Bila Dosen ITB Ikut Deklarasi Dukungan Capres

Ini berita yang sudah agak basi (minggu lalu), tapi tatap hangat dibincangkan di milis kami, milis dosen ITB. Menjelang Pilpres 9 Juli 2014 nanti alumni ITB terbelah tiga. Ada yang mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi-JK dengan mengatasnamakan alumni ITB, ada pula yang mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo-Hatta juga atas nama alumni ITB. Di antara keduanya ada yang netral atau silence mass alias diam tidak menyatakan pendapat (tetapi dalam hatinya tentu sudah memiliki pilihan Capres yang akan dipilih).

Spanduk dukungan alumni ITB  kepada Jokowi-JK di area Dago Car Free Day

Spanduk dukungan alumni ITB kepada Jokowi-JK di area Dago Car Free Daya

Saya tidak akan ngomong lagi soal dukung mendukung Capres dengan mengatasnamakan alumni ITB, sudah capek ngomongnya. Pasti ada pro dan kontra, masing-masing pihak merasa diri benar dengan tindakannya. Tapi yang akan saya bahas di sini adalah tentang keterlibatan dosen PNS ITB dalam dukung mendukunng.

Tanggal 21 Juni 2014 ada insiden di depan kampus, di jalan Ganesha. Sekelompok mahasiswa atas nama KM-ITB membubarkan deklarasi dukungan alumni lintas perguruan tinggi (termasuk alumni ITB) kepada pasangan capres Jokowi-JK (baca ini: Dosen ITB Diduga Terlibat Aksi Dukung Jokowi-JK). Yang menarik adalah rupanya ada beberapa orang dosen ITB yang ikut dalam deklarasi itu, seperti saya kutip dalam berita pada tautan tersebut:

Indra Djati Sidi, misalnya, membenarkan statusnya sebagai dosen aktif di ITB. Dia mengaku tidak sendirian. “Ada banyak dosen di sini.” (Baca juga: Alumni ITB: Saatnya Kampus Melek Politik)

Dia mengklaim aksi deklarasi dukungan itu sebagai bagian dari hak kebebasan menyatakan pendapat yang dilindungi undang-undang.

“Kami menyatakan pendapat. Kita enggak jelek-jelekin orang. Kenapa tidak (boleh)? Saya bukan tim sukses. Saya bukan (sedang) kampanye. Saya bukan orang PDIP atau NasDem. Saya dosen. Tapi saat ini kita terpanggil untuk mengatakan sesuatu yang harus didengar oleh masyarakat,” kata Indra, yang juga alumni ITB angkatan 1972.”

Pertanyaannya, bolehkah dosen ITB (yang bersatatus PNS) ikut dalam aksi dukung-mendukung tersebut? Masalah ini menimbulkan pro dan kontra di lingkungan kami.

Seorang rekan berpendapat begini di dalam milis:

“Pada satu sisi, ada larangan PNS untuk berkampanye. Kalau hadir dalam kampanye? Kalau hadir dalam deklarasi dukungan kepada salah satu kandidat? Tidak boleh! Hadir di situ sama saja dengan mengkampanyekan salah satu kandidat. Apakah benar demikian?

Di sisi yang lain, negara menjamin hak setiap warganya untuk berpendapat, hak untuk memilih. Apakah boleh seorang PNS menyatakan secara terbuka, bahwa dia lebih menghormati salah satu calon daripada yang lain? Apakah boleh seorang dosen menyampaikan pandangan positifnya tentang salah satu calon? Dalam obrolan bersama beberapa mahasiswa misalnya? Ada yang berpendapat, hak itu diwujudkan lewat pemilu 9 Juli nanti, tapi tidak dengan menyampaikan pandangan pribadi secara terbuka.

Jadi, pegangan mana yang kita pilih? Larangan PNS untuk berkampanye, atau jaminan hak setiap warga untuk menyampaikan pendapat?”

Benar, memang ada larangan PNS ikut dalam kampanye. Ada edaran dari rektorat ITB tentang larangan bagi PNS terkait pemilihan Presiden, sesuai Pasal 4 Peraturan Pemerintah RI No. 53 Tahun 2010. Surat edaran tersebut dapat diunduh di sini.

Di dalam larangan tersebut tertulis aturan sebagai berikut:

edaran

Pasal 4 butir 13(b) berbunyi: Mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum …dst.

Menurut pendapat saya, mengikuti deklarasi dukungan kepada pasangan capres dapat dikatakan melanggar Pasal 4 butir 13(b) ini, sebab kegiatan dukungan tersebut mengarah keberpihakan terhadap pasangan calon yang menajdi peserta pemilu. Tetapi karena dosen PNS tidak mengadakan kegiatan deklarasi dukungan tersebut, cuma mengikuti, yang mengadakan adalah sekelompok orang lain, maka pasal tersebut masih multitafsir juga. Beginilah Indonenesia, aturan hukumnya bisa ditafsirkan bermacam-macam karena seringkali ambigu atau tidak jelas.

Saya pribadi sudah menyatakan dukungan saya kepada pasangan capres yang akan saya pilih (Prabowo-Hatta), tetapi hanya sebatas tulisan di dalam blog ini saja, termasuk juga saya menyatakan secara implisit dan ekspilit di dalam posting-posting jejaring sosial seperti Facebook. Saya masih tahu diri untuk tidak ikut-ikutan dalam kampanye, apalagi dalam deklarasi dukung mendukung seperti yang diberitakan di atas. Tidak perlu.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

13 Balasan ke Bila Dosen ITB Ikut Deklarasi Dukungan Capres

  1. Budi Handoyo berkata:

    Dalam tata peraturan perundang-undangan di Indonesia, dikenal asas “lex spesialis derogat legi generali”, yang artinya ada peraturan yang khusus mengesampingkan peraturan yang bersifat umum.
    Dalam kasus ini, UU 9/1998 dalam posisi bersifat umum. Dan PP 53/2010 dalam posisi bersifat khusus.
    Jadi menurut saya, semua PNS harus mematuhi PP 53/2010 tanpa terkecuali.
    Sama halnya dengan para pegawai swasta, mereka harus mematuhi peraturan-peraturan yang ditentukan oleh perusahaan tempat dia bekerja.

  2. Urang Bandung berkata:

    Sudah Pak, lebih baik perbanyak ibadah di bulan Ramadan saja daripada mengurus pemilu. Jangan sampai merugi. Itu cuma dunia saja yang hanya sebuah permainan dan senda gurau belaka (QS 29:64). Belum tentu kita bisa bertemu Ramadan tahun depan.

    • akri berkata:

      ini yang komentar pasti pendukung jokowow

      • Urang Bandung berkata:

        Saya mendukung Al Quran. Terima kasih.

      • LITHA berkata:

        KELAKUAN PENDUKUNG JOKOWI SAMA 11-12 AJA DENGAN JOKOWI ITU SENDIRI, MENGHALALKAN SEGALA CARA UNTUK MENARIK PERHATIAN WALAUPUN ITU DENGAN CARA2 KOTOR SEPERTI MENIPU. MENURUT SAYA CAPRES YANG MAJU PADA PEMILU KALI INI SAMA2 PUNYA KEKURANGAN MENDASAR, TAPI KEKURANGAN SANGAT MENDASAR ITU ADA PADA JOKOWI, KARENA DIDUKUNG PARTAI PREMAN PDIP DAN INDIVIDU2 SEPERTI LUHUT PANJAITAN, RUHUT SITOMPUL, ARTIS2, TOKOH2 JIL, BENCONG/ WARIA SAMPE PSK. APAKAH KALIAN MAU BERGABUNG DENGAN ORANG2 MACAM ITU? AYO GUNAKAN NALARMU..

  3. ahmad berkata:

    Pak Rin, coba ditanya dulu, jangan2 para PNS itu sudah cuti? hehehe
    Kan boleh kalau cuti, wong gubernur dan walikota boleh kok jadi jurkam. Memang idealnya semua penyelenggara negara (PNS) tidak ikut2an memperlihatkan keberpihakan, termasuk dalam cuti-cutian. Tetapi, inilah indonesia, you get the leader what you deserve. Enjoy aja!.

    • akri berkata:

      ketika pak rin menyatakan dukungannya thd salah satu capres di blog ini begitu banyak protes dari pendukung jokowow seperti pak ahmad ini bilang supaya pns mesti netral, bla3… tapi giliran ada pns yang dukung jokowow secara terang2an seperti diceritakan pak rin di atas para pendukung jokowow rame2 bela2in mereka, helloww pendukung jokowow…please jangan pake standar ganda pak bro, cuma diktator yang suka pake standara ganda, atau jangan2 jokowow emang terlahir sbg seorang diktator? buktinya baru fakta tentang dirinya dibongkar oleh tabloid obor rakyat langsung pada rame, padahal itu fakta, gak kebayang seorang jokowow dan antek2nya jadi pemimpin di negeri ini, dijamin bakalan seperti jaman orba dulu,dimana kebebasan berekspresi dan mengemukakan fakta dan pendapat diberangus..

      • Urang Bandung berkata:

        Mas Akri, saya cuma kasihan melihat Pak Rinaldi ini yg dulu dosen saya. Rasanya sayang kalau Bapak sibuk dengan politik seperti ini di bulan yg suci ini. Kasihan karena waktu Bapak menjadi sia2. Saya tidak peduli dengan pilihan Pak Rinaldi maupun Mas Akri. Toh, bukan presiden RI yg ditanya ketika ketika sudah mati, tapi apa yg kita habiskan dari waktu yg kita punya ini.

      • surel berkata:

        @Urang Bandung : Justru menurut saya hal yang mendasari Pak Rin menaro perhatian ke situasi politik yang berkembang saat ini lebih kepada syariat agama, kita semua sudah tau siapa dibalik Jokowi dkk yang notabene adalah orang2 yang sudah terang2an tidak suka akan syariat islam di Indonesia. Seharusnya anda mendukung beliau kalau memang anda seorang pemeluk agama yang taat dan pendukung Al-Qur’an (adaaa aja akal2an pendukung Jokowi, pake bawa2 Al-Quran segala).

      • Urang Bandung berkata:

        Mas surel, tadinya saya kasihan sama Pak Rinaldi, tetapi saya tambah kasihannya sama anda juga. Dua kali anda su’udhzan. Parahnya lagi anda lakukan di bulan Ramadan. Tapi alhamdulillah anda masih hidup. Masih ada waktu untuk istighfar. Moga2 Allah memberikan ampunan buat kita semua. Aamiin.

  4. Greatnesia berkata:

    Pilpres kali ini emang bikin pusing pak. Calonnya sih cuma dua, tapi polemiknya melebihi dari pilpres2 sebelumnya.

  5. Fiq berkata:

    Mungkin boleh-boleh saja asal tidak membawa nama akademik ITB nya..

    http://www.alatuji.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s