Ketika Manula Butuh Teman Bicara

Ketika saya sedang duduk-duduk sore menjelang pulang kantor, ponsel saya berbunyi. Sebuah nama yang saya hafal muncul di layar ponsel, nama guru saya waktu SMP. Tumben sore-sore begin Pak Guru menelpon. Ada kabar apakah?

Setahu saya anak-anak Pak Guru semuanya sudah berkeluarga dan tinggal berpisah kota dengan dirinya. Pak Guru hanya tinggal berdua saja dengan istrinya di rumah di Padang sambil mengisi hari-harinya yang sepi.

Lama sekali guru saya ini mengobrol di ponsel, beliau menceritakan kegiatan kesehariannya di rumah, cerita tentang penyakit yang dideritanya, dan sebagainya. Saya menyimak saja dengan takzim semua ceritanya itu, sekali-kali memberi tanggapan. Saya rasa beliau sedang merasa kesepian sehingga mencari orang untuk mengobrol.

Jangan heran, kebutuhan orang-orang tua atau para manula tidak hanya soal makan dan minum, lebih dari itu yang dibutuhkan mereka sebenarnya adalah teman untuk berbicara dan bercerita. Berbagi cerita adalah obat kesepian bagi mereka. Sehari tidak ngobrol-ngobrol dapat membuat para manula galau hingga stres.

Ketika seorang manula menemukan teman bicara, maka cerita apa saja meluncur dari mulutnya. Padahal boleh jadi yang diceritakan mereka adalah hal-hal yang sudah disampaikan berulang-ulang, kadang-kadang yang mendengarkan jadi bosan. Mereka tampak merasa lega jika sudah mengobrol, seakan-akan sebuah beban yang selama ini tersumbat tersalurkan dengan mengobrol. Perhatikanlah orang-orang manula di Panti Jompo. Mereka sangat girang ketika ada yang berkunjung, meskipun yang berkunjung itu bukan anak mereka, tetapi para relawan mahasiswa yang datang untuk menemani. Para manula menemukan teman untuk berbagi cerita.

Saya tahu hal ini karena dulu saya merasakan sendiri dengan orangtua saya, terutama ibu, yang sekarang mereka sudah almarhum. Setiap kali saya menelpon ibu saya di Padang, banyak saja cerita yang disampaikannya. Padahal yang diceritakannya sudah sering diulang-ulang. Begitu juga kalau saya pulang ke Padang, ibu saya seakan-akan orang yang sudah lama tidak mengobrol, seakan-akan mulut tersumbat, dan ketika menemukan tempatnya maka keluarlah apa yang selama ini ingin dicurahkan. Sekarang setelah orangtua saya tiada kadang-kadang timbul penyesalan kenapa dulu-dulu saya jarang pulang, jarang menelpon, padahal mungkin yang dibutuhkan mereka adalah tempat untuk mengobrol.

Saya pernah dikunjungi seorang Bapak yang merupakan orangtua dari mantan mahasiswa saya. Dia dulu orang berpangkat di militer namun sekarang sudah pensiun. Kedatangannya untuk mengambil surat rekomendasi S2 dari saya buat anaknya yang tinggal di Eropa. Saya kira setelah mengambil surat rekomendasi dia permisi untuk pulang, tetapi malah mengajak saya mengobrol panjang selama hampir dua jam. Dia bericerita banyak tentang masa lalunya, tentang anak-anaknya, tentang kondisi negara, dan lain-lain. Sebagai pendengar yang baik saya mendengarkan semua ceritanya dan tidak tega untuk mengakhiri pembicaraan. Dia memang tinggal berdua saja dengan istrinya di Lembang, jadi ketika menemukan orang untuk berbicara langsung dan lepas seperti dengan saya, maka dia bisa berlama-lama untuk mengobrol.

Anda punya orangtua yang merasa sepi di rumah nun jauh di kampung? Cobalah telpon mereka, siapa tahu mereka sedang ingin berbagi cerita untuk melepaskan kejemuannya di hari tua.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

5 Balasan ke Ketika Manula Butuh Teman Bicara

  1. Muhammad Bakri berkata:

    Mengharukan sekali pak,,terima kasih sudah mengingatkan melalui tulisan ini

  2. putra berkata:

    kirain: “Anda punya orangtua yang merasa sepi di rumah nun jauh di kampung?” silahkan hubungi saya, saya bersedia meluangkan waktu buat mendengar curhat mereka.🙂
    salam kenal pak🙂

  3. Andrie berkata:

    Terima kasih Pak, Tulisanya mengingatkan saya ke ortu

  4. upin ipin berkata:

    karena gak tega meninggalkan ayah saya yg sudah 75 tahun, saya gak berani melangkah lebih jauh buat mengembangkan hidup saya …..😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s