Tenda Jahit Pak Ajun (Andai Dulu Jadi Kuliah di Arsitektur ITB)

Pak Ajun namanya. Profesinya adalah sebagai tukang jahit di pinggir jalan, tepatnya di Jalan Kuningan Raya, Antapani, Bandung. Dengan modal sebuah mesin jahit tua, dia menunggu pelanggan yang datang untuk mempermak pakaian. Ada pelanggan yang datang untuk memotong panjang celana, ada yang datang ingin mengecilkan ukuran pakaian yang kedodoran, ada pula yang meminta dijahitkan pakaian yang robek, menempelkan lambang sekolah dan OSIS, dan sebagainya.

Pak Ajun setia mangkal di pinggir Jalan Kuningan Raya dengan mesin jahit setianya.

Pak Ajun mangkal di pinggir jalan dengan mesin jahit setianya.

Pagi itu saya mendatangi Pak Ajun untuk memotong celana yang kepanjangan. Ini kali kedua saya datang ke tenda jahitnya. Kali pertama saya datang untuk menjahitkan lambang SMP di seragam sekolah anak saya. Saya terkesan dengan cara menjahitnya yang cekatan dan hasilnya rapi. Sambil menunggui dia yang dengan gesit memotong dan menjahit, saya jadi mengetahui banyak hal. Dia bercerita bahwa dirinya baru saja pulang dari sekolahan anaknya (SMP swasta) di daerah Cicaheum. Sambil sedikit mengeluh dia menceritakan sekolah di swasta itu sering banyak pungutan. Tadi dia ke sana untuk membayar uang bangunan yang besarnya Rp15.000 per bulan. Uang sebesar itu mungkin kecil bagi kita, tapi bagi Pak Ajun nilai segitu lumayan besar.

Pak Ajun sedang menjahit celana saya.

Pak Ajun sedang menjahit celana saya.

Saya iseng bertanya berapa penghasilannya menjadi tukang jahit pinggir jalan setiap hari. Tidak tentu, jawabnya. Setiap hari penghasilannya paling banyak 100 ribu rupiah, kadang hanya 80 ribu rupiah. Sementara kebutuhan uang setiap hari 75 ribu rupiah, itu sudah termasuk untuk biaya dapur, uang jajan dan transpor anak-anaknya yang sekolah (Pak Ajun mempunyai tiga orang anak), dan uang bensin motornya. Kalau ada kelebihan ditabung untuk kebutuhan tak terduga, kalau tidak ada ya habis hari itu juga.

Pak Ajun dan mesin jahit tuanya yang masih berfungsi baik

Pak Ajun dan mesin jahit tuanya yang masih berfungsi baik

Setiap hari dari rumahnya di Sindanglaya (jauh di daerah Bandung Timur), dia mendatangi “tempat kerjanya” di Antapani berupa tenda jahit yang Anda lihat pada foto di atas. Mesin jahit tua itu tidak dia bawa pulang pergi setiap hari, tetapi dititipkan di rumah di belakangnya, itu pun tidak gratis sebab dia harus bayar sewa 10 ribu rupiah per hari kepada pemilik rumah, jika sebulan berarti 300 ribu rupiah.

Pak Ajun sedang menerima order permak pakaian dari pelanggan

Pak Ajun sedang menerima order permak pakaian dari pelanggan

Pak Ajun sudah 25 tahun lebih menjadi tukang jahit. Dua puluh lima tahun dihabiskannnya bekerja di pabrik garmen, baru tiga tahun ini dia menjadi penjahit pinggir jalan. Bandung adalah kota garmen, di kota ini banyak pabrik garmen bertebaran. Bekerja di pabrik garmen tidak bisa leluasa katanya, sebab karyawan harus bekerja memenuhi target perusahaan. Dengan bekerja mandiri dia menjadi lebih bebas. Dia menceritakan gunting yang dia pakai ini sudah menemaninya bekerja selama 25 tahun lebih, mulai dari pabrik garmen itu hingga dia pakai sekarang. Tidak pernah sekalipun dia mengganti gunting dengan yang baru, seakan-akan gunting tersebut sudah memilikichemistry dengan dirinya.

Gunting setia Pak Ajun

Gunting setia Pak Ajun

Gunting yang telah menemaninya selama 28 tahun

Gunting yang telah menemaninya selama 28 tahun

Bekerja di pabrik garmen yang menghasilkan celana panjang merek terkenal (Card*nal) telah memberikan banyak ilmu menjahit kepada Pak Ajun. Makanya dia berani keluar dan mencoba berusaha sendiri. Satu hal yang agak disesalinya adakah kenapa dulu dia tidak jadi mendaftar ulang di ITB.

ITB? Tiba-tiba saja saya jadi ngeh ketika almamater saya, sekaligus tempat saya bekerja, disebutnya. Saya pun menjadi penasaran ingin lebih tahu. Tahun 1985 (dia agak lupa 1985 atau 1984?) Pak Ajun lulus tes Sipenmaru (sekarang SBMPTN) dan diterima di ITB di jurusan yang ada menggambarnya. Senirupa?, tanya saya. Bukan, jawabnya. Dia lupa-lupa ingat. Arsitektur?, tanya saya lagi. Ya, yang itu, katanya. Dulunya Pak Ajun sekolah di STM (sekarang SMK) jurusan gambar bangunan.

Lalu, kenapa tidak mendaftar ulang?, tanya saya penuh rasa ingin tahu. Ya itulah, orangtua tidak punya uang untuk membayar biaya daftar ulang. Saya sendiri juga angkatan 1985 di ITB yang berarti sama dengan tahun Pak Ajun diterima masuk ITB (dari ceritanya itu saya menyimpulkan usia saya tidak jauh berbeda dengan umur pak Ajun). Tahun 1985 itu biaya daftar ulang (atau uang pangkal) mahasiswa baru di ITB “hanya” sekitar 250 ribu rupiah (kalau tidak salah lho ya), sedangkan SPP per semester “hanya” Rp27.500. Nilai 250 ribu rupiah pada tahun 1985 lumayan besar, orangtua saya saja kelimpungan mencari uang 250 ribu itu untuk biaya daftar ulang di ITB. Karena orangtua pak Ajun tidak mampu menyediakan uang sebesar itu sampai hari terakhir daftar ulang, maka keinginannya kuliah pun kandas. Sebagai gantinya dia bekerja di pabrik garmen.

Dia bercerita tentang temannya yang kuliah di ITB kala itu dan sekarang hidupnya lebih baik. Temannya yang asal Subang sudah menjadi insinyur, sementara dirinya hanya menjadi tukang jahit. Andai Pak Ajun kuliah di ITB, tentu cerita perjalanan hidupnya akan jauh berbeda. Ya, nasib manusia siapa yang tahu? Hanya Tuhan yang Maha Tahu.

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

18 Balasan ke Tenda Jahit Pak Ajun (Andai Dulu Jadi Kuliah di Arsitektur ITB)

  1. azlansyah100 berkata:

    terima kasih pak atas ceritanya. sungguh menginspirasi saya.

  2. beysyalalala berkata:

    sungguh, saya sendiri masih merinding baca cerita ini. semoga penyesalan Pak Ajun tidak membuahkan pikiran kecewa terhadap nasib kehidupannya dulu

  3. macantua berkata:

    semoga anak2 beliau bisa kuliah disana menggantikan jatah beliau beberapa tahun silam

  4. praditalia berkata:

    sangat mengispirasi pak, tapi saya yakin ini adalah jalan yang terbaik buat pak Ajun

  5. ronal berkata:

    wah cerita yg inspiratif bgt mas ..

  6. Imanuel Suluh berkata:

    Terima kasih pak…inspiratif dan menyentuh🙂

  7. Dwi Ratnasari berkata:

    Hem,, bener banget ceritanya sangat menyentuh, tapi mau gimana lagi pas waktu itu pak ajun ga da biaya,
    mungkin ini yang telah digariska tuhan dan pak ajun harus tetap semangat,
    HMM Saya jadi keinget tahun lalu,saya belum diterima masuk di ITB di STEI padahal impian saya dari dulu😦

  8. jonah berkata:

    wah, terharu saya baca kisahnya…saya juga nyaris senasib dengan belaiu, untung masuknya pas tahun 2008 jadi masih bisa masuk ITB dengan biaya 3,5jt saja mlalui SNMPTN, Klo masukknya d tahun 2008 k atas saya agak pesimis,..karena biayanya sudah double digit walaupun ada beasiswa. tapi dengan kecerdasan biasa2 saja rasanya cukup sulit lolos seleksi beasiswa

  9. Nadiar AS berkata:

    terimakasih pak, saya membaca semua buku Pak Rin, berlangganan blog Pak Rin, dan baru kali ini saya berkomentar di blog Pak Rin (seingat saya). Tulisan ini membuat saya terdorong untuk berkomentar. Saya tidak bisa menjadi silent rider kali ini.

    Jujur saja, selama ini hal yang saya takutkan adalah seperti cerita Pak Ajun, saya salah dalam mengambil keputusan dan akibatnya bisa dilihat beberapa tahun kedepan. Mungkin ini bukan pertama kalinya Pak Rin membaca seorang anak yang berbicara ke Bapak kalau dia tidak lulus di pilah pertama (STEI ITB), itu juga yang saya alami. Saya dua kali gagal masuk ITB, ke-3 kalinya saya memutuskan tidak mencoba lagi. Sekarang saya belajar di luar ITB, alasan saya sangat ngeh masuk ITB adalah karena nama besar ITB, alumninya, dan ingin mendapatkan pendidikan terbaik (saya rasa saya tidak mendapatkan pendidikan terbaik). Saya selalu membandingkan akan bagaimana hari ini jika saya dulu masuk ITB. Apakah kemampuan yang saya dapatkan sama, lebih baik, atau mungkin lebih buruk.

    Sama seperti cerita Pak Ajun, alasannya karena Orang Tua, namun saya belum mendapat kepastian. Pada tahun pertama saya gagal masuk STEI ITB, padahal waktu itu orang tua sangat mendukung saya masuk STEI ITB, dan saya sudah mendapatkan kursi FK Undpad. Orang tua sangat terbuka tentang pilihan saya untuk tidak mengambil FK Unpad. Saya berbicara dengan orang tua tentang keinginan saya untuk fokus belajar untuk tahun ke-2. Tetapi, berbeda dengan tahun pertama, orang tua sama sekali tidak memberikan restu/izin. Akhirnya setelah lobi panjang, mereka memberi izin dengan syarat saya harus sambil kuliah di tempat lain. Karena passion saya ilmu komputer, saya lebih memilih untuk mengambil informatika di tempat lain. Saya stress, tidak fokus, karena disaat bersamaan saya harus memenuhi nilai bagus setiap mata kuliah juga. Tahun ke-3, karena alasan beban kuliah saya tidak ikut lagi.

    • Fake.ID berkata:

      Hampir 30 tahun yang lalu, ketika saya tinggal di Cideng di rumah kuno yang dibangun dari jaman belanda, suatu sore saya melihat om saya duduk melihat benda yang mirip layar televisi dan ada papan berisikan banyak sekali tombol bertuliskan seluruh abjad dan angka, di layar tersebut saya melihat banyak sekali angka. Saya perhatikan om saya berjam-jam duduk melihat layar tersebut sambil menekan tombol2 itu, malamnya dari kotak kecil berisik disamping layar yang mirip televisi tadi, keluar kertas bersambung-sambung yang berisikan angka yang mirip saya lihat di layar tadi. Om saya memantau dengan seksama mesin tersebut mencetak semua angka yang tadi saya lihat di layar. Hanya butuh beberapa jam saya mengetahui bahwa benda tersebut adalah PC, hanya butuh beberapa jam lagi untuk saya dapat memahami fungsi seluruh perangkat tersebut. Sejak saat itu saya jatuh cinta dengan dunia komputer.
      Saya 3x ikut UMPTN namun saya tidak pernah merasakan keinginan masuk ITB yang sangat besar, hanya selintas saja, karena saya menganggap fakultas ilmu komputer terbaik adalah di UI, meskipun di ITB ada Teknik Informatika. Seiring perjalanan waktu dan karir, saya tidak pernah berandai-andai sedikitpun bagaimana rasanya bila saya masuk ITB. Di dunia IT orang jenius banyak. Sangat banyak. Tapi di dunia professional IT yang dibutuhkan orang yang bisa bekerja sama dalam sebuah tim.
      Saya jauh lebih senang punya tim berisikan orang biasa saja tapi bisa bekerja sama dan mau belajar, ketimbang orang2 yg sangat cerdas tapi ber-ego sangat besar. Btw hampir tidak ada satupun jawara IT yang lulus kuliah, gates DO 20thn, jobs DO 19thn, assange DO 19thn, zuckerberg DO 19thn, dell DO 19thn, ellison DO 20thn, koum, kalanick, dan mackey DO 21 dan 22 thn. Berapa gaji saya sekarang? Lumayanlah, tahun kemarin saya beli Honda Freed cash, kalo untuk hidup Insya Allah sangat-sangat cukup

  10. Michael berkata:

    Nadiar AS. Sepertinya dari cara pandang anda, Mau masuk ITB maupun tidak anda tidak akan sukses.

    Ingat pesan saya. Nanti kalau suatu saat anda gagal dalam hidup, entah karir, pernikahan atau bisnis dan apapun. Itu bukan karena anda tidak masuk ITB. Tapi karena diri anda sendiri yang memiliki mental pecundang.

  11. upin ipin berkata:

    nasib Pa Ajun sama Pa rinaldi benar2 berbeda😦 yaa……..

  12. luki berkata:

    kalau liat cat rumahnya kayaknya bukan di jl kuningan raya, kalau ga salah itu jl cibodas ya?

  13. mavi gül berkata:

    terima kasih tulisannya pak.. sangat menginspirasi. bersyukur bisa kuliah, walaupun dulu kurang sesuai keinginan🙂 be grateful.

  14. Abcd berkata:

    Ijin share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s