Mang Tata Pengasah Gunting dan Pisau

Rumah saya hampir setiap hari didatangi orang-orang kecil yang mencari nafkah. Ada tukang sabit rumput, pedagang lauk impun, pedagang tahu, pedagang stroberi, ibu penjual ubi cilembu, pengamen, tukang rongsok, dan lain-lain. Selagi ada uang di rumah, saya beli dagangan mereka sekedar membantu melariskan dagangan, atau saya iyakan tawaran jasa yang mereka tawarkan.

Salah satu dari mereka adalah Mang Tata, yang secara rutin setiap tiga bulan datang ke rumah menawarkan jasa asah gunting dan pisau. Seperti kemarin pagi, dia datang menanyakan apakah akan mengasah gunting dan pisau lagi. Sebenarnya pisau dan gunting di rumah masih tajam-tajam, belum perlu diasah lagi, tetapi saya tidak tega untuk menolaknya. Mungkin Mang Tata sedang butuh uang, kata saya dalam hati.

Saya berikan benda-benda tajam di rumah, dua buah pisau dapur dan sebuah gunting rumput. Muka Mang Tata berbinar-binar menerimanya, dengan sigap dia putar batu gerinda, yaitu alat pengasah benda-benda tajam. Mulailah dia mengasah pisau dan gunting satu per satu-satu.

Mang Tata sedang mengasah pisau pertama

Mang Tata sedang mengasah pisau pertama

Mang Tata sedang tekun mengasah psiau dengan batu gerinda yang berputar

Mang Tata sedang tekun mengasah psiau dengan batu gerinda yang berputar

Sambil memperhatikannya mengasah pisau, seperti biasa naluri rasa ingin tahu saya pun muncul untuk sekedar tahu tentang dirinya. Dia berasal dari Sindanglaya di daerah Bandung Timur (satu daerah dengan Pak Ajun, tukang jahit yang saya ceritakan pada tulisan terdahulu). Setiap hari dia ngider dengan sepeda kecilnya berkeliling perumahan dan perkampungan penduduk untuk menawarkan jasa mengasah gunting dan pisau. Asah guntiiiiing…. asah pisaaaaauuu, teriaknya menawarkan jasa.

Sepeda kecil Mang Tata

Sepeda kecil Mang Tata

Lumayan jauh juga dia berkeliling setiap hari dengan sepeda. Mulai dari Arcamanik, Antapani, Cicadas, hingga sampai ke kawasan Sadang Serang di Bandung Utara. Paling jauh dia menyusuri hingga ke Jalan Pasteur. Lumayan capek juga berkeliling dengan sepeda hingga ke Pasteur.

Penghasilannya setiap hari tidak banyak. Paling tinggi hanya mendapat Rp30.000 kalau lagi banyak orang yang membutuhkan jasanya mengasah pisau, kadang-kadang 20 ribu atau kurang dari itu. Jika dikali sebulan maka totalnya paling banyak 900 ribu rupiah saja, jauh dari UMR Kota Bandung. Oh Allah, hanya untuk mendapatkan uang 30 ribu itu Mang Tata harus memeras keringat setiap hari menawarkan jasa mengasah pisau dan gunting. Bagi sebagian orang uang 30 ribu itu begitu mudah dihabiskan, tetapi bagi Mang Tata mendapatkan 30 ribu rupiah itu sangat tidak mudah. Dengan pendapatan per hari 30 ribu rupiah Mang Tata harus menghidupi seorang istri dan dua orang anaknya yang masih sekolah.

Batu gerinda, sumber penghidupan Mang Tata dan keluarganya

Batu gerinda, sumber penghidupan Mang Tata dan keluarganya

Berkeliling menawarkan jasa asah gunting dan pisau dilakoninya setiap hari. Hanya itu saja pekerjaan tetap Mang Tata. Sekali-sekali dia bekerja sebagai tukang bangunan jika ada yang meminta bantuannya untuk bekerja membangun rumah orang.

Selesai mengasah pisau pertama, sekarang Mang Tata mengasah pisau saya yang kedua, lalu diakhiri dengan mengasah gunting rumput yang ukurannya besar.

Mengasah pisau kedua

Mengasah pisau kedua

Mengasah gunting rumput

Mengasah gunting rumput

Masih mengasah gunting rumput

Masih mengasah gunting rumput

Berapakah ongkos mengasah pisau dan gunting? Dari tukang asah lain yang pernah datang ke rumah saya mengetahui tarif mengasah hanya Rp2000 per pisau/gunting. Jika untuk mencapai pendapatan 30 ribu rupiah per hari, berarti tukang asah harus mengasah sedikitnya 15 buah pisau atau gunting. Namun, tentu tidak setiap hari ada pisau dan gunting perlu diasah, dan tidak semua orang memerlukan jasanya. Jadi, peluang menemukan rumah yang memerlukan jasa mengasah pisau atau gunting sangatlah kecil.

Mang Tata tidak menetapkan tarif, dia menyerahkan bayaran “terserah” pemilik pisau/gunting. Itu berarti ongkos tergantung kerelaan kita saja, hitung-hitung membantu orang kecil seperti Mang Tata. Semoga barokah ya Mang Tata, biar kecil tetapi halal, ketimbang para pejabat yang korupsi milyaran rupiah namun uangnya haram.

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

10 Balasan ke Mang Tata Pengasah Gunting dan Pisau

  1. peta berkata:

    “biar kecil tetapi halal, ketimbang para pejabat yang korupsi milyaran rupiah namun uangnya haram..”

  2. affajri berkata:

    sungguh perjuangan yang luar biasa. semoga dapat menulari semangat untuk kita semua dengan kerja kerasnya

  3. fasyaulia berkata:

    Ya Allah lewat arcamanikšŸ˜¦ berarti mungkin dia pernah lewat juga kerumah saya. Sedih baca nya..

  4. nengwie berkata:

    Terharu bacanya…semoga Allah senantiasa melimpahkan rejeki untuk mang Tata…aamiin.

    Semakin diingatkan untuk selalu bersyukur… Hatur nuhun untuk tulisannya…

  5. ogieurvil berkata:

    Mereka2 ini jaaaauuuuh lebih mulia daripada pejabat2 korup itu..

  6. lazione budy berkata:

    biar kecil tetapi halal, ketimbang para pejabat yang korupsi milyaran rupiah namun uangnya haram….

  7. daniel berkata:

    Saya perlu keahlian mang tata karena banyak pisau tumpul di rumah kami d komp. Riung bandung…apa mang tata keliling juga ke riung bdg ?

  8. Toto berkata:

    Pak Rinaldi, Mang Tata tukang asah pisau itu apa ada nomor teleponnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s