Etika Politik Pak Jok(owi)

Pak Jok sedang berada di atas angin. Pencapresannya oleh PDIP membuatnya makin percaya diri. Berbagai survey mengunggulkan dirinya akan menjadi pemenang Pilpres 2014. Bahkan para pendukungnya sudah bersikap seolah-olah Pak Jok sudah menjadi RI-1 yang baru. Pilpres 2014 dianggap sudah selesai karena para pesaing Pak Jok tidak ada yang sepadan atau melebihi kepopuleran dirinya.

Saya bukan fans atau pendukung Pak Jok, dan bukan pula orang yang anti Pak Jok. Saya hanya ingin bersikap kritis saja terhadap pencalonannya itu. Menurut saya pak Jok adalah orang yang baik dan sosok yang sederhana. Dia memenuhi syarat-syarat sebagai (calon) pemimpin yang merakyat. Namun, keputusannya menjadi Capres tidak sesuai dengan etika dan fatsun politik. Pak Jok kali-kali menegaskan pada waktu kampanye Gubernur DKI 2012 yang lalu bahwa dia tidak akan loncat menjadi Capres

Saya sudah jawab berkali-kali. Sampai sepuluh kali, mungkin yang sekarang ini sudah belasan kali bilang soal komitmen saya. Masa diomongkan lagi, wong sudah bolak balik bilang Jokowi itu komitmen“, ujarnya. Pernyataan tersebut dia lontarkan dalam jumpa pers di kediaman Megawati Soekarnoputri, Kebagusan, Jakarta Selatan, Kamis (20/9/2012) siang. Komitmen tersebut sekaligus menegaskan bahwa dirinya tidak akan maju dalam pencalonan presiden pada Pemilihan Umum 2014. Joko Widodo atau Jokowi berkomitmen memimpin DKI Jakarta selama lima tahun. Ia menjamin tidak akan menjadi “kutu loncat” dengan mengundurkan diri sebelum masa jabatannya usai. (Sumber: Jokowi Janji Pimpin Jakarta Sampai Tuntas). Baca pula Inilah 19 Janji Jokowi Saat Kampanye.

Meskipun tidak ada aturan yang dia langgar karena menjadi Capres dan tidak ada pula larangan menjadi Capres, tetapi secara etika dia seperti orang yang menjilat air ludahnya sendiri. Apa yang Pak Jok lakukan tidak sesuai dengan apa yang dia ucapkan dulu. Para pendukung dan fans Pak Jok melakukan pembelaan dengan menyatakan bahwa bila Pak Jok menjadi Peesiden maka kewenangannya jauh lebih besar lagi membenahi Jakarta ketimbang sekarang menjadi Gubernur DKI. Meskipun demikian tetap saja dalam pandangan banyak orang pak Jok adalah pendusta (baca juga: Pengamat: Jika Gubernur DKI Maksa Nyapres, Gubernur DKI Langgar Janji).

Pak Jok menjadi Capres karena perintah partai, bukan karena kehendak pemilihnya. Ingat ada 56 persen lebih pemilih di DKI yang memilihnya menjadi Gubernur, mereka menitipkan suaranya kepada Pak Jok agar Pak Jok dapat membenahi masalah Jakarta yang ruwet. Sekarang bagaimana pertanggungjawaban kepada pemilih tersebut? Memang masalah Jakarta tidak akan bisa selesai sampai akhir jabatan Pak Jok, karena masalah di Jakarta (banjir, macet) adalah warisan masalah kepemimpinan sebelumnya, namun komitmen Pak Jok untuk menyelesaikan amanah itu sampai akhir jabatan sekarang dipertanyakan, seolah-olah ia lari dari tanggung jawab.

Berkali-kali Pak Jok tidak pernah tuntas menyelesaikan amanah yang dia emban. Belum selesai menjabat sebagai Walikota Solo, dia loncat menjadi Gubernur DKI. Sekarang belum tuntas amanahnya sebagai Gubernur DKI, dia loncat menjadi Capres.

Karena Pak Jok orang Islam, maka saya kutipkan ayat Al-Quran dan beberapa Hadis Nabi tentang keharusan menjaga amanah (sumber dari sini).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS 8:27).

Suatu ketika Ali r.a duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, lalu muncul seorang daripada keluarga al-Aliyah dan bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Beritahulah kepadaku apakah sesuatu yang paling berat dalam agama dan apakah yang ringan?”. Maka jawab Rasulullah: “Yang paling ringan dan mudah adalah mengucap dua kalimah syahadat,dan yang paling berat ialah amanah. Sesungguhnya tidak ada agama bagi orang yang tidak amanah.” (Hadis Riwayat al-Bazar at-Tabrani)

Tidak sempurna iman bagi sesiapa yang tiada amanah pada dirinya dan tiada agama bagi orang yang tidak dipercayai janjinya”. (Hadis Riwayat Imam Ahmad,al-Bazar at-Tabrani).

Nasi sudah menjadi bubur, pak Jok tentu tentu tidak akan mundur menjadi Capres dari PDIP. Kekuasaan itu bagaikan emas yang berkilauan, begitu menggoda orang-orang di sekeliling Pak Jok, bahkan mungkin termasuk pak Jok sendiri, sedangkan janji, sumpah, dan amanah adalah barang yang bisa dipermainkan. Wallahu alam.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

11 Balasan ke Etika Politik Pak Jok(owi)

  1. lazione budy berkata:

    saya Jokowi fan boy.
    saat ini tak ada yg lebih baik darinya, kalau bukan sekarang kapan lagi?!

    • juragan.sipil berkata:

      ada seorang tokoh yang komitmen dengan janjinya…

      dulu (2009) dia pernah berkata.. “Kalau saya kalah di 2009, saya akan pulang.. mengurus mesjid, dan aktif di (kegiatan) kemanuisaan…”

      Terbukti hingga sekarang…🙂

      Dia juga ngga banyak ngomong… tapi omongannya selalu dipegang teguh. Bahkan “diam-diam” barusan dia sudah mendongkrak nama Indonesia di level dunia.

      Bukannya ngga suka sama Jokowi.. tapi kalo masih ada yang terbukti LEBIH BAIK dan punya peluang dan hak yang sama… kenapa ngga?😀

      • lazione budy berkata:

        mari kita lihat…

      • lili berkata:

        Skr mana buktinya? Gr2 km pilih dia indonesia skr jd gawat darurat, ada yg bilang kl kediktatoran jkw dan pdip saat ini melebihi jaman suharto, tp suharto masi mending gk doyan naik turunin bbm, lha ini? Give me thousands reasons to be sure he is still like you think.

    • lili berkata:

      Tuh udah liat sendiri skr indonesia kacaunya spt apa gr2 lu pilih dia

  2. Devi berkata:

    Terus terang saya juga tidak suka dengan sikap demikian. Seharusnya sistem negara yang menegaskan aturan.Karena kita berharap negara tumbuh sehat. Mengecewakan, tapi ini karena ambisi salah satu partai besar juga. ..sedangkan Rakyat Indonesia kan memang gitu dari dulu, dikasih ‘candy’ sedikit tersenyum dan angguk angguk, dan yang diurus Jokowi juga dari pribadi orang2 yang sudah punya mental rendah dengan kesadaran buang sampah ,tenang2 dengan polusi dan sibuk urus diri sendiri. Setelah Jokowi pontang panting merendah dan berusaha ,akhirnya mungkin dia kesumat dan juga mulai gatel gatel karena blusukan. Bayangkan kalau itu kita..waahhh..dia termasuk sabar, tetapi terlalu cepat juga jadi Capres,sayang… Biarkan saja, kalau terpilih baru terbuka kepala rakyat. Betapa lambatnya kita berfikir dewasa dan kembali dunia tertawa. begitulah…Btw kita serahkan kepada Allah SWT, dan siapa pun itu yang dipilih dia akan bertanggung jawab kelak dengan Allah SWT. Jadi pemimpin juga ..itu Allah SWT yang tentukan. Tidak mudah menjadi seorang Pemimpin. Dan yang utama negara TIDAK dimanfaatkan Negara asing melihat kondisi kita seperti ini. amiin

  3. Tituk berkata:

    Sayang sekali nyapres sekarang.. kenapa gak diselesaikan dulu urusan DKI yaa? Sekarang momennya pas, katanya… padahal (imho) kalau urusan DKI beres dulu kemudian beliau nyapres mantep tuh.. momennya lebih pas. Mungkin orang2 gak akan ragu2 lagi milih beliau lha wong sudah terbukti dan teruji mwmbereskan DKI.

  4. Semenjak Pak Jokowi menjabat sebagai Gubernur DKI, banyak masyarakat yang mengatakan bahwa ia akan menjadi RI 1 kok, Pak. Sudah diprediksi banyak orang..
    Jadi kita lihat saja nanti, apakah Pak Jokowi akan menjadi RI 1 dengan kepopulerannya…

  5. Siwi berkata:

    Sabdo pandhito budhe mega😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s