Partai Mana yang Berhasil Merayu Rakyat pada Pemilu 2014?

Tanggal 16 Maret 2014 kampanye Pileg 2014 akan dimulai. Kita akan menyaksikan selama 3 minggu ini tebar-tebar janji dan pesona dari partai dan calegnya. Setiap partai politik tentu berusaha untuk menjaring suara sebanyak-banyaknya. Ada 12 parpol yang akan berlaga seperti di bawah ini.

partai_pemilu

Pertanyaannya, partai mana saja yang akan berhasil “merayu” rakyat untuk memilih caleg-calegnya pada tanggal 9 April 2014 nanti? Kalau menurut berbagai hasil survey jajak pendapat, PDIP dan Golkar yang akan bersaing memperebutkan juara 1 dan juara 2, sedangkan juara tiganya kalau tidak Gerindra ya Demokrat. Lalu partai-partai lain harus puas menempati papan tengah dan papan bawah saja.

Tapi itu kan baru kata survey, hasilnya belum tentu valid, bisa jadi benar bisa jadi pula salah. Yang dijadikan survey hanya sebagian sangat kecil rakyat Indonesia, yaitu sekitar seribu hingga sepuluh ribu orang saja, padahal jumlah pemilih mencapai ratusan juta. Survey-survey itu bisa saja merupakan pesanan partai tertentu untuk membentuk citra dan opini pada masyarakat, meskipun tidak dikesampingkan pula ada lembaga survey yang netral.

Ingat juga bahwa dalam Pemilu nanti jumlah pemilih pemula (yang baru pertama kali ikut pemilu) persentasenya cukup besar, yaitu sekitar 20-30% dari 186.612.255 pemilih (sumber dari sini). Mereka ini masih belum jelas dalam menentukan parpol mana yang akan dipilih nanti (swing voters). Namun dengan asumsi bahwa kelompok ini melek internet, dan sebagian besar dari mereka aktif di dalam jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, maka referensi mereka dalam memilih parpol mungkin sangat ditentukan dari informasi yang mereka peroleh dari jejaring sosial dan media sosial lainnya (blog, tumblr, instagram, whatsapp, dll). Mereka sangat mudah menekan tombol like sebagaimana sangat mudah pula berpindah menjadi dislike atas suatu isu yang dipostingkan di jejaring sosial.

Secara umum persepsi orang dalam memilih parpol sangat ditentukan pada sejauh mana informasi yang mereka ketahui tentang parpol tersebut dari berbagai sumber, terutama dari media. PDIP misalnya, partai ini diuntungkan oleh salah satunya dari pemberitaan Jokowi di media, karena Jokowi adalah kader PDIP. Meskipun prestasi Jokowi membenahi Jakarta belum terlihat hasil nyatanya, namun pemihakan media mainstream kepadanya mampu membuat dirinya menjadi orang terkuat Capres 2014. Jokowi yang digadang-gadang menjadi capres dari PDIP diprediksi akan mampu mendongkrak raihan suara PDIP pada Pileg 9 April 2014 nanti. Sedangkan Golkar diuntungkan sebagai partai yang sudah mapan karena sudah mengakar sampai ke desa-desa disebabkan ia sudah mempunyai jaringan birokrasi yang kuat. Melalui banyak media yang dimilikinya, Golkar menancapkan citra sebagai partai besar dan kuat.

Media, terutama media mainstream, memang memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik tentang suatu partai. Parpol yang sering diberitakan dengan kasus-kasus buruk (korupsi) adalah parpol yang tidak beruntung karena mereka menjadi bulan-bulanan media. Kecuali kader fanatiknya yang tidak terpengaruh banyak oleh pemberitaan media, rakyat kebanyakan yang mendapat informasi dari media akan ikut mempunyai persepsi buruk tentang partai yang disebut-sebut. Mempunyai persepsi buruk artinya akan dijauhi atau tidak akan dipilih.

Dua partai yang paling sering diberitakan secara masif tentang kader atau pimpinannya yang terlibat korupsi adalah Partai Demokrat dan PKS. Elektabilitas kedua partai ini merosot tajam dan kepercayaan publik kepada keduanya mencapai titik yang rendah. Namun anehnya, menurut catatan Indonesian Corruption Watch (ICW) justru kedua partai tersebut bukanlah juara korupsi. Indeks korupsi yang tertinggi justru berada pada PDIP dan Golkar (yang digadang-gadang oleh lembaga survey sebagai pemenang Pileg 2014) seperti yang diperlihatkan pada grafik di bawah ini (Sumber dari sini):

Dari grafik ICW di atas sebenarnya tidak ada partai yang bersih sama sekali dari korupsi, semua partai sudah terkontaminasi korupsi, termasuk partai-partai dengan latar belakang agama atau berlabel agama sekalipun. Jika kasus korupsi menjadi alasan untuk tidak memilih parpol tertentu dalam Pemilu, maka seharusnya PDIP dan Golkar tidak bertengger sebagai pemuncak hasil berbagai jajak pendapat. Seharusnya responden tidak memilih kedua partai tersebut karena justru keduanya lebih “ganas” dalam kasus korupsi dibandingkan PKS dan Demokrat. Namun anehnya justru PDIP dan Golkar yang memiliki elektabilitas tertinggi. Mengapa bisa terbalik-balik begitu? Alasannya ada dua, menurut saya.

Pertama, seberapa besar rakyat Indonesia mengetahui (aware) tentang indeks korupsi yang dipaparkan oleh ICW di atas? Menurut saya hanya sebagian kecil saja masyarakat yang tahu karena memang tidak gencar diberitakan media. Dari pengamatan saya informasi indeks korupsi tersebut lebih sering beredar di jejaring sosial. Kebanyakan yang mem-forward-kannya ke jejaring sosial adalah orang-orang yang kritis dan well-educated (terpelajar). Berapa persenkah orang-orang kritis dan terpelajar itu dari 188 juta lebih pemilih? Menurut saya hanya sebagian kecil saja yang mengetahuinya, dan pengaruhnya terhadap PDIP dan Golkar tidak terlalu banyak. Jadi kedua partai ini “diuntungkan” dari ketidaktahuan masyarakat tentang perbandingan korupsi berbagai parpol.

Alasan kedua, kasus korupsi di PKS menjadi berita besar karena partai ini berlatar belakang agama (Islam). Publik lebih “menghukum” partai berlabel agama ketika melakukan korupsi dibanding partai yang melabelkan dirinya sebagai partai nasionalis. Korupsi adalah persoalan moral, dan masalah moral terkait dengan ajaran agama. Dalam pikiran publik yang awam, jika partai berlabel agama saja melakukan korupsi, maka apa lagi yang bisa dipercaya dari mereka? Hal ini mirip dengan kasus asusila seperti perzinahan, perselingkuhan, pornografi, dsb. Jika yang melakukan tindakan asusila adalah kader dari partai nasionalis, masyarakat terkesan lebih “memakluminya” lalu melupakannya dengan berlalunya waktu, namun jika yang melakukannya kader dari partai berlabel agama (seperti PKS), masyarakat tidak sudi menerimanya sehingga partai berlabel agama tersebut menjadi bulan-bulanan media dan caci maki publik di dunia maya (ingat kasus anggota DPR dari PKS, Arifanto).

Untuk kasus korupsi pada Partai Demokrat, isu korupsi pada partai ini menjadi berita besar karena ia adalah partai penguasa (dalam arti presidennya dan beberapa menterinya dari Partai Demokrat). Di mana-mana partai penguasa selalu menjadi sasaran tembak pihak lawan-lawannya. Apapun akan dicari-cari kesalahannya. Ketika kadernya melakukan korupsi, maka partainya ikut terbawa-bawa. Masalahnya menjadi semakin ramai karena pihak penguasa ((istana) dan keluarganya (Cikeas) juga ikut disebut-sebut. Bagi media, kasus korupsi di Demokrat adalah berita besar sehingga berlakukah pameo bad news is good news.

Memang rumit dan runyam dunia politik itu. Permainan di dalamnya bisa bersih bisa pula kotor. Namun kita tidak boleh apatis dan berdiam diri saja, karena bagaimana pun kehidupan kita di negara ini juga ditentukan oleh politik itu. Siapa-siapa yang duduk di parlemen, merekalah yang akan mengatur hidup bangsa kita dengan sejumlah undang-undang yang mereka bikin. Siapa yang berkuasa di Pemerintahan merekalah yang akan bertindak melakukan kebijakan meskipun kita tidak setuju. Oleh karena itu, golput atau tidak memilih dalam Pemilu adalah pilihan yang buruk, karena satu suara kita akan sangat menentukan siapa yang akan menentukan arah bangsa ini ke depan.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Partai Mana yang Berhasil Merayu Rakyat pada Pemilu 2014?

  1. Reblogged this on あさぎえんぴつ 'Asagi Enpitsu' and commented:
    Mulai menimbang dan memilih🙂

  2. Iwan Yuliyanto berkata:

    Saya sependapat dengan penutup jurnal. Golput hanyalah sebuah pilihan sikap yang absurd.

  3. jangan golput,…

    saat lelah
    jangan menyerah

    meraih semua mimpi
    cinta kerja harmoni
    tetap tegar berdiri
    bangkitlah dan berlari

    jika ada cahaya
    sambutlah dengan cinta
    hapus jejak derita
    tetap keras bekerja
    sampai mentari pagi
    menemukan harmoni

    )|(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s