Antara “Start-up” dan Keinginan Orangtua

Seorang ibu menelpon saya beberapa waktu yang lalu. Sedikit curhat dia menceritakan kegundahannya mengenai pilihan anaknya yang membuat sebuah perusahan pemula (sering disebut start-up company) di bidang IT setelah lulus dari Informatika ITB. Putranya itu adalah mantan mahasiswa saya dulu, dan setelah lulus sarjana dia dan teman-temannya satu alamamater sepakat membuat start-up.

Memang cukup banyak alumni kami yang berwirausaha membuat perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi. Mereka sudah memulai membuat start-up itu pada tahun-tahun terakhir kuliah, dan sesudah lulus sarjana mereka men-seriusi start-up tersebut. Idealisme dan mimpi-mimpi mereka direalisasikan melalui start-up mereka itu. Jika dihitung-hitung mungkin sudah puluhan perusahaan start-up yang dibuat alumni kami. Ada yang sudah tumbuh menjadi besar dan terkenal seperti eBdesk, Agate Studio, NoLimit, Bukalapak, dan lain-lain. Ada juga yang masih menapak menjadi perusahaan yang besar, namun ada juga yang masih begitu-begitu saja.

Bagi sang ibu ini, bekerja dengan membuat start-up tidak menjanjikan masa depan. Pikiran para orangtua pada umumnya tipikal, yaitu setelah lulus sarjana maka anaknya bekerja di perusahaan mapan. Apalagi bagi lulusan ITB, harapan itu lebih “berat” lagi, orangtua ingin anaknya bekerja di perusahaan besar –baik perusahaan nasional, BUMN, perusahaan asing maupun multinasional– dengan gaji yang besar pula. Nama besar ITB sepertinya adalah “beban” agar sang anak menjadi orang yang sukses dengan penghasilan yang mapan.

Oleh karena itu, ketika sang anak memutuskan berwirausaha seperti membuat start-up itu, maka sebagian orangtua yang berpikiran tipikal tadi seakan tidak (atau belum) bisa menerimanya. Meskipun ketidaksetujuan itu tidak disampaikan secara langsung kepada sang anak, hanya disimpan di dalam hati saja, namun dalam batin mereka tetap saja berharap sang anak bekerja di tempat yang pasti-pasti.

Terhadap kegundahan sang ibu tadi, saya hanya bisa memberikan jawaban “menghibur”, bahwa putranya sudah dewasa dan dia lebih tahu apa yang terbaik buat dirinya dan masa depannya. Jawaban yang umum, namun hanya itu yang bisa saya sampaikan kepadanya.

Dalam pandangan saya, berwirausaha itu bagus bahkan mulia karena bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain. Sudah saatnya anak-anak bangsa yang punya potensi tinggi memajukan negeri ini dengan inovasi produk dalam negeri namun berkualitas dunia. Saya percaya lulusan perguruan tinggi tanah air mampu bersaing menghasilkan produk IT yang hebat-hebat, tidak kalah dengan produk IT dari luar. Lulusan kami di ITB memiliki kreativitas yang tinggi sehingga inovasi mereka melahirkan produk yang brilian, mungkin ini dampak positif kebebasan berkreasi dalam membuat tugas-tugas besar aplikasi ketika kuliah.

Di sisi lain, keinginan membuat dan mengembangkan start-up sering berbenturan dengan harapan orangtua dan keluarga. Menurut saya komunikasi sangat penting untuk meyakinkan orangtua agar restu didapat. Restu orangtua itu sangat penting, sebab dalam agama kita (Islam) diajarkan bahwa ridho Allah kepada seorang anak bergantung pada keridhoan orangtuanya. Jika orangtua ridho (merestui), maka jalan ke depan terbuka lapang sebab Allah pun akan meridhoi. Nah, kalau orangtua belum (atau tidak) meridhoi, maka alamat bakal susah jalan ke depan. Ada cerita mahasiswa saya yang gagal dalam berwirausaha karena orangtuanya tidak merestui. Sudah tak terhitung darah dan air mata yang keluar dari diri dan orangtuanya karena kegagalan-kegagalan yang terjadi. Akhirnya, setelah orangtuanya merestui jalan pilihannya, barulah usahanya bisa stabil dan berkembang hingga sekarang.

Sukur-sukur punya orangtua yang membebaskan pilihan Anda setelah lulus, mau bekerja, kuliah lagi, atau berwirausaha. Lebih sukur lagi jika mereka memberikan dorongan dan mendukung setiap pilihan yang Anda lakukan. Namun tidak semua orangtua seperti itu kan? Dalam pandangan saya, ketika orangtua masih belum setuju dengan pilihan ber-start-up, maka keputusan bijaksana adalah menunda terlebih dahulu dengan mematuhi keinginan mereka agar Anda bekerja di perusahaan yang sudah mapan. Setelah beberapa tahun Anda bekerja di sana, sudah punya banyak pengalaman, dan Anda sudah membuktikan bahwa Anda sudah bisa mandiri, maka barulah Anda memikirkan kembali membuat start-up tersebut. Setidaknya Anda sudah punya simpanan modal dari penghasilan bekerja sebelumnya untuk berjaga-jaga jika start-up Anda itu masih belum dapat memberikan kontribusi materi yang signifikan untuk menopang masa depan Anda.

Bagaimanapun, restu orangtua tetap harus anda dapatkan terlebih dahulu ketika anda memutuskan berhenti bekerja dan membuat start-up tersebut. Menurut saya, pilihan bijaksana ini juga berlaku bagi Anda yang diharapkan menjadi tiang keluarga, setidaknya Anda sudah dapat membantu keluarga Anda sebelum memutuskan berhenti bekerja dan membuat start-up. Menurut saya inilah win-win solution atau jalan tengah dari pilihan yang sulit, antara membuat start-up dan keinginan orangtua.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado, Seputar Informatika. Tandai permalink.

2 Balasan ke Antara “Start-up” dan Keinginan Orangtua

  1. Saya lahir dari keluarga pegawai, jadi saya sangat maklum jika ibu saya khawatir pada saat saya memilih untuk ‘mbeling’. Berkali-kali saya disarankan ambil lowongan di perusahaan anu, bank anu, dll. Tapi walaupun tahun-tahun pertama bikin perusahaan itu susah, kami ngga keliatan kayak orang susah. Mungkin itu yang bikin beliau sedikit tenang dan akhirnya percaya, sampai sekarang…

  2. Rynda Maya berkata:

    Saya dari keluarga biasa yang minim akan pengetahuan, dan untuk merubah itu setelah lulus sma saya ingin melanjutkan untuk kuliah..
    Orang tua saya mengizinkan kuliah karena saya sebelumnya tidak diizinkan untuk kuliah di universitas negri dengan beasiswa..
    jadi saya tidak kuliah setahun setelah kelulusan, tapi saya bekerja..
    dan selama saya bekerja saya menyadari, apa saya mau seperti ini terus.. saya sungguh ingin kuliah, walaupun dikampus swasta.. sehingga tahun selanjutnya saya memutuskan untuk daftar dikampus swasta yg terdapat kelas malamny, karena pagi saya harus bekerja untuk biaya kuliah..
    awalny orang tua saya biasa biasa aj..
    tapi semakin kesini melihat biaya yg saya keluarkan lumayan besar orang tua saya selalu saja mengeluh akan hal itu.. saya bingung dengan hal ini.. apakah saya harus berhenti ditengah jal;an seperti ini atau tetap melanjutkan kuliah saya tanpa keikhlasan kedua orang tua saya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s