Larangan Memberi Uang kepada Pengemis dan Kesempatan Bersedekah

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah iklan kecil yang dimuat di koran lokal Bandung. Iklan tersebut berasal dari Pemko Bandung. Isinya adalah himbauan untuk tidak memberi uang kepada pengemis, pengamen, dan anak jalanan. Sebelumnya di kota Bandung juga banyak dipasang spanduk dengan isi senada seperti foto di bawah ini.

2210spanduk_gepeng

Saya setuju untuk tidak memberi uang kepada mereka, tapi tidak secara total saya patuhi. Kepada pengamen di perempatan jalan memang saya enggan memberi, karena saya agak kurang respek gitu. Mereka pengamen anak-anak yang dikoordinir oleh orangtuanya yang menunggu tidak jauh dari perempatan. Anak-anak itu dieksploitasi oleh orangtua mereka untuk mencari uang dengan cara yang mirip mengemis. Kalau kepada pengemen profesional yang bernyanyi dari satu warung makan ke warung makan lain, dari atau dari satu rumah ke rumah yang lain, saya tidak keberatan memberi. Mereka sungguh-sungguh menyanyi, suaranya lumayan, musiknya boleh juga. Saya pernah menuliskannya pada tulisan ini . Karena alasan ingin bersedekah saya juga tidak menolak ada pengamen yang selalu rutin datang ke rumah sambil berharap sereceh dua receh dari saya.

Tetapi kepada pengemis, saya agak pilih-pilih. Sekarang menjadi pengemis banyak yang kamuflase saja. Mereka sebenarnya mampu berusaha mencari uang dengan tidak mengemis, tetapi mereka malas saja. Sudah sering kita dengar dan baca pengemis yang penghasilannya berjuta-juta rupiah per bulan. Mereka terorganisir dan punya jaringan. Mereka inilah yang merusak “citra” pengemis beneran, yaitu mereka yang benar-benar tidak mampu untuk berusaha sehingga mempunyai ketergantungan kepada orang lain. Fenomena manusia perak yang mengemis di perempatan jalan juga sama saja.

Meskipun ada larangan atau himbauan untuk tidak memberi uang kepada pengemis, namun saya tidak selalu menghiraukannnya. Seperti yang saya katakan tadi, saya pilih-pilih juga. Kalau “mata batin” saya mengatakan bahwa dia adalah pengemis dhuafa, kaum fakir miskin yang termasuk dalam mustahik (penerima zakat), saya tidak segan-segan memberi dengan ikhlas.

Memang betul kita sebaiknya mengalihkan pemberian sedekah dari pengemis ke lembaga-lembaga amal atau rumah yatim piatu/panti asuhan. Saya pun juga begitu, beberapa kali saya langsung memberikan sedekah melalaui lembaga amal dan panti asuhan. Lembaga amal tersebut nantinya menyalurkan infak, shadaqah, dan zakat kepada para mustahik melalui berbagai program pemberdayaan.

Namun, seperti juga anda, saya pun kadang-kadang merasa lebih afdhol jika memberi langsung kepada orangnya, bukan melalui lembaga amal. Bukannya saya tidak percaya kepada lembaga amal, tetapi memberi langsung kepada dhuafa ada perasaan berbeda dibandingkan melalui perantara. Kita langsung merasakan getaran batin jika dapat membantu orang lain langsung dari tangan kita sendiri. Kalau melalui lembaga amal, kita tidak dapat merasakannya. Ini bedanya memberi langsung dengan memberi melalui lembaga perantara. Lagipula, lembaga amal tersebut tidak langsung memberikan bantuan kepada para dhuafa, tetapi dalam bentuk pemberdayaan ekonomi, beasiswa, bedah rumah, dan lain-lain, sementara para dhuafa seperti pengemis itu perlu uang hari ini untuk makan hari ini. Nah, di sinilah sedekah langsung dari pemberi merupakan solusi jangka pendek.

Terhadap larangan memberi uang kepada pengemis maka saya menyikapinya dengan bijak saja. Bisa ya dan bisa tidak saya ikuti bergantung kondisi. Pengemis sudah ada sejak zaman Nabi, dan Nabi pun mencontohkan memberi sedekah kepada mereka, artinya memberi sedekah (berupa uang) kepada pengemis adalah salah satu amal sholeh yang dicontohkan oleh Nabi. Jika dilarang memberi sedekah sama sekali dalam situasi dan kondisi apapun, maka sama saja menghilangkan salah satu amal sholeh yang dianjurkan agama.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Seputar Bandung. Tandai permalink.

12 Balasan ke Larangan Memberi Uang kepada Pengemis dan Kesempatan Bersedekah

  1. affajri berkata:

    setuju banget gan, di malang juga banyak anak yang dieksploitasi oleh ortunya suruh jadi pengemis di perempatan.

  2. retsuya16 berkata:

    Reblogged this on karya zulaks and commented:
    pengemis bukan lg sbuah keputusasaan dari seseorang tapi itu menjadi sebuah pekerjaan,, miriss

  3. mbakje berkata:

    lebih baik kasih makanan ke pengemis daripada uang, soalnya kalo uang kadang larinya ke ‘bos’-nya pengemis

  4. lazione budy berkata:

    fenomena Indonesia.
    sudah ada Perda-nya untuk tak memberi uang kepada pengemis, pengamen, dan asongan.

    stop!

  5. setuju bgt, saya juga pilih-pilih kalau mau sedekah sama pengemis, diantaranya yg cacat fisik (kaya kaki nya memang benar2 terlihat buntung atau kedua tangannya tidak ada)..

  6. Wee berkata:

    Jadi serba salah nih.. Niat hati ingin beramal malah terkadang dikibulin. Pernah nih ngasih duit ke pengemis di depan mall waktu tinggal di Medan. Gak brapa lama saya lewat lagi dari depannya, eh dy’nya malah udah asik smsan :-@

  7. nisa berkata:

    insyaalloh lbh memilih utk memberi seikhlasnya dan ga milih2,krn Rosullulloh mengingatkan kita untuk memberi kpd siapa saja yg meminta kpd kita meskipun si peminta membawa sebongkah emas.

  8. zidni berkata:

    setuju gan, tapi perintah dari ulil amri juga harus dipertimbangkan

  9. nuni berkata:

    aku juga pernah dikibulin ama pengemis anak-anak, ketika pertama ngeliat kasiaan banget tidur meringkuk kaya kelaparan, terus aku kasih uang lumayanlah buat makan… eh taunya setelah saya pergi baru beberapa meter dari dia, dia bangun, jingkrak-jingkrak sambil manggil teman2nya…. waddooohh..ketipu….

  10. Citra Indah berkata:

    setuju , tapi sebaiknya kita bersedekah harus berdasarkan hati dan ikhlas🙂 . Semoga dengan bersedekah dapat bermanfaat untuk diri kita

  11. wisnu berkata:

    Bner sekali gan .. Mantab !!

  12. Ping balik: Gaya Pengamen Anak Jalanan | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s