Kenapa Kolom Agama di KTP Mau Dihapus?

Saya heran ada wacana untuk menghapus kolom agama dari kartu tanda penduduk (KTP). Alasan yang dikemukakan adalah kolom agama di KTP dapat menyebabkan timbulnya diskriminasi, terutama bagi penganut agama minoritas di suatu daerah, atau bagi orang penganut kepercayaan atau agama di luar enam agama rsmi yang diakui negara (Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu). Contoh diskriminasi yang terjadi misalnya –seperti dikutip dari siniDari temuan dan laporan sebagian anggota Komisi II, warga pemeluk agama minoritas di wilayah tertentu di Indonesia, kerap dipersulit ketika sedang mengakses pelayanan publik begitu diketahui oleh petugas tersebut agamanya berbeda.

Bahkan, Wagub Jakarta, Ahok, pun ikut-ikutan mendukung penghapusan kolom agama di KTP, dengan mengambil contoh di Malaysia saja tidak ada pencantuman agama di dalam KTP warga (meskipun pernyataan Ahok ini dibantah oleh warga Malaysia, Pemerintah Malaysia masih mencantumkan kolom agama dalam kartu tanda penduduk mereka (baca: Ahok Salah, KTP Malaysia Masih Cantumkan Kolom Agama).

Hmmmm…padahal di dalam Undang-Undang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan tdiak ada penghapusan kolom agama. Dikutip dari sini, UU baru tersebut menyatakan, masyarakat tak lagi wajib mengisi kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP) apabila dia beragama di luar 6 agama yang diakui resmi pemerintah RI saat ini, yakni Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu.

Bagi kelompok sekuler (dan liberal) yang ingin menjauhkan agama dari kehidupan bernegara dan berbangsa, pasti mereka sepemahaman dengan usulan penghapusan kolom agama. Begitu pula bagi orang-orang yang sentimen dengan masalah agama, mereka cenderung melihat agama itu dari sudut negatif saja. Agama seolah-olah tidak penting untuk dibahas, agama itu urusan pribadi, toh beragama atau tidak beragama sama saja kelakuannya. Justifikasinya sering dikaitkan dengan kasus-kasus hukum seseorang. Misalnya, mengaku taat beragama tapi kok mencuri, mengaku sudah pergi haji tapi kok suka korupsi. Ayat suci dibaca, tetapi maknanya tidak diamalkan. Akhirnya beginilah yang terjadi pada bangsa ini yang mengaku bangsa paling relijius: korupsi, suap, nyontek, perkosaan, dan perilaku buruk lainnya menjadi berita sehari-hari. Menurut saya yang salah itu bukan karena agamanya, tetapi emang dasar orang tersebut tidak mempraktekkan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari, tidak me-match-kan apa yang dibaca dengan yang tindakan yang dilakukan.

Kembali ke masalah diskriminasi karena agama. Diskriminasi terjadi bukan karena agamanya, tetapi lebih pada perilaku orangnya. Orang yang melakukan diskriminasi karena agama sebenarnya telah berlaku tidak adil, dan ketidakadilan itu bisa diseret ke ranah hukum karena melanggar Pasal 27 UU 1045 ayat 1: Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

Ketidakadilan karena menganut suatu agama tidak hanya terjadi di negara kita. Di luar negeri, di negara-negara yang mengaku demokratis sekalipun, sering juga kita dengar diskriminasi hanya karena dia beragama berbeda. Misalnya ada wanita muslimah yang susah mendapat pekerjaan hanya karena dia memakai hijab atau kerudung. Di Perancis yang menganut paham liberte malah ada larangan menggunakan jilbab di sekolah-sekolah.

Jika pencantuman agama di KTP dianggap menimbulkan diskriminasi, maka seharusnya semua kolom data di KTP dapat menimbulkan diskriminasi juga lho. Tidak percaya? Coba perhatikan dialog berikut yang saya peroleh dari Fesbuk, anekdot lucu tetapi sebenarnya mengandung nada satire:

Perlukah Kolom Agama di KTP Dihapus?
A : “Bro, tahu belum? Ada wacana kolom agama di KTP mau dihilangkan lho.”

B : “Emang kenapa? Katanya negara berketuhanan, kok malah hilangkan agama?”

A: “Katanya sih, kolom agama itu bisa mengakibatkan diskriminasi. Lagian agama juga urusan pribadi. Nggak usahlah dicantumkan di KTP.”

B : “Nah, ntar ada juga orang yang ngaku mendapat perlakuan diskriminasi gara-gara jenis kelamin ditulis. Berarti kolom jenis kelamin juga harus dihapus dong. Laki-laki dan perempuan kan setara. Lagian, para bencong atau banci pasti protes mau dimasukkan ke jenis kelamina apa.”

C : “Eh, jangan lupa. Bisa juga lho perlakuan diskriminasi terjadi karena usia. Jadi hapus juga kolom tanggal lahir.”

D : “Eit, ingat juga. Bangsa Indonesia ini juga sering fanatisme daerahnya muncul, terlebih kalau ada laga sepak bola. Jadi mestinya, kolom tempat lahir dan alamat juga dihapus.”

B : “Ada juga lho, perlakuan diskriminasi itu gara-gara nama. Misal nih, ada orang dengan nama khas agama tertentu misalnya Abdullah, tapi tinggal di daerah yang mayoritas agamanya lain. Bisa tuh ntar dapat perlakuan diskriminasi. Jadi kolom nama juga wajib dihapus.”

B: “Kalau status pernikahan gimana? Perlu gak dicantumkan?”

A : “Itu harus dihapus. Nikah atau tidak nikah itu kan urusan pribadi masing-masing. Saya mau nikah kek, mau pacaran kek, itu kan urusan pribadi saya. Jadi kalau ada perempuan hamil besar mau melahirkan di rumah sakit, nggak usah ditanya KTP-nya, nggak usah ditanya sudah nikah belum, nggak usah ditanya mana suaminya. Langsung saja ditolong oleh dokter.”

D : “Sebenarnya, kolom pekerjaan juga berpotensi diskriminasi. Coba bayangkan. Ketika di KTP ditulis pekerjaan adalah petani/buruh, kalau orang tersebut datang ke kantor pemerintahan, kira-kira pelayanannya apakah sama ramahnya jika di kolom pekerjaan ditulis TNI? Nggak kan? Buruh biasa dilecehkan. Jadi kolom pekerjaan juga harus dihapus.”

C: “Kalau golongan darah gimana? Berpotensi diskriminasi nggak?”

A : “Bisa juga. Namanya orang sensitif, apa-apa bisa jadi bahan diskriminasi.”

E : “Lha terus, isi KTP apa dong?
Nama : dihapus
Tempat tanggal lahir : dihapus
Alamat tinggal : dihapus
Agama : dihapus
Status perkawinan : dihapus
Golongan darah : dihapus
Berarti, KTP isinya kertas kosong doang….”

A, B, C, D : (melongo)

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

27 Balasan ke Kenapa Kolom Agama di KTP Mau Dihapus?

  1. lazione budy berkata:

    setujuh.
    sudah sesuai kok KTP saat ini.
    Ga usah diotak-atik, pikirin yg lebih krusial saja ketimbang hal seperti ini

  2. bla berkata:

    wah …contoh lu terlaluu absurd..nama, tempat tgl lahir, alamat, status perkawinan, golongan darah itu wajib ada sebagai penanda identitas juga negara berkepentingan buat tau itu untuk statistik BPS yang bisa dipakai buat dasar pengambilan kebijakan sedangkan agama itu urusan pribadi bro…urusan lu ama Tuhan lu, negara gak usah ikut campur. yang terjadi selama ini adalah kolom agama di KTP jadi sarana orang untuk sweeping seperti waktu di ambon ato poso.

    • ed sumardi berkata:

      Maaf, cara berpikir anda yang terlalu absurd dan sempit.. Coba kalau kita tilik dari namanya saja, Kartu tanda penduduk. Ini memberi tanda mengenai identitas seseorang, terutama di Indonesia yang sangat majemuk manusianya. Ini akan memudahkan pengurusan akan banyak hal. Mulai urusan kelahiran, perkawinan hingga kematian. Coba kalo seseorang itu meninggal, ngga diketahui agamanya di KTPnya. Mau dikuburin pake cara apa coba. Apa orang yang seharusnya beragama kristen mau dishalatkan juga??!! mikir dong bro..

    • kapuyuk berkata:

      Hehe, komentar ini yang lebih absurd,, ingat ! NKRI bukan negara sekuler (suatu negara netral dari permasalahan agama ), tapi NKRI negara yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa. !! “nama, tempat tgl lahir, alamat, status perkawinan, golongan darah itu wajib ada sebagai penanda identitas juga negara berkepentingan buat tau itu untuk statistik BPS yang bisa dipakai buat dasar pengambilan kebijakan sedangkan agama itu urusan pribadi bro” hehehe, apa bedanya dengan agama broo !!! Jangan berpikiran sempitlah -_-

    • Rizky Aliet berkata:

      Lu yang absurd, namalu aja absurd. Pake nama asli dong… ahahha….

      Emangnya sweeping cuman karena agama, suku, ras juga bisa bro.. ya masa diapus semua… proyek2… hahaha….

    • alrisblog berkata:

      lu yang absurd, nama aja lu gak berani tulis…

  3. Budiyw berkata:

    Penasaran agama itu apa to sampai diperdebatkan? Mengapa ada berbagai agama di dunia ini dan mengapa Indonesia mengakui hanya ada 6 yg resmi? Mengenai sekularisme menarik pandangan dari “Emak” nya pak Daoed Jusuf.

  4. etankz berkata:

    kalo saya pribadi menilai bahwa sebaiknya kolom agama jgn dihapus di ktp. tapi pemerintah jg harus memberikan ruang kepada penganut aliran kepercayaan untuk mendapatkan pelayanan publik secara adil. jgn sampai pemerintah malah memaksa penganut aliran kepercayaan itu untuk memilih salah satu agama dengan alasan tidak boleh mengkosongkan kolom agama di ktp.

  5. danee berkata:

    Maaf sob…pemikirannya jangan seperti itu,terlalu sempit dan emosional, diskriminasi bukan saja datang dari yg anda sebutkan tapi dari tempat kerja,contoh ya: di lingkungan asing,saat terjadi terorisme disuatu negara,akhirnya mereka merasa dikucilkan lantaran agamanya yg disebut terorisme..sebenarnya ga ada masalah dihilangkan atau tidak,namanya baru wacana..ini hanya pendapat dari ane.

  6. Reza Winandar berkata:

    Kalau dihapus mungkin masih banyak masalah ya, entah yang dibuat-buat atau memang ada masalahnya. Tapi kalau boleh dikosongkan, menurut saya itu tidak masalah, mengingat warga negara Indonesia tidak hanya menganut enam agama yang diakui saja. Kalau agama mereka tidak diakui, lebih baik dikosongkan saja, daripada berbohong kepada diri sendiri dan malah menjadi beban hati.

  7. Edrian Hadinata berkata:

    wah sedelapan ini pak …😀

  8. Winduuu berkata:

    Lawak banget dah ini ngakak baca nya
    ga perlu ada ktp aja kali ya dari pada rempina

    • Syukran Trinata berkata:

      Saya bangga mempunyai agama walaupun saya sendiri jarang beribadah,mempunyai tempat tanggal lahir,mempunyai tanggal lahir,mempunyai status pernikahan,mempunyai golongan Darah…Justru logikanya jika salah satu kolom di hapus ..seperti agama misalkan itulah yg berpikir radikal…Itu hak kan…Diberikan pilihan sangat lebih bijak dari pada harus di hapus…tolong cermati pilihan ini sebagai Rasa menghargai…!!

  9. Revitaaa berkata:

    indonesia negara yang bebas mengeluarkan pendapat bukan? kalo gitu aku pengen ngeluarin pendapat.
    kolom agama di KTP dihapuskan? alasanya diskriminasi? yang bener aja -_-
    mungkin pemikiran seseorang pasti beda-beda ya. mungkin ke A lah atau ke B. tapi menurut pemikiran saya, tolonglah pikirkan sekali lagi, saya agak kurang setuju dengan penghapusan itu, apalagi sekarang udah mulai pemilihan ya kan, fikirkan lagi Indonesia itu negara ketuhanan, masa agama mau dihapus? mau jadi apa indonesia? faham liberal kah?
    kalo agama dianggap diskriminasi, dimana “TOLERANSI” sekarang ini?
    dimana “RASA SALING MENGHARGAI” sekarang ini?
    bukannya kita memang harus saling menghargai antar agama di Indonesia ya?
    nggak cukupkah Toleransi sekarang ini sehingga agama dijadikan diskriminasi. menurut saya Bukan kepercayaan yang menjadikannya -agama- sebagai suatu diskriminasi. tapi orang-orang yang menjadikan diskriminasi itu muncul.
    maaf (hanya pendapat) dan terimakasih.

  10. ahmad zawawi berkata:

    waduh udah kayak gini mash tambah msalah?kpan mw damainya kita ini?status aja di permasalhkan?udah lah cari makan susah ,………..di tambah lagi masalah ktp,,,,,? gad ada kerja apa…?

  11. Dihapus atau tidak dihapus sama saja Artinya jika kita lamar pekerjaan dan dalam KTP dihapus kolom agama tetap saja sang bos bertanya secara lisan, yang artinya dihapus atau tdk dihapus sama saja atau tidak ada artinya, tentang status perkawinan jika kolom dalam KTP ttg agama dihapus juga tidak ada masalah karena didalam akte yang lainnya yang tidak perlu dibawak kemana-mana agama pasti dicantumkan, jadi tidak begitu masalah Agama dalam KTP tdk dicantumkan tergantung kegunaannya atau kepentingannya

  12. I Ketut Pramarta berkata:

    kata kang Jon Lenon dalam sebuah lirik lagunya,….” imagine there’s no heaven,..and no religion too”,….sekarang saya mulai sedikit memahami kebenaran dari lirik lagu tersebut,..saya semakin sering membayangkan seandainya kita tidak dikotak kotakan oleh agama,…saya juga melihat semakin tinggi tingkat hubungan seseorang dengan Tuhannya,…semakin tipis kadar keagamaan yang mereka anut sekarang,..mereka seperti memeluk semua agama,..yang sekaligus artinya kalau status keagamaan di ktp dihapus tidak akan membawa dampak apa apa,…

  13. Mamat berkata:

    ketika presiden terpilih Pak Jokowi, mengapa minoritas seneng bikin ulah?

  14. saya setuju dengan pendapat mereka apajadinya negara indonesia yang mayoritas agamanya kebanyakan islam jika agama di KTP di hapus……anda orang pintar kah berpindidikan kan, coba lah pikirkan baik- baik.

  15. Qohar berkata:

    Kok iseng banget sih, sibuk ngursin KTP

  16. lina wijaya berkata:

    Setiap orang berhak berpendapat koo jdi jngn salah kan orang yg membuat artikel tersebut tinggal kita nya saja setuju atau tidak

    Kalau saya mah YES

  17. chokyhard berkata:

    Gampang saja kita kembalikan kepada pemimpin negara ini.kalau pemimpin kita orang beriman gak bakalan berfikir komunis seperti ini.atau mungkin pemimpin kita keturunan PKI,komunis

  18. andryan berkata:

    Sepengetahuan saya, kolom agama bukan dihapus seluruhnya. Tetapi hanya untuk agama yang tidak diakui. Contoh, jika seseorang bikin ktp agamanya islam ya muncul agama : islam. Jika kristen muncul agama : kristen. Nah masalahnya jika dia beragama lain, anggap sajalah beragama samsung atau polytron. Kan gak mungkin di ktp dibikin di kolom agama menjadi agama : samsung atau agama : polytron karena agama tsb tidak diakui negara. Dan tidak mungkin juga jika mereka yg menganut agama samsung disuruh memilih agama resmi hanya untuk diketik di ktp. Misal yg agamanya samsung tapi di ktp tertulis kristen. Gak nyambung jadinya. Makanya oleh pemerintah, khusus mereka yg beragama diluar agama resmi boleh tidak mengisi kolom agama. Jadi di ktp dia tetap ada kolom agama tetapi tidak diisi atau tidak ditulis apapun.

    Nah itu sepengetahuan saya. Siapa tau ada yg lebih pahaw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s