Ketika 70 Kepsek dan Guru-Guru SMA Mencuri Soal UN

Apa yang ada dalam benak anda setelah membaca berita di Jawa Pos ini? Sungguh memalukan dan menodai dunia pendidikan di Tanah Air. Guru-guru yang seharusnya memberikan contoh teladan malah melakukan tindakan kriminal: mencuri soal-soal Ujian Nasional (UN) Tingkat SMA tahun 2014. Tidak tanggung-tanggung jumlahnya, 70 orang guru dan kepala sekolah (Kepsek) di Lamongan, Jawa Timur, berkomplot mencuri soal UN dari mobil yang dikawal polisi. Modusnya sungguh rapih dan sudah direncanakan dengan matang, terstruktur, dan sistematiks (baca berita selengkapnya di bawah).

Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Speechless. Sedih dan prihatin bercampur aduk. Mencuri soal UN yang merupakan rahasia negara saja sudah merupakan tindakan kriminal, apalagi membocorkan kunci jawaban kepada para siswanya.

Saya menduga motivasi guru-guru melakukan perbuatan mencuri soal UN itu bukan untuk tujuan mencari uang, tetapi untuk menolong para siswanya agar banyak yang lulus UN, disamping mendapat nilai UN yang bagus. Jika semua siswa lulus UN atau rata-rata nilai UN siswa bagus, maka sekolah jua yang akan mendapat nama. Itu berarti para kepala sekolahnya akan mendapat penilaian bagus dari Dinas Pendidikan, seolah-olah kelulusan yang tinggi atau nilai UN yang bagus tampak sebagai hasil kerja keras para guru dan kepala sekolah bersangkutan.

Namun sayangnya, untuk memperoleh nama baik sekolah mereka melakukannya dengan cara yang salah. Ingin menolong para siswa tetapi caranya tidak benar. Akhirnya begini jadinya, bukan nama baik yang diperoleh, tetapi arang hitam dan kepercayaan yang sudah hilang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

70 Kasek-Guru Berkomplot Curi Soal Unas

SURABAYA – Sikap keras pemerintah bahwa soal ujian nasional (unas) SMA tidak bocor akhirnya terpatahkan. Berdasar keterangan pihak-pihak yang telah ditangkap dan diperiksa polisi, diketahui bahwa soal unas SMA benar-benar telah bocor dan kunci jawabannya sudah menyebar ke mana-mana.

Naskah soal unas itu bocor karena dicuri. Tidak main-main, pencurian tersebut melibatkan sekitar 70 kepala sekolah (Kasek) dan guru yang bekerja secara terstruktur. Semua adalah Kasek dan guru SMA negeri maupun swasta dari Lamongan.

’’Kunci jawaban bukan aslinya. Ini tidak bocor dari pusat. Tapi, ini adalah hasil menjawab sendiri oleh sekelompok guru di Lamongan setelah mereka mencuri naskah soal,’’ kata Kapolrestabes Surabaya Kombespol Setija Junianta Senin (12/5).

Para giuru mencuri? Setija menyatakan bahwa itulah kenyataannya. ’’Pencurian ini dilakukan dengan modus mengelabui polisi yang mengawal proses distribusi naskah soal ketika menuju polsek,’’ terangnya.

Sebelum pelaksanaan unas, naskah soal di setiap kabupaten/kota memang disimpan di mapolres setempat. Dua hari sebelum pelaksanaan unas, naskah soal lantas didistribusikan ke polsek-polsek jajaran. Mekanisme yang sama berlaku di Lamongan. Pada Sabtu (12/4), naskah soal didistribusikan dari Polres Lamongan ke polsek-polsek di seluruh Lamongan.

Distribusi umumnya menggunakan mobil kepala sekolah atau guru. Satu mobil dikawal seorang polisi. Selain itu, ada tiga sampai lima guru yang ikut serta mengawal. Saat perjalanan menuju polsek itulah, naskah soal dicuri. Guru yang turut dalam pengawalan mengajak berhenti polisi untuk makan di rumah makan. Karena yang mengajak adalah guru, polisi pengawal tidak curiga. ’’Pada saat makan, ada salah seorang guru yang mengambil sebundel amplop naskah soal,’’ papar Setija. Sebundel ampol berisi 20 model naskah soal.

Pencurian tidak hanya dilakukan di satu tempat. Sesuai dengan skenario jahat yang telah mereka susun, agar pencurian itu tidak mencolok, setiap satu tempat (satu rombongan guru) hanya kebagian mengambil satu amplop soal. Lantaran unas SMA mengujikan enam mata pelajaran, pencurian dilaksanakan di enam titik dengan sasaran enam mobil berbeda. Setiap tempat (rombongan guru) mengambil satu naskah soal yang berbeda. Karena itu, ketika dikumpulkan, naskah soal enam mata pelajaran yang mereka dapatkan sudah lengkap.

’’Sesungguhnya itu bisa dijawab saat ini. Tapi, kami lakukan gelar perkara dulu dengan Polda Jawa Timur. Yang jelas, naskah soal itu dicuri sekelompok guru,’’ tegas Setija.

Berdasar penelusuran Jawa Pos di Lamongan, kebocoran tersebut tidak terjadi di satu titik. Tetapi, kebocoran itu terjadi di enam titik sekaligus atau sesuai dengan jumlah mata pelajaran yang diujikan dalam unas SMA. Enam titik tersebut adalah Lamongan Kota, Babat, Bluluk, Ngimbang, Kedungpring, dan Karang Binangun.

Di enam titik itu, guru SMA negeri dan swasta saling berkolaborasi. Setiap titik mencuri satu naskah soal sesuai dengan yang disepakati. Misalnya, di Lamongan Kota mereka sepakat mencuri naskah bahasa Indonesia. Jadi, yang dicuri adalah naskah soal bahasa Indonesia.

Naskah tersebut lantas dikumpulkan di dua posko. Yakni, posko Bluluk dan Babat. Di dua posko itu, sudah menunggu puluhan guru terpilih dari SMA negeri dan swasta untuk mengerjakan naskah soal yang sudah dicuri. Karena yang mengerjakan merupakan guru-guru terpilih, pengerjaannya tidak memakan waktu lama. Pengerjaan soal selesai pada Sabtu (12/4) atau saat itu juga.

Jawaban yang dihasilkan tersebut kemudian disimpan dalam bentuk CD dan flashdisk. CD dan flashdisk lantas diberikan kepada semua kepala sekolah yang telah sepakat berkomplot dan berbuat curang. Baik kepala sekolah negeri maupun swasta. ’’Alurnya memang dari pencurian, lalu dikerjakan bersama-sama oleh sekelompok guru dan kemudian diberikan kepada kepala sekolah,’’ jelas Setija.

Dari kepala sekolah itu, jawaban digandakan guru-guru yang ditunjuk di setiap sekolah untuk kemudian dibagikan kepada siswa. ’’Ini sudah direncanakan sangat matang dan sistematis. Ini tidak hanya dilakukan tahun ini, tapi minimal sudah dua tahun. Sebab, tahun lalu ada peredaran kunci jawaban juga,’’ papar Setija.

Lalu, bagaimana nasib naskah soal yang dicuri? Lantaran pencurian itu sudah direncanakan sangat matang, sekelompok guru dan kepala sekolah tersebut membuat alur cerita yang cantik. Begitu naskah soal kembali dihitung di polsek, sekelompok guru telah kongkalikong menjawab bahwa naskah soal komplet. Demikian pula ketika saat pemeriksaan dan perhitungan saat naskah soal diambil dari polsek ke sekolah pada hari H pelaksanaan unas. Padahal, sejatinya naskah itu kurang satu amplop.

Agar ketika dibagikan kepada siswa tidak ada yang kurang, naskah soal yang dicuri tadi dibawa langsung ke sekolah bersangkutan dan disatukan kembali dengan naskah soal lain. ’’Ini melibatkan banyak guru dan kepala sekolah. Jadi, terlihat seperti tidak ada yang ganjil. Yang jelas, ada cukup banyak guru dan kepala sekolah yang terlibat,’’ ungkap Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Farman.

Kunci jawaban yang disebar di Lamongan dibagikan secara gratis. Tetapi, tidak dengan di Surabaya. Kunci jawaban tersebut dikomersialkan Muhammad Nasrun Abid. Nama itulah yang membawa kunci jawaban dari Lamongan ke Surabaya. Abid memperoleh kunci jawaban dari pamannya yang guru SMAN 3 Lamongan Edy Purnomo. Selain itu, dia dapat dari kerabatnya yang lain, yaitu Wakil Kepala MTs Putra Putri Lamongan Ibnu Mubarrok.

Sebagaimana halnya siswa-siswa di Lamongan, Abid mendapatkannya secara gratis. ’’Abid lalu menjualnya kepada Joki Gosok seharga Rp 150 juta,’’ kata Farman. Joki Gosok atau DN Bagus Danil Bimantara merupakan pengedar kunci jawaban di Surabaya. Joki Gosok mengenal Abid dari pengedar sebelumnya, Bung T.

Di tangan Joki Gosok, kunci jawaban dijual kepada siswa di delapan SMAN di Surabaya. Harganya mencapai Rp 25 juta sampai Rp 35 juta untuk setiap sekolah. Jaringan Joki Gosok akhirnya dibongkar anggota Unit Kejahatan Umum (Jatanum) Satreskrim Polrestabes Surabaya saat pelaksanaan unas SMA hari ketiga 16 April lalu.

Joki Gosok dan empat anggotanya kemudian dibekuk polisi di tempat pelariannya di Jogjakarta pada 26 April lalu. Dari penangkapan Joki Gosok, terungkap nama pemasoknya, yakni Abid, dan kemudian berkembang ke penangkapan Edy serta Ibnu. ’’Dari pengungkapan itu, kami kembangkan. Hasilnya, kami mendapati fakta bahwa kunci itu berasal dari pencurian naskah soal di Lamongan,’’ ucap Setija.

Polisi sudah memeriksa semua yang terlibat. Bukan saja mereka yang mengedarkan di Surabaya, tetapi juga kelompok kepala sekolah dan guru di Lamongan yang mencuri serta menyebarkannya. ’’Semua sudah kami periksa. Tapi, kami tidak menahannya. Kami masih harus melakukan gelar perkara dengan Polda Jawa Timur. Yang pasti, pengusutan kasus ini sudah kami tuntaskan,’’ tandas Setija. (fim/c14/nw)

Sumber: http://www.jawapos.com/baca/artikel/876/70-Kasek-Guru-Berkomplot-Curi-Soal-Unas

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, Pendidikan. Tandai permalink.

7 Balasan ke Ketika 70 Kepsek dan Guru-Guru SMA Mencuri Soal UN

  1. macantua berkata:

    digugu dan ditiru… klo gurunya bgini apa masih pantas???
    http://macantua.com/2014/05/18/situ-wanayasa-traveling-report/

  2. Miris, kecurangan selalu ada dimana mana..

  3. ryuzaqi berkata:

    dari dulu pak, jaman saya lulus sma 2010 juga ada kebocoran soal… makanya saya rasa ganti sistem saja.. UN tiap taun bocor teruuss

  4. Reblogged this on BUMMER! and commented:
    jika pepatah berujar, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, maka pepatah apa yang tepat untuk menjelaskan perkara ini?

  5. alika berkata:

    LHo…cuma itu yang tercover berita? ibarat puncak gunung es, aslinya lebih banyak. Yang ketahuan hanya segitu. Tapi yang tidak ketahuan dan diberitakan …hanya Tuhan yang tahu. Banyak yang ketakutan untuk melaporkan, karena takut diancam. Banyak yang tidak mau melapor karena merekalah pelaku kelicikan itu. Dan mengambil untung dari nilai besar UN tahun ini. Hallo yang siap masuk ITB, dan lulus UN dengan nilai tinggi, tanyakan kepada hati nuranimu. Banyak siswa sma yang sudah tahu bayangan soal yang bakal keluar, belajarnya tidak semati-matian mereka yang tidak menyangka ada soal dgn kesulitan tinggi yang baru. Baru tahun ini. Anehnya sejumlah siswa tenang-tenang saja. Mereka mengkombinasikan antara kunc jawaban dengan barcode yang tembus , dan sudah memfokuskan belajar dan menghafal jawaban serta langkah-langkah matematis, hanya pada jenis soal yang mereka pastikan sudah tahu bakal keluar. Walaupun tidak sama persis dengan soal UN, tapi kalau mirip hanya beda angka, beda urutan = bocoran soal yang sudah disamarkan….. Diajarkan sebelum UN. Ya begitu menyedihkan Dunia pendidikan kita telah melatih dan mencetak para pembohong untuk masa depan. Apapun alasannya…. Tuhan Maha Tahu. Ini menyakitkan bagi siswa yang jujur. Tuhan Maha Adil . Mungkin sejumlah orang yang masih bersih hanya diam dan tak berdaya, tapi Tuhan Pasti Bertindak

  6. alrisblog berkata:

    Memang UNAS itu gak adil, semua dipukul sama rata. Padahal kesempatan murid mendapatkan pelajaran dan informasi disparitasnya sangat tinggi. Kembaliin aja ke sistem yang adil, gak jamannya lagi semua dari pusat. Semoga warisan jelek Mendikbud Muh. Nuh ini tidak dilanjutkan Mendikbud berikutnya.

  7. kayla berkata:

    saat un berlangsung, saya menemukan beberapa anak memiliki soal yang sama dengan UN esok harinya. Mereka punya bocoran soal. Sehari-hari mereka memang lumayan pintar juga, hanya suka curang. Mau ulangan harian dan UTS dan UAS sudah punya soalnya. Ulangan harian juga suka sudah punya bocorannya. Itu terjadi sejak kelas 11 dan 12 sma. . Pas UN juga punya bocoran soal. Lalu belajar hanya soal yang bakal keluar saja. Pengumuman UN keluar nilainya besar. Hari ini mereka diterima di ITB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s