Jualan Sepatu atau Jualan Kerupuk (Lulusan MIT dan Lulusan ITB)

Tidak perlu malu berkerja apapun, yang penting pekerjaan halal, apalagi kalau pekerjaan itu memberi manfaat bagi banyak orang. Meskipun lulusan perguruan tinggi ternama sekalipun, itu bukan halangan untuk berbuat yang berguna bagi diri, keluarga, dan orang banyak di sekeliling.

Saya terkesan ketika membaca sebuah tulisan di Kompasiana yang berjudul Lulus MIT, tapi Pilih “Jualan” Sepatu. Di dalam tulisan itu diceritakan kisah Ali Tanuwidjaya yang merupakan lulusan Aerospace Engineering di Massachusetts Institute of Technology (MIT) namun berwirausaha dengan membuat usaha produksi sepatu di kota asalnya, Pasuruan, Jawa Timur.

Siapa yang tidak kenal dengan MIT, perguruan tinggi teknik nomor wahid di dunia itu? Begitu hebatnya nama MIT itu, dulu (nggak tahu sekarang apa masih) kami yang menjadi mahasiswa ITB sering menjadikan MIT sebagai rujukan dan mengidentifikasikan ITB sebagai MIT-nya Indonesia. Kalau Amerika punya MIT, maka Indonesia punya ITB, begitu kebanggaan kami kala itu (maklumlah masih mahasiswa baru :-)). Pokoknya nama MIT top abis kata anak muda zaman sekarang.

Kembali ke cerita Pak Ali tadi. Pak Ali pernah berkerja di perusahaan Boeing, namun Presiden Habibie memanggilnya pulang. Ketika pulang ke Indonesia tahun 1991 dia justru merintis usaha membuat sepatu, sangat bertolak belakang dengan keahliannya sebagai enjinir pesawat terbang. Perusahaan sepatunya tumbuh menjadi perusahaan besar dan memiliki karyawan 5000 orang.

Satu hal yang saya kagumi dari orang ini adalah ucapannya yang rendah hati: “Hidup ini bagi saya yang terpenting adalah memberi manfaat bagi orang banyak. Di Pasuruan ini, saya bisa memberi pekerjaan pada ribuan orang. Kalau bekerja di luar negeri, manfaatnya hanya buat saya saja. Jadi saya memilih yang pertama“.

Orang hebat nih, kata saya dalam hati. Dia memilih hidup yang memberi manfaat kepada banyak orang ketimbang untuk dirinya sendiri saja.

~~~~~~~~~~

Dari MIT kita kembali ke ITB. Saya pun punya beberapa alumni (mantan mahasiswa saya) yang memilih hidup pulang ke kampung halaman dan berkarya pada bidang yang jauh dari dunia enjiniring di ITB. Seorang mahasiswa bimbingan saya memilih pulang ke Jawa Timur untuk meneruskan usaha ayahnya yang mempunyai pabrik kerupuk. Kerupuk jelas sangat jauh berbeda dengan dunia informatika. Kalau dia mau dia bisa bekerja di Jakarta di perusahaan besar dengan gaji yang jauh lebih besar dari jualan kerupuk. Tetapi dia memilih meneruskan usaha ayahnya karena pabrik kerupuk itu sudah menghidupi banyak orang, sayang jika pabrik ditutup karena tidak ada yang mengelola. Jika pabrik ditutup berarti ratusan orang akan kehilangan pekerjaan.

Seorang mahasiswa saya yang lain memilih pulang kampung untuk membina pesantren. Kesan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tertinggal ingin dipupusnya. Dia terjun langsung ke sana. Ada ratusan santri di pesantren itu, dan dia merasa kehadirannya mungkin lebih berguna bagi para santri itu. Bagi saya, pilihan hidupnya ini termasuk pilihan yang luar biasa. Bagi orang lain lulusan Informatika?komputer itu identik dengan gaji besar, namun dia memilih mengabdikan hidupnya di pesantren.

~~~~~~~~~~~

Ada lagi satu kisah luar biasa tentang alumni kampus ITB yang pernah saya baca di sebuah majalah. Sudah lama sekali saya baca kisah itu, tetapi saya tetap masih ingat dan akan selalu ingat, karena kisah hidup alumni ini sangat berkesan bagi saya. Begini ceritanya.

Anda pernah mendengar Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi? Tahu di mana letak Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi? Dua pulau kembar ini terletak di Selat Sunda (antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa), tidak jauh dari Pulau Krakatau yang terkenal dengan gunung apinya yang dahsyat itu. Secara administratif kedua pulau ini masuk ke dalam Propinsi Lampung.

Peta Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi

Peta Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi

Di salah satu pulau ini (saya lupa di Pulau Sebuku atau Pulau Sebesi) ada seorang alumni Teknik Industri ITB (saya lupa namanya) yang memilih pulang kampung daripada bekerja di kota besar seperti Jakarta. Gemerlap Jakarta ditinggalkannya, Pulau Sebuku dan Pulau Sebesi memanggilnya. Sebagai putra kelahiran Lampung, dia melihat potensi alam kedua pulau ini luar biasa, namun di sisi lain dia melihat para pemuda di kedua pulau tersebut masih banyak yang menganggur. Selama ini kalau tidak ke Bandar Lampung, para pemuda Sebuku dan Sebesi merantau ke Jakarta menjadi pekerja sektor informal.

Dia melihat di Sebuku dan Sebesi banyak tumbuh pohon kelapa, tetapi pemanfaatan kelapa selama ini hanya sekadar dijual ke daerah Lampung di daratan Sumatera. Dia berpikir bagaimana meningkatkan nilai tambah kelapa itu. Akhirnya setelah lama merenung dia terpikir untuk membuat pabrik minyak kelapa. Berbekal ilmu yang diperoleh di kampus, dia merintis usaha pengolahan buah kelapa menjadi minyak goreng. Dari usahanya ini dia bisa mempekerjakan para pemuda pulau yang selama ini cuma menganggur. Melalui usahanya itu dia sudah membantu penghidupan banyak orang, dan yang paling penting adalah dia memberi banyak manfaat kepada penduduk pulau. Saya sudah tidak tahu bagaimana kelanjutan pabrik minyak kelapanya itu, apakah masih ada atau sudah tutup. Saya sendiri belum pernah ke pulau Sebuku dan Sebesi, namun saya pernah melewati kedua pulau ini ketika dulu pulang kampung dengan kapal PT Pelni dari Tanjung Priok ke Teluk Bayur Padang.

~~~~~~~~~~~~~~

Bagi saya, kisah-kisah orang yang luar biasa itu adalah sumber inspirasi. Tidak harus bekerja di perusahaan besar untuk menjadi orang bahagia, justru berkarya yang memberikan manfaat bagi banyak orang adalah kebahagiaan yang tiada taranya. Seperti yang dikatakan oleh Musashi (seorang samurai Jepang):

Hidup lebih dari harus sekedar tetap hidup. Masalahnya, bagaimana membuat hidup itu bermakna, memancarkan cahaya gemilang ke masa depan, sekalipun harus mengorbankan hidup itu sendiri. Bila ini sudah tercapai, maka tidak ada bedanya dengan berapa lama hidup itu.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, Seputar ITB. Tandai permalink.

6 Balasan ke Jualan Sepatu atau Jualan Kerupuk (Lulusan MIT dan Lulusan ITB)

  1. Sinaga17 berkata:

    kembali ke passion masing2, ada yg suka kerja di perusahaan ada yg senang mengambil resiko dan berwirausaha..🙂

  2. Muhammad Bakri berkata:

    Setuju pak, hidup itu harus berkarya. Karya ini punya definisi yang beragam tergantung individu. Tetapi semua definisi karya punya kesamaan, yaitu kemanfaatan bagi orang banyak. Mereka yang berkerja di perusahaan, berkarya dengan memajukan perusahaan tanpa sibuk menghitung pendapatan pribadi. Mereka yang membuka usaha berkarya dengan memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Mereka yang guru atau dosen, berkarya dengan menjadi inspirasi bagi murid atau mahasiswanya.

  3. edisonmanik berkata:

    berkarya dan bermanfaat. sangat inspiratif

  4. pembelajar berkata:

    Luar biasa inspiratif kisah pak Ali ini. Memang mungkin dengan gelar MIT dan bekerja di Boeing, pak Ali bisa menjadi manager atau senior engineer, tapi ya mungkin begitu-begitu saja nasibnya.

    Sedangkan di Indonesia, beliau bisa merubah nasib 5000 orang dan keluarganya, merubah citra Indonesia di mata internasional. Menjadi kaya secara finansial dan batin. Itulah seorang pemenang sejati.

    Mengingatkan diri saya sendiri,never give up for your dream. Saya-pun setelah mendapatkan doktor engineering dari universitas di Eropa, mendapat pekerjaan bagus sebagai researcher di negara yang luar biasa indah di Eropa, tapi kalau saya kembali ke Indonesia jauh lebih banyak yang bisa saya dapatkan dan lakukan.

    Pulang ke Indonesia, pernah putus asa karena tidak semudah yang saya pikir hingga saya sempat menganggur dan berjualan pizza buatan sendiri (skill yang saya pelajari dengan sangat baik di Eropa), mengutuk habis-habisan keputusan saya balik ke Indonesia sambil mencaci maki pemerintah..

    Namun saya bangkit, berpikir positif dan optimis dan bergaul, bergaul dan bergaul, menulis, menulis dan menulis… Sehingga akhirnya saya bisa mendapat beberapa tawaran posisi yang bagus dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Hingga saya overloaded dengan banyaknya kesempatan yang bisa saya lakukan di Indonesia….

    Mungkin di Eropa, saya hanya menjadi seorang researcher atau paling banter professor, atau senior engineer di industri, di Indonesia saya bisa berbuat jauh lebih banyak, Ada 1001 kesempatan di negara ini yang masih terbuka lebar. Karena negeri ini masih membutuhkan banyak anak bangsa yang cerdas, inovatif dan kreatif…… sementara di luar negeri orang-orang seperti itu sudah terlalu banyak…..sehingga banyak lulusan PhD brilian di luar negeri yang hanya menjadi supir taksi, waiter atau penjaja kebab.

    mr Ali hanya salah satu dari putra bangsa yang bisa berjaya di luar negeri namun lebih jaya lagi di Indonesia, masih banyak Ali-Ali yang lain…

    Sementara yang terlalu banyak di beritakan di Indonesia adalah sisi negatifnya, orang pintar disia-siakan pemerintah, orang pintar sengsara di Indonesia, orang pintar balik ke Jepang, balik ke Jerman dan seterusnya…sementara kisah orang pintar yang balik ke Indonesia, membangun perusahaan, membangun universitas dan institusi riset, menjadi pemimpin dan pengambil keputusan di berbagai industri dsb jarang sekali di-expose… lebih banyak yang di-expose adalah orang-orang pintar Indonesia yang berjaya di luar negeri … sambil tidak lupa mengeluhkan kondisi dan keterbatasan negeri sendiri….

    Best of luck mr Ali Tanuwidjaja.. you are the inspiration for all of us!

  5. dewabodo berkata:

    Nah ini akhirnya ketemu juga artikel yang membahas pengetahuan daripada uang
    Iya pak, saya mendalami Sipil enjinering juga. Memang uang yang didapat banyak
    Tapi kenapa kok saya lebih bahagia ketika pas hidup uang pas – pasan , lalu berbagi bersama teman, menikmati hidup. Hidup berasa adem ayem. Beda rasanya kalau jd pengepul uang hehe

    Apalagi bisa berbagi ilmu dengan yang kurang, dipelosok – pelosk, jadi mereka tidak perlu konsultan komersal ataupun ditipu mahalnya bahan material. Rasanya bahagia sekali pak karena mereka tidak kebingungan.🙂

    Berandai – andai jika uang itu bukanlah benda, tapi sebuah pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s