Tidak Ada Ind*mart dan Alf*mart di Sumbar

Minggu lalu saya melakukan perjalanan ke beberapa kota di Sumatera Barat bersama teman-teman dosen lain di kampus. Suatu malam teman saya keluar dari hotel untuk mencari minimarket di kota Bukittinggi guna membeli beberapa barang keperluan sehari-hari. Dia bercerita kepada saya tentang keheranannya tidak menemukan Ind*mart atau Alf*mart di Bukittinggi, padahal kalau di Bandung sangat mudah menemukannya.

Saya senyum-senyum saja mendengarnya. Sejak dulu sampai sekarang memang tidak ditemukan minimarket waralaba seperti yang saya sebutkan di atas di seluruh tempat di provinsi Sumatera Barat. Sudah berkali-kali saya pulang kampung dan tidak menemukan kedua minimarket tersebut hingga saat ini, baik di kota Padang sebagai ibukota Provinsi maupun di kota-kota lainnya di Sumbar. Alasan yang saya dengar adalah tidak (atau mungkin belum) diizinkan oleh Pemda. Padahal di propinsi tetangga seperti Riau dan Jambi kedua minimarket waralaba itu sudah berdiri sejak lama.

Kalau di Jakarta atau Bandung mau mencari barang keperluan malam-malam mah gampang, tinggal pergi ke minimarket tersebut karena tokonya ada di setiap sudut. Kedua minimarket warabala itu sangat ekspansif membuka gerai hingga ke pelosok kota kecamatan di kabupaten-kabupaten. Di Jawa Barat sendiri, selain kedua minimarket raksasa itu yang sudah dikenal, ditambah lagi dengan minimarket waralaba dari anak perusahaan Yogya Departement Store, yaitu Y*mart. Di perumahan saya di Antapani misalnya, dalam jarak kurang dari seratus meter terdapat salah satu dari ketiga minimarket tersebut, kalau tidak Alf*mart, ya Ind*mart, kalau nggak Y*mart. Bahkan, beberapa gerai saling berdekatan dalam jarak beberapa meter saja seperti pada foto di bawah ini. Di mana ada Ind*mart disitu ada Alf*mart:

Dua minimarket Alf*mart dan Ind*mart yang saling berdekatan (Sumber: http://www.ecampindonesia.com/5-alasan-mengapa-indomaret-dan-alfamart-selalu-berdekatan/)

Dua minimarket Alf*mart dan Ind*mart yang saling berdekatan (Sumber: http://www.ecampindonesia.com/5-alasan-mengapa-indomaret-dan-alfamart-selalu-berdekatan/)

Keberadaan minimarket yang menjamur itu sudah menjadi perhatian serius Pemda tingkat 2 di Jabar, sebab ada kekhawatiran keberadaanya dapat mematikan keberadaan pedagang tradisionil. Dengan suasana toko yang modern, terang, ber-AC, barang yang tertata apik, aneka barang yang cukup lengkap, dan harga jual yang pasti, membuat orang lebih suka berbelanja di minimarket waralaba tersebut. Minimarket waralaba sering dituding sebagai penyebab warung-warung atau toko kelontong menjadi sepi pembeli. Hukum alam pun berlaku bahwa yang kuat yang akan menang, yang kalah akan tersisih.

Mungkin kekhawatiran itu pula yang menjadi alasan Pemda Sumbar tidak memberi izin membuka gerai waralaba Ind*mart dan Alf*mart di seluruh daerah di propinsi Sumatera Barat. Orang Minang terkenal dengan jiwa dagangnya, sehingga larangan membuka gerai minimarlet waralaba bertujuan untuk melindungi keberadaan pedagang tradisionil yang notabene penduduk asli. Namun bukan berarti tidak ada minimarket sama sekali di sana, ada juga minimarket tetapi sifatnya milik perorangan dan bukan waralaba.

Dalam pikiran saya, larangan membangun minimarket waralaba seperti Ind*mart dan Alf*mart di Sumbar ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya seperti yang saya sebutkan di atas, yaitu melindungi eksistensi pedagang tradisionil. Namun sisi negatifnya juga ada, pedagang tradisionil menjadi tidak punya trigger untuk meningkatkan kualitas dagangan maupun layanannya. Akhirnya kualitas dagangan dan kualitas layanan pedagang tradisionil ya begitu-begitu saja. Padahal kalau ada pesaing, maka setiap pedagang pasti berusaha untuk meningkatkan kualitas dagangan dan layanan untuk menarik calon pembeli datang.

Kalaupun nanti akhirnya pintu perizinan mimarket waralaba jebol di Sumbar, saya tetap tidak menginginkan pertumbuhan waralaba di Sumbar seperti di Jawa Barat. Minimarket waralaba di Sumbar tetap harus dibatasi, persyaratannya harus ketat (misalnya berjarak cukup jauh dari pasar/kios tradisional), dan yang paling penting adalah bersinergi dengan para pedagang tradisioninil, dalam arti saling menguntungkan kedua belah pihak.

Pos ini dipublikasikan di Cerita Ranah Minang. Tandai permalink.

7 Balasan ke Tidak Ada Ind*mart dan Alf*mart di Sumbar

  1. Yoshi berkata:

    bagus itu… josss
    keberadaan mereka mematikan usaha kecil

  2. kaprilyanto berkata:

    mungkin tahun depan baru ada,,
    pekanbaru aja sampe tahun 2012 belum ada, awal 2013 baru jadi alfa dan indomaret …

  3. lazione budy berkata:

    sebenarnya harganya ga beda sama kelontong, bahkan ada yg lebih mahal.
    bagus kalau ga banyak minimarket.

  4. oktarinadw berkata:

    di bangka belitung pun belum ada, Pak.🙂

  5. Alris berkata:

    Saya berharap semoga selamanya tetap tidak ada ind*mart dan alf*mart di Sumatera Barat. Keberadaan mereka mematikan usaha kecil yang dibuat masyarakat yang bermodal kecil. Pengalaman saya di Jakarta Selatan membuktikan apa yang saya ucapkan.

  6. Selamanya tidak ada ind*mart dan alf*mart di Sumbar, maka bukalah lapangan pekerjaan agar pemuda-pemudi dari Sumbar tidak merantau ke kota lain hanya untuk bekerja di salah satu minimarket itu, sehingga tidak perlu jauh dari mamak kami. Kami sudah lulus sekolah dan butuh kerja.

  7. aldi dimas berkata:

    Sebenarnya menurut saya itu tidak terlalu berdampak langsung. Karena di batam pun banyak alfamart dan indomaret. Padahal bisa menekan angka pengangguran di kota itu. Bahkan bisa menambah pemasukan daerah. Di batam pun banyak toko bahkan di setiap pinggir jalan itu ruko semua. Dan di setiap jalan yg di laluin juga banyak toko toko kelontong kecil. Tp tidak berpengaruh banyak. Dan juga banyak orang perantauan dr sumbar yg berdagang di batam. Tp nggak berpengaruh besar. Bahkan jika ada malah akan mengurangi tingkat pengangguran dan efeknya juga akan mebgurangi tingkat kriminal. Di batam memang lebih utama sektor industrinya. Tetapi karyawan disini juga banyak yg juga buka usaha sampingan dengan buka toko klontong. Dan mereka juga tidak merasakan hal yg signifikan. Malah semakin berlomba lomba utk meningkatkan kualitas dan kenyamanannya. Ya namanya juga rezeki ya masing masing. Dan setiap usaha pasti akan ada hasil. Jadi alasannya menurut saya masih belum masuk akal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s