Gema Adzan di Bandara Minangkabau Padang

Jika Anda bepergian dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang, adakah sesuatu yang berbeda yang tidak ditemukan di bandara lain di Indonesia?

Bukan bentuk atapnya yang tradisional khas rumah gadang yang membuatnya berbeda, bukan pula karena satu-satunya bandara yang namanya diambil dari nama etnik, bukan itu maksud saya. Tapi, jika anda seorang muslim, maka Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda itu, yaitu dikumandangkannya suara adzan pertanda waktu sholat wajib. Jika anda berada di bandara ini pada waktu masuk shalat, maka jangan kaget tiba-tiba terdengar suara adzan menggema melalui pengeras suara, menembus semua sudut dan ruang-ruang di bandara, mengingatkan umat muslim bahwa waktu sholat wajib sudah tiba dan segeralah menunaikan shalat. Setahu saya baru adzan Magrib dan Dhuhur yang pernah saya dengar.

Suasana di dalam bandara

Suasana di dalam bandara

Suasana ruang chek-in. Orang-orang yang berdiri di lantai dua pada foto ini adalah mereka yang antri untuk wudhu dan sholat di mushola yang kecil.

Suasana ruang chek-in. Orang-orang yang berdiri di lantai dua pada foto ini adalah mereka yang antri untuk wudhu dan sholat di mushola yang kecil.

Saya tiba di bandara ini beberapa saat sebelum masuk adzan Maghrib. Ketika sedang chek-in, bergemalah suara adzan Maghrib. Terlihat orang-orang menuju mushola kecil di lantai dua. Karena tempat wudhu kecil dan ruang sholat juga kecil, maka sholat harus bergiliran (lihat foto di atas). Bahkan, karena sempitnya mushola, maka terpaksa lorong di sebelah mushola dimanfaatkan sebagai mushola kedua.

Jamaah yang sholat Maghrib di lorong sebelah mushola

Jamaah yang sholat Maghrib di lorong sebelah mushola

Sebagai daerah yang mempunyai filosofi adat basandi syara’ dan syara’ basandi kitabullah (yang artinya adat bersendikan pada syariat agama yaitu Islam, dan syariat agama bersendikan pada kitab suci Al-Quran), maka salah satu pengejawantahan filosofi itu mungkin gema adzan pada ruang publik seperti bandara ini. Meskipun filosofi Minangkabau tersebut saat ini sudah mulai terlihat luntur dan kurang dipegang teguh oleh sebagian masyarakatnya (contohnya kemaksiatan yang banyak terdapat di sepanjang Pantai Padang), tetapi masih ada usaha Pemerintah Daerah untuk tetap melestarikan filosofi tersebut, antara lain gema adzan di bandara BIM ini.

Saya katakan gema adzan di bandara hanya ada di BIM karena di Bandara Iskandar Muda Banda Aceh sendiri saya tidak mendengar suara adzan melalui pengeras suara di bandara tersebut (koreksi jika saya salah). Itu pengalaman saya ketika ke Banda Aceh beberapa tahun lalu, padahal Aceh adalah daerah dengan penerapan Syariat Islam.

Semoga gema adzan di BIM tetap lestari dan dipertahankan oleh pengelola bandara sebagai salah satu ciri khas bandara ini.

Pos ini dipublikasikan di Cerita Ranah Minang. Tandai permalink.

6 Balasan ke Gema Adzan di Bandara Minangkabau Padang

  1. affajri berkata:

    bandara yang religius

  2. otidh berkata:

    Adzan-nya itu apakah ‘live’ dari mushola bandara, atau hanya rekaman Pak?

  3. Alris berkata:

    Pernah ketika mau berangkat ke Jakarta masuk waktu ashar. Saya lihat ada bilal yang azan di mushola itu. Cuma memang disayangkan mushola itu agak kecil dan lorong itulah yang selalu jadi alternatif.

  4. andi berkata:

    emang benar musholanya kecil banget.. .semoga ke depannya bisa diperhatikan oleh pengelola BIM

  5. indra berkata:

    yg bagus patut dicontoh, yg jlk jgn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s