Ban Berjalan di Restoran Jepang

Ini masih cerita tentang pengalaman saya di Jepang. Bagi saya memang banyak hal-hal yang baru dilihat di sana, salah duanya adalah sajian makanan mengunakan sistem ban berjalan. Ketika akan meninggalkan kota Nomi, Dr Khoirul Anwar (Assitant Professor di JAIST) mentraktir kami makan siang di sebuah restoran. Sekilas seperti restoran sushi, tetapi tidak semua makanannya berupa ikan mentah (saya tetap tidak bisa memakan daging ikan mentah di Jepang maupun di Korea). Berikut ini saya ceritakan pengalaman makan di restoran tersebut.

Kita duduk menghadap sebuah meja panjang yang di depannya ada ban berjalan. Di depan kita terdapat komputer layar sentuh untuk memesan makanan lain yang kita inginkan.

250920133552

Kami duduk pada meja makan untuk empat orang seperti foto di bawah ini:

250920133550

Di atas ban berjalan itu berseliweran piring-piring kecil yang berisi aneka jenis makanan. Macam-macam jenis makanannnya, ada sushi, telur dadar (yang rasanya manis), nasi yang dibungkus rumput laut (nori), ubi, ramen, dan lain-lain. Kita tinggal mengangkat piring berisi makanan yang kita suka. Etikanya adalah piring yang sudah kita angkat tidak boleh ditaruh lagi di atas ban berjalan itu (misalnya karena kita membatalkannya).

250920133551

Kita juga bisa memilih menu lain yang tersaji di layar komputer. Tinggal sentuh gambar makanan yang kita pilih, lalu tekan OK. Pesanan kita itu dengan cepat terkirim datanya ke dapur melalui jaringan LAN. Koki di dapur membaca pesanan lalu membuat makanan yang kita pesan. Makanan yang dipesan diantarkan melalui ban berjalan itu, dan ketika piring yang beisi pesanan makanan mencapai tempat duduk kita tedengar suara musik berdering yang menandakan bahwa itu adalah piring yang berisi makanan yang kita pesan. Anda harus mengangkatnya segera.

Kenapa piring itu bisa “tahu” bahwa itu adalah pesanan kita. Di dasar piring tersebut ada perangkat keras RFID yang sudah diprogram. Karena kita memesan dari komputer, maka koordinat kita tercatat secara otomatis. Ketika piring mencapai area koordinat kita, RFID itu mengeluarkan suara berdering sebagai penanda. Canggih bukan? Orang Jepang memang sangat modern dalam segala hal, termasuk computerized dalam penyajian makanan di restoran.

Perangkat RFID di dasar piring

Perangkat RFID di dasar piring

Karena makanan di dalam piring itu serba sedikit, maka piring-piring yang kita ambil jika ditumpuk terlihat banyak seperti foto di bawah ini. Ufff, banyak sekali ya, tetapi Pak Khoirul bilang makanan yang kita pesan masih tergolong “sedikit” dibandingkan kalau dia dan keluarganya makan di sana. Ha! Segitu banyak piring masih dianggap sedikit?

250920133553

250920133548

Yang sangat menarik adalah cara menghitung makanan yang kita makan. Harga makanan tidak dihitung berdasarkan jenis makanannya, tetapi berdasarkan tinggi tumpukan piringnya! Ha..ha..ha…

Pelayan datang membawa alat ukur meteran, lalu mengukur tinggi tumpukan piring yang telah kita tandaskan makanannya. Tinggi tumpukan piring menyatakan jumlah piring yang sudah kita angkat.

250920133555

250920133554

250920133556

Dengan kalkulator digital di tangannya (terlihat seperti ponsel), dia menghitung harga yang harus kita bayar, yaitu tinggi tumpukan piring dikali dengan harga setiap satuan tingginya. Setiap jenis makanan harganya sama!

Katanya di Jakarta sudah ada restoran Jepang yang menyajikan makanan dengan ban berjalan seperti di atas. Namun, karena saya belum pernah makan di restoran Jepang di Indonesia, melihat restoran dengan penyajian makanan menggunakan ban berjalan memang pengalaman pertama.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Ban Berjalan di Restoran Jepang

  1. yummy, Pak Rinaldi…
    di restoran jepang tersebut sudah jelas halal/ haramnya, yaa?🙂
    katanya sulit, ya, memilih makanan halal di sana?

  2. Reisha berkata:

    Waaah Sushiro, kangen makan sushi di sana..

  3. Japanly berkata:

    Yummm.. jadi ngilerrr. btw kalau pakai saus belibis itu sushinya lebih wehhh heheh😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s