Setumpuk Amplop dari Bapak Penjual Amplop

Pak Darta, Bapak penjual amplop itu, masih tetap duduk sendirian menunggui dagangannya berupa amplop-amplop di depan Masjid Salman ITB. Setiap kali saya sholat Jumat ke Masjid Salman ITB, saya selalu melewati Pak Darta. Cerita saya tentang Bapak penjual amplop ternyata menyebar bagaikan viral di dunia maya. Rasanya sudah tidak terhitung banyak orang yang bersimpati pada nasibnya dengan memberinya sekadar bantuan, terutama membeli amplopnya itu. Saya dengar dari orang-orang, Pak Darta sudah beberapa kali masuk tayangan TV dalam beberapa acara. Saya sendiri bukan penonton TV, jadi saya tidak tahu kalau Pak Darta pernah diliput oleh stasiun televisi.

Meskipun sudah terkenal dan (mungkin) mendapat bantuan materi, namun Pak Darta tetaplah begitu-begitu saja, tidak ada yang berubah sejak saya pertama kali bertemu. Saya tidak tahu banyak tentang kehidupan Pak Darta hingga sekarang, apakah ada kenmajuan atau ada perubahan. Yang tetap saya lakukan adalah selalu meniatkan membeli amplopnya setiap kali saya shalat Jumat ke Salman. Kadang saya beli tiga bungkus, kadang lima bungkus, dan seperti biasa selalu saya lebihkan uangnya dengan niat sedekah.

Amplop-amplop yang sudah saya beli itu saya taruh di dalam lemari buku di kantor. Amplop-amplop itu masih tetap rapi di dalam bungkus-bungkus plastik, sebagiannya saya masukkan ke dalam dua kotak amplop yang sudah padat (kotak amplop itu juga dari Pak Darta ketika saya membelinya dalam jumlah cukup banyak). Karena cukup sering membeli amplop Pak Darta, maka jumlahnya semakin banyak saja di lemari. Tadi siang ketika mau sholat Jumat saya beli lagi lima bungkus amplop dan saya simpan di dalam lemari. Di bawah ini tumpukan amplop yang sudah menggunung itu.

Tumpukan amplop yang saya beli.

Tumpukan amplop yang saya beli.

Jika ditumpuk semuanya sudah semakin tinggi saja.

Jika ditumpuk semuanya sudah semakin tinggi saja.

Hingga saat ini saya belum pernah memakai satupun amplop itu, karena di kampus sendiri kami lebih sering menggunakan amplop dengan kop fakultas. Niat saya membeli amplop Pak Darta memang bukan karena membutuhkannya, tetapi lebih karena ingin menolong saja untuk melariskan dagangannya dan tentu saja niat sedekah. Untuk apa amplop itu nantinya, saya juga tidak tahu.

Amplop-amplop itu akan terus menggunung di dalam lemari buku di kantor, karena saya memang selalu berniat untuk membelinya lagi dan lagi.

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

11 Balasan ke Setumpuk Amplop dari Bapak Penjual Amplop

  1. Pak darta tetap istiqomah berjualan amplop ya… apakah tdk terlintas untuk jualan yg lain..

  2. pemikirulung berkata:

    mirip pak. kadang saya juga begitu. kurang suka kalau kasih pengamen atau pengemis. lebih suka beli barang di penjual meskipun sebenernya ga perlu. menghargai usaha mereka dalam mencari nafkah

  3. neni berkata:

    amplopnya dipakai aja pak..bisi mubazir….misalnya untuk “angpau” di hari lebaran yang dibagi-bagikan ke anak-anak di panti asuhan.. 🙂

  4. Emil berkata:

    Amplopnya disumbangkan saja, Pak Rin. Hehe.

  5. rizki berkata:

    Saya salut dengan perjuangan beliau. Dalam kondisi yang pas-pasan, beliau tetap berusaha mencari nafkah dengan berjualan amplop dan enggan meminta-minta ataupun mengamen meskipun di era canggih seperti sekarang kegiatan surat-menyurat dengan amplop sudah berkurang karena sudah ada email yang lebih mudah dan fleksibel.

  6. Kalau bulan ramadhan gini bapaknya masih ada tidak yaa?

  7. Dina berkata:

    Saya juga pernah ketemu dengan beliau 2x selama bulan Ramadhan ini 2x di sukajadi

  8. baskoro berkata:

    hahaha…

    semoga pak dosen sebagai penulis kakek darta di beri balasan yang setimpal dan kesehatan bagi keluarga bapak dosen.,

    dan kakek darta sebagai inspirasi pak dosen di beri kesehatan dan rizky untuk keluarganya pula amiin.

  9. Anita Gesti berkata:

    Pak, kalau saya ingin membantu Pak Darta bagaimana caranya ya? sedangkan saya posisinya ada di yogyakarta.. tolong dibalas ya Pak. Terimakasih..

  10. Ping balik: Bapak Tua Penjual Amplop Itu Telah Tiada | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s