Gila Hormat dan Hidup yang Terhormat

Saya pernah mengenal seseorang yang mana saya agak kurang suka dengan sikapnya😦. Setiap kali berpapasan dia tidak mau menyapa atau menoleh, harus orang lain yang menyapa terlebih dahulu barulah dia menoleh. Awalnya saya kira karena dia tidak melihat saya saja, tetapi selalu begitu setiap ketemu. Rupanya dia dulu bekas tentara yang mungkin punya jabatan dan punya anak buah yang selalu siap memberikan hormat setiap berpapasan. Sayangnya setelah pensiun dan tidak punya anak buah lagi, sikap meminta hormat itu tetap ditunjukkannya dalam kehidupan sehari-hari. Post power syndrom lah, itu istilah yang tepat.

Dulu juga pernah ada orang lain yang punya perilaku mirip. Karena pernah menjadi kepala di sebuah instansi, maka dia merasa bawahannya harus selalu hormat kepadanya. Sayangnya dalam kehidupan sehari-hari sikap itu terbawa-bawa, dan setelah pensiun, sikap itu masih melekat dalam dirinya. Orang lain harus menyapanya terlebih dahulu, kalau tidak maka dia tidak akan menoleh.

Saya teringat kata-kata Buya Hamka di dalam bukunya yang berjudul Tasauf Modern. Kata Hamka, gila hormat itu tidak boleh, tetapi menjadi orang yang terhormat haruslah jadi tujuan hidup. Tentu tidak ada orang yang ingin menjadi orang hina dina, dilecehkan, direndahkan, atau tidak dihargai di dunia ini. Saya yakin semua orang ingin dihormati, tetapi jangan sampai minta hormat. Kalau minta hormat, itu gila hormat namanya.

Di kampus saya ada dosen yang patenteng-patenteng. Peraturan di kampus kami, setiap orang yang masuk membawa kendaraan selalu ditanyakan kartu identitas pegawainya oleh Bapak Satpam. Suatu hari dosen tersebut tidak membawa kartu identitas pegawai (KIP) sehingga Pak Satpam tidak membolehkan mobilnya masuk. Karena kesal, dosen tersebut marah-marah lalu berkata: “Bapak tahu tidak, saya ini dosen!”. Pak satpam hanya diam. Menurut saya, kalau dosen memangnya kenapa? Minta diistimewakan? Minta dihormati karena merasa dirinya lebih tinggi kedudukannya dari Pak Satpam? Pak Satpam hanya menjalankan prosedur, kita harus menghormati tugasnya itu. Padahal, kalau dibicarakan baik-baik dan tidak emosi, pasti Pak Satpam mengerti dan mengizinkan masuk. Tetapi, karena ucapan yang terkesan menunjukkan kepongahan itu, dimata saya jatuhlah dosen itu dalam pandangan yang lebih rendah dari Pak Satpam.

Saya pernah membaca ada menteri yang marah-marah di pesawat karena tempat duduknya diisi oleh orang lain. Menteri itu ngotot harus terbang pada jam tersebut. Setelah diteliti boarding pass-nya ternyata jadwal penerbangannya seharusnya pada jam berikutnya. Namun, karena merasa dirinya orang penting, dia menunjukkan perilaku yang sama sekali tidak intelek. Di era media sosial seperti ini, sikap menteri yang arogan dan gila hormat itu menyebar dengan cepat dan menuai kecaman dimata publik.

Banyak lagi kasus pejabat yang berperilaku arogan seperti kisah di atas. Ada jaksa yang marah-marah karena ingin didahului antri di pom bensin, ada anggota parlemen yang menampar pramugari, dan lain-lain. Penyebabnya karena mereka merasa kedudukannya lebih tinggi sehingga harus dihormati.

Kebanyakan pejabat di negara kita berkelakuan seperti bos. Mereka ingin selalu dilayani. Kalau datang berkunjung ke daerah mereka diperlakukan bak raja: karpet merah dibentangkan, disambut dengan payung keebsaran, dikalungi bunga rampai, disiapkan mobil jemputan mewah, dikawal selama mobilnya melintas di jalanan, orang lain harus minggir. Sudah menjadi budaya turun temurun seperti itu. Padahal sebagai pejabat atau abdi masyarakat, mereka seharusnya melayani, bukan dilayani. Mereka seharusnya merasakan susah senang hidup rakyat kecil, merasakan penderitaan masyarakatnya, bukan malah hidup bersenang-senang di tengah tangis kesedihan rakyatnya.

Kembali ke masalah hormat tadi. Kehormatan itu tidak untuk diminta, tetapi rasa hormat itu muncul dengan sendirinya karena budi yang mulia. Kehormatan itu bukan karena pangkat atau jabatan yang tinggi, kedudukan yang hebat, atau uang/harta yang banyak, tetapi kehormatan itu diperoleh karena akhlak yang terpuji. Apalah artinya punya jabatan tinggi tetapi angkuh dan arogan. Apalah artinya punya harta yang banyak tetapi pelit/kikir. Apalah artinya punya karir yang hebat tetapi korupsi. Orang akan hormat kepada kita karena kita selalu berlaku jujur, berdedikasi, dan tidak melakukan perbuatan yang tercela. Makanya, menjadi orang yang terhormat karena memiliki budi yang mulia haruslah menjadi tujuan hidup kita.

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

9 Balasan ke Gila Hormat dan Hidup yang Terhormat

  1. affajri berkata:

    gila harta gila hormat dan gila kekuasaan itulah yang terjadi pada bangsa ini

  2. Heri Purnomo berkata:

    Zaman sekarang nih banyak yang “Gila” ya pak, gila hormat, bule gila ( acara tivi ), gila perempuan, gila kekuasaan. Bahkan makanan aja ada yang Gila lho. “Nasi goreng gila”. Coba, apalagi kalau para pejabat sudah gila, kebanyakan dihormati atau karena kalah nyaleg. Duuhh.. lengkap sudah kegilaan di negeri ini. Mudah2 an kita gak ikut-2an gila ya Pak Rinaldi.

    Trims sudah berbagi.
    salam
    HP
    kalo sempat silahkan berkunjung di lapak saya pak Pak. Trims
    http://heripurnomo.web.id/2013/12/13/alexander-sriewijono-menangkap-energi-positif-pada-titik-balik-kehidupan/

  3. yayangneville berkata:

    Setuju sekali pak, salam

  4. adi berkata:

    saya kembali ke Indonesia setelah bertahun-tahun merantau di negeri orang.

    Ketika saya berangkat masih zaman orde baru, ketika itu mobil-mobil yang dengan pongahnya menerobos jalan umum memakai sirine dan dikawal polisi adalah keluarga Cendana atau paling tidak menteri-menterinya.

    Di zaman reformasi ini, kesombongan dan kepongahan yang memuakkan di jalan ditunjukkan oleh jauh lebih banyak pejabat dan pengusaha. Dengan sirine yang memekakkan telinga, di jalan yang macet meminta semua orang minggir dan dirinya didahulukan.

    Sikap yang membuat rakyat merasa semakin terpinggirkan dan membenci kaum penguasa dan pemilik modal.

    Entah kenapa banyak sekali manusia bermental seperti ini di Indonesia. Pongah, zalim dan selalu minta dihormati.

  5. Tulisannya bagus Pak… Mengingatkan kita untuk tidak gila hormat.

    Hanya saja saya kok agak kurang sreg sama ilustrasi tetangga Bapak yang digambarkan di sini kurang rendah hati. Saya khawatir ilustrasi yang Bapak tuangkan tersebut malah jadi ghibah karena menceritakan keburukan orang lain. Wallahu a’lam. Saya sendiri juga masih sedikit ilmunya.

    Hanya itu kekhawatiran saya. Saya sendiri yakin kok Pak Rin pasti punya tujuan baik dalam menulis ini.

    • rinaldimunir berkata:

      Setelah saya pikirkan lagi, Anda benar, sebaiknya saya tidak menyebutkan orang tersebut adalah tetangga saya, tetapi “someone” entah di mana, Tulisan di atas (bagian awalnya) sudah saya perbaiki. Terima kasih atas perhatiannya.

  6. lazione budy berkata:

    Saya seorang HRD yang sering disapa ‘pagi pak’, ‘siang pak’. Tapi santai saja saat ini saya sedikit terjatuh, maka mau disapa atau tidak saya berusaha tetap melempar senyum lebih dulu. Santai saja, tak ada yg abadi..

  7. alief findiarso berkata:

    se7 pak,,,,,

  8. Siani Marlina berkata:

    Terima kasih atas artikelnya, bisa jadi bahan renungan yg bagus sekali buat kita semua. Kebetulan saya seorang guru, artikel tsb sangat membantu saya menghadapi orangtua2 murid yg punya 1001 macam karakter.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s