Profesor Bukan Gelar, tetapi Jabatan

Ribut-ribut pemberitaan tentang gelar profesor di depan nama Rhoma Irama membuat saya harus menjelaskan lagi melalui tulisan ini. Di negara kita profesor bukanlah gelar akademik seperti halnya Dr, M.Sc, S.T, dan sebagainya (baca berita ini), tetapi profesor adalah sebuah jabatan akademik yang diberikan kepada Guru Besar.

Seorang akademisi mempunyai jenjang karir secara bertahap yang dinyatakan dalam bentuk jabatan akademik (dulu istilahnya jabatan fungsional), lihat Permenpan No 46 2013 (Perubahan dari Permenpan 17 2013). Jabatan akademik itu ada empat tingkat. Yang pertama Asisten Ahli, kedua Lektor, ketiga Lektor Kepala, dan yang tertinggi adalah Profesor. Untuk naik dari satu jabatan akademiki ke jabatan akademik lain harus memenuhi sejumlah angka kredit (Kum) yang telah ditetapkan oleh Dikti. Penilaian angka kredit itu dihitung dari tiga aspek tridharma, yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat. Seorang sarjana atau magister yang pertama kali menjadi dosen akan mendapat jabatan akademik Asisten Ahli. Jika dia mengambil S3 dan mengurus kenaikan jabatan, jabatan akademiknya dapat ditingkatkan menjadi Lektor, selanjutnya Lektor Kepala, dan akhirnya Profesor.

Gelar akademik adalah gelar yang dicapai seseorang setelah menempuh pendidikan. Untuk orang yang telah menempuh program pendidikan S3, maka gelarnya adalah Dr atau Ph.D. Untuk orang yang telah menempuh S2, gelarnya adalah M.T, M.Sc, M.Si, MBA, M.Ag, dan lain-lain. Untuk orang yang telah lulus sarjana gelarnya macam-macam, S.T, S.Si, S.Ked., S.E, S.Sos, dan sebagainya bergantung bidang ilmu yang diambilnya.

Nah, untuk menjadi Profesor tidak ada sekolahnya, tidak ada program pendidikannya, tidak ada kursusnya, dan tidak ada pelatihannya. Pendidikan tertinggi adalah stara S3 yang merupakan puncak dari pendidikan formal. Jabatan profesor tidak otomatis diperoleh setiap akademisi, jabatan tersebut akan dicapai setelah melalui tahap pencapaian angka kredit tertentu (saya lupa angka persisnya berapa). Dia harus sering meneliti dan membuat publikasi, terutama publikasi internasional, dari hasil-hasil risetnya. Setelah angka kredit kenaikan jabatannya mencukupi, maka universitas tempat dia mengabdi melakukan review atau penilaian untuk menentukan apakah dia layak menjadi Guru Besar. Proses ini berlanjut hingga ke tingkat Kementerian sebelum akhirnya jabatan profesornya ditetapkan oleh Presiden .

Adapun jabatan itu hanya berlaku ketika dia berada di lingkungan akademik. Jika seorang profesor sudah pensiun, maka jabatan profesornya otomatis hilang. Jika dia mengundurkan diri (atau diberhentikan) dari kampus, maka dia tidak berhak lagi menyandang jabatan profesor. Contohnya Pak Amien Rais dan Pak Yusril Ihza Mahendra, keduanya dulu adalah profesor di kampusnya (UGM dan UI). Namun, ketika mereka mengundurkan diri dari kampus karena terjun ke politik praktis, maka kata Prof di depan namanya tidak boleh dipakai lagi.

Penyebutan profesor sebagai gelar memang dimungkinkan untuk profesor kehormatan (honorary professor). Beberapa perguruan tinggi di luar negeri memberi gelar honorary professor pada orang-orang terkenal seperti artis, atlit, dan orang-orang yang punya pencapaian istimewa lainnya, meskipun untuk mendapat gelar tersebut mereka tidak melakukan pekerjaan akademik (Baca di Wikipedia ini) di universitas yang memberikannya. Saya tidak tahu di mana Bang Haji Rhoma mendapat gelar profesor kehormatan (kalau memang benar), dan apakah perguruan tingginya kredibel. Jangan-jangan itu perguruan tinggi abal-abal yang memang senang memberi gelar kehormatan dengan membayar sejumlah upeti (Baca: Kampus Profesor Rhoma Tak Terakreditasi di Mana pun). Indonesia tidak ada perguruan tinggi yang memberikan gelar profesor kehormatan kepada seseorang karena memang tidak sesuai dengan aturan kenaikan jabatan akademik yang ditetapkan oleh Dikti.

Masyarakat kita sudah terlanjur salah kaprah dengan menganggap profesor adalah gelar. Barangkali ini karena warisan tradisi Belanda. Menurut seorang rekan, Belanda dan Jerman hampir mirip tradisi akademiknya. Di Jerman gelar ditulis abadi selama hidup. Di Jerman gelar profesor kehormatan ditulis di depan namanya sebagai Prof (hc), jika “hc”-nya banyak maka ditulis Prof hc (mult)badi dan ditulis di depan namanya sampai sudah mati sekalipun.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, Pendidikan. Tandai permalink.

10 Balasan ke Profesor Bukan Gelar, tetapi Jabatan

  1. Kunto. R. berkata:

    Tulisan ini sangat menarik dan lagi banyak jadi perbincangan terkait gambar rhoma Irama dijalanan yang pakai gelar profesor. Tak semua paham dengan etis tidak etisnya , atau benar dan tidaknya pencantuman gelar profesor ini. Saya ingin menyebarkan tulisan bapak ini untuk juga dipahami temen2 kami dan menambah pengetahuan kami2 yang sudah manula biar paham. Sekiranya diijinkan , bolehkah saya mencopy tulisan ini untuk saya bagikan di group facebook saya.

  2. Andri Damayanti berkata:

    Bang R, saya juga minta ijin share ke beberapa teman, terima kasih

  3. Suryanto berkata:

    Kalau saya sduah tahu dari dulu, professor bukan lah gelar, tapi jabatan, termasuk jabatan peneliti/professor riset.

  4. Moch Syaban berkata:

    Mohon maaf. Kalau tidak salah profesor adalah jabatan fungsional. Bukan jabatan akademik. Terima kasih. Maaf bila ada yg salah.

  5. warisanmeranti berkata:

    Keren ulasannya. Izin copas ya.. Trims

  6. Hadiyat berkata:

    Hallo Pak R, seandainya saya menemukan hal baru sederhana tapi bermanfaat, sementara kemampuan menulis dan referensi lemah… bagaimana solusi untuk Publikasi naskahnya…

  7. Ping balik: Profesor Bukan Gelar, tetapi Jabatan – Site Title

  8. Sungguh bermanfaat ulasannya sehingga tdk banyak yang salah kaprah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s