Sejarah Selalu Berulang (Pak Beye dan Pak Jok)

Tiap zaman punya tokoh dan ceritanya masing-masing. Bersinarnya Pak Jok(owi) sebagai Capres paling populer pada Pemilu 2014 ini mengingatkan kita pada tahun 2004 yang lalu. Masih ingat?

Tahun 2004 politik di negeri kita diwarnai dengan euforia terhadap Pak Beye sebagai Capres paling populer saat itu. Pak Beye muncul sebagai antitesis terhadap Presiden incumbent Megawati yang pemerintahannya dianggap mengecewakan rakyat. Ketika kepercayaan rakyat kepada Mega melemah dan kader-kader partainya terlibat skandal korupsi, maka muncullah Pak Beye yang dielu-elukan oleh masyarakat. Sikap Pak Beye yang santun, cerdas, juga pandai menyanyi pada waktu kampanye, membuat rakyat negeri ini kepincut dan memilihnya sebagai Presiden pilihan rakyat.

Kepopuleran Pak Beye diikuti oleh partainya, Demokrat. Pada tahun 2004 Demokrat sebagai partai baru mendapat suara 7%, dan pada tahun 2009 meningkat drastis menjadi 21% dan menjadi pemenang Pemilu. Pada Pemilu 2009 Pak Beye cukup menang Pilpres dalam satu putaran saja. Sebaliknya PDIP yang pada tahun 1999 meraih 33% suara dalam pemilu, pada tahun 2004 tutun menjadi 18,5%, dan pada Pemilu 2009 turun lagi menjadi 14%.

Sepuluh tahun kemudian….

Pada tahun 2014 sekarang terjadi euforia terhadap Pak Jok. Pak Jok muncul sebagai Capres paling bersinar untuk Pemilu 2014. Kemunculan Pak Jok adalah sebagai antitesis terhadap presiden incumbent Pak Beye yang pemerintahannya mengalami degradasi kepercayaan oleh rakyat.

Dugaan saya, kepopuleran Pak Jok akan diikuti oleh partainya, PDIP. Pada Pemilu 2014 ini saya prediksi suara PDIP akan naik drastis karena efek Jokowi. PDIP kemungkinan besar akan menjadi pemenang Pemilu 2014. Sebaliknya Partai Demokrat diprediksi akan menurun raihan suarnya (begitulah kata survey-survey). Kasus korupsi yang melanda Demokrat telah membuat kredibilitas Demokrat hancur.

~~~~~~~~~~~~~~~

Demikianlah, sejarah selalu berulang, history repeat itself. Tiap zaman punya tokohnya masing-masing. Dulu Pak Beye, sekarang Pak Jok. Hal ini sudah sunnatullah sebagaimana di dalam Al-Quran Allah SWT berfirman bahwa kejayaan dan kehancuran suatu ummat itu akan dipergilirkan kepada manusia di muka bumi.

Dan (masa kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (sebagai iktibar/ pengajaran)” (QS. Ali-Imran ayat 140).

Sejarah telah mengajarkan kita dalam memilih pemimpin. Sayangnya masyarakat kita lebih sering memilih pemimpin dari faktor popularitas semata. Seharusnya dalam memilih pemimpin kita juga melihat prestasinya, rekam jejak partai pengusungnya di masa lalu, integritasnya, dan lain-lain. Kalau memilih pemimpin dari popularitas semata akibatnya ya begini, negara kita masih tetap mengalami keterpurukan dalam segala bidang. Pemimpin yang dielu-elukan itu akhirnya menjadi pecundang, partainya korup, negara hancur. Akankah hal ini akan terulang pada Pak Jok dan partainya jika menang Pemilu 2014?

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Sejarah Selalu Berulang (Pak Beye dan Pak Jok)

  1. Politik citra masih mengakar kuat di negeri ini.

  2. bukanbocahbiasa berkata:

    Betuuuulll sekali, Pak Rinaldi. Politik di negara kita lebih mengarah pada telenovela dan sinetronisasi. Tokoh yang berperan sebagai “bawang putih” bisa meraih simpati publik, dan akhirnya menerjang segala rintangan, setelah ia didzalimi, dll-nya. Akut parah. Duh. Tapi, ya kira-kira alternatif pemimpin yang mana yang bisa kita pilih? Tolong sebut nama aja deh Pak. Karena saya juga udah ‘mati rasa’ dengan nama2 capres yang beredar belakangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s