Jokowi dan Mahasiswa ITB

Aksi demo mahasiswa ITB yang menolak kehadiran Pak Jok(owi) yang akan mengisi kuliah umum di Kampus ITB pada hari Kamis yang lalu masih menyisakan polemik di milis-milis, media sosial, dan media daring. Di milis dosen ITB aksi mahasiswa tersebut menimbulkan diskusi dan perdebatan hangat hingga tulisan ini dibuat. Saya tegaskan bahwa ini adalah aksi mahasiswa ITB sebagai sebuah komunitas, bukan aksi sebagian mahasiswa, karena yang melakukan aksi demo tersebut adalah atas nama Keluarga Mahasisa (KM) ITB. Karena KM merepresentasikan atau mewakili mahasiswa ITB, maka aksi tersebut dapat disebut sebagai aksi mahasiswa ITB keseluruhan, terlepas ada yang tidak setuju, tidak mau, atau tidak mau tahu (apatis).

Aksi demo di pintu gerbang kampus, saya potret hari Kamis yang lalu.

Aksi demo di pintu gerbang kampus, saya potret hari Kamis yang lalu.

Menurut yang saya simak dari berbagai pemberitaan, mahasiswa ITB tidak menolak kehadiran Pak Jok sebagai personil, tetapi mereka menolak politisasi kampus. Meskipun kehadiran Pak Jok adalah sebagai Gubernur DKI, namun sukar membedakan Pak Jok sebagai kader PDIP, Gubernur DKI, dan Calon Presiden (capres) dari PDIP. (Baca: Jokowi Didemo Saat Akan Kuliah Umum, Ini Sikap Keluarga Mahasiswa ITB). Walaupun KM-ITB sudah melakukan klarifikasi, namun pemberitaan di media daring dan diskusi di media sosial berkembang ke arah yang liar dan tidak terkendali. Mahasiswa ITB dibuli-buli di media sosial. Ada yang curiga bahwa aksi menolak Pak Jok didalangi oleh partai tertentu, atau mahasiswa-mahasiswa yang demo tersebut terkontaminasi politik partisan, demo bayaran, bahkan Masjid Salman yang tidak ada hubungannya dengan demo tersebut ikut dibawa-bawa dalam persoalan ini. Karena ini tahun politik, maka apapun bisa dipolitisasi dan berkembang menjadi teori konspirasi.

Aksi demo mahasiswa ITB itu menurut saya cukup mengagetkan, sebab sudah cukup lama mahasiswa ITB berada dalam diam. Sikap mahasiswa yang apatis terhadap politik dan lebih menyibukkan diri dengan urusan kuliah dan aktivitas kampus telah membuat kampus ITB tidak lekat lagi dengan aksi-aksi demonstrasi seperti romantisme mahasiswa sebelum tahun 1998. Tiba-tiba saja mereka melakukan aksi demo yang tergolong besar, bersatu padu, membuat tameng, sampai-sampai adu ngotot dan tarik-tarikan dengan pihak keamanan. Ini artinya mahasiswa ITB sudah mulai aware dengan persoalan bangsa. Baguslah kalau sudah mulai peduli.

Dalam pandangan saya kehadiran Pak Jok ke kampus ITB momen waktunya memang tidak pas, yaitu menjelang masa Pilpres, karena itu wajar jika mahasiswa ITB menolak karena dikhawatirkan membawa kampanye terselubung. Jika dia datang seusai Pilpres tentu ceritanya akan lain. Meskipun demikian, bukan berarti aksi demo itu tanpa kritik. Walaupun dalam beberapa tulisan saya sering mengkritisi Pak Jok, namun cara-cara yang ditempuh oleh para mahasiswa tersebut menurut saya kurang elegan kalau tidak bisa dibilang berlebihan. Kenapa harus pakai adu otot segala? Kenapa tidak pakai otak? Bukankah mahasiswa itu kaum intelek yang dapat berpikir dengan rasio dan nalar. Pak Jok diundang oleh ITB, maka seharusnya pihak pengundanglah yang harus didemo dan diprotes, bukan Pak Jok nya. Begitupun dalam melakukan protes ada cara yang lebih intelek. Kalau anda tetap menolak politisasi kampus oleh Pak Jok, anda tidak perlu menghadang Pak Jok memasuki kampus dengan otot. Anda cukup berbaris di depan gerbang membawa poster dan spanduk penolakan politisasi kampus, nanti ketika Pak Jok masuk dia akan membacanya. Cara demo seperti ini sering saya lihat di TV yang dilakukan oleh masyarakat Eropa ketika mereka melakukan demo dengan cara damai. Toh menurut saya Pak Jok bakal tahu diri bahwa dia diundang memberi kuliah umum, bukan berbicara masalah copras capres. Kita belum mendengar apa yang dia sampaikan, maka kita belum dapat menyimpulkan dia melakukan kampanye terselubung, bukan?

Netralitas kampus sih saya setuju jika itu diartikan kampus menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik. Tetapi, politisasi kampus menurut saya istilah yang absurd. Apa artinya? Politik masuk kampus? Politisi masuk kampus? Menjadikan kampus untuk tujuan politik? Beberapa bulan lalu Pak Aburizal Bakrie dan Partai Golkar pernah datang ke kampus ITB Jatinangor untuk melakukan diskusi, tetapi saya tidak mendengar ada aksi demo/penolakan dari mahasiswa (mahasiswa tidak tahu atau karena Ical alumni ITB?). Pak Hatta Radjasa pun sudah beberapa kali ke kampus, toh adem-adem saja. Dalam pandangan saya silakan saja para politisi masuk ke kampus dan melakukan diskusi, silakan saja mereka memaparkan pandangan-pandangannya. Kalau perlu undang semuanya, tidak hanya satu orang. Toh mahasiswa (ITB) cukup cerdas untuk menilai dan memilah, mereka tidak akan menelan bulat-bulat begitu saja pandangan-pandangan tersebut. Mereka dapat mengritisi, mencecar, dan beradu argumentasi dengan para politisi itu. Kalau ini yang terjadi maka terciptalah mimbar akademis yang sehat. Mahasiswa tidak anti politik, mereka perlu tahu politik, toh ini negara milik mereka juga.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, Seputar ITB. Tandai permalink.

16 Balasan ke Jokowi dan Mahasiswa ITB

  1. Reinaldo Michael berkata:

    Memang tujuan aksi kemarin hanya ingin mengingatkan pak,tidak ada blokir jalan dan dorong2an dengan satpam.
    Tapi ada beberapa Mahasiswa yang beraksi diluar kesepakatan KM ITB,jadinya seperti itu.

  2. silvyavyaa berkata:

    Ya, Pak. Berita pemblokiran Pak Jokowi memang mengagetkan.
    Saya setuju dengan pendapat Bapak bahwa kurang lebih masalah waktu/momen yang tidak pas menjadi faktor penting untuk melihat kejadian ini.
    Tahun kemarin Pak Jokowi pun datang ke kampus saya untuk memberikan kuliah umum, dan kalau boleh saya katakan: beliau diterima dengan tangan terbuka. Tentu saja dapat diinterpretasikan bahwa karena waktu itu beliau belum dicalonkan menjadi presiden.

  3. noto berkata:

    Agak unik ya, JKW memang baru sebulanan resmi menjadi capres, sedangkan Hatta Rajasa dan Aburiezal Bakri sudah lama menjadi capres tapi tak ada penolakan. Menurut saya ini tetap tidak fair dan childish apalagi kalau KM ITB juga tidak bereaksi terhadap event GAMAIS yang mengundang AM, MD, dll yang notabene mereka juga resmi masuk bursa. Jawaban tidak tegas dari ketua KM ITB terkait itu yang menyatakan akan dibicarakan dengan GAMAIS jelas absurd! Poster sudah bertebaran dimana-mana tapi tak ada reaksi dari KM ITB yang seharusnya memperingatkan rekannya sehubungan dengan netralitas kampus. Acara tersebut jelas sangat politis karena membicarakan figur pemimpin negara yang ideal.
    Tanpa perlu melakukan Framing Analysis pun ini sudah menjadi fakta yang sangat terbaca bagi para jurnalis dan publik yang netral. So….
    Sependapat dengan bapak terkait dengan bangkitnya semangat dan kepedulian mahasiswa itb terhadap sosial politik nasional. Tapi akan lebih hebat lagi jika kekuatan mahasiswa yang melawan ketidakadilan ditampilkan saat ARB (yg notabene alumni juga) untuk bertanggungjawab atas Lapindo dan hutang pajak yang merugikan negara dan rakyat itu. Gugat.

    Sangat jelas kan kenapa publik justru menilai statement netralitas justru menjadi paradoks dengan kenyataannya.

    Salam

  4. siapa aja boleh berkata:

    salam
    Menurut saya pak jokowi pasti cowo
    salam

  5. hestzner berkata:

    mahasiswa ITB bukan pedangang pasar yang mengerubungi dan minta salaman langsung. mereka banyak yg kritis tidak begitu saja terninabobokan dengan gempuran puluhan ribu berita di internet dan media massa😀

    • noto berkata:

      Pada dasarnya mahasiswa itb menurut saya agak terlalu lebay dan ke- GR an dengan ketakutan akan muncul berita di media bahwa mahasiswa itb dukung Jokowi.
      Beberapakali Jokowi datang ke UI, liputan media biasa aja karena sikap mahasiswa juga biasa saja. Memang seminar jadi lebih ramai, tapi mahasiswa UI juga tidak berebutan minta salaman atau ngantri buat berfoto, juga tanpa poster dan spanduk yang justru mengundang ketertarikanmedia. Lagian coba belajar dulu memahami arti “politisasi” dan arti kata “netral”

  6. berita terkini berkata:

    pasti ada sisi baik yg ingin di dapat dari kalangan mahasiswa.

  7. rizkiharit berkata:

    “sukar membedakan Pak Jok sebagai kader PDIP, Gubernur DKI, dan Calon Presiden (capres) dari PDIP”

    Apakah sesukar membedakan Aula Timur, Aula Barat, dan Sabuga?

    “Beberapa bulan lalu Pak Aburizal Bakrie dan Partai Golkar pernah datang ke kampus ITB Jatinangor untuk melakukan diskusi, tetapi saya tidak mendengar ada aksi demo/penolakan dari mahasiswa (mahasiswa tidak tahu atau karena Ical alumni ITB?)”

    Exactly. Mentalitas inilah yg telah tertanam secara tidak sadar dalam psyche mahasiswa ITB. “You’re not one of us, therefore you’re not belong here.”

  8. Alumni'06 berkata:

    “Sikap mahasiswa yang apatis terhadap politik dan lebih menyibukkan diri dengan urusan kuliah dan aktivitas kampus telah membuat kampus ITB tidak lekat lagi dengan aksi-aksi demonstrasi seperti romantisme mahasiswa sebelum tahun 1998. Tiba-tiba saja mereka melakukan aksi demo yang tergolong besar, bersatu padu, membuat tameng, sampai-sampai adu ngotot dan tarik-tarikan dengan pihak keamanan. Ini artinya mahasiswa ITB sudah mulai aware dengan persoalan bangsa. Baguslah kalau sudah mulai peduli.”

    Sebetulnya bukan apatis terhadap politik. Mahasiswa ITB dididik tidak untuk berdemo, tetapi dikader untuk menjadi pemimpin dan pengusaha yang dapat memberdayakan potensi indoensia. Intinya, daripada menghabiskan waktu dengan berdemo.. lebih baik menghimpun kekuatan dan keilmuan untuk menjadi penggerak yang dapat merubah masa depan. Akan lebih baik bila memberikan aksi nyata daripada berdemo yang bisa disamakan dengan “keluhan” dari pihak yang tidak memlilki kemampuan dan pengetahuan yang cukup.

  9. iqbal berkata:

    kecewa dengan ITB….
    lain kali berfikirlah sebelum berbuat, walaupun rencananya hanya 40orang. kalau emang ngaku mahasiswa, tentu demo-nya berbeda dengan para buruh. diskusi dong. jangan main usir

    tertarik dengan tulisan “bapak undang anak yang usir” kasihan jokowi….
    padahal ingin kerjasama

  10. andien berkata:

    Masih banyak kampus yg lebih hebat selain itb, buat apa di ributin, hanya mengangkat nama joko widodo dan itb,.

  11. andien berkata:

    Masih banyak kampus yg lebih hebat dari itb,.buat apa di ributin, hanya mengangkat nama joko widodo dan itb,.

  12. idan berkata:

    saya rasa terlalu melebih lebihkan berita ini.

  13. Herry Budiyanto berkata:

    Selamat sore. Beredar kabar seorang mahasiswa UNISA ( Universitas Al-Ihya ) berdemo sendirian di depan Istana Negara, Jakarta. Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam tersebut menggelar demo dalam rangka menyampaikan pendapat atau aspirasi serta hak-haknya. Dia di duga stress karena tidak mendapatkan nilai maksimal/tidak lulus pada salah satu mata kuliah di kampusnya. Dia juga membawa spanduk yang bertuliskan ” Turunkan Jokowi & Turunkan J-K “. Cukup sekian. Terima kasih. Sampai jumpa. Wassalam.

  14. Herry Budiyanto berkata:

    Selamat sore. Beredar kabar seorang mahasiswa UNISA ( Universitas Al-Ihya ) berdemo sendirian di depan Istana Negara, Jakarta. Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam tersebut menggelar demo dalam rangka menyampaikan pendapat atau aspirasi serta hak-haknya. Di duga dia menggelar demo tersebut karena tidak punya teman atau pendukung atau juga ormas. Di duga dia stress karena tidak mendapatkan nilai maksimal/tidak lulus pada salah satu mata kuliah di kampusnya. Dia juga membawa spanduk yang bertuliskan ” Turunkan Jokowi & Turunkan J-K “. Ia juga bergerak ke kantor periklanan yang letaknya berada di samping kantor Samsat, Jakarta Timur yang sebelumnya telah di pagari dan di jaga ketat oleh 1 SSK pasukan brimob dengan menggunakan kawat berduri dan 1 unit mobil Barracuda. Pihak kepolisian khususnya baik dari satuan reskrim, satuan sabhara dan satuan intelkam juga diturunkan dalam upaya menghalau upaya/aksi nekat mahasiswa tersebut tidak lupa aparat juga menurunkan kurang lebih sekitar 15 mobil dari Direktorat Pengamanan Obyek Vital Polda Metro Jaya. Cukup sekian. Terima kasih. Sampai jumpa. Wassalam.

  15. Herry Budiyanto berkata:

    Selamat sore. Beredar kabar seorang mahasiswa UNISA ( Universitas Al-Ihya ) berdemo sendirian di depan Istana Negara, Jakarta. Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam tersebut menggelar demo dalam rangka menyampaikan pendapat atau aspirasi serta hak-haknya. Di duga dia menggelar demo tersebut karena tidak punya teman atau pendukung atau juga ormas. Di duga dia stress karena tidak mendapatkan nilai maksimal/tidak lulus pada salah satu mata kuliah di kampusnya. Dia juga membawa spanduk yang bertuliskan ” Turunkan Jokowi & Turunkan J-K “. Ia juga bergerak ke kantor periklanan yang letaknya berada di samping kantor Samsat, Jakarta Timur yang sebelumnya telah di pagari dan di jaga ketat oleh 1 SSK pasukan brimob dengan menggunakan kawat berduri dan 1 mobil barracuda. Pihak kepolisian khususnya baik dari satuan reskrim, satuan sabhara dan satuan intelkam juga diturunkan dalam upaya menghalau upaya/aksi nekat mahasiswa tersebut tidak lupa aparat juga menurunkan kurang lebih sekitar 15.000 mobil dari Direktorat Pengamanan Obyek Vital. Cukup sekian. Terima kasih. Terima kasih. Sampai jumpa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s