Poster Film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang Bikin Miris Itu

Melihat poster film Tenggalamnya Kapal Van Der Wjck (TKVDW) membuat saya miris. Saya memang belum menonton filmnya karena saat tulisan ini dibuat film tersebut belum beredar, saya hanya menilai dari poster saja. Poster film tersebut sangat kontroversial menurut saya. Lihatlah pakaian yang dikenakan oleh Hayati, tokoh utama yang digambarkan di dalam film itu, sangat jauh dari penggambaran Buya Hamka tentang Hayati di dalam novelnya yang berjudul sama yang kemudian difilmkan.

tenggelamnya kapal van der wijck

Saya sudah berkali-kali membaca novel TKVDW, sejak masih kecil dulu. Hayati adalah gadis Minang yang sangat kuat memegang teguh adat dan agama. Hayati digambarkan selalu berbaju kurung dan berselendang sebagaimana jamaknya perempuan Minang pada zaman dulu. Tidak hanya dalam soal pakaian, Hayati juga selalu menjaga hubungan dengan lelaki yang bukan mahramnya (dalam hal ini Zainuddin), tidak sekali-kali dia bertemu dengan Zainuddin berduaan saja, apalagi memakai pakaian yang jauh dari aturan adat dan agama.

Tetapi dalam poster itu (entah juga dalam filmnya), Hayati digambarkan memakai pakaian seperti kutang, tidak berlengan, dan auratnya (maaf) kelihatan. Mana ada perempuan Minangkabau zaman dulu yang berpakaian kutang seperti itu? (kalau sekarang mungkin sudah berubah). Apa maksud sutradara memvisualisasikan busana demikian? Supaya kelihatan seksi dan mirip dengan film Titanic?

Adaptasi novel ke dalam film boleh-boleh saja, tetapi adaptasi yang terlalu jauh dari novel aslinya dapat merusak imaji yang sudah tertanam selama ini terhadap budaya Minangkabau. Saya masih lebih respek penggambaran Hamid dan Zainab di dalam film Di Bawah Lindungan Ka’bah yang juga diangkat dari novel Buya Hamka, meskipun dari sisi cerita saya cukup kecewa. Lihatlah busana yang mereka gunakan, masih relevan dengan pengambaran perempuan Minangkabau pada zaman dulu.

Adegan film Di Bawah Lindungan Ka'bah

Adegan film Di Bawah Lindungan Ka’bah

film_di_bawah_lindungan_ka_bah-20110817-027-uji

Saya tidak tahu bagaimana tanggapan keluarga (alm) Buya Hamka setelah melihat poster film TKVDW. Andai Buya Hamka masih hidup saya yakin beliau akan marah atau protes karena sutradara film telah melencengkan visualisasi Hayati jauh dari gambaran perempuan Minang yang islami (sebagaimana karya-karya Hamka sebelumnya). Saya yakin banyak orang Minang yang terusik dengan poster film TKVDW tersebut karena tidak rela tokoh Hayati dan Zainuddin digambarkan terlalu bebas. Entahlah bagaimana pula jalan cerita di dalam filmnya, mudah-mudahan tidak sekontroversial posternya.

Pos ini dipublikasikan di Cerita Ranah Minang. Tandai permalink.

42 Balasan ke Poster Film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang Bikin Miris Itu

  1. kebomandi berkata:

    kayanya memang sebagian buku bagus kalo di filmkan itu malah bikin kecewa😐 apalagi film di indonesia😦

  2. Diah Mitasari (Mita) berkata:

    lihat deh siapa produsernya…saya sih sudah bisa menduga siapa…

  3. lazione budy berkata:

    Kacau.
    Ga bagus, segalanya memburuk dari menit ke menit.

  4. I.S. Siregar berkata:

    bincang imajinatif dengan Buya Hamka;
    Saya: Ba’a pandangan Buya dek film ko? (apa pandangan Buya tentang film ini?)
    Buya Hamka: sagalo di film ko buek den nak manangi (semua yang ada di film ini membuat saya menangis).
    sebagai penggemar berat Buya Hamka, betapa kecewa saya dengan adaptasi film ini. saya bersumpah tidak akan menonton film ini. saya yakin betul, andai Buya Hamka masih hidup pasti akan bercucuran air matanya melihat ini.

  5. reza aprilda berkata:

    miris melihat cover film tenggelamnya kapal van der wicjk. Jauh dari yang di harapkan, imajinasi yang berbeda dengan bukunya membuat malas untuk menonton..

  6. Entor berkata:

    Kalau sudah baca bukunya sebaiknya jangan nonton…khawatir kecewa. Hampir semua buku yang bagus isinya kemudian difilmkan tak ada yang memuaskan.

  7. Firda berkata:

    Reblogged this on firdani and commented:
    Yea, kemarin dulu saya sempat melihat teman saya -Orang Minang- memosting video teaser film Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck (selanjutnya disingkat TKVDW) di fb. Wow, ini novelnya Buya Hamka yang saya baca beberapa tahun silam *yang bahkan saya lupa isi ceritanya seperti apa*

    Jujur saya tak sempat menonton teaser film itu *karena saya gak terlalu tertarik sama film kecuali kalau memang benar-benar recomended* dan kalian tahu, beberapa hari terakhir ini saya mendengar keluhan dari teman sekamar saya *fyi, dia Orang Minang* bahwa film TKVDW bla bla bla. Dan siang ini, ketika saya buka wordpress, salah satu blog yang saya follow juga ternyata mengeluhkan beberapa hal pada poster film ini.

    Hmm, salah satu alasan saya tidak pernah nonton film layar lebar Indonesia di bioskop ya ini alasannya: Terlalu malas untuk kecewa setelah nonton :3 Lebih baik baca bukunya aja.

  8. haedar berkata:

    tak selamanya novel diangkat ke layar lebar itu sama.. apa bila novel diangkat kelayar lebar pasti 100% tidak sama contonya laskar pelangi 5cm dll.

  9. bintangtimurnet berkata:

    kayaknya seru nih, nunggu rilis nya

  10. Wety Artika berkata:

    apresiasi untuk mereka yang telah memiliki ide untuk mengangkat kisah di buku ini menjadi sebuah film. semoga apa yang kita lihat di cover film ini tidak seburuk apa yang ada di bayangan kita.🙂
    pun tidak sesuai harapan, ayo kita menjadi penonton yang pintar, ambil sisi positifnya saja. ^^

  11. Kilas wacana berkata:

    hm…, bikin penasaran sama film ini, secara saya juga belum pernah membaca Novelnya, tapi jika memang benar demikian gambaran dan perbedaan dari novelnya ya sangat di sayangkan…

  12. y simple aja toh yg dah baca novelnya g usah nonton toh sy yakin msh byk yg blm baca novelnya

  13. Mendes berkata:

    Takut Kecewa kayak Wiro Sableng…sinetron pemerannya kayak monyet

  14. Aswen berkata:

    Ini merupakan sebentuk upaya dalam melemahkan dan mengaburkan Adat Minang yang sebenarnya. Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah… Karena pada masa sekarang, semua yang masih berpegang pada Kitabullah, maka akan banyak yang berusaha mengaburkan dan melemahkannya. Baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.

  15. aji berkata:

    produser film, kayaknya melkukan misi pengkaburan terhadap budaya minang,,,ntar di tonton sama yang bukan minang,,,pasti tanggapannya,,,minang itu gadisnya telanjanggggggggggggg,,,,,,,,,,,lu kalo gak ngerti minang gak usah di angkat2 novelnya buya hamka deh,,,,,,baca bukunya saja prang sudah menikmati,,,,asal buat pelem aja luh

  16. deden berkata:

    Saya kadang kuatir klo novel difilmkan karena akan merusak imajinasi yang sudah tertanam pembaca novel aslinya. Contohnya kesempurnaan sosok fahri dalam novel ayat-ayat cinta dirusak oleh filmnya

  17. alrisblog berkata:

    Saya tidak akan menonton film ini. Penafsiran novel ini ke dalam film saya pikir pasti akan banyak melenceng. Di posternya aja udah kelihatan.

  18. stratumcorneum berkata:

    Kalau boleh saya diinfokan, kepada siapa produser film ini meminta izin untuk memfilmkan buku karangan Buya HAMKA ini?

  19. Iswadi HR berkata:

    Sangat jauh dari penggambaran cara berbusana Nurhayati berdasarkan novel Buya. Saya punya novelnya.

    • Cherry berkata:

      Seriusan anda punya? Udah kelar baca. Baru baca sampai bab 2 aja udah bilang berbeda sama ceritanya di novelnya. Coba baca lagi jangan asal komentar bikin malu diri.

  20. kholis efendi berkata:

    sepertinya ada misi terselubung yg negatif yg hendak disampaikan produsernya, melihat gambar hayati d posternya jauh berbeda dengan imej hayati d novelnya. sbg penggemar hamka aku kecewa dengan poster itu. sebaiknya bagi yg ingin nonton filemnya baca dulu novelnya.

  21. aldi pratama berkata:

    Saya juga sudah pernah baca novelnya. Seingat saya didalam novel tokoh hayati memang mengalami perubahan ketika mulai bergaul dengan adiknya aziz. Hayati yang ketika dikampungnya selalu berbaju kurung tiba-tiba mulai menggunakan kebaya dengan kemben melorot hingga pangkal dada. ketika zainudin tanpa sengaja bertemu hayati setelah perubahan itu, zainudin terkejut dan kecewa karena hayati yang telah berubah. di novel pakaian yang digambarkan adalah kebaya dengan kemben sedangkan pada film ini pakaian tanpa lengan. Pada masa ketika novel ini ditulis, di minangkabau pakaian kebaya yang menampakkan pangkal dada memang menjadi pakaian yang ngetrend bagi para kaum borjuis perkotaan. tentunya hal ini bertentangan dengan budaya minang yang ketika itu menjunjung tinggi baju kurung.

  22. otnielyehezkiel berkata:

    memang gitu kan baju trend budaya belanda jaman dulu

  23. mahadewishaleh berkata:

    Jika yang diubah adalah sosok wajah itu tidak masalah karena semua orang mempunyai pendapat masing-masing seperti apa wajah seseorang, tapi ketika penggambaran deskripsi yang jauh dari apa yang tertulis itu aneh.

  24. mahadewishaleh berkata:

    Reblogged this on Mahadewi's Manuscript and commented:
    Setuju, mengecewakan.

  25. Gito Novhandra berkata:

    Sungguh miris dengan per-film-an negara kita, lebih mementingkan rating dan keuntungan ketimbang kualitas.

  26. Agung Setiawan berkata:

    Di awal film, Zainudin dan Hayati menggunakan pakaian yang mirip dengan tokoh pada film “Di Bawah Lindungan Ka’bah” yang gambarnya tertera di atas. Berpeci, pakaian sederhana dan si gadis berkerudung. Di tengah sampai akhir karena ceritanya sudah jadi orang kaya maka pakaianpun menjadi bergaya Eropa. Itu sedikit info dari saya
    Saya belum bisa komentar apakah sesuai tidak dengan novelnya, dalam hal ini pakaiannya karena bukunya baru akan saya beli dan baca

  27. mula berkata:

    Astagfirullah : ada yg salah pengucapan ayat Al quran dalam film ini…. Wabidzil qurbaa walyataamaa walmasaakiina…. tapi di baca walmasaakini…(atriumbioskop21)

  28. Rudexx berkata:

    Yakin dah baca novelnya??

    “Hayati melihat kepada Khadijah tenang-tenang. Tercengang dia melihat pakaian yang dipakai sahabatnya itu: Kebaya pendek yang jarang, dari pola halus, dadanya terbuka seperempat, menurut model yang paling baru. Butang pun model baru pula, sehingga agak jelas pangkal susu, dan tidak memakai selendang. Sarung ialah batik Pekalongan halus, berselop tinggi tumit pula, di tangan memegang sebuah tas, yang didalamnya cukup tersimpan cermin dan pupur. Sedangkan dia sendiri, Hayati, berpakaian jauh bezanya dari itu, pakaian cara kampung”

    Surat Zainuddin kepada Hajati

    “Mengapa telah berubah pakaianmu, telah berubah gayamu? Mana baju kurungmu? Bukankah Adinda orang dusun! Saya bukan mencela bentuk pakaian orang kini, yang saya cela ialah cara yang telah berlebih-Iebihan, dibungkus perbuatan ‘terlalu’ dengan nama ‘model ‘. Kelmarin, Adinda pakai baju yang sejarang-jarangnya, hampir separuh dada Adinda kelihatan, sempit pula gunting lengannya, dan pakaian itu yang dibawa ke tengah-tengah ramai”

  29. menyentuh bangeeet.. hahahaa. hargai karya orang lain aja .. 🙂 puas bangeeeett

  30. age berkata:

    klo menurut aku sich,FIlm x bagus bnget, asal JANGAN liat sisi negatif x tetapi …..ambil nilai positifx ajha…….!!! tks bro

  31. mey berkata:

    Mnurut saya pengambaran visual’y sgt baik.hampir menggambarkan isi novel. Soal pakaian hayati di poster n d novel..saya rasa pihak film sdh tepat menggambarkn’y u/ ukuran gadis yg trgiur pesona zaman belanda..hayo pilih mana..apa anda mau produser mmvisualisasikan hayati sprti d buku (*saat dia sdh btmu aziz) pake kembem yg mmperlihatkan sperempat dada’y?? Atau dia pakai baju sprti d poster/di dlm film (sbaik’y anda nnton dlu n bandingkan).
    Penggambaran hayati d buku/difilm..tak melulu sprti Zainab yg memakai baju kurung. Ini bukan mslh pencitraan adat budaya minang. Tp menuangkan isi novel dlm bentuk visual..yg sesuai isi novel.

  32. ames berkata:

    sepertinya anda sebagai penulis yang mengaku telah membaca novel ini sejak anda kecil belum membaca novel ini secara teliti. anda bilang visualisasi di film dengan di novel berbeda? bacalah dengan teliti wahai kawan. apakah anda ingin penggambaran hayati di film sama persis seperti di novel? menggunakan kemben yang kentara seperempat dadanya? atau jangan2 anda hanya ingin melihat dada pemeran hayati di film ini.
    pesan saya, berhati-hatilah jika membuat tulisan. bukan cuma anda yang sudah membaca novelnya.

  33. zainudin berkata:

    lalajoan w ath plok, gz untung saria th aya dele’eun

  34. Tony bin Mulyadi berkata:

    Saya sebagai anak Thawalib bukittinggi
    Juga sama pendapat Admin…
    Semoga tidak memburukan nama Islam di Minang, filem tsb,, Amiin…

    “Adat dak lapuak dek ujan”
    Iko kami nagari pamuda minang
    “Pambangkik batang tarandam”

    Salam, Bukittinggi

    Tony bin Mulyadi
    http://tonymartin123.wordpress.com/

  35. LeftFyrstz berkata:

    O gitu

  36. Cherry berkata:

    Nih orang orang aneh. Seriusan pernah baca novelnya? Saya ragu anda pernah baca novelnya asal nulis saja mungkin . Perasaan emang si hayati bajunya jadi kebuka gara gara aziz dan khadijah apa yg salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s