Nasib Partai-Partai Islam pada Pemilu 2014

Tulisan ini adalah perspektif saya sebagai seorang muslim yang kritis. Saya selalu mengamati perkembangan partai-partai Islam menjelang pemilihan umum. Yang saya maksud “partai Islam” adalah partai yang berideologi Islam, atau partai yang memiliki basis massa dari ormas Islam atau kaum muslimin lainnya. Pada pemilu 2014 ini partai-partai Islam tersisa lima buah saja, yaitu PKS, PPP, PAN, PKB, dan PBB. Menurut paparan beberapa survey, nasib partai-partai Islam itu akan terpuruk pada Pemilu 2014. Elektabilitas mereka rendah sekali. Mengingat batas ambang parlemen (parliamentary threshold ) adalah 3,5%, maka kemungkinan besar banyak partai-partai Islam itu yang tidak lolos masuk parlemen. Pemilu 2014 adalah kuburan massal bagi partai-partai Islam, begitu ancaman penuh takut dari lembaga-lembaga survey. Benarkah? Semua masih prediksi, hanya Tuhan yang tahu. Namun yang jelas jika tidak lolos masuk parlemen maka tamatlah sudah eksistensinya, mereka harus ikut seleksi lagi dari nol pada Pemilu 2019 yang akan datang.

Selain tidak punya tokoh yang kharismatis, kelemahan mendasar partai Islam adalah mereka tidak menggarap isu-isu populis dan strategis, seperti buruh, tenaga kerja, pengangguran, kemiskinan, petani, korupsi, lingkungan hidup, dan lain-lain. Padahal inilah masalah besar di dalam bangsa kita yang memerlukan solusi kongkrit. Partai-partai Islam baru mendekati konstituennya ketika Pemilu/Pilkada, usai Pemilu mereka seperti hilang dalam diam, mereka lebih sibuk dengan masalah internal mereka sendiri. Tidak jarang di dalam partai Islam sendiri sering gontok-gontokan memperebutkan kekuasaan dan menjadi konsumsi empuk media. Akhirnya rakyat menilai jika di dalam internal partai saja mereka tidak bisa mengurus rumah tangganya, bagaimana mereka mengurus bangsa yang besar ini?

Kasus-kasus korupsi dan moralitas lainnya (seks, pornografi, mesum) yang menimpa kader-kader partai Islam ikut membuat reputasi partai Islam menjadi buruk di mata masyarakat. Kasus korupsi pada sebuah partai Islam (teutama kasus di PKS) berimbas pada partai-partai Islam lainnya. Citra mereka hancur karena mereka sebagai partai yang berlandaskan agama namun kader-kader mereka menodai ajaran agama sendiri. Hukuman masyarakat kepada partai-partai Islam dalam kasus korupsi maupun kasus moralitas lainnya jauh lebih berat ketimbang hukuman terhadap partai nasionalis, karena partai Islam itu membawa nilai-nilai agama yang suci tidak boleh diciderai. Akhirnya masyarakat menilai tidak ada bedanya lagi antara partai Islam dan partai nasionalis, keduanya toh sama saja kelakuannya. Lihatlah di dunia maya, partai-partai Islam sering dihujat dan dicaci maki karena berbagai kasus yang membelit kadernya, termasuk dihujat oleh orang-oranng Islam sendiri.

~~~~~~~~~~~~

Di sisi lain, menghujat terus menerus partai-partai Islam tidak ada manfaatnya. Buat apa? Kita sadar bahwa partai-partai Islam itu punya kelemahan dan kekurangan, tidak ada partai Islam yang sempurna. Kalau kita terus menghujat dan mencaci maki mereka itu artinya kita ikut membuat mereka terpuruk lebih dalam. Apakah memang itu yang kita inginkan? Padahal kehadiran wakil-wakil rakyat dari partai Islam tetap diperlukan untuk memperjuangkan aspirasi yang terkait dengan masyarakat muslim Indonesia, misalnya tentang haji, zakat, sertifikasi halal, pendidikan siswa madrasah, pesantren, guru agama, dan lain-lain. Tentu kita tidak terlalu berharap banyak kepada wakil-wakil rakyat dari partai nasionalis untuk mengurusi msalah-masalah yang menyangkut hajat hidup masyakarat muslim, karena mereka terikat dengan platform partainya.

Kalau bukan kita yang memilih partai-partai Islam itu, lalu siapa lagi?

~~~~~~~~~~~~~

Sejak mengikuti beberapa kali Pemilu saya selalu memilih partai-partai Islam. Zaman awal-awal saya kuliah di ITB saya belum bisa memilih karena belum mempunyai KTP Bandung, sehingga tidak terdaftar sebagai pemilih. Saya lupa pada Pemilu 1997 saya ikut pemilu atau tidak. Tetapi pada Pemilu 1999 saya sudah mempunyai KTP Bandung dan sudah bisa memilih. Tahun 1999 itu nama Amien Rais melambung sebagai tokoh reformasi. Dia mendirikan PAN sebagai partai dengan basis massa dari Muhammadiyah. Karena saya punya latar belakang Muhammadiyah (pernah sekolah di Muhamamdiyah dan rumah saya di Padang di lingkungan masjid Muhamamdiyah), maka saya memilih PAN. Sayang PAN tidak sukses waktu itu, raihan suaranya kecil, tidak sampai 7%. Amien Rais pun gagal dalam eksperimen politiknya dan gagal pula menjadi calon presiden.

Pada Pemilu tahun 2004 partai PKS naik daun. Kader-kadernya banyak dari kampus, tokoh-tokohnya kalangan intelektual yang taat beragama. Partainya dikelola secara modern. Ini partai bersih, kata saya waktu itu. Semua itu menjadi daya tarik, dan pada Pemilu 2004 ini saya ikut memilih PKS.

Selanjutnya pada Pemilu 2009 pamor PKS sudah mulai menurun. Belum ada kasus korupsi yang menimpa partainya saat itu. Saya tetap masih bersimpati pada partai ini, namun pada Pemilu 2009 saya melakukan eksperimen politik yang berbeda. Suara saya dibagi-bagi kepada beberapa partai Islam. Untuk DPR pusat saya memilih partai Islam 1, untuk DPRD Propinsi saya memilih partai Islam 2, dan untuk DPRD Kota Bandung saya memilih partai Islam 3. Adil, semua kebagian. Prinsipnya saya bagi rata semuanya. Partai Islam 1, 2, dan 3 itu salah satu dari PKS, PPP, PBB, atau PAN (saya sudah lupa).

Pemilu tahun 2014 ini adalah waktunya untuk “menyelamatkan” partai-partai Islam agar mereka lolos ambang batas 3,5%. PKS memang akan mengalami degradasi karena kasus korupsi yang menimpa LHI, namun berbeda dengan prediksi beberapa lembaga survey, saya masih tetap yakin partai ini akan lulus ambang batas parlemen. Indikasinya dari kampanye mereka yang masih tetap dipadati massa, khussunya kampanye pertama di GBK yang dipadati lebih dari 150.000 orang. Ini artinya PKS tidak akan mati seperti yang diduga banyak orang.

Namun untuk Pemilu 2014 saya tidak akan menitipkan suara saya kepada partai ini (PKS). Alasannya bukan karena tidak suka atau tidak percaya, tetapi seperti yang saya katakan tadi saya ingin membantu “menyelamatkan” partai-partai Islam lain yang terancam tidak lolos ambang batas parlemen. Cara menyelamatkannya adalah dengan memberikan suara kepada mereka. Entah partai apa yang saya pilih, yang jelas bukan PKS deh (maaf ya teman-teman atau pembaca dari PKS). Kalau tidak PPP, PAN, PKB, atau PBB, namun diantara keempat partai itu PBB yang peluang lolosnya paling kecil (yuk mari bantu!). Semua masih ditimbang-timbang hingga detik-detik terakhir menjelang pencoblosan.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku, Renunganku. Tandai permalink.

13 Balasan ke Nasib Partai-Partai Islam pada Pemilu 2014

  1. Heru berkata:

    Jika Bapak ingin memberikan suara kepada partai-partai Islam saja, maka seharusnya Bapak mempertimbangkan untuk tidak memberikan suara kepada PKB. Pada dasarnya, PKB bukan partai Islam; mereka telah menyatakan bahwa mereka adalah partai yang bersifat nasionalis religius. Laman ini bisa dijadikan sebagai referensi: http://politik.news.viva.co.id/news/read/448486-pkb–kami-bukan-partai-islam

    Begitu juga dengan PAN yang tidak mau disebut sebagai partai Islam: http://pemilu.okezone.com/read/2013/11/12/568/895699/pan-ngaku-bukan-partai-islam-tapi-mau-koalisi-dengan-ppp-pkb

    • rinaldimunir berkata:

      Oh begitu? Baiklah, referensi saya bertambah. Setidaknya untuk PKB basis massa mereka adalah dari kalangan nahdliyin atau kalangan santri.

      Aneh juga ya, mereka tidak mau lagi disebut sebagai partai Islam, namun mereka selalu mendekati massa “akar rumput”-nya seperti kaum ulama dan santri.

      • Heru berkata:

        Kalau begitu, mungkin, definisi Partai Islam menurut Bapak bisa dirapikan lagi. Yaitu, bukan partai yang berazaskan Islam, namun partai yang memiliki simpatisan dan basis massa Islam “santri dan ulama”, bukan Islam “abangan”. Atau mungkin Bapak bersedia menjelaskan lebih lanjut, apa itu Partai Islam?🙂

  2. azlansyah100 berkata:

    wah, blognya sesuai banget dengan berita yg baru saya tonton di tv tadi..

  3. Rachmat Djumsa berkata:

    Sangat setuju. Harus ada gerakan terkoordinasi / serempak menyelamatkan Partai Islam.

  4. Dyah Sujiati berkata:

    Selain tidak punya tokoh yang kharismatis, kelemahan mendasar partai Islam adalah mereka tidak menggarap isu-isu populis dan strategis, seperti buruh, tenaga kerja, pengangguran, petani, korupsi, lingkungan hidup, dan lain-lain. Padahal inilah masalah besar di dalam bangsa kita yang memerlukan solusi kongkrit. Partai-partai Islam baru mendekati konstituennya ketika Pemilu/Pilkada, usai Pemilu mereka seperti hilang dalam diam, mereka lebih sibuk dengan masalah internal mereka sendiri.–>

    Demikianlah isu yang dikerjakan oleh media untuk membunuh karakter partai islam. Siapa bilang pak partai islam tidak memikirkan masalah umat? Justru partai islam lah yang melakukan. Tapi tidak pernah diekspose. Kalau bisa malah dikubur. Seharusnya kita memang kaya dan punya media sendiri yang bisa mengimbangi media-media yang anti islam.

  5. cuddlymath berkata:

    Reblogged this on dkeyofhuda… and commented:
    Yups,, kalau bukan kita siapa lagi,,

  6. syarif thoyibi berkata:

    Betul pak, jangan sampai umat islam tidak punya representasi politik!atau tidak diperhitungkan sama sekali secara politik!

  7. Lan Tang berkata:

    MANTAPKAN NIAT MEMBANTU YANG KECIL,
    INSYAALLAH MEMBUAT ANDA MENJADI BESAR.

    BAGAIMANA cara membantu yang kecil dalam rangka “menyelamatkan” partai-partai Islam yang terancam tidak lolos ambang batas parlemen?.
    Cara menyelamatkannya adalah dengan memberikan suara kepada mereka. Lalu, partai apa yang pilih?, bisa saja pilih PPP, PAN, PKB, atau PBB, namun diantara keempat partai itu PBB yang peluang lolosnya paling kecil (yuk mari bantu!).https://www.facebook.com/lantangia

  8. Lan Tang berkata:

    BAGAIMANA cara membantu yang kecil dalam rangka “menyelamatkan” partai-partai Islam yang terancam tidak lolos ambang batas parlemen?.
    Cara menyelamatkannya adalah dengan memberikan suara kepada mereka. Lalu, partai apa yang perlu dipilih?, bisa saja pilih PPP, PAN, PKB, atau PBB, namun diantara keempat partai itu PBB yang peluang lolosnya paling kecil (yuk mari bantu!).https://www.facebook.com/lantangia

  9. Abu Salman berkata:

    PKS sebelum tahun 2009 banyak kok kasus korupsi, sampai hari ini saya mencatat ada 13 caleg DPRD maupun DPR dari PKS yang sudah divonis dan ditetapkan sebagai Tersangka, dari semua Partai Islam , hanya PBB yang paling rendah tingkat korupsinya, yaitu hanya 4 orang, itupun semuaya dari DPRD , bukan dari DPR RI , CMIIW

    dan prihatinnya, partai yang paling kecil tingkat korupsinya justru paling Miskin dana kampanyenya, dan terancam tidak Lolos Parliementary treshold, padahal sejarah mencatat, banyak UU syariah di Indonesia yang ada sekarang, adalah hasil kerja keras Caleg DPR RI dari Partai Ini, dan partai ini partai yang calegnya paling banyak mendaftar di Forum Caleg Syariah pimpinan KH Muhammad al Khatath (Mantan ketua Umum Hizbut Tahrir Indonesia, caleg PBB DKI dapil 3)….

    Semoga jadi pertimbangan pak, Saya miris partai potensial seperti PBB dilupakan ….

    #YukKitaSelamatkan
    #NKRIBersyariah
    #PBB2014

  10. lokiarawarisan berkata:

    Saya menemukan video ini di youtube: http://www.youtube.com/watch?v=_EdWjPXqK-k
    Bapak bisa mempertimbangkan kevalidan nya dengan mampir ke website beliau dan mencoba bertanya langsung saja..

  11. sukra wijaya berkata:

    jangan putus asa dlm memilih partai islam.. maju terus partai islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s