Ketika Anak Melihat Situs Po**o

Mendidik anak zaman sekarang sangat berat. Setiap hari di sekelilingnya bertebaran perangkap yang dapat menghancurkan masa depannya. Anak kita kan tidak 24 jam bersama kita, ada masa dia bersama teman-temannya. Nah, pergaulan dari teman itulah yang dapat menimbulkan salah satu dari dua kemungkinan: pengaruh baik dan pengaruh buruk.

Suatu kali anak saya yang memakai gadget ibunya dikirimi pranala (link ) di Internet dari temannya yang sedang chatting melalui WhatsApp. Temannya menyuruh buka, dan dibukalah. Ternyata isinya gambar anime Jepang yang sangat menjijikkan. Meskipun cuma gambar kartun, tetapi gambar-gambarnya memperlihatkan (maaf) hubungan suami-istri yang tidak pantas dilihat. Kami mengetahui pranala tersebut karena browser Internet menyimpan pranala yang pernah kita buka (cookies). Dari pengakuannya, dia hanya melihat sekilas saja, setelah itu langsung menutupnya. Saya percaya pengakuannya karena sejak awal kami selalu mengajarkan apa yang pantas dan tidak pantas dilihat. Ada perasaan bersalah pada dirinya setelah melihat gambar-gambar tersebut.

Saya termasuk orang tua yang sangat ketat menjaga anak-anak dari pengaruh buruk teknologi informasi. Terserah saya dianggap orang tua yang konservatif dalam mendidik anak. Ini nggak boleh, itu nggak boleh, serba banyak larangan. Menonton TV saja dibatasi, apalagi menggunakan gadget. Sampai sekarang saya masih belum membelikan ponsel kepada anak kami, karena saya sadar sesadarnya bahwa penyebaran pornografi melalui gadget sudah luar biasa kalau tidak bisa disebut mencemaskan. Gadget yang multimedia (punya kamera dan aplikasi video), punya bluetooth, dan bisa internetan adalah sarana efektif penyebaran konten pornografi (melalui gambar, video, dan game). Sekarang anak-anak sudah punya gadget sendiri, punya ponsel sendiri, sangat terampil menggunakan komputer tablet, termasuk berselancar di dunia maya. Hampir semua gadget sekarang bisa mengakses internet, dan internet adalah media yang efektif untuk mengakses situs porno.

Boleh jadi anak-anak sekarang sudah biasa melihat konten pornografi. Penelitian Bu Elly Risman membuat kita terperanjat bahwa 98 persen anak-anak Indonesia pernah mengakses media-media berbau pornografi. Bahaya pornografi sudah banyak dibahas, salah satunya pada tulisan ini: Kerusakan Otak Akibat Pornografi Mirip Mobil Ringsek Akibat Benturan Keras. Otak orang dewasa saja bisa rusak akibat kecanduan pornografi, apalagi otak anak-anak yang masih labil dan dalam fase perkembangan.

Parahnya lingkungan pergaulan anak-anak zaman sekarang membuat kita harus sadar, bahwa pendidikan yang sebenarnya adalah di rumah. Orangtua harus lebih banyak memberikan perhatian pada pergaulan anak-anaknya. Meskipun sudah diberi tameng ilmu agama yang kuat sekalipun, namun tidak ada jaminan anak kita bisa kuat. Pengaruh dari lingkungannya sangat kuat untuk menggoda. Kita perlu lebih tegas lagi menjaga anak-anak kita dari pengaruh pornografi. Kalau perlu selalu rutin memeriksa isi ponselnya, selalu rutin memeriksa isi tas dan lemarinya, bertanya mau kemana, perlu tahu siapa saja teman-temannya, dan selalu memeriksa cookies di browser internet. Terserah dibilang orang sebagai orangtua kolot dan ketinggalan zaman, ini semua demi kebaikan masa depan anak-anak kita juga.

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Ketika Anak Melihat Situs Po**o

  1. Musim Semi berkata:

    Sebagai orang tua mesti hati-hati ya pak dalam mendidik anak-anak yang telah dikelilingi dg teknologi…salam kenal pak… ane juga urang awak🙂

  2. sari berkata:

    betul sekali pak…kita udah ketat jagain anak dari konten-konten gitu aja masih bisa kebobolan…ini yang saya takutkan, kita udah proteksi anak tapi di luar sana dia bisa saja terpapar pornografi dari gadget teman-temannya…

  3. mardianis berkata:

    keluhan semua orang tua tentang pengaruh teknologi. anak saya kecanduan game online sehiingga kuliahnya di UGM terganggu malam jadi siang siang jadi malam, ketahuan telah tahun ke 5 belum selesai aduh menangis bombai saya dikampus, sy mengira anak sy seperti sy punya daya juang yg kuat ternyata, ???mudah2 dengan sisa waktu dia sadar dan berobah

  4. Ismail Hasan berkata:

    Reblogged this on dunia ismail and commented:
    Kadang juga miris, melihat begitu bebasnya orang tua memperlakukan anak. Tidak ada orang tua yang tidak sayang anak, namun sayang yang bagaimana. Perkembangan anak itu bertahap, ada waktunya memberikan fasilitas ini, itu. Semua ada saatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s