Pak Polisi dan Surat Kehilangan

Pak Polisi itu terlihat sedikit salah tingkah ketika memberikan surat kehilangan yang saya minta, sepertinya dia menunggu “sesuatu” dari saya. Di lacinya terlihat beberapa lembar uang sepuluh ribuan, mungkin dari pemberian orang sebelum saya.

Tapi, bukankah mengurus surat kehilangan di kantor polisi tidak dikenakan biaya, alias gratis, begitu aturannya kan? Cuma karena orang-orang sering memberikan uang tip sebagai “tanda ucapan terima kasih” (istilah lainnya “salam tempel”), maka hal itu menjadi kebiasaan. Padahal memberi uang tip atau salam tempel kepada polisi itu termasuk gratifikasi, perbuatan yang dilarang negara, dan bisa ditangkap KPK.

Saya menerima surat kehilangan yang selesai dia buat dan mengucapkan terima kasih banyak atas layanannya, lalu saya langsung keluar supaya beliau tidak mengharapkan sesuatu lagi.

**************

Ceritanya begini. Saya kehilangan kartu ATM di suatu tempat. Untuk mendapatkan kartu ATM yang baru pihak bank mewajibkan lampiran surat kehilangan dari kepolisian. Saya sebenarnya agak enggan mengurus surat ke kantor polisi, karena saya selalu merasa “bersalah” kalau memberikan uang terima kasih. Saya menyadari memberi uang kepada petugas tidak boleh, bisa dikategorikan sebagai suap atau gratifikasi, padahal saya selalu berusaha menghindar jangan sampai melakukan hal ini.

Pengalaman saya dulu, ketika mengurus surat kehilangan SIM di kantor polisi, saya antri menunggu giliran dilayani. Orang sebelum saya terlihat memberikan sedikit uang terima kasih kepada petugas (polisi juga) setelah surat yang ia minta selesai. Ketika giliran saya tiba, saya merasa tidak enak sendiri apakah juga memberikan uang atau tidak. Sebenarnya saya tahu kalau mengurus surat di kantor publik itu tidak dikenakan biaya, namun karena kebiasaan orang-orang yang memberikan uang tip akhirnya pemberian uang itu menjadi kebiasaan. Kalau tidak diberi kok tidak enak rasanya, tidak diberi takut petugasnya marah, kalau diberi saya merasa “bersalah” telah melakukan gratifikasi. Setelah surat yang saya perlukan selesai, akhirnya saya memberanikan diri bertanya: “Berapa pak biayanya?”. Dia menjawab: “Terserah saja”. Akhirnya saya berikan juga uang tip yang dia bilang “terserah” itu.

Bukan masalah besar uang tip yang saya masalahkan, tetapi tradisi memberi uang tip itu yang menurut saya tidak baik. Sudah jelas menurut aturan job desk bahwa pelayanan surat di kantor publik itu gratis. Bukankah melayani keperluan surat menyurat itu sudah merupakan bagian dari tugasnya, petugas tersebut juga sudah menerima gaji resmi dari instansinya, jadi kenapa harus diberi uang lagi? Seperti yang saya sebutkan di atas, kebiasaan orang Indonesialah yang menyuburkan praktek pemberian uang itu. Orang kita tidak cukup hanya mengucapkan terima kasih karena telah dilayani, tetapi juga memberikan sesuatu (biasanya uang) sebagai ucapan terima kasih. Karena praktek uang terima kasih itu sudah berlangsung lama, maka akhirnya seolah-olah menjadi kewajiban. Menurut saya inilah yang menyuburkan budaya gratifikasi dalam bangsa kita yang oleh KPK digolongkan sebagai tindak pidana korupsi.

Lain lagi ceritanya ketika saya mengurus surat di kantor polisi yang lain, petugas meminta biaya yang katanya sebagai biaya kertas. Hmmm… bukankah biaya untuk membeli kertas dan tinta printer sudah ada anggaran dari instansi? Kenapa harus dibebankan lagi kepada masyarakat yang meminta layanan? Menurut saya ini akal-akalan petugas saja untuk memperoleh tambahan penghasilan.

Akhirnya, ketika kali ini mengurus surat kehilangan di kantor polisi, saya memantapkan hati untuk tidak memberikan uang terima kasih. Seharusnya memang tidak boleh ada biaya, dan seharusnya Pak Polisi juga tidak boleh meminta atau mengharapakan imbalan jasa. Maka, ketika surat yang saya perlukan selesai, saya tidak mau berlama-lama di dalam ruangan, saya mengucapkan terima kasih banyak lalu segera keluar. Mengucapkan terima kasih saja sudah cukup, jangan ditambahi apa-apa lagi. Kita juga harus mendidik Pak Polisi agar selalu menjunjung kode etik, tetap selalu jujur, dan tetap ramah melayani.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

14 Balasan ke Pak Polisi dan Surat Kehilangan

  1. Andre berkata:

    Reblogged this on Museum Pribadi and commented:
    Hhmm di pelayanan publik lainnya jg seperti itu… Sebenarnya masyrakat aja yg nakal (kurang edukasi) mengenai ini. Di pihak pemerintah pun kurang jg melakukan sosialisasi tntng larang pungli ini

  2. macantua berkata:

    Beawal dari KEPOLISIAN dan dilanjut dengan INSTANSI PEMERINTAHAN. kalau sudah bisa bersih dari “salam tempel” Indonesia pasti bisa lebih baik, dan masyarakat pun gakan segan2 untuk bayar pajak “buat gaji mereka” lebih besar dari saat ini.

  3. Sigit berkata:

    pihak masyarakat harus melepaskan sikap gak enak
    pihak pemberi layanan pun harus mau menolak

  4. affajri berkata:

    begitulah citra buruk kepolisian Indonesia. Ane pernah lihat iklan gini di jalanan “jangan merendahkan martabat polri dengan memberi uang suap” tapi kayaknya jika kita tidak memberi maka polisi yang minta…

  5. lazione budy berkata:

    Korupsi!
    Lawan..
    Sama saja mas, saya mencoba untuk tak memberi namun ga akan diberi suratnya.
    Sial, harus reformasi birokrasi total untuk korupsi di negeri ini.

    • TW Indrianto berkata:

      Mari saudara2 sebangsa setanah air kita dukung cita2 luhur LSM Gerakan Masyarakat Pemberantas Kuropsi ( GMPK ) yang di komandan Bpk. Bibit Samat Irianto mantan Kapollda Kalimantan Timur dan mantan ketua KPK. Yang menjadi korban kasus Cecak Buaya demi tercapainya Clear Goverment. Salam tekat anti korupsi anak bangsa

  6. Finni berkata:

    Banyak oknum instansi pemerintah yang berkaitan dengan layanan masyarakat seperti itu. Banyak juga yang tidak, balik ke personal nya (orangnya). Kalau anda saja malu memberikan, banyak juga oknum tsb yang awalnya malu (atau masih malu dan terus menolak?) menerima duit sejenis. Jangankan di kantor polisi, di kantor kelurahan kecamatan juga pasti ada ‘pengharapan’ duit terima kasih yang ‘terbiasa’ diterima dari masyarakat yang sudah terbiasa memberikan tips. Menurut hemat saya selagi TIDAK ADA dasar hukum yang mewajibkan kita menyetorkan sejumlah uang/barang dengan ‘kamuflase’ uang terima kasih. Maka kita sebaiknya tidak memberikan imbalan apapun karena sudah tugas instansi ybs melayani masyarakat dan mereka digaji memang untuk itu (masalah gajinya kecil atau besar itu bukan urusan kita, selayaknya mereka mencari dari cara lain yg halal). Lain hal kalau memakai jasa/perantara dimana setiap kegiatan yang dia lakukan tidak ada lembaga yang membawahi sehingga pantaslah kita membayar jerih payahnya terhadap kemudahan yang diberikan.

  7. alvonsius berkata:

    Saya pernah juga seperti itu, iseng-iseng saya ajak ngobrol si pak polisi yang intinya “kok pakai bayar sih pak”. Menurut cerita si pak polisi, anggaran yang diberikan untuk biaya operasional sangat kecil, sehingga sumbangan itu akan digunakan untuk nutup biaya operasionalnya. Saya lupa angkanya, tapi jelas waktu itu di otak saya bilang “alamak, mana bisa dengan biaya segitu nutup untuk perawatannya”. Biaya itu sudah termasuk biaya kertas, biaya servis kalau rusak, biaya ganti tinta. Korek-korek lagi, ternyata di polsek itu bahkan biaya katering untuk maling atau copet yang ditahan di penjara kecil situ pun kecil banget (lagi-lagi saya lupa angkanya, tapi si bapak sampai bilang mereka kadang nombokin karena takut nanti dituduh tidak berperi-HAM-an). Yah, mau percaya atau ndak percaya sih terserah (waktu itu saya putuskan sekedar memberi lima ribu cukup lah buat nyumbang biaya kertas, saya ketipu atau tidak ya sudahlah) …🙂

  8. Gilang Wijanarko berkata:

    ane juga memberanikan diri untuk ga bayar gan😀

    karena yg jd pemohon adalah ane sendiri, belum ada orang lain😛

  9. agung berkata:

    coba mulai penolakan dari polisi mungkin masyarakat akan berhenti memberikan uang tersebut.
    tapi bukan berarti polisi atau masyarakat yang mulai.
    siapa pun yang memulai itu sudah sulit terdeteksi.
    maka dari itu satu satunya cara menurut saya penolakan pihak polisi jika ada warga yang memberi.
    kalau warga yang mulai lebih banyak beban bagi warga.
    dari merasa tidak enak dll.
    ini bukan masalah siapa yang memulai.
    tapi siapa yang sanggup untuk mengakhiri.
    menurut saya polisi yang sanggup

  10. Fauzi berkata:

    Harus di pasang di setiap pelayanan publik
    “Jangan memberikan uang imbalan sepeserpun”

  11. dino berkata:

    pas banget kejadianya tadi siang, saya mau bikin surat keterangan kehilangan stnk bpkb sim di polsek tanjung duren , bapak polisi bilang kalo tidak ada fotokopinya tidak bisa, bisa saja tanpa fotokopi tapi.. dengan mantabnya si bapak polisi berkata : “Wani Piro..”, langsung saya tanya biasanya berapa pak? si bapak polisi bilang : kalo mau 100ribu..

    dalam hati saya, gilaak sudah cacat mental polisi ini
    pointnya sih diawal, kalo tidak ada fotokopi tidak bisa, tapi kalo bayar 100 bisaa,

  12. Jessey berkata:

    mau bagi cerita nih, rada gak nyambung sih tp masih soal polisi.

    Waktu itu aku pernah kena tilang, polisi bilang kalo mau bayar denda minimal 100rb, di dompet aku waktu itu cuma ada 19rb, untung belum ambil duit deh itu.
    eehh si bapak bilang “Yauda kalo gtu adanya di dompet kamu berapa keluarin aja.”
    abis aku kasih itu duit 19rb dia langsung bilang “sip, masuk kantong…” dan aku dibebasin dari tilang.

    njiiiirrr parah bgt polisi jaman sekarang! Sumpah cerita ini gak ngarang. disitu ad sekitar 3 org polisi yg ganti2an nilang

  13. erza berkata:

    Ya begitu juga anak saya mengurus surat keterangan hilang pak polisi yang meminta uang Rp.20.000 hari ini mengurus surat keterangan jalan kendaraan bermotor dimintai biaya sebesar Rp.70.000 bukannya mengasih dengan sukarela tapi memang pak polisinya yang minta. Mungkin karena skrg polisi independen tidak bisa lagi KPK menindak. Dulu sempat ada tulisan di kantor polisi pengumuman pengurusan surat gratis tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Biarkanlah mereka mempertanggungjawabkan di akhirat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s