pada cacat kaya bgtu tuh,klo gue jd walikota bandung udah gue karungin tuh para pengemis yg ngelunjak trus gue buang jauh2 dari muka bumiii ini!!! #emositingkatdewa..

  4. emaknyashira berkata:

    Reblogged this on it's my point of view and commented:
    Mari berhenti memberi uang buat pengemis dan anak jalanan, banyak cara kok untuk menolong yang memang kesusahan selain memberi uang.

  5. Juwita berkata:

    “Meskipun gaji kecil tetapi saya tidak pernah mendengar ada dosen yang resign karena tertarik tawaran bekerja di tempat lain dengan gaji yang menggiurkan. Jika anda bertanya, dengan gaji dosen yang kecil itu, kenapa kami masih tetap bertahan di sini? Jawabannya adalah karena kami mencintai mahasiswa kami.”

    Terenyuh saya Pak baca bagian itu. :’)

    • Nasirudin berkata:

      Sebab tujuan utama menjadi dosen bukanlah “gaji”.
      Sehingga kalaupun ada seorang dosen resign bukan karena alasan gaji.
      Indahnya berbagi, indahnya mendapat ilmu lagi, seorang dosen dia akan selalu mengupdate ilmu pengetahuan, dan dia selalu akan membagi pengetahuannya kepada para mahasiswanya.

  6. setiawan berkata:

    Pengemis yang dijalan-jalan itu sebagian besar sudah “diorganisasir” oleh sekelompok tertentu. Di sore hari mereka berkumpul dan setor uang sejumlah tertentu. Tak setiap orang bisa keluar seenak saja dari kelompok tersebut. itulah salah satu alasan kenapa ada yang menuntut gaji 4jt-10jt. yah, ibarat nya itu “cost price to exit barrier from those group”.

    salam kenal and May god bless us
    setyawan – http://www.js-kintamoney.blogspot.com

  7. dspyn berkata:

    wah mantef tuh gajinya pengemis.
    salam
    http://www.kangdadang.com

  8. adi berkata:

    Gaji dosen di Indonesia sangat memprihatinkan. Mau marah rasanya jika ingat perjuangan seseorang untuk meraih S2 dan S3, kemudian membagikan ilmu dan publikasi kepada masyarakat dan hanya dihargai segitu. Saya sendiri seorang dosen part time, saya merasakan beratnya jadi dosen. Belajar untuk persiapan mengajar, memeriksa paper, ujian apalagi ditambah riset dan publikasi. Makanya saya tidak sanggup jadi dosen fulltime dan salut kepada profesi ini.

    Memang uang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh uang. Kalau saya jadi milyuner, yang pertama saya lakukan adalah menyumbang untuk universitas sehingga dosen bisa memiliki penghasilan sama seperti manager menengah di perusahaan swasta.

  9. Alris berkata:

    Dosen aja gajinya segitu, apalagi guru. Bayangkanlah seorang guru yang mengajar di daerah terpencil, kalau bukan karena cintanya kepada profesi barangkali gak ada yang mau mengajar di daerah pedalaman dan perbatasan sana.

  10. Wulan berkata:

    wah ini aku gak sengaja liat bapak2 tua ngemis dijembatan di kotaku. karna kasian juga sih tiap hari ngemis gtu, kata temanku bilang, jangan kasih uang sdikit pd pengemis tapi memberi kasih saran kpd pengemis untuk membuka usaha sndiri gtu itu yang aku dapatkan dr sunna Nabi Muhammad, yg ngasih tau ke aku kan temanku, nah, beda di TV orang pinnggiran aja anak kecil miskin bisa jualan sana sini malah dapat rezeki yg cukup, subhanallah ^^ ohya, kunjungi ke blog aku ya ^^

  11. LALA berkata:

    SEBAIKNYA JANGAN MEMBERI PADA PENGEMIS & ANAK JALANAN. Jika anda memberi, maka sebenar anda sengaja membiarkan dan mengembangkan Mental mereka dan generasinya untuk tetap jadi pengemis. Walaupun anda tidak menyuruh mereka untuk mengemis tetapi anda ikut andil menciptakan kondisi sehingga mereka selalu mengemis. Niat anda mungkin ikhlas, tapi efeknya jadi begitu. Jadi STOP jangan beri sama pengemis. Jika semua orang tidak ada yang memberi uang pada pengemis, yakin pada saatnya tidak akan ada pengemis. dan merekan pun akan cari kerjaan lain dan menjadi lebih kreatif untuk bekerja.
    Banyak cara untuk membantu orang, asalkan dengan niat yang Ikhlas…,
    MARI KITA SEBARKAN SLOGA “STOP MEMBERI PADA PENGEMIS & ANAK JALANAN”.

  12. pemikirulung berkata:

    karena duit bukan segalanya ya Pak. cukup itu adanya di hati, bukan ada di apa yang kita miliki

  13. catri gardinia berkata:

    kritik u kalangan diknas. jangan hanya mikirkan proyek unas. tapi pikirkan jg kalangan akademis. msh byk akademis yg ndak mau proyek penlitian krn alasan akhirat. jadi mulai sekarang kembalikan sistem lama reguler dua. krn sistem skrg sdh gaji kecil u ngajar tambahan aja gaji dibayar 4 bln kemudiani……. selain dosen byk karyawan honorer yg ikut merasakan dibayar 4 bln yang akan datang…….selain itu pak menteri biaya kuliah juga semakain mahaallll…. pak menteri relakan proyek unas. segera pikirkan anak buah dibawah anda…. tirulah jokowi. beliau selalu mikirkan rakyat kecil.

  14. Qem Lee berkata:

    hadeuhh ke laut aja tuh pengemis yang menolak jadi tukan sapu ketimbang jadi pengemis, pnya mental apaan mari teriak bersama sama ” STOP KASIH UANG KEPADA PENGEMIS “

  15. Marhamah berkata:

    banyak lagi cara untuk berbakti.. kasih uang tidak akan berujung kemana mana

  16. Anto Siahaan berkata:

    Baru saja membaca ttg penolakan bosnya snapchat thd tawaran facebook yg 3 milyar dolar AS (sktr Rp. 30 T jdnya), awalnya saya tidak habis pikir kalau punya uang sebanyak itu bakal diapain. Membaca tulisan bapak sy jd kalem lagi.. Uang bukan segalanya.. Saya sendiri menimba ilmu di itb hampir 6 tahun, pernah menjadi guru dan dosen, dan tahu bagaimana kehidupan dosen itb, meski tidak terlalu pasti. Memang yang saya perhatikan, rata2 dosen itb orangnya sederhana, dan mencintai dunia akademis, baik mengajar, riset, dan tentu interaksi dengan mahasiswa secara umum.. Tentu kita semua berharap ke depannya kesejahteraan dosen itb khususnya, dan di Indonesia umumnya bisa ditingkatkan secara signifikan, yang saya yakin akan berimbas secara signifikan juga terhadap kemajuan ipteks Indonesia..

    salam

  17. yusri.poltek@gmail.com berkata:

    Kita Dosen memang sudah seperti itu nasibnya!….. Jangan gundah…. Mari kita jalanin profesi sampingan….. Cari tambahan…. Urusan kampus, mahasiswa cukup kita kasih tugas dan belajar mandiri….. Jangan pusing dengan nasib generasi bangsa (mahasiswa)…. toh nasib dosen aja gak ada yang peduli !!!! bukan begitu Prof?

    • santoso berkata:

      Wah, jadi apa nanti INDONESIA ini kalau begitu pak.
      kita saja gaji kecil, masih harus dipotong bila terlambat (bahkan hanya 1 detik), dan untuk bulan kemarin hanya dapat 75% dan juga untuk dua bulan berikutnya masih belum jelas, ini karena pemerintah belum bertekad untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (atau sengaja tidak mau mencerdaskan).

      Salam kenal untuk bapak Rinaldi Munir

  18. masih baik ngemis dari pada ngerampok duit negara ……..para koruptor…..mampus kau!!!!

  19. ardika berkata:

    Bagus Pak tulisannya. Menarik sekali.

  20. Agus Rodi berkata:

    Betul sekali gan, uang bukan segalanya dalam hidup ini….
    Ane berani melepaskan semua jabatan dan uang yang biasa ane terima, demi kembali ke istri dan anak ane.

  21. teserah berkata:

    pengemis sekarang malah ngelunjak..
    dikasih dikit malah dibales caci maki..

  22. naifah1967 berkata:

    Berbagi sedikit… saya seorang dosen di sebuah Akademi Kebidanan di salah satu daerah bagian negeri ini, sebelum jadi seorang dosen, saya seorang pegawai swasta bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di proyek-proyek konstruksi MIGAS dengan gaji yang cukup lumayan jika dibandingkan sekarang. Ada perbedaan keadaan yang membuat saya beralih ke profesi sekarang. Dulu memang uang yang saya terima lumayan, namun hidup harus berjauhan dengan keluarga, karena saya bekerja di Jakarta, keadaan itu sementara harus saya jalani, demi untuk kehidupan yang lebih kondusif, namun setelah keadaan telah kondusif. Saya harus memilih keadaan yang dulunya berada diluar pemikiran saya, saya memilih untuk dekat dengan keluarga (hijrah ke daerah), dan menjalani profesi sebagai dosen (awalnya, karena tak ada pilihan lain), awalnya ini merupakan perubahan keadaan yang cukup berat saya rasakan secara pribadi (sebenarnya kalau mau jujur, sampai sekarang masih terasa), namun lambat laun seiring berjalannya waktu, kami, keluarga mulai mengatur strategi (kayak perang aja nih…) yang pertama kami lakukan, menyiasati pengeluaran, kami mulai memangkas pengeluaran-pengeluaran yang “tidak perlu”, kami lebih mendahulukan kebutuhan primer saja, ketimbang yang sifatnya tersier, apalagi lux. Walaupun keadaan ini dijalani dengan “sedikit pemberontakan bathin”, lambat laun kami bisa menyesuaiakan diri dengan perubahan keadaan ini, bahkan bisa berteman akrab, dengan “sedikit melupakan keinginan-keinginan lain”. Dan ternyata ada hal lain yang rasakan, dan selama ini tidak saya rasakan, adanya kepuasan bathin, terutama saat melihat mahasiswa saya lulus dan diwisuda…saya merasa seolah mereka adalah anak kandung saya, yang saya didik dengan susah payah dan berhasil menyelesaikan pendidikannya…sungguh ini adalah kebahagian yang tidak dapat digantikan dengan apapun….dan yang membuat saya sampai sekarang “tak ada niat” untuk beralih ke pekerjaan lain, adalah tak lain dan tak bukan….karena MAHASISWA saya yang saya anggap sebagai anak kandung saya sendiri….Dan saya tak henti berharap, mahasiswa saya dapat kehidupan yang layak, untuk keluarga dan kehidupan mereka nantinya….Amin…

  23. suyanta berkata:

    Begitulah kira-kira potret pemerintah dan bangsa ini, para pejabat dan petinggi negara lupa bahwa mereka bisa menjadi seperti sekarang karena pernah sekolah, pernah menimba ilmu dengan guru, nah sekarang saatnya mereka bisa berpikir bagaimana nasib guru atau dosen mereka. saya juga dosen PNS bekerja sudah 20 tahun punya tiga anak, istri ibu rumah tangga. istri pernah bekerja namun saya menyarankan untuk berhenti supaya bisa mengurus keluarga lebih optimal dan supaya saya tidak banyak direpotkan oleh urusan keluarga dalam bekerja sehingga pekerjaan saya mengurus mahasiswa bisa lebih optimal… bisa dibayangkan bila gaji sekitar 4-5 jt (sudah termasuk tunjangan) harus punya rumah kalo nyicil separoh gaji habis untuk nyicil, harus punya kendaraan maka harus nyicil pula, harus makan untuk 5 orang anggota keluarga, harus membiayai sekolah anak…. kalo pemerintah bisa berhitung, dengan rumus matematika mana persoalan itu bisa terjawab…agar hidup kami terjamin…agar kinerja kami para dosen bisa optimal…agar generasi penerus bisa pintar….saatnya legeslatif baru, presiden baru untuk membuktikan bgm mereka bekerja !!!

  24. Dyonisius Dony berkata:

    Kalau dari informasi yang saya dapatkan. Kini ada dosen tetap PTN Non PNS. Nah standard gajinya malah jauh di bawah gaji bapak yang 4-5 juta. Berikut linknya:
    http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/01/26/143092
    Di sini disebut kalau untuk lulusan S2 gaji yang diberikan adalah 1.9 juta sedangkan untuk lulusan S3 adalah 2.5 juta. Saya kurang tahu apakah itu sudah termasuk tunjangan lain atau belum. Atau kecilnya gaji tersebut karena status Non PNSnya. Atau karena itu diperuntukkan oleh dosen junior yang baru masuk. Mohon pencerahan bagi saya yang sedang galau dan bingung. Ingin sekali berkarya sebagai dosen PTN tetapi usia sudah 37-38 tahun (jadi terpaksa mencari kesempatan melalui jalur dosen non PNS) dan saat ini sedang menyelesaikan studi S3 (di bidang Teknik juga) di Belanda. Saat ini saya tidak punya ikatan dengan instansi mana pun. Yang pasti gaji bapak yang 4 juta kok masih jauh lebih baik dari yang 1.9 juta atau 2,5 juta. Mohon maaf jika tidak berkenan

    Salam

    Dony

  25. Sodikun berkata:

    Ya berarti negaranya sudah makmur. Standar penghasilan pengemis di negeri ini mengalahkan penyandang sosial di Australia.

  26. WoW Mizan berkata:

    Mengupas Gaji pendidik di Indonesia bener2 kaya ngupas bawang merah,,,semakin dikupas semakin bkin nangis. belum lagi guru, dosen aja memprihatinkan, dengan tuntutan kualifikasi pendidikan yg biaya ijazahnya mahal gak sebanding dengan penghargaan akan ijazahnya. walau demikian nikmati aja.,,, http://www.perkuliahan.com

  27. 37degree berkata:

    Reblogged this on 37degree and commented:
    Uang bukan segala2nya

  28. Arizal Kurniawan berkata:

    saya sadari dosen itb bukan hanya sedekah ingin dapat gaji tapi lebih dari itu mereka bekerja karena panggilan hidup untuk memajukan bangsa ya walaupun dosennya galak galak hehe peace atuh pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s