Nyepi di Tengah Lingkungan Muslim

Inilah indahnya di Indonesia ini, semua agama mendapat hari khusus libur nasional untuk perayaan hari besarnya tanpa memperhatikan besar kecilnya pemeluk agama tersebut, termasuk Hari Raya Nyepi yang berlangsung pada hari ini. Di mana lagi di dunia ini kita menemukan negara hebat selain di Indonesia yang menghormati semua hari besar keagamaan dan menjadikannya sebagai hari libur resmi agar pemeluk agama tersebut dapat menjalankan hari besarnya itu dengan tenang? Memang kadang-kadang ada gesekan antar umat beragama, itu wajar sebab namanya orang yang hidup berdampingan pasti pernah ada gesekan, namun soal hari raya keagamaan negara telah memperlihatkan jiwa besarnya dengan memberikan tempat dan hari khusus.

Pada Hari Raya Nyepi hari ini saya jadi teringat seorang tetangga yang beragama Hindu, Pak Nyoman namanya. Dia satu-satunya orang Hindu di RT saya. Ketika Hari Nyepi tiba, inilah satu-satunya rumah yang gelap gulita di kompleks kami sementara tetangga sekelilingnya masih terang benderang dan tetap beraktivitas. Pak Nyoman dan istrinya di dalam rumah sedang khusyuk menjalani catur brata penyepian, yaitu “amati karya” (tidak bekerja dan aktivitas lainnya), “amati geni” (tidak menyalakan api), “amati lelungan” (tidak bepergian), dan “amati lelanguan” (tidak mencari kesenangan) selama satu hari satu malam (mulai jam 6 pagi hingga jam 6 pagi keesokan harinya).

Waktu itu anak saya masih kecil-kecil dan suka main sepeda dengan teman-temannya di jalan-jalan kompleks, maka saya katakan jangan berisik di depan rumah Pak Nyoman karena Pak Nyoman sedang menjalani Nyepi.

Sekarang Pak Nyoman sudah pindah ke Bali, rumah itu sudah dijual kepada orang lain (bukan orang Hindu), dan saya pun tidak pernah melihat rumah itu gelap gulita lagi pada Hari Nyepi.

~~~~~~~~~~~~

Sesungguhnya tidaklah mudah menjalankan ritual agama di tengah lingkungan yang berbeda, namun itulah seni dan tantangannya. Beberapa rekan dosen yang beragama Hindu di ITB mengatakan setiap hari Nyepi tiba mereka sudah “mengungsi” satu hari sebelumnya ke pura besar di daerah Cimahi, namanya Pura Wira Loka Natha. Di dalam pura mereka bersama-sama umat Hindu lainnya di Bandung Raya dapat melakukan amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan dengan tenang.

Jika di dalam pura suasana sangat hening, sementara di luar pura suasana sangat kontras, lalu lalang pengendara di depan pura tidak pernah sepi. Tidak jauh dari pura terdapat stasiun kereta api Cimahi, lengkingan suara kereta api yang lewat tentu dapat mengganggu aktivitas Nyepi di dalam pura, tetapi semua berjalan masing-masing seperti biasa, yang di dalam pura tetap khusyuk melakukan catur brata penyepian, di luar pura sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tidak ada yang saling mengganggu.

Perbedaan yang ada di dalam bangsa ini bukan alat untuk memecah belah. Dalam agama Islam, berbeda-beda itu sudah sunnatullah, maka tidak ada yang harus dipermasalahkan selagi semuanya berjalan dengan apa yang diyakini masing-masing. Yang terpenting adalah saling bertenggang rasa satu sama lain, hormat menghormati, dan menghargai perbedaan yang ada.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

3 Balasan ke Nyepi di Tengah Lingkungan Muslim

  1. kutulis21 berkata:

    memang indah rasanya bila saling menghormati🙂

  2. Kalau warga Indonesia gak cinta sama negeri nya sendiri itu kebangetan …
    Love Indonesia so much ….

  3. fiksikulo berkata:

    Indonesia tanpa diskriminasi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s