Merindukan Ustad yang Santun dan Tawadhu

Zaman sekarang gampang saja bagi masyarakat dan media menggelari orang yang sedikit pandai berceramah agama dengan sebutan ustad. Dengan modal hafal satu dua ayat atau hadis, lalu berbicara banyak hal sambil sekali-kali mengutip satu dua ayat supaya ceramahnya terkesan berisi, maka dia dijuluki ustad. Apalagi kalau dia punya wajah dan paras lumayan, maka sang ustad didaulat menjadi pengisi ceramah agama di TV. Dalam waktu tidak perlu lama, ustad pun menjelma menjadi ustad seleb dan menjadi idola kaum wanita khususnya ibu-ibu. Kehidupan pribadi ustad-ustad itu, termasuk kisah asmaranya dengan sejumlah wanita, masuk hingga ke kamar-kamar kita melalui media televisi.

Inilah fenomena yang kita saksikan saat ini. Ustad seleb yang sebenarnya minim pengetahuan agama telah “mengalahkan” “ustad-ustad kampung” yang ilmunya lebih mumpuni. Ustad-ustad kampung ini mungkin wajahnya tidak tampan, hidupnya mungkin pas-pasan, tetapi mereka menjalani tugas sebagai dai dengan ikhlas. Tidak terbersit dalam benak mereka menjadikan sebutan ustad sebagai profesi untuk mencari uang. Menjadi penceramah hanyalah pekerjaan sampingan, pekerjaan utama mereka mungkin guru agama, guru mengaji, pedagang buku pinggir jalan, atau petani.

Tetapi bagi para ustad seleb, menjadi ustad adalah profesi yang menggiurkan. Mereka memasang tarif tinggi untuk ceramahnya. Mereka juga mempunyai manager yang mengatur jadwal ceramah termasuk menetapkan tarif. Celakanya, masyarakat kita merasa bangga jika mampu mendatangkan ustad mahal. Semakin mahal sang ustad dan semakin mampu mendatangkannya, semakin banggalah pengundangnya.

Saya pernah menyimak ceramah agama beberapa ustad seleb tersebut di televisi. Menurut saya isi ceramahnya terkesan dangkal. Kebanyakan berisi hal-hal yang bersifat normatif, bersifat umum atau berisikan kalimat-kalimat motivasi. Misalnya imbauan agar kita harus selalu berbuat baik, tidak boleh iri, saling menolong, dan sebagainya. Hanya karena ada taburan satu dua ayat suci dan hadis Nabi yang difasih-fasihkan, maka ceramah yang dibawakannya disebut ceramah agama. Jengah dibuatnya.

Jika ustad sudah memasang tarif dalam berceramah, maka yang kita saksikan adalah bisnis. Agama dibisniskan untuk memperkaya diri. Kita menjadi masygul melihat ada ustad yang pamer mobil Ferrari ketika mengunjungi masyarakat untuk berbagi. Kita juga muak mendengar ada ustad yang memasang tarif tinggi plus disediakan hotel berbintang lima ketika diundang berceramah di luar negeri. Bukannya ustad tidak boleh menerima honor berceramah, tetapi ketika ia menetapkan tarif, apalagi tarif yang wah, maka tidak ada bedanya dia dengan artis yang memasang tarif.

Masyarakat kita terlalu terpesona pada tampilan luar. Mereka mengagumi ustad dari ukuran sorbannya yang besar, berbaju gamis, dan tasbih yang tidak lepas dalam genggaman. Maka, ketika ustad semacam itu men-smack-down orang lain saat berceramah, apakah masih pantas dia disebut ustad?

Tiba-tiba saja saya rindu pada ustad-ustad di kampung yang sederhana, yang selalu rendah hati, dan bersikap santun. Mereka rela jauh-jauh mengunjungi jamaahnya untuk menerangi mereka dengan ilmu agama. Mereka rela dibayar seadanya, bahkan tidak ada sama sekali. Mereka jebolan pesanten, sekolah thawalib, atau sekolah agama lainnya. Penampilan boleh sederhana, tetapi ilmu mereka sangat dalam dan ceramah agama mereka bernas.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

8 Balasan ke Merindukan Ustad yang Santun dan Tawadhu

  1. technopharm berkata:

    Mungkin karena televisi sekarang berorientasi full bisnis, kalau dulu saya ingat ada bahasan agama yang agak “berat” di televisi, seperti tafsir misalnya. Sekarang sudah tidak ada. Miris juga ya pak..

  2. tuaffi berkata:

    setuju mbak! orientasinya uang, ustadz selebnya.
    Saya malah mengira, ter-blow up nya smackdown itu untuk pencitraan. setingan.:/ lagi musim soalnya.

  3. Tituk berkata:

    dan banyak yang berbaju koko, berkopiah putih dan bersurban tiba2 disebut ustad.. padahal profesi sebenarnya adalah paranormal alias dukun😦
    dan dia menjual doa-doa atau badal baca quran dengan harga puluhan juta… (dari sebuah situs yg memberitakan UGB dilaporkan ke MUI karena menipu)
    miris!

  4. b3n4r4 berkata:

    Assalamu’alaikum wrwb..semangat sekali sy mmbaca tulisan seperti mba..menitik air mata ini..”sy Tringat Guru Ngaji sy sewaktu masa SD,setiap selesai Magrib sy diwajibkan ikut mengaji Oleh (Alm) Bapak sy..Rindu dgn sosok seperi beliau,dy bener2 berilmu dan orgnya bersahaja dlam kesederhaanya mba..Ngomongnya santun Tapi mengungah jiwa..*mata Oh Mata* berhentilah menetes..sekarang terasa begitu Asing Bgi sy Untuk mendapat kn Yg seperti itu mba…sy Rindu * * * GURU * Yg Berilmu Lagi santun mba..#Allahu Akbar..Ampunilah Dosa-dosa Kami Ya Rabb.#Sedihnya Hati.

  5. mama adi dan ian berkata:

    tiba2 teringat almarhum ayahku.. rindu..😦

  6. Silvia_Jahzy berkata:

    Reblogged this on Silvia_Jahzy and commented:
    Saya rindu ustadz2 yang tawadhu dan berhati ikhlas..

  7. Samsul Huda berkata:

    Mungkin ini yang disabdakan Nabi Bahwa nanti di akhir jaman agama akan di sampaikan bukan olah yang ahlinya… sementara menjelang kiamat Tuhan akan menarik ilmu islam dengan mematikan ulama yang kaffah dan generasi selanjutnya lemah dalam ilmu agama seperti tafsir, Ushulul fiq tasawuf dsb

  8. Osama berkata:

    wallahu alam bi shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s