Tiga Stereotip Mahasiswa dalam Tugas Kelompok

Tugas-tugas kuliah di ITB ada yang merupakan tugas perorangan dan ada pula tugas kelompok. Tugas kelompok dikerjakan oleh satu tim yang terdiri dari beberapa orang mahasiswa. Di Informatika ITB tempat saya mengajar, tugas kelompok itu disebut tugas besar (tubes) yang umumnya adalah membuat sebuah program aplikasi yang kompleks.

Hasil pengamatan saya selama ini, dalam tugas kelompok itu biasanya terdapat tiga stereotip mahasiswa, yaitu mahasiswa tipe merah, tipe biru, dan tipe kuning.

Tipe merah: ini tipe mahasiswa yang mengerjakan sebagian besar tugas inti. Kalau di Informatika ini tipikal mahasiswa yang kerjaannya sebagai coder.

Tipe biru: ini seksi laporan atau spesialis dokumentasi, yaitu mahasiswa yang kebagian tugas pada saat akhir, yaitu menulis laporan untuk diserahkan ke pemberi tugas (dosen atau asisten).

Tipe kuning: ini seksi “gorengan”, yaitu mahasiswa yang tidak ikut berkeringat, perannya mungkin sebagai penghibur dengan menyediakan makanan (goreng pisang atau sebangsa itu) kepada angota kelompok, atau membanyol (melawak) dengan cerita-cerita heboh sehingga teman-temannya ketawa-ketawa, atau malah tidak berkontribusi apa-apa. Numpang nama saja di laporan tetapi tetap mendapat nilai alias gabut (makan gaji buta).

Stereotip mahasiswa (Sumber: www.Facebook/KartunNgampus

Stereotip mahasiswa (Sumber: http://www.Facebook/KartunNgampus

Ternyata tipe merah, biru, dan kuning itu sudah ada sejak zaman saya kuliah dulu, atau mungkin jauh sebelum saya kuliah. Selalu saja ada mahasiswa di dalam kelompok yang “malas” dalam mengerjakan tugas dan selalu saja ada mahasiswa yang ketempuhan dengan mengerjakan sebagian besar tugas.

Saya kira stereotip ini hanya di Indonesia saja, ternyata juga terdapat di universitas di Eropa. Seorang mahasiswa saya yang kuliah di Inggris menceritakan pengalamannya tentang mahasiswa di sana yang juga gabut dalam tugas kelompok. Nggak di Indonesia, nggak di luar negeri sama saja. Ini masalah mental, menurut saya.

Terus terang tiga stereotip tadi bukan klasifikasi yang baik. Setiap anggota kelompok seharusnya mempunyai peran yang sama dalam mengerjakan tugas. Kalau dihubungkan dengan tugas di Informatika misalnya, maka semua orang di dalam kelompok harus mempunyai pembagian tugas yang merata dalam coding dan pembagian tugas yang merata dalam membuat laporan. Tidak boleh ada orang yang dominan dalam satu peran, begitu pula tidak boleh ada yang mengerjakan yang ringan-ringan saja.

Misalnya untuk membuat program aplikasi yang besar, mahasiswa pertama membuat bagian interface, mahasiswa kedua membuat bagian engine aplikasi, dan mahasiswa ketiga mengintegrasikannya. Jika ada empat orang atau lebih maka tinggal dibagi saja untuk komponen yang lain. Hal yang sama untuk laporan, harus jelas siapa yang menulis apa. Dengan begitu semua mahasiswa memiliki kontribusi yang signifikan dan tidak ada yang gabut. Mendapat ilmu sama-sama dan mendapat nilai sama-sama. Adil dan sama-sama puas. Susah-susah gampang untuk diterapkan, tetapi harus dicoba.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Informatika. Tandai permalink.

6 Balasan ke Tiga Stereotip Mahasiswa dalam Tugas Kelompok

  1. Kang Jodhi berkata:

    Menurut saya ini fenomena interaksi sosial saja. Tak selalu berarti, yang gabut malas, mungkin yang coding memang lebih agresif saja. Pembagian si A koding dan si B dokumentasi ini gampang, soalnya ga ada benturan. Tapi kalau si A dan si C disuruh tandem programming, justru sulit.Masing-masing kan punya preference dan selera sendiri. alhasil daripada tugas ga jadi karena kedua programmernya ribut, ya akhirnya salah satu mengalah.

    Di dunia kerja aja yang ada project management, ada system integration, tetap aja vendor A dan vendor B sering gontok-gontokan.

    Regards

    Kang Jodhi
    http://membacaarahbola.blogspot.com

  2. radhiyatulfajri berkata:

    Reblogged this on Radhiyatul Fajri.

  3. juragan.sipil berkata:

    Yang mahasiswa tipe gorengan ini biasanya yang karirnya mulus…πŸ˜€πŸ˜€

    • adi berkata:

      Bisa jadi begitu. Mungkin tipe gorengan lebih dominan otak kanannya. Dia bisa mendelegasikan hal-hal detil ke orang lain, cukup sebagai koordinator.

  4. arifqodari berkata:

    Saya juga merasakan hal yang sama semasa kuliah S1. Sekarang pun, waktu S2, juga kadang menemui kondisi yang sama. Namun, sebenernya kerja kelompok bisa dimaksimalkan mulai pada saat memilih anggota kelompok. Hasilnya pun bisa lebih baik jika dari awal sudah baik.

    Walaupun kerjaannya sama – sama teknis (coding), tetapi tetap bisa sinkron karena sudah tahu skill masing – masing. Sehingga pekerjaan dapat didelegasikan ke orang yang tepat. Satu orang mengerjakan fungsi A, satu oranglain mengerjakan modul B, dst.

    Penulisan report juga bisa dimaksimalkan jika kolaborasi bisa maksimal. Saat ini kan sudah ada sharelatex, writelatex, dll.

    Just my opinion.

  5. pembelajar berkata:

    Itu adalah pengalaman semua mahasiswa ilmu komputer/informatika dari dulu hingga sekarang.
    Saya juga kuliah Master di luar negeri selalu ada 3 tipe tersebut.

    Pengalaman saya pribadi…

    Yang tipe coder biasanya jadi akademisi, senior engineer atau paling tinggi CTO .
    Yang tipe laporan biasanya jadi birokrat, Project Manager, pengusaha atau sales manager
    yang tipe gorengan nantinya jadi General Manager, VP atau pengusaha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s