Provokasi Lewat Media Sosial

Menjelang Pilpres yang tinggal dua minggu lagi saya mulai jengah membaca posting orang-orang pada media sosial. Maksud hati mereka memberi dukungan pada capres idola atau capres pilihannya, tetapi seringkali posting-an itu berisi kata-kata kotor, provokativ, kampanye hitam, dan menghina capres lainnya. Kalau sekedar membanggakan capres jagoannya sih nggak apa-apa, tetapi sampai merendahkan dan menghina capres yang lain itu sudah keterlaluan. Fanatik buta, begitu kira-kira istilah yang tepat untuk pendukung capres yang begini. Pendukung yang fanatik itu ada pada kedua kubu, baik kubu nomor 1 (Prabowo) maupun kubu Jokowi (nomor 2).

Memang Pilpres kali ini membuat bangsa Indonesia terbelah dua. Capres hanya dua saja, jadi polarisasi tidak terelakkan lagi. Sebagian mendukung Jokowi, sebagian lagi mendukung Prabowo. Tidak hanya rakyat yang terbelah dua, tetapi media baik yang mainstream maupun yang kacangan hampir semua sudah menjadi partisan, baik secara halus maupun terang-terangan. Sungguh sulit saat ini mencari media yang benar-benar berimbang dan netral dalam mengedukasi pembaca/pemrisanya. Menurut prediksi lembaga-lembaga survey, pertarungan Pilpres akan berlangsung sengit karena kedua calon memiliki kemungkinan menang fifty-fifty. Siapa yang menang tidak dapat diprediksi. Perbedaan elektabilitas keduanya semakin tipis meskipun Jokowi masih unggul sekitar tujuh hingga sepuluh persen.

Menurut yang saya amati, “pertengkaran” kedua pendukung dalam memenangkan jagoannya lebih banyak terjadi di jagad maya, khususnya di media sosial seperti Facebook dan Twitter. Sementara, rakyat sehari-hari di lapangan terlihat tenang-tenang dan rukun saja, mereka tidak meributkan perbedaan pilihan capres masing-masing. Yang ramai dan seru justru di media sosial. Tapi justru di media sosial itulah kebencian dan permusuhan terlihat sangat kentara.

Saking bernafsu mengkampanyekan jagoannya, netter menggunakan kata-kata kotor dan merendahkan lawan, serta mengolok-olok pendukung capres sebelah. Kasus Wimar Witoelar adalah contoh nyata, betapa seorang yang mengaku intelektual terkemuka mengirim posting berupa gambar yang melukai umat Islam melalui akunnya di Facebook dan Twitter. Gambar yang saya maksud dapat anda lihat pada berita lainnya di sini. Gambar yang di-posting oleh Wimar berisi gambar Prabowo yang disejajarkan dengan tokoh-tokoh teroris, mantan ketua partai-partai Islam, dan ustad seperti Aa Gym dan Gubernur Ahmad Heryawan. Celakanya logo Muhammadiyah dan beberapa ormas Islam lainnya yang netral dia masukkan ke dalam gambar tersebut, seolah-olah ormas-ormas tersebut adalah ormas jahat yang sejajar dengan teroris. Sungguh tidak bisa dimengerti orang sekelas Wimar melakukan perbuatan yang merendahkan dirinya sendiri.

Itu baru satu contoh saja, mungkin masih banyak kasus lain di dunia maya yang dilakukan oleh pendukung kedua kubu, baik pendukung yang nyata maupun siluman. Beberapa hari yang lalu saya menghapus pertemanan di Facebook dengan seorang friend yang sangat kelewatan. Saya sudah mengingatkan kepadanya tentang posting dia yang provokatif dan kata-kata yang merendahkan. Namun dia tidak peduli, dia tetap terus saja mengirim posting provokatif setiap hari. Tidak ada pilihan lain, saya terpaksa meng-unfriend dia daripada timeline saya berisi posting-an yang tidak bermanfaat dari pendukung capres yang fanatik buta dan membabi buta. Maaf ya teman, saya terpaksa menghapusmu di dunia maya, tetapi dalam dunia nyata kita baik-baik saja dan tetap berteman.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Provokasi Lewat Media Sosial

  1. Kang Jodhi berkata:

    Di unfollow aja pak, daripada unfriend.
    Kalau unfollow, pas abis pilpres tinggal di follow lagi.
    Kalau di unfriend, kalau mau dijadiiin friend lagi sehabis pilpres harus dengan persetujuan yang bersangkutan.

    Regards

    http://membacaarahbola.blogspot.com

  2. Istanamurah berkata:

    emang sedikit banyak memang begitu gan, temen” ane juga pda gitu menjelang pilpres ini, ada yang menggunakan banyak cara untuk memprovokasi,

  3. alrisblog berkata:

    Saya tidak akan mencaci maki capres, toh itu yang disediakan dan mereka lolos syarat yang ditetapkan kpu. Pilihan saya nanti di kamar waktu mau nyoblos. Lha, sekarang dibela mati-matian sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas adalah menunjukkan kualitas diri yang bersangkutan. Bagi yang waras tentu caci maki itu akan menimbulkan rasa tidak suka, dan menimbulkan antipati.

  4. GAM berkata:

    WIMAR WITOELAR DARI DULU EMANG UDAH TERKENAL ANTI ISLAMNYA…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s