Kehadiran Kuliah Sebagai Komponen Nilai Akhir

Sangat sedikit ada dosen yang memasukkan kehadiran kuliah sebagai salah satu komponen nilai akhir. Saya termasuk dosen yang sedikit itu. Kehadiran kuliah saya hitung dalam menentukan indeks nilai mata kuliah. Tidak besar bobotnya, antara 2,5% hingga 5% saja dari keseluruhan nilai akhir. Meskipun sangat kecil, tetapi sekecil apapun nilainya sangat berarti ketika penentuan indeks nilai akhir dilakukan.

Di ITB ada sebagian dosen yang menjadikan kehadiran kuliah sebagai syarat mengikutu ujian. Misalnya jika jumlah kehadiran kuliah minimal 75%, jika kurang dari 75% maka seorang mahasiswa tidak dapat mengikuti ujian akhir. Kalau saya sebaliknya, tidak ada syarat minimal kehadiran untuk mengikuti ujian akhir, tetapi saya menjadikan kehadiran sebagai salah satu komponen penillaian.

Ada orang yang bertanya kenapa saya menjadikan kehadiran sebagai salah satu nilai akhir. Padahal, di era digital dan internet seperti sekarang, belajar materi kuliah bisa dilakukan di rumah, di tempat kos, atau di mana saja. Materi kuliah dapat dicari di Internet, e-book teks kuliah juga banyak tersedia, soal latihan juga banyak, toh belajar dapat dilakukan dari jarak jauh, jadi buat apa datang ke kelas kuliah? Apalagi jika dosennya tidak menarik, monoton, dan mengulang apa yang sudah ada di dalam buku, jadi buat apa perlu hadir?

Baik, Anda bisa saja membaca e-book, mengunduh materi kuliah dari Internet, cukup belajar di kamar kos dan keluar kamar jika perlu saja. Selain belajar ilmu pengetahuan secara langsung dari orang yang ahlinya (dosen), ada hal lain yang tidak Anda dapatkan jika tidak mau hadir di dalam kelas kuliah, yaitu interaksi sosial baik dengan dosen maupun dengan teman-teman mahasiswa lainnya. Hadir dalam kelas kuliah berarti Anda belajar berkomunikasi, belajar menghargai orang lain, dan belajar untuk empati. Selain itu, cerita-cerita, wejangan dan nasehat dari dosen juga amat berguna sebagai bekal kehidupan nanti.

Bagi saya, hadir dalam kelas kuliah adalah sebuah usaha dalam menuntut ilmu, dan usaha itu harus diapresiasi sebagai salah satu komponen nilai, sekecil apapun usaha itu. Inilah alasan mengapa saya memasukkan kehadiran kuliah sebagai bagian dari nilai akhir.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Informatika. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s