Lembaga Survey Menjadi Alat Propaganda?

Pemilu 2014 telah menjatuhkan kredibilitas lembaga-lembaga survey. Prediksi mereka sebagian besar salah dan memang sering salah dalam berbagai Pemilu dan Pilkada. Partai yang diklaim mendapat suara kecil dan tidak lolos ambang parlemen (umumnya partai-partai berbasis Islam seperti PKB, PAN, PPP, dan PKS) ternyata mendapat suara signifikan, kecuali untuk PKS yang mengalami penurunan sedikit. Partai yang diprediksi menang tebal (PDIP) dan dominan ternyata tidak terbukti. Efek Jokowi yang digembar-gemborkan oleh lembaga-lemabga survey tersebut ternyata hanya pepesan kosong. Demokrat tidak jatuh-jatuh amat, Gerinda melesat dua kali lipat, dan Golkar tetap stagnan. Hasil-hasil ini sangat jauh berbeda dari prediksi lembaga-lembaga survey yang digaungkan sejakk jauh hari hingga memasuki masa tenang.

Lembaga survey boleh saja berkilah bahwa ada sekian puluh persen responden yang belum menentukan pilihan partai, karena itu hasilnya boleh saja meleset. Namun dengan gembar-gembor margin eror 1% hingga 1,5% (sehingga dikesankan hasil surveynya sangat akurat) mengapa deviasinya begitu jomplang?

Saya menangkap kesan banyak lembaga survey tersebut yang tidak netral dalam melakukan survey. Menurut saya survey yang mereka lakukan adalah pesanan partai atau lembaga tertentu dan karena itu hasilnya cenderung bias. Coba periksa, apakah ada lembaga survey yang menyebutkan sumber pendanaannya? Pasti tidak mau, bukan? Melakukan survey itu biayanya mahal, tidak mungkin lembaga survey itu mendanai sendiri surveynya, mereka pasti ingin mencari duit juga. Sumber penghidupan mereka adalah dari si pemberi dana. Maka, sumber dana dari partai atau kelompok tertentu adalah sebuah keniscayaan, dan hasil surveynya tentu seharusnya “memuaskan” pemberi dana tadi. Ah, nggak tahulah, apakah hasil survey tersebut dimanipulasi oleh lembaga-lembaga tadi untuk menampilkan hasil yang diinginkan oleh sumber dana.

Saya juga mempertanyakan metodologi yang mereka gunakan dalam melakukan survey. Mosok untuk 250 juta lebih penduduk Indonesia hanya diambil sampel 1000 hingga 3000 orang saja? Dalam teori statistik saya pelajari jika ukuran sampelnya sangat sedikit dibandingkan dengan ukuran populasi maka eror estimasinya akan sangat besar.

Dalam Pemilu tahun 2014 ini lembaga-lembaga survey telah berperan sebagai alat untuk menggiring opini publik ke partai tertentu. Tokoh atau partai tertentu diagung-agungkan, sementara partai-partai lain dipojokkan. Lembaga-lembaga survey berkali-kali memprediksi Pemilu 2014 adalah kuburan bagi partai-partai Islam. Dengan dukungan media yang menjadi corongnya, partai-partai Islam itu diprediksi akan tamat riwayatnya. Lihatlah hasil survey yang diberitakan di dalam media ini: Survei: Partai Islam Tak Diminati Pemilih Pemula, atau berita ini: Pemilih Partai Islam ‘Mengungsi’ ke PDI Perjuangan. Dengan memaparkan hasil-hasil survey tersebut mereka menggiring opini publik untuk menjauhi partai-partai Islam dan mengarahkan ke partai tertentu.

Pertanyaannya, kenapa justru partai-partai islam yang dizalimi? Entah skenario apa yang diinginkan oleh lembaga-lembaga atau orang dibalik lembaga tersebut. Saya menduga lembaga-lembaga survey tersebut telah menjadi alat propaganda politik. Mereka tidak lagi berdiri di atas obyektivitas ilmu, tetapi mereka telah menyalaghunakan ilmunya untuk kepentingan yang tidak berdasar.

Kesalahan kita adalah mempercayai hasil-hasil lembaga survey tersebut. Pesan moralnya janganlah mempercayai hasil-hasil lembaga survey. Lembaga-lembaga survey telah gagal menangkap realita yang terdapat di dalam masyarakat Indonesia.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Lembaga Survey Menjadi Alat Propaganda?

  1. technopharm berkata:

    Mungkin karena banyak yang masih bingung menentukan pilihan, plus kecenderungan orang indonesia untuk ngikut yang menang, maka survei-survei seperti ini diadakan pak.
    Soalnya aneh juga melihat ada banyak lembaga survei yang melakukan survei berkali-kali, buat apa?

  2. Abigail G.A. berkata:

    “there are kinds of lies: lies, damned lies, and statistics”

  3. rinisyuk24 berkata:

    Masalahnya, kenapa justru partai-partai islam yang dizalimi? Entah skenario apa yang diinginkan oleh lembaga-lembaga atau orang dibalik lembaga tersebut. Saya menduga lembaga-lembaga survey tersebut telah menjadi alat propaganda politik. Mereka tidak lagi berdiri di atas obyektivitas ilmu, tetapi mereka telah menyalaghunakan ilmunya untuk kepentingan yang tidak berdasar. –>
    Faktanya seperti itu, siapa di balik lembaga survey tersebut yang harus diketahui. Sebagai muslim, jangan telan bulat2 apa yang tersaji di media, apalagi yang memojokkan partai islam, media mainstream apalagi, kita tahu siapa pemilik-pemiliknya.

  4. Nurachman Ihya' berkata:

    semakin ditekan maka semakin kuat pula >> partai islam….semoga tahun ini awal meretasny persatuan partai berbasis islam…

  5. hashbang berkata:

    berlindung dengan alasan responden Rahasia/belum menentukan pilihan, scr statistik juga jumlah sampel jg kurang kan, kalo 200jt penduduk ada formula statistiknya dan akan susah dipenuhi karena membutuhkan sumberdaya besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s